Laman

Buletin Adz Dzikr Edisi-59 " Renungan Tentang Waktu "


















 RENUNGAN TENTANG WAKTU 















Oleh


Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari





Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa
Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara
baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih.


Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:





وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ





Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan
nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati
supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].





Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah
dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa. Sesungguhnya di dalam
masa terdapat keajaiban-keajaiban. Di dalam masa terjadi kesenangan dan
kesusahan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan. Jika seseorang
menyian-nyiakan umurnya, seratus tahun berbuat sia-sia, bahkan
kemaksiatan belaka, kemudian ia bertaubat di akhir hayatnya, dengan
taubat yang diterima, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sempurna
sebagai balasannya, berada di dalam surga selama-lamanya. Dia
betul-betul mengetahui bahwa waktu hidupnya yang paling berharga adalah
sedikit masa taubatnya itu. Sesungguhnya masa merupakan anugerah Allâh
Ta’ala, tidak ada cela padanya, manusia-lah yang tercela ketika tidak
memanfaatkannya.






PERINGATAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM





Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan
pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits
berikut ini:





عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ
الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ





Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu
pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no.
5933].





Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat
yang besar dari Allâh Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu dan
mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.


Di antara bentuk kerugian ini adalah:





1. Seseorang tidak mengisi waktu luangnya dengan bentuk yang paling
sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan amalan yang kurang
utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih utama.


2. Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan amalan-amalan yang utama,
yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun kesibukkannya
adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.


3. Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini adalah orang yang
paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan
memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu,
bahkan ia menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya
kepada hukuman Allâh di dunia dan di akhirat.





Urgensi waktu dan kewajiban menjaganya merupakan perkara yang
disepakati oleh orang-orang yang berakal. Berikut adalah diantara
point-point yang menunjukkan urgensi waktu.





1. Waktu Adalah Modal Manusia.


Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:


اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ





Wahai Ibnu Adam (manusia), kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, hilang sebagian dirimu.[1]


Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Abdul-‘Aziz rahimahullah berkata:


إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا





Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu.[2]





2. Waktu Sangat Cepat Berlalu.





Seseorang berkata kepada ‘Âmir bin Abdul-Qais rahimahullah, salah
seorang tabi’i: “Berbicaralah kepadaku!” Dia menjawab: “Tahanlah
jalannya matahari!”


Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak menyerupakan masa muda
kecuali dengan sesuatu yang menempel di lengan bajuku, lalu jatuh”.


Abul-Walid al-Bâji rahimahullah berkata: “Jika aku telah mengetahui
dengan sangat yakin, bahwa seluruh hidupku di dunia ini seperti satu jam
di akhirat, maka mengapa aku tidak bakhil dengan waktu hidupku (untuk
melakukan perkara yang sia-sia, Pen.), dan hanya kujadikan hidupku di
dalam kebaikan dan ketaatan”.





3. Waktu Yang Berlalu Tidak Pernah Kembali.





Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu berkata:





إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَلِلَّهِ حَقٌّ بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ


Sesungguhnya Allâh memiliki hak pada waktu siang, Dia tidak akan
menerimanya di waktu malam. Dan Allâh juga memiliki hak pada waktu
malam, Dia tidak akan menerimanya di waktu siang. [Riwayat Ibnu Abi
Syaibah, no. 37056].





Dengan demikian seharusnya seseorang bersegera melaksanakan tugasnya
pada waktunya, dan tidak menumpuk tugas dan mengundurkannya sehingga
akan memberatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu waktu di sisi Salaf
lebih mahal dari pada uang. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:





أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دَرَاهِمِهِ وَدَنَانِيْرِهِ





Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap umurnya daripada terhadap dirham dan dinarnya.[3]


Sebagian penyair berkata:





وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ … وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يُضَيَّعُ





Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk
dijaga, tetapi aku melihatnya paling mudah engkau menyia-nyiakannya.





4. Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.


Oleh karena itu Allâh Ta’ala banyak memerintahkan untuk bersegera dan
berlomba dalam ketaatan. Demikian juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan agar bersegera melaksanakan amal-amal shalih. Para
ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan.
Al-Hasan berkata:





اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ
بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ
الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ
الْيَوْمِ





Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan),
karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum
tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka
lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini.
Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu
yang menyia-nyiakan hari ini.[4]





KENYATAAN MANUSIA DALAM MENYIKAPI WAKTU





Berikut adalah beberapa keadaan manusia dalam menyikapi waktu.





1. Orang-orang yang amalan shalih mereka lebih banyak daripada waktu mereka.


Diriwayatkan bahwa Syaikh Jamaluddin al-Qâshimi rahimahullah melewati
warung kopi. Dia melihat orang-orang yang mengunjungi warung kopi
tenggelam dalam permainan kartu dan dadu, meminum berbagai minuman,
mereka menghabiskan waktu yang lama. Maka Syaikh berkata, “Seandainya
waktu bisa dibeli, sungguh pasti aku beli waktu mereka!”





2. Orang-orang yang menghabiskan waktu mereka dalam mengejar perkara
yang tidak berfaidah, baik berupa ilmu yang tidak bermanfaat, atau
urusan-urusan dunia lainnya.


Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah menyebutkan seorang laki-laki yang
menghabiskan umurnya untuk mengumpulkan dan menumpuk harta. Ketika
kematian mendatanginya, dikatakan kepadanya, “Katakanlah lâ ilâha illa
Allâh,” namun ia tidak mengucapkannya, bahkan ia mulai mengucapkan,
“Satu kain harganya 5 dirham, satu kain harganya 10 dirham, ini kain
bagus”. Dia selalu dalam keadaan demikian sampai ruhnya keluar.





3. Orang-orang yang tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan terhadap waktu.


Seorang ulama zaman dahulu berkata:





Aku telah melihat kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan cara
yang aneh. Jika malam panjang, mereka habiskan untuk pembicaraan yang
tidak bermanfaat, atau membaca buku percintaan dan begadang. Jika waktu
siang panjang, mereka habiskan untuk tidur. Sedangkan pada waktu pagi
dan sore, mereka di pinggir sungai Dajlah, atau di pasar-pasar. Aku
ibaratkan mereka itu dengan orang-orang yang berbincang-bincang di atas
kapal, kapal itu terus berjalan membawa mereka dan berita mereka. Aku
telah melihat banyak orang yang tidak memahami arti kehidupan.


Di antara mereka, ada orang yang telah diberi kecukupan oleh Allâh
Azza wa Jalla , ia tidak butuh bekerja karena hartanya yang sudah
banyak, namun kebanyakan waktunya padai siang hari ia habiskan dengan
nongkrong di pasar (kalau zaman sekarang di mall dan sebagainya, Pen.)
melihat orang-orang (yang lewat). Alangkah banyaknya keburukan dan
kemungkaran yang melewatinya.


Di antara mereka ada yang menyendiri bermain catur. Di antara mereka
ada yang menghabiskan waktu dengan kisah-kisah kejadian tentang
raja-raja, tentang harga yang melonjak dan turun, dan lainnya.


Maka aku mengetahui bahwa Allâh tidak memperlihatkan urgensi umur dan
kadar waktu kesehatan kecuali kepada orang-orang yang Allâh berikan
taufiq dan bimbingan untuk memanfaatkannya. Allâh berfirman:





وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ





Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. [Fushilat/41:35].


Adapun yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam menyikapi waktu, kembali kepada tiga perkara berikut.


1. Sebab pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena itu,
seorang muslim wajib mengetahui bahwa tujuan Allâh menciptakannya adalah
untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:





وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ





Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [adz-Dzariyat/51:56].





Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:





أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ





Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada
Kami? [al-Mukminun/23:115].


Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam kebaikan di
dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat nanti.
Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik
siksaan pedih di akhirat nanti.


Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh
bersenang-senang dengan perkara yang Allâh ijinkan di dunia ini, karena
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:





وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي
أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ
رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي





Demi Allâh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan
paling takwa di antara kamu kepada Allâh, tetapi aku berpuasa dan
berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita.
Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dariku. [HR al-Bukhari, no.
4776; Muslim, no. 1401]





2. Sebab kedua, bodoh terhadap nilai dan urgensi waktu.


3. Sebab ketiga, lemahnya kehendak dan tekad.


Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan mengetahui
perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi
waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak
melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan
bersegera serta berlomba melaksanakan amalan-amalan shalih, serta
memohon pertolongan kepada Allâh Ta’ala, kemudian bergabung dengan
kawan-kawan yang shalih.


Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup, dan kita benar-benar
memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita dengan perkara
yang akan menjadikan ridha Penguasa kita, Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Âmîn.





[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013M.6]


________


Footnote


[1]. Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Perkataan ini juga
diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu’abul- Iman, dari Abud Darda’
Radhiyallahu anhu


[2]. Kitab Rabi’ul-Abrar, hlm. 305.


[3]. Disebutkan dalam kitab Taqrib Zuhd Ibnul-Mubarok, 1/28.


[4]. Taqrib Zuhd IbnulMubarok, 1/28.

Rekaman Kajian Tablig Akbar " Hidup Bahagia Dengan Al-Qur'an "


REKAMAN KAJIAN TABLIG AKBAR 


" HIDUP BAHAGIA DENGAN AL- QUR'AN  "


















Alhamdulillah Rekaman Kajian Tablig Akbar Dengan Tema " Hidup Bahagia Dengan Al-Qur'an" 


Dengan Pemateri Al-Ustadz Abu Kholil Mujahid  Sudah dapat di Download di link berikut : 











- Semoga bermanfaat -

Hidup Bahagia Dengan Sifat Tawakal

Buletin Adz-Dzikr Edisi -57 Th.V






HIDUP BAHAGIA DENGAN SIFAT TAWAKAL







































Dosa Durhaka Kepada Orang Tua

Dosa - dosa Besar








DOSA DURHAKA KEPADA ORANG TUA





Oleh

Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari





Sesungguhnya jasa kedua orang tua terhadap anaknya sangat besar.
Fakta ini tidak bisa diingkari oleh siapapun juga. Seorang ibu telah
mengandung anaknya dalam keadaan lemah dan susah. Dia menyabung nyawa
untuk melahirkan anaknya. Kemudian memelihara dan menyusui dengan penuh
kelelahan dan perjuangan selama dua tahun. 





Allâh Azza wa Jalla memberitakan sebagian jasa tersebut dalam firman-Nya :





وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ
أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ
شَهْرًا





Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang
ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya
dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
puluh bulan. [al-Ahqâf/46:15].





Demikian juga sang bapak menantang panas dan hujan guna mencukupi
kebutuhan keluarganya. Sehingga tidak heran jika keduanya memiliki hak
yang harus dipenuhi oleh sang anak, bahkan hak orang tua itu 





mengiringi
hak Allâh Azza wa Jalla. Dia berfirman:





وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا


Beribadahlah kepada Allâh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.
[an-Nisâ`/4:36].





Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Kewajiban Yang Utama

Hak kedua orang tua itu melebihi manusia manapun. Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini dalam hadits sebagai
berikut:





عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ
ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ
قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ





Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Seorang lelaki
datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu bertanya:
“Wahai Rasûlullâh, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan
perbuatan kebaikanku ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Ibumu,” lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, “Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi,
“Kemudian siapa ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa ?” Beliau menjawab,
“Bapakmu”. [HR al-Bukhâri, no. 5971; Muslim, no. 2548]





Bahkan kewajiban berbakti kepada orang tua itu melebihi kewajiban jihad fî sabîlillâh.





عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ أَقْبَلَ رَجُلٌ
إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ
أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ أَبْتَغِي الْأَجْرَ مِنَ
اللَّهِ قَالَ فَهَلْ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَيٌّ قَالَ نَعَمْ بَلْ
كِلَاهُمَا قَالَ فَتَبْتَغِي الْأَجْرَ مِنَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ
فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا





Dari Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, ia berkata,
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Allâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, lalu berkata, ‘Aku berbai’at kepadamu untuk hijrah dan jihad,
aku mencari pahala dari Allâh.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bertanya, ‘Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup ?’ Dia
menjawab, “Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bertanya lagi, “Apakah kamu mencari pahala dari Allâh ?” Dia
menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Kalau begitu pulanglah kepada kedua
orang tuamu, lalu temanilah keduanya dengan sebaik-baiknya”. [HR Muslim,
no. 2549]





Termasuk Dosa Besar : Durhaka Kepada Orang Tua




Selain memerintahkan birrul wâlidain (berbakti kepada kedua orang tua),
agama Islam juga melarang ‘uqûqul wâlidain (durhaka kepada kedua orang
tua), bahkan memasukkannya ke dalam dosa-dosa besar yang mengiringi
syirik. Banyak hadits-hadits yang berkaitan dengan hal ini, antara lain:





عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ
أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْكَبَائِرُ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ قَالَ
ثُمَّ مَاذَا قَالَ ثُمَّ عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ
الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قُلْتُ وَمَا الْيَمِينُ الْغَمُوسُ قَالَ الَّذِي
يَقْتَطِعُ مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ هُوَ فِيهَا كَاذِبٌ





Dari Abdullâh bin ‘Amr, ia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasûlullâh,
apakah dosa-dosa besar itu ?” Beliau menjawab, “Isyrak (menyekutukan
sesuatu) dengan Allâh”, ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau
menjawab, “Kemudian durhaka kepada dua orang tua,” ia bertanya lagi,
“Kemudian apa ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sumpah
yang menjerumuskan”. Aku bertanya, “Apa sumpah yang menjerumuskan itu?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sumpah dusta yang
menjadikan dia mengambil harta seorang muslim”. [HR al-Bukhâri, no.
6255]





Walaupun kedudukan orang tua begitu tinggi, tetapi banyak orang
melupakan tuntunan agama yang suci ini. Mereka tidak peduli lagi dengan
hak mereka dan tidak menunaikannya sebagaimana mestinya.


Di Antara Bentuk-Bentuk ‘Uqûqul Wâlidain




‘Uqûqul wâlidain adalah lawan dari birrul wâlidain (berbakti kepada
kedua orang tua). Durhaka kepada kedua orang tua, artinya ialah tidak
menaatinya, memutuskan hubungan dengan keduanya, dan tidak berbuat baik
kepada keduanya. (Lihat Lisânul ‘Arab, karya Ibnul- Manzhur).





Fenomena durhaka kepada orang tua itu sangat banyak, antara lain sebagai berikut :








1. Mengucapkan perkataan yang menunjukkan tidak suka, seperti “ah”
atau semacamnya, dan demikian juga membentak dan bersuara keras kepada
orang tua.





Allâh Azza wa Jalla berfirman :


 


وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ
كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا
قَوْلًا كَرِيمًا





Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada
selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah
kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
[al-Isrâ`/17:23]





Jika ada kata yang lebih ringan dari “ah” yang menyakitkan orang tua,
tentu sudah dilarang juga. Ketika mengucapkan “ah” kepada orang tua
sudah dilarang, apalagi mengucapkan kata-kata yang lebih kasar dari itu
atau memperlakukan mereka dengan buruk, maka itu lebih terlarang.





2. Mengucapkan perkataan atau melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua bersedih hati, apalagi sampai menangis.








3. Bermuka masam dan cemberut kepada orang tua.

Sebagian orang didapati sebagai orang yang pandai bergaul, suka
tersenyum, dan berwajah ceria bersama kawan-kawannya. Namun ketika masuk
ke dalam rumahnya, bertemu dengan orang tuanya, dia berbalik menjadi
orang yang kaku dan keras, berwajah masam dan berbicara kasar. Alangkah
celakanya orang yang seperti ini. Padahal seharusnya orang yang dekat
itu lebih berhak terhadap kebaikannya.





4. Mencela orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung.





عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ
الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ يَشْتِمُ
الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ
أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ





Dari Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar, (yaitu) seseorang
mencela dua orang tuanya,” mereka bertanya, “Wahai Rasûlullâh, adakah
orang yang mencela dua orang tuanya ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Ya, seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang
lain itu mencela bapaknya. Seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang
lain itu mencela ibunya.” [HR al-Bukhâri, no. 5 628; Muslim, no. 90.
Lafazh hadits ini milik Imam Muslim]








5. Memandang sinis kepada orang tua.

Yaitu memandangnya dengan sikap merendahkan, menghinakan, atau kebencian.








6. Malu menyebut mereka sebagai orang tuanya.


Sebagian anak diberi kemudahan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam masalah
duniawi, sehingga ia menjadi orang terpandang di hadapan masyarakat.
Namun sebagian mereka kemudian merasa malu mengakui keadaan orang tuanya
yang terbelakang di dalam tingkat sosial atau ekonominya.








7. Memerintah orang tua.


Seperti memerintah ibu untuk menyapu rumah, mencuci baju, menyiapkan
makanan. Tindakan ini tidak layak, apalagi jika ibu dalam keadaan lemah,
sakit, atau sudah tua. Namun jika sang ibu melakukan dengan sukarela
dan senang hati, dalam keadaan sehat dan kuat, maka tidak mengapa.





8. Memberatkan orang tua dengan banyak permintaan.


Sebagian orang banyak menuntut orang tuanya dengan berbagai permintaan,
padahal orang tuanya dalam keadaan tidak mampu. Ada anak yang meminta
dibelikan baju-baju model baru, handphone baru, sepeda motor, atau
lainnya. Bahkan ada seseorang sudah menikah, kemudian meminta orang
tuanya untuk dibelikan mobil, atau dibuatkan rumah, atau meminta uang
yang banyak, dan semacamnya.





9. Lebih mementingkan isteri daripada orang tua.


Sebagian orang lebih mentaati isterinya daripada mentaati kedua orang
tuanya. Sebagian orang berlebihan dalam menampakkan kecintaan kepada
isterinya di hadapan orang tua, tetapi pada waktu yang sama ia bersikap
kasar kepada orang tuanya.





10. Meninggalkan orang tua ketika masa tua atau saat membutuhkan anaknya.


Sebagian anak ketika menginjak dewasa memiliki pekerjaan yang
mengharuskannya untuk meninggalkan orang tuanya, lalu ia sibuk dengan
urusannya sendiri. Sehingga sama sekali tidak melakukan kebaikan untuk
orang tuanya, baik dengan doa, bantuan uang, tenaga, maupun lainnya.





Inilah diantara bentuk-bentuk kedurhakaan yang harus ditinggalkan.
Demikian juga bentuk-bentuk lainnya yang merupakan kedurhakaan, maka
harus dijauhi. Semoga Allâh selalu membimbing kita dalam kebaikan.


Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn.





[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVII/1435H/2013. sumber : almanhaj.or.id dipublikasikan kembali oleh Abu Isma'il Al-barbasy]