Laman

Perbaikan Keadaan Umat Urgensi dan Cara Mewujudkannya








PERBAIKAN KEADAAN UMAT
URGENSI DAN CARA MEWUJUDKANNYA





Oleh






Syaikh Shalih Fauzan
al-Fauzan hafizhahullah
hafidzahullah


[ Al-Bayân
li Akhthâ’I Ba’dhil Kuttâb
, 3/139-141 ]





Sesungguhnya perbaikan
keadaan umat merupakan tujuan agung yang diinginkan dan dicari setiap orang,
akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah dengan apa perbaikan itu
direalisasikan?





Ada banyak sistem yang
telah ditempuh dan hasilnya pun berbeda-beda. Banyak orang berasumsi bahwa
faktor yang bisa mewujudkan perbaikan di tengah masyarakat itu adalah dengan
memberikan apa yang mereka kehendaki di dunia ini. Mereka menyebutnya sistem
demokrasi. Artinya, masyarakat dibiarkan dan diberi kebebasan untuk mengatur
diri mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri.  Di tengah masyarakat
seperti ini, syariat Allâh Azza wa Jalla tidak dijadikan sebagai sumber hukum,
padahal Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan mereka dan maha mengetahui
segala yang bisa mendatangkan kebaikan bagi mereka. Masing-masing berjalan
sesuai dengan keinginan dan kecenderungan mereka.







Realitanya, ini tidak
akan bisa mewujudkan perbaikan. Sebab, keinginan-keinginan dan hobi-hobi
masing-masing individu itu beragam dan berbeda-berbeda, sehingga akibat dari
membierikan kebebasan ini adalah munculnya berbagai kerusakan. Allâh Azza wa
Jalla berfirman:





وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ
وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ
ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ





Andaikata kebenaran itu
menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang
ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka (al-Quran
yang bisa menjadi) kebanggaan  mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan
itu.
[Al-Mukminûn/23:71]





Oleh karena itu, Allâh
Azza wa Jalla tidak menyerahkan urusan manusia kepada keinginan-keinginan dan
kemauan-kemauan mereka. Namun, untuk kebaikan manusia, Allâh Azza wa Jalla
telah menggariskan bagi mereka jalan untuk mereka pijaki dalam kehidupan
mereka. Jalan yang digariskan itu adalah ajaran yang dibawa para rasul yang
Allâh Azza wa Jalla utus dan ajaran dalam kitab-kitab suci-Nya yang Allâh Azza
wa Jalla turunkan.





Jadi, semua syariat yang
datang dari langit (syari’at samawiyah), jika diikuti dan diamalkan pada
masanya pasti akan mewujudkan perbaikan selama ajaran-ajaran itu tidak dinaskh
(dirubah), sampai akhirnya datang syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Syari’at yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa mengganti
semua ajaran-ajaran syariat sebelumnya dan memuat semua yang bisa mewujudkan
kemaslahatan umat manusia sampai hari Kiamat datang.





Tidak ada kebaikan yang
hakiki dan perbaikan yang pasti kecuali hanya dengan mengikuti syariat Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai landasan
hukum. Allâh Azza wa Jalla berfirman:





يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ
فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا





Wahai orang-orang
beriman! Taatilah Allâh dan taatilah Rasul(-Nya) dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,  maka kembalikanlah
ia kepada Allâh (al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allâh dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya.

 [An-Nisa:4/59]





Allâh Azza wa Jalla
menyebutkan bahwa mengikuti ajaran syariat-Nya sebagai bentuk perbaikan
sedangkan penentangan terhadap syariat-Nya disebut sebagai tindakan
perusakan.  Allâh Azza wa Jalla berfirman:





وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا





Dan janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi, sesudah (Allâh) memperbaikinya
 [Al-A’raf/7:56]





Barangsiapa ingin
melakukan perbaikan di muka bumi, maka caranya adalah mengikut syariat Allâh
Azza wa Jalla , sebaliknya adalah melanggar ketentuan syariat-Nya berarti
melakukan pengerusakan.





Allâh Azza wa Jalla
telah memperbaiki keadaan permukaan bumi dengan mengutus para rasul dan
menurunkan kitab-kitab suci. Jika umat manusia mengikuti para rasul dan
melaksanakan kandungan Kitabullah, maka bumi mereka akan menjadi baik. Namun
jika mereka bersikap sebaliknya, berarti mereka telah melakukan kerusakan di
muka bumi, meskipun mereka mengklaim sedang melakukan perbaikan, sebagaimana
Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang munafik:





وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا
نَحْنُ مُصْلِحُونَ
﴿١١﴾ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا
يَشْعُرُونَ





Dan bila dikatakan
kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab,
“Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah,
sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka
tidak sadar.
[Al-Baqarah/2:11-12].





Memperbaiki keadaan umat
dengan mematuhi syariat Allâh Azza wa Jalla menjadi jaminan keselamatan dari
kehancuran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:





وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا
مُصْلِحُونَ





Dan Rabbmu sekali-kali
tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya
orang-orang yang berbuat kebaikan
[Hûd/11:117]





Cara perbaikan di muka
bumi hanya akan terealisasi dengan menjadikan syariat Allâh Azza wa Jalla
sebagai sumber hukum, mendirikan shalat, memberikan zakat, menegakkan hukum
had, menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:





وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ
لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
﴿٤٠﴾ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ
أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا
عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ





Sesungguhnya Allâh pasti
menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allâh benar-benar Maha
Kuat lagi Maha Perkasa. .  (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan
kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan
zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan
kepada Allah-lah kembali segala urusan.
[Al-Hajj/22:40-41]





Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah bersabda:





لَحَدٌّ يُقَامُ فِي اْلأَرْضِ خَيْــرٌ لَهَا مِنْ أَنْ تُمْطِرَ
أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا





Satu hukum pidana yang
ditegakkan di muka bumi lebih baik daripada hujan yang turun selama 40 pagi
[HR. An-Nasa’i, no. 4904; Ibnu Mâjah, no. 2538.
Lihat Shahîh al-Jâmi’, no. 3130]







Inilah bentuk perbaikan
terhadap bumi dan perbaikan bagi penduduk bumi, sementara perbuatan yang
berlawanan dengannya merupakan bentuk perusakan terhadap bumi dan orang-orang
yang ada di permukaannya. Meskipun, orang-orang mengklaim itu merupakan bentuk
pengembangan dan perbaikan bumi. Ini berarti termasuk penipuan public. Mereka
menamakan sesuatu dengan nama lawannya. Alangkah miripnya malam ini dengan
malam kemarin. Kaum munafik zaman ini sama dengan kaum munafik masa dahulu.
Mereka meneriakkan perbaikan, dan mengklaim  bahwa perbaikan keadaan umat
Islam itu dengan mengikuti hukum-hukum orang kafir dan melumpuhkan ajaran
syariat Islam.





Akan tetapi, Allâh Azza
wa Jalla berfirman





يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى
اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
﴿٣٢﴾ هُوَ
الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى
الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ





Mereka berkehendak
memadamkan cahaya (agama) Allâh dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allâh
tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang
kafir tidak menyukai.
Dialah yang telah
mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar
untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak
menyukai.
[At-Taubah/9:32-33].





Dan sebagaimana yang
dikatakan oleh Imam Darul Hijrah (Imam Madinah) yaitu Mâlik bin Anas
rahimahullah :





لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ
أَوَّلَـــــهَا





Akhir umat ini tidak
menjadi baik kecuali  dengan ajaran yang telah memperbaiki awalnya.


Sebelum syariat Islam
datang, umat manusia berada dalam kesesatan nyata. Allâh Azza wa Jalla
berfirman:





وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ
تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ
وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ





Dan ingatlah (hai para
muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi
(Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allâh
memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan
pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu
bersyukur.
 [Al-Anfâl/8:26]





Mungkin akan ada orang
yang mengatakan, “Apakah kita akan mengabaikan dan membuang segala yang
dimiliki oleh orang-orang kafir?”  Pertanyaan ini kita jawab, “Hal-hal
duniawi yang bermanfaat dari orang-orang kafir seperti produk-produk ciptaan
mereka, hasil-hasil industri, eksperimen-eksperiman mereka yang bermanfaat,
Allâh Azza wa Jalla memperbolehkan kita untuk mengambil dan memanfaatkannya
setelah kita membelinya dengan uang kita. Ini sebenarnya, Allâh ciptakan bagi
kita. Allâh Azza wa Jalla berfirman:





قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ
وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ





Katakanlah, “Siapakah
yang mengharamkan perhiasan dari Allâh yang telah dikeluarkan-Nya untuk para
hamba-Nya dan (siapakah pulalah yang mengharamkan) rezeki yang baik?
Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami
menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.
[Al-A’raf/7:32] 





Yang terlarang ialah
mengadopsi undang-undang mereka yang bertentangan dengan agama dan akidah kita,
lalu kita menjauh dari ajaran syariat suci dan agama lurus yang telah Allâh
Azza wa Jalla berikan kepada kita, maka kita akan merugi dengan
sebenar-benarnya kerugian.





[Disalin dari majalah
As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647,
081575792961 Redaksi 08122589079 ] Almanhaj.Or.Id




Menangani Kebiasaan Buruk Anak















Oleh : Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsuddin. Lc , Ummu Ahmad Rifqi




MENANGANI KEBIASAAN BURUK ANAK





            Seorang ibu adalah
pelatak dasar pendidikan harus mengetahui berbagai macam karakter  anak dan cara penyelesaianya. Anak kadang
mempunyai kebiasaan buruk yang harus segera diluruskan karena kebiasaan buruk
kalau dibiarkan akan menjadi tabiat atau karakter  yang sulit dirubah maka orang tua atau
pendidik harus waspada dan jeli mencermati tingkah laku dan kebiasaan anak
sehingga sikap yang janggal atau tidak wajar bias segera ditanganai dan diluruskan. 




Adapun kebiasaan
buruk yang biasa dilakukan anak dan harus segera diperbaiki antara lain : 





            Pertama : Suka
berbohong. 





            Kebiasaan bohong
sering dilakukan anak. Hal ini bias jadi karena kesalahan orang tua ketika
mendidik anaknya saat masih kecil misalnya orang tuanyan memanggil untuk member
sesuatu tetapi ternyata tidak member apa-apa. 





            Dari bin Amir
berkata, pernah Ibuku memanggilku saat Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam
sedang duduk dirumahku, ibuku berkata, Wahai (anakku), kemarilah aku
akan berisesuatu. Beliau bersabda, apa yang akan kamu berikan kepadanya? Ibuku
berkata, Aku akan memberinya kurma. Beliau bersabda kepadanya :





أما إنك لو لم
تعطيه شيئا كتبت عليك كذبة 


         


   “ Ketahuilah
jika kamu tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka kamu telah melakukan suatu
kedustaan.”
[1]





Bias juga anak berbohong karna tidak tau kalau berbohong itu tidak
baik dan dosa. Wala anak melakukan tindakan bohong belum terkena hokum syariat
namun orang tua harus tetap waspada dan mebimbing anaknya dengan lemah lembut
dan bijak sana agar kebiasaan bohong tidak menjadi kebiasaan dan dan tabiaatnya
hingga besar nanti. Dan sifat bohong pada anak jangan dibiarkan berlarut-larut
karna akan tumbuh sikap kemunafikan sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala
:





            وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ
الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ


    


        “ Dan Allah
mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang
pendusta.”
( Al-Munafiqun: 1)





            Ketika orang
mendapati anaknya berbohong  sebaiknya
segera menjelaskan kepada anak tentang kejelekan dan akiba yang ditimbulkan
dari perbuatan berbohong  serta
mengajarkan  dan membiasakan anak untuk
selalu berbuat jujur dan menjelaskan keutamaan jujur bahwa Allah mencintai
orang-orang yang berbuat jujur.





            Bias juga anak
berbohong karna sekedar main-main kelekar saja, tampil hebat atau mendapat
sanjungan.





            Kedua : Kurang
Kontrol Diri 





            Tindakan yang
kurang terkontrol sering dilakukan anak karena usia anak-anak ingin melakukan
apa yang diinginkan dan tidak ingin disuruh atau dilarang. Bila seorang ibu
menyuruh anaknya melakukan kegiatan apa saja berarti  ibunya yang melakukan dengan meminjam tangan
anak dan mereka  hanya menjadi robot itu.
Nanti kalau dia dewasa  baru akan bekerja
kalau disuruh, begitu pula halnya dengan larangan. Bila seorang anak melakukan
kegiatan ternyata menurut ibunya salah dan ibu melarangnya respon dari anak ada
dua kemungkinana, pertama dia tidak mau dilarang dan tetap melakukannya bila
dipaksa berhenti akan meronta. Kedua anak akan berhenti karna takut atau sudah
terpola kalau wajah ibunya seperti itu maka harus berhenti. Kedua kemungkinan
tersebut tidak baik bagi anak karena dia tidak mengerti kenapa harus melakukan
sesuatau atau kenapa tidak boleh main seperti itu. Memang tidak mudah membangun
anak menjadi dewasa yang cerdas, berakidah lurus, berakhlak mulia serta
mempunyai inisiatif dan mampu menyelesaikan amsalah. Dan semuanya tidak akan
terbangun pada diri anak bila dalam perjalanan anak sepanjang hidupnya semenjak
usia dua tahun hingga akhir baligh selalu dimarahi, diperintah dan dilarang
tanpa ada penjelasan yang baik dari orang dewasa disekitarnya. Memang anak
membuat susah dan repot orang tua dan itu menjadi konsekuensi menjadi orang
tua, maka benar sabda Nabi: 





            إن الولد مجبنة مجخلة مجهلة محزنة  


           


 Sesungguhnya
anak dapat membuat ( orang tuannya ) pengecut, bakhil, bodoh dan gundah gulana.
[2]





            Kelembutan
Rasulallah dalam memperlakukan anak kecil terlihat ketika Beliau menghibur
putra abu Thalahah yang belau sebuat Abu Umair, yang memiliki seekor burung kecil
untuk mainan. Pada suatu hari, beliau melihatnya sedih, maka Rasulallah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, Wahai Abu Umair kenapa bersedih ? Para
sahabat berkata, Wahai Rasulallah burung kecil yang menjadi teman mainnya mati.
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun berkatan padanya sambil bercanda,
Wahai Abu Umair, sedang apa Nughair sekarang ? 





            Ketiga : Suka
Melawan





            Kebiasaan anak
suka melawan karna kesalahan pendidikan yang ditanamkan dari  ulai usia dini karna anak sering dilarang,
tidak diperhatikan dan tidak dihargai keryanya. Sehingga untuk melampiasakan
kekecewaan hatinya dengan melawan, memberontak dan bersikap kasar.





            Bagaimana
menghadapi anak yang suka melawan ? yang harus diperhatikan adalah berikan
kasih saying dan jelaskan mengapa kita dilarang melakukan sesuatau dan berikan
gegiatan yang bermanfaat kapada anak sesuai dengan tahap perkembangannya dan
orang tua harus banyak berkonsultasi dengan orang alim yang memahami kejiwaan
anak, Allah ta’ala berfirman :





            فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ


            


 Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunya pengetahuan, jika kamu tidak
mengetahui.”
( An-Nahl: 43 )





            Berhati-hatilah
ketika berkonsultasi kepada pakar psikologi. Yang sekarang ini banyak beredar
metode-metode penanganan masalah anak, seperti hipnoterapy yang mengunakan
kekuatan ghaib bertentangan dengan syariat Islam.





            Kebiasaan melawan
juga bias terindikasi indigo, yaitu anak yang 
bias melihat makhluk halus atau dalam syariat kesurupan jin, sehingga
kadang apa yang dialakukan dibawah alam sadarnya.





            Akan tetapi suka
melawan suatu fase alami dalam masa pertumbuhan kejiwaan anak yang membuatnya
pada setabilasi dan menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang independen dari
orang-orang dewasa. Dengan berlalunya waktu, dia akan menyadari bahwa keras
kepala dan melawan bukanlah cara yang benar, sedangkan kebiasaan bermasyarakat
dalam member dan menerima adalah jalan yang benar, khususnya jika kedua orang
tuanya mempergaulinya denga fleksible, lemah lembut dan pengertian.





            Nabi Shalallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :





             الرفق لا يكون في شىء إلاّ زانه ولا ينزع من شىء
إلاّ شانه
إن


         


   “ Sesungguhnya
kele,ah-lembutan itu didak menyertai suatu perkara melainkan kelemah-lembutan
tersebut akan menjadikan perkara tersebut indah, dan tidaklah kelemah-lembutan
hilang dari suatu hal melainkan akan menjadikan jelek ( dipandang orang ).”
[3]





Faktornya:  



      1.     
Meniru
perbuatan orang tuanya.


      2.     
Membiasakan
taat dan fanatic pada sesuatu
.

      3.     
Ketiadan
ikatan yang kuat dalam pengertian anak dan kedua orang tunya.


      4.     
Memanjakan
secra berlebihan dan memberikan segala yang diinginkan.





Solusinya :


  1. Kedua
    orang tua hendaknya menjelaskan padanya faedah apa yang diperintahkan dan
    membuatnya puas dengan keterangan tersebut . 

  2. Bersikap
    feksibel, member dan menerima dengan tenang, menyayanginya dan lelmah lembut
    dengannya.



  3. Mengembirakan
    anak kemudian menjelaskan dan menerangkan bahwa keduanya menyukainya.

  4. Seimbang
    dalam mendidik anak, tidak terlalu keras juga tidak terlalu meman jakan.

  5. Selalu
    berusaha menari perhatian anak  setiap
    kali akan menyuruhnya

  6. Menggunakan
    bahasa yang bias dimengerti oleh anak sehingga bias difahami.



  7. Menghindari
    memberikan banyak perintah dalam satu waktu sekaligus.



  8. Menghindari
    memberikan perintah pada saat tertentu kemudian melarangnya beberapa saat
    kemudian.

  9. Memberikan
    hadiah dan ganjaran atas ketaatannya.

  10. Menghindari
    hukum fisik atau ancaman sebagai sarana untuk meluruskan kesalahannya.

  11. Memperhatikan
    setiap pelaksanaan pemerintah. 


( Bersambung Insya Allah....  )






[disalin dari buku Senja kala Bidadari, penulis Ustadz Zaenal Abidin Syamsuddin, Lc , Ummu Ahmad Rifqi. Penerbit Pustaka
Imam Bonjol Cetakan Pertama Djumadah ats-Tsani 1436H./ April 2014M. Alamat : Jalan Raya
Munjul Gg. Mushala Fathul Ulum no.11 Munjul Cipayung Jakrta Timur 13850
Tel/Fax: (021)87753478 Layanan SMS: 08111816600]









Footnote :


[1]. Shahih: diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam sunannya, no.4991 dan dihasankan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Hadist ash-Shahihah, no.748


[2]. Shahih: diriwayatkan Imam Ibnu Majah dalam Sunaannya, no.3666 dan lihat Shahihul Jami', no, 1990.


[3]. Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya. no.2594.