Laman

DONASI PEMBANGUNAN MA'HAD TAHFIDZUL QUR'AN DAAR EL DZIKR


Foto Lokasi Tanah

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ

KABAR GEMBIRA
Alhamdulillah , atas segala dukungan dan partisipasi kaum Muslimin , Pembebsan lahan untuk Ponpes Tahfidz Daar El Dzikr terus berjalan secara bertahap. 
 Untuk anda yang menginginkan kebaikan : 
# Keberkahan dalam harta
# Kelapangan dalam rizki
# Pahala yang melimpah 
# Kesuksesan dihari kiamat
# Dido'akan oleh para penghafal Al-Qur'an



INILAH SAATNYA....
 " Proyek amal kebaikan di Ponpes Tahfidzul Qur'an Daar El Dziker Ds.Gentan, Bulu , Sukoharjo , Jawa Tengah "

Untuk Memulai Pembangunan , Kami membuka kesempatan kaum Muslimun untuk menginfakan Hartanya untuk memulai pembangunan  ponpoes Tahfidzul Qur'an Daar El Dzikr.
Setiap Rupiah yang anda Infakan guna pembangunan pendidikan Islam , Insya Alloh akan terus mengalir pahalanya hingga hari akhir.

Bagi Kaum Muslimin yang ingin mendonasikan rejekinya kepada kami, berikut nomer rekening kami: 

Rekening BRI
Nomor 6893 0101 0717 533
Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir

Rekening BNI Syariah
Nomor 03919 70153
Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir

SMS Konfirmasi 
1. Jumanto, S.Pd.I. (Ketua) - 0813 8443 1686
2. Darmono (Bendahara) - 0852 2938 5801

Dengan Format : DPM#bank#nominal#nama#


 Jazakumullohu Khoiron Katsiron

DONASI PEMBANGUNAN MA'HAD TAHFIDZUL QUR'AN DAAR EL DZIKR





















Foto Lokasi Tanah



ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ




KABAR GEMBIRA

Alhamdulillah , atas segala dukungan dan partisipasi kaum Muslimin , Pembebsan lahan untuk Ponpes Tahfidz Daar El Dzikr terus berjalan secara bertahap. 

 Untuk anda yang menginginkan kebaikan : 

# Keberkahan dalam harta

# Kelapangan dalam rizki

# Pahala yang melimpah 

# Kesuksesan dihari kiamat

# Dido'akan oleh para penghafal Al-Qur'an









INILAH SAATNYA....

 " Proyek amal kebaikan di Ponpes Tahfidzul Qur'an Daar El Dziker Ds.Gentan, Bulu , Sukoharjo , Jawa Tengah "



Untuk Memulai Pembangunan , Kami membuka kesempatan kaum Muslimun untuk menginfakan Hartanya untuk memulai pembangunan  ponpoes Tahfidzul Qur'an Daar El Dzikr.

Setiap Rupiah yang anda Infakan guna pembangunan pendidikan Islam , Insya Alloh akan terus mengalir pahalanya hingga hari akhir.



Bagi Kaum Muslimin yang ingin mendonasikan rejekinya kepada kami, berikut nomer rekening kami: 



Rekening BRI

Nomor 6893 0101 0717 533

Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir



Rekening BNI Syariah

Nomor 03919 70153

Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir



SMS Konfirmasi 

1. Jumanto, S.Pd.I. (Ketua) - 0813 8443 1686

2. Darmono (Bendahara) - 0852 2938 5801



Dengan Format : DPM#bank#nominal#nama#




 Jazakumullohu Khoiron Katsiron

At-Tuhfatus Saniyyah - Huruf

At-Tuhfatus Saniyyah - Huruf







Huruf





وَالۡحَرۡفُ مَا لَا يَصۡلُحُ مَعَهُ دَلِيلُ
الۡإِسۡمِ وَلَا دَلِيلُ الۡفِعۡلِ.





Huruf adalah kata yang tidak terdapat
padanya tanda isim dan tanda fi’il.


وَأَقُولُ: يَتَمَيَّزُ الْحَرْفُ
عَنْ أَخَوَيْهِ الْإِسْمِ وَالْفِعْلِ بِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ دُخُولُ عَلَامَةٍ
مِنْ عَلَامَاتِ الْأَسْمَاءِ الْمُتَقَدِّمَةِ وَلَا غَيْرِهَا عَلَيْهِ، كَمَا
لَا يَصِحُّ دُخُولُ عَلَامَةٍ مِنْ عَلَامَاتِ الْأَفْعَالِ الَّتِي سَبَقَ
بَيَانُهَا وَلَا غَيْرِهَا عَلَيْهِ، وَمِثْلُهُ (مِنْ) وَ (هَلْ) وَ (لَمْ)
هَذِهِ الْكَلِمَاتُ الثَّلَاثُ حُرُوفٌ، لِأَنَّهَا لَا تَقْبَلُ (أَلْ) وَلَا
التَّنْوِينَ، وَلَا يَجُوزُ دُخُولُ حُرُوفِ الْخَفْضِ عَلَيْهَا، فَلَا يَصِحُّ
أَنْ تَقُولَ: المِنْ، وَلَا أَنْ تَقُولَ: مِنٌ، وَلَا أَنْ تَقُولَ: إِلَى مِنْ،
وَكَذَلِكَ بَقِيَّةُ الْحُرُوفِ، وَأَيْضًا لَا يَصِحُّ أَنْ تَدْخُلَ عَلَيْهَا
السِّينُ، وَلَا (سَوْفَ) وَلَا تَاءُ التَّأْنِيثِ السَّاكِنَةُ، وَلَا (قَدْ)
وَلَا غَيْرُهَا مِمَّا هُوَ عَلَامَاتٌ عَلَى أَنَّ الْكَلِمَةَ فِعْلٌ.





Huruf dibedakan dari
dua saudaranya -isim dan fi’il- dengan cara: tidak bisa masuk salah satu tanda
dari tanda-tanda isim yang telah lalu dan tidak bisa masuk salah satu dari
tanda-tanda fi’il yang telah lewat penjelasannya. Contohnya
مِنْ, هَلْ,
dan
لَمْ.
Tiga kata ini merupakan huruf, karena kata-kata tersebut tidak bisa menerima
أَلْ
dan tanwin. Demikian pula tidak bisa diberi awalan huruf khafdh, sehingga tidak
benar kamu katakan:
المِنْ
atau
مِنٌ
atau
إِلَى مِنْ.
Begitu pula huruf-huruf yang lain. Juga tidak bisa diawali huruf sin,
سَوْفَ,
dan huruf ta` ta`nits yang disukun. Tidak pula
قَدْ dan tanda-tanda fi’il yang lain.

Agar Hidup Murah Rizki

Muamalah - Agar Hidup Murah Rizki









AGAR HIDUP MURAH REJEKI








      Urusan dunia merupakan perkara
yang paling banyak menyita perhatian orang, keberhasilan dan kesuksesan
diukur dengan harta, banyak diantara mereka menjadi budak dunia, bahkan
lebih parah lagi, mayoritas kaum muslimin memandang bahwa berpegang
teguh dengan ajaran Islam akan mengurangi peluang mereka dalam mengais
rizki. Ada segilintir orang yang masih punya keinginan untuk memelihara
sebagian aturan syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin
mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya
menutup mata dari sebagian aturan Islam terutama yang berkenaan dengan
etika bisnis dan hukum halal haram,.








      Mereka lupa atau mungkin pura-pura
lupa bahwa sang khalik mensyareatkan agama-Nya bukan hanya sebagai
petunjuk bagi umat manusia dalam perkara akherat saja. Akan tetapi Allah
juga mengarahkan agar mereka sukses dan bahagia di dunia dan akherat
seperti doa yang sering dipanjatkan Rasulullah: Wahai Tuhan kami karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akherat dan jagalah kami dari siksa api Neraka. (Al Baqarah 201).





      Islam tidak membiarkan seorang
Muslim kebingungan dalam berusaha mencari nafkah, bahkan telah
memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika mulia agar mereka
mencapai kesuksesan ketika mengais rizki, sehingga terbuka pintu
kemakmuran dan keberkahan. Kegiatan usaha dalam kaca mata Islam memiliki
kode etik dan aturan, jauh dari sifat tamak, serakah dan menghalalkan
segala cara untuk membuka peluang usaha dan bisnis sehingga mampu meraih
harta yang halal dan terbentuk sebuah usaha yang menjadi pondasi
masyarakat madani dan beradab.





      Seluruh harta kekayaan milik Allah
sementara manusia hanya sekedar sebagai pengelola, maka orang yang
bertugas sebagai pengelola tidak berhak keluar dari aturan Pemilik harta
(Allah), maka sungguh sangat menyedihkan bila terdapat sebagian orang
yang berpacu untuk meraih kenikmatan dunia dengan menghabiskan seluruh
waktunya, sementara mereka melupakan tujuan utama penciptaan, yaitu
beribadah kepada-Nya sebagaimana firman Allah: Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku
tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki
Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. 51:56-58).





Sumber : http://zainalabidinsyamsuddin.com/



Detik-Detik Kematian, Penentu Nasib Kehidupan Di Akhirat

Tazkiyah Nufus










DETIK-DETIK KEMATIAN, PENENTU NASIB KEHIDUPAN DI AKHIRAT





Oleh

Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari




Detik-detik kematian adalah waktu yang paling berbahaya bagi manusia
Dalam umurnya. Karena Kematian merupakan awal perpindahan dari alam
dunia yang kelihatan, yang telah diakrabi dan dikenal oleh manusia,
menuju alam ghaib. Alam ghaib akan menjadi nyata dalam kehidupannya yang
baru setelah kematiannya. Alam barzakh, adalah alam baru tersebut.
Disana, manusia akan menemui berbagai peristiwa menggentarkan yang jauh
berbeda dengan alam dunia yang pernah dialaminya.



Saat detik-detik kematian itu manusia akan melihat malaikat, dia akan
mendengar kalimat yang sangat menentukan nasibnya dari malaikat yang
turun kepadanya atas perintah Allâh Yang Maha Kuasa. Kalimat yang akan
dia dengar dari malaikat itu merupakan tanda kenikmatan abadi yang akan
dia alami, atau kecelakaan abadi yang akan dia temui.

Jika dia seorang Mukmin, maka kalimat yang dia dengar dari malakul maut adalah :



أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ



Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang baik, keluarlah menuju ampunan Allâh
dan keridhaan-Nya ! [HR. Ahmad; dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam
Shahîh al-Jâmi’ no: 1672 dan Ahkâmul Janâiz]



Sebaliknya, jika dia seorang yang kafir, maka kalimat yang dia dengar dari malakul maut adalah :



أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ



“Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang keji, keluarlah menuju kemurkaan
Allâh dan kemarahan-Nya ! [HR. Ahmad; dishahihkan oleh syaikh al-Albani
dalam Shahîh al-Jâmi’ no: 1672 dan Ahkâmul Janâiz]



MANUSIA INGIN MENEBUS KECELAKAAN DENGAN SEMUA HARTANYA

Seandainya pada saat detik-detik kematian itu manusia memiliki seluruh
isi dunia ini, atau dia memiliki emas sepenuh langit dan bumi, dia pasti
akan mengorbankannya, dia akan menyedekahkannya, agar bisa mendengar
kalimat ridha dan ampunan dari Allâh Azza wa Jalla . Karena dengan
keridhaan Allâh di saat detik-detik kematian itu, dia akan meraih puncak
kebahagiaan yang kekal abadi di sisi Allâh Yang Maha Suci. Allâh Azza
wa Jalla berfirman :



وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ
مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ مِنْ سُوءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ
وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ



Dan sekiranya orang-orang yang zhalim mempunyai apa yang ada di bumi
semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan
menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan
jelaslah bagi mereka adzab dari Allâh yang belum pernah mereka
perkirakan. [az-Zumar/39:47]



Seluruh harta benda yang dikumpulkan oleh seorang manusia, yang
dicarinya dengan susah-payah, kurang tidur malam karena harta, kemudian
dia habiskan umurnya untuk menyimpannya; Semua tanaman yang dia tanam di
sawah, kebun, atau taman-taman; Semua bangunan yang dia tinggikan,
rumah megah dan istana yang dia banggakan; Semua anggota keluarga, anak
dan istri, pegawai dan pengikut yang selalu mengelilingi; Semuanya itu
akan dipandangi dengan penyesalan, ketakutan, keputus-asaan, dan
keluh-kesah, ketika malaikat mendatanginya. Karena dia akan meninggalkan
semuanya. Dia tidak akan mendapatkan manfaat sama sekali dari semua
harta benda yang telah dia kumpulkan dan dia simpan dengan anggapan
harta itu akan mengekalkannya.



Pada detik-detik kematian, hanya satu yang dicari manusia, dia meyakini
bahwa padanya terdapat keselamatannya dan kebahagiaannya, yaitu amal
shalih. Jika dia telah mempersiapkannya, maka hal itu akan
menentramkannya. Jika dia tidak mempersiapkan bekal amal shalih, maka
dia akan mengatakan :



يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ﴿٢٧﴾مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ﴿٢٨﴾هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ



Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku
sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku
daripadaku. [al-Hâqqah/69:27-29]



TERSINGKAP HAKEKAT KEBENARAN

Orang yang menghadapi kematian itu akan semakin menyesal dan kaget serta
merasakan musibah itu semakin berat, jika di dunia dahulu dia
mengingkari kehidupan akhirat; Atau dia tertipu dengan segala
perbuataannya yang selalu bertentangan dengan agama Allâh; Atau dia
orang yang menyukai bid’ah dan khurafat. Semua itu menjauhkannya dari
iman yang benar dan jalan yang lurus, yang sesuai dengan kitab Allâh,
sunnah Rasul-Nya, dan teladan para sahabatnya.



Orang yang tidak meyakini adanya kehidupan setelah kematian, atau
meyakininya tetapi dia berada dalam kekafiran dan kebid’ahan, lalu dia
menyangka berada di atas kebenaran dan jalan yang terang, kemudian dia
selalu menolak al-Qur’an yang merupakan kitab suci, menolak Sunnah yang
merupakan ajaran Nabi, maka kematian yang mendatanginya akan
menyingkapkan kebenaran hakiki. Dia akan melihat kenyataan yang berbeda
dengan dugaannya. Dia akan dikagetkan dengan kenyataan bahwa seluruh
logikanya ternyata keliru dan seluruh perkara yang dia anggap hakekat
ternyata palsu. Untuk orang-orang semacam inilah Allâh Azza wa Jalla
berfirman :



قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا﴿١٠٣﴾الَّذِينَ ضَلَّ
سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
يُحْسِنُونَ صُنْعًا



Katakanlah, "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang
yang paling merugi perbuatannya ?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa
mereka berbuat sebaik-baiknya. [al-Kahfi/18:103-104]



Allâh Azza wa Jalla berfirman :



وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ
مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ مِنْ سُوءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ
وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ



Dan sekiranya orang-orang yang zhalim mempunyai apa yang ada di bumi
semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan
menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan
jelaslah bagi mereka adzab dari Allâh yang belum pernah mereka
perkirakan. [az-Zumar/39:47]



NILAI SISA UMUR SEORANG MUKMIN

Sesungguhnya detik-detik kematian merupakan waktu penentu umur
seseorang, walaupun dia telah melewati umur panjang. Umur manusia di
zaman ini umumnya tidak akan melewati 150 tahun. Maka masa umur manusia
dalam khidupan dunia yang sementara ini, tidak ada apa-apanya jika
dibandingkan dengan masa ribuan tahun yang akan dialami dalam kubur.
Tidak ada bandingannya dengan waktu 50 ribu tahun di mahsyar. Dan tidak
ada bandingannya dengan masa yang kekal abadi dalam surga yang penuh
kenikmatan, atau dalam neraka jahannam yang penuh dengan siksaan.



Oleh karena itu seandainya ada seseorang yang bernasib sangat buruk di
dunia, semenjak lahir sampai wafatnya, namun dia beriman kepada Allâh
Yang Maha Esa, maka dia akan lupa terhadap kesusahannya di dunia ketika
merasakan sedikit nikmat di surga.



Atau sebaliknya, seandainya ada seseorang yang bernasib sangat baik di
dunia, semenjak lahir sampai wafatnya, namun dia kafir kepada Allâh Yang
Maha Esa, maka dia akan lupa terhadap kenikmatan dunianya ketika
merasakan sedikit siksa dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam
hadits shahih :



عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلّمَ : يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ
النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِى النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ
يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ
نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ
النَّاسِ بُؤْسًا فِى الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ
صَبْغَةً فِى الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ
بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللَّهِ يَا
رَبِّ مَا مَرَّ بِى بُؤُسٌ قَطُّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ



Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Pada hari kiamat akan
didatangkan seseorang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan dunia
yang termasuk penghuni neraka, lalu dia dicelupkan sekali ke neraka,
lalu setelah itu dia ditanya, 'Wahai anak Adam, apakah kau pernah
melihat kebaikan meskipun sedikit ? Apa kau pernah merasakan kenikmatan
meskipun sedikit ? ' Dia menjawab: 'Tidak, demi Allâh, wahai Rabb.'

Kemudian akan didatangkan orang paling sengsara di dunia yang termasuk
penghuni surga, kemudian dia ditempatkan dalam surga sebentar, setelah
itu dia ditanya, 'Hai anak Adam, apa kau pernah melihat kesengsaraan
meski sedikit ? Apa kau pernah merasa kesusahan meski sedikit ? ' Dia
menjawab, 'Tidak, demi Allâh, wahai Rabb, aku tidak pernah merasa
sengsara sedikit pun dan aku tidak pernah melihat satu kesusahan pun'."
[HR. Muslim]



Dalam masa kehidupan manusia yang pendek di dunia ini akan ditentukan
tempat kembali manusia di akhirat nanti. Nasib manusia di akhirat tidak
ditentukan dengan umur dunia, semenjak diciptakannya sampai kiamat
terjadi, namun ditentukan dalam beberapa tahun saja dari umur dunia.
Yaitu dalam umur setiap manusia, bahkan bisa jadi ditentukan dalam
beberapa hari, atau beberapa jam, atau beberapa menit saja.



Yaitu ketika manusia itu bertaubat dalam masa hidupnya, dia menyesali
perbuatannya, dia memohon ampun kepada Rabbnya, dia beriman dengan
ikhlas, dia beramal dengan amal shalih, dia tinggalkan syirik, bid’ah
dan maksiat, kemudian meraih ridho Rabbnya di saat detik-detik
kematiannya, maka itu akan menghantarkannya menuju kemenangan yang
sebenarnya.



Aduhai, alangkah agungnya kemenangan hakiki yang bisa digapai oleh setiap insan.



Aduhai, alangkah agungnya masa depan dalam kebahagian abadi, yang bisa
diraih oleh manusia dalam beberapa menit kehidupannya dengan idzin
Allâh.



Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bercerita :



أَنَّ عَمْرَو بْنَ أُقَيْشٍ كَانَ لَهُ رِبًا فِى الْجَاهِلِيَّةِ
فَكَرِهَ أَنْ يُسْلِمَ حَتَّى يَأْخُذَهُ فَجَاءَ يَوْمَ أُحُدٍ. فَقَالَ :
أَيْنَ بَنُو عَمِّى قَالُوا : بِأُحُدٍ. قَالَ : أَيْنَ فُلاَنٌ قَالُوا :
بِأُحُدٍ. قَالَ : أَيْنَ فُلاَنٌ قَالُوا : بِأُحُدٍ. فَلَبِسَ لأْمَتَهُ
وَرَكِبَ فَرَسَهُ ثُمَّ تَوَجَّهَ قِبَلَهُمْ فَلَمَّا رَآهُ
الْمُسْلِمُونَ قَالُوا : إِلَيْكَ عَنَّا يَا عَمْرُو. قَالَ : إِنِّى
قَدْ آمَنْتُ. فَقَاتَلَ حَتَّى جُرِحَ فَحُمِلَ إِلَى أَهْلِهِ جَرِيحًا
فَجَاءَهُ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ فَقَالَ لأُخْتِهِ : سَلِيهِ حَمِيَّةً
لِقَوْمِكَ أَوْ غَضَبًا لَهُمْ أَمْ غَضَبًا لِلَّهِ فَقَالَ : بَلْ
غَضَبًا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ فَمَاتَ. فَدَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَا صَلَّى
لِلَّهِ صَلاَةً



Bahwa 'Amr bin Uqaisy dahulu memiliki harta riba pada masa jahiliyah dan
ia tidak ingin masuk Islam hingga ia mengambil harta tersebut. Kemudian
datang waktu perang Uhud, kemudian ia bertanya, "Dimanakah anak-anak
pamanku ?" Orang-orang berkata, 'Di Uhud.' Ia berkata, "Dimanakah Fulan
?' Mereka berkata, 'Di Uhud.' Ia berkata, "Dimanakah Fulan ?" Mereka
berkata, 'Di Uhud.' Kemudian ia memakai baju besinya dan menaiki kudanya
kemudian ia menuju ke arah mereka. Kemudian tatkala orang-orang Muslim
melihatnya mereka berkata; “Menjauhlah engkau dari kami wahai 'Amr!”. Ia
berkata, 'Aku telah beriman. Kemudian ia bertempur hingga terluka,
kemudian ia dibawa kepada keluarganya dalam keadaan terluka. Lalu Sa'd
bin Mu'adz datang kepadanya dan berkata kepada saudarinya; tanyakan
kepadanya, apakah (dia ikut berperang-red) karena fanatik terhadap
kaumnya atau marah karena mereka atau marah karena Allâh ?' Ia berkata,
'Marah karena Allâh dan rasul-Nya.' Kemudian ia meninggal dan masuk
surga sementera ia belum pernah melakukan satu shalatpun untuk
Allâh.[HR. Abu Dawud; dihasankan oleh syaikh al-Albani]



Dengan penjelasan ini maka jelas bagi kita semua bahwa detik-detik
kematian adalah waktu yang paling berbahaya dan paling penting bagi
manusia dalam umurnya. Sebagian Ulama menyatakan bahwa sisa umur seorang
Mukmin, tidak ternilai harganya’. Maka selayaknya manusia selalu
memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar tetap di atas jalan yang lurus
dan dianugerahkan husnul khatimah. Ini adalah peringatan dan peringatan
itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Allâh Subhanahu wa Ta’ala
berifrman :



سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ﴿١٠﴾وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى﴿١١﴾الَّذِي
يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ﴿١٢﴾ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ



Orang yang takut (kepada Allâh) akan mendapat pelajaran, dan orang-orang
yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki
api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan
tidak (pula) hidup. [al-A’la/87:10-13]



(Disadur dari al-Imân bil Yaumil Akhir, dalam pembahasan Sâ’atul Maut
Akh-tharu Lahzhatin fii Umuril Insân; karya Dr. Shalabi; dengan
tambahan-tambahan dari rujukan lainnya)



[sumber ; almanhaj.or.id yang disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Buletin Adz Dzikr Edisi 52 Th.V














Relakah Kamu Kehidupan Di Dunia Sebagai Ganti Kehidupan Di Akhirat?














Oleh
Syaikh Shalâh al-Budair




Kaum Muslimin, rahimakumullâh!

Sungguh dunia itu hina dan fana, sedangkan akhirat itu mulia dan kekal. Itulah keterangan pasti yang terdapat al-Qur'an dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Alangkah beruntung orang yang mau mendengarkan nasehat-nasehat yang penuh makna dan mengena ini. Ia mendengarkannya dengan penuh konsentrasi, berusaha memahaminya, merenungkannya lalu berusaha merealisasikannya dengan perkataan dan perbuatannya.



Diantara nasehat itu adalah firman Allâh :



وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 



Dan kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mau memahaminya? [Al-An'âm/6:32]



Juga firman-Nya



وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ



Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allâh itu lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak mau memahaminya? [Al-Qhashas/28:60]



Juga firman-Nya:



اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ



Allâh meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). [Ar-Ra'du/13:26]



Juga firman-Nya:



أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ



Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [At-Taubah/9:38]



Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:



بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ



Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. [Al-A'lâ/87:16-17]



Dan masih banyak lagi ayat-ayat senada yang menjelaskan dan mengingatkan kita tentang hakikat dunia dan seluruh isinya. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa memahaminya dan merealisasikannya dalam kehidupan kita di dunia ini.



Kaum Muslimin, rahimakumullâh! 

Dunia dan segala kenikmatannya ini akan pergi, akan sirna dan akan berakhir dengan cepat, berbeda dengan segala kenikmatan akhirat yang tidak pernah berakhir selama-lamanya.



Dalam sebuah hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: 



وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟



Demi Allâh! Dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan salah satu jemarinya ke laut), maka lihatlah apa yang ada pada jarinya tersebut saat ia keluarkan dari laut! [HR. Muslim]



Dunia dan seluruh isinya ini seperti air yang menempel di jari setelah dicelupkan di lautan, sedangkan akhirat ibarat lautan yang sangat luas. 



Dalam hadits lain, dunia ini juga diibaratkan sebagai bangkai kambing yang cacat yang seandainya kambing yang cacat itu masih hidup, maka tidak ada seorang pun yang tertarik untuk memilikinya, lalu bagaimanakah jika kambing yang cacat sudah menjadi bangkai? Adakah orang yang sudi mengambil dan menyimpannya? 



Wahai jiwa yang lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhiratnya, tidakkah kita mau berpikir tentang hakikat dunia ini?! 



Wahai hamba Allâh! 

Seandainya seluruh dunia beserta isinya berada dalam genggamanmu, dan ditambah dengan satu dunia lagi yang semisal dengan itu untukmu, maka apakah yang tersisa darinya untukmu jika maut datang menjemputmu?!



Wahai hamba Allâh!

Setiap hari selalu ada ibrah (pelajaran). Pada kematian yang kita saksikan atau pada berita kematian yang sampai ke telinga kita terdapat pengingat agar berhenti jika kita termasuk orang yang mau berhenti. 



Sampai kapan?... Sampai kapan?... Sampai kapan kita tidak bertakwa?...



Apakah kita menunggu dan berhadap ada dunia lain setelah dunia ini? Ataukah kita berharap dan berkeyakinan bahwa kita akan dikembalikan tapi tidak ke alam akhirat?! Sungguh itu adalah sesuatu yang tidak mungkin … akan tetapi kedua telinga telah tuli, keduanya tidak mau mendengar ayat-ayat … begitu juga hati, ia tidak peduli lagi dengan nasehat-nasehat.



Wahai hamba Allâh! 

Bergegaslah menyambut seruan dan perintah Rabbmu dan persiapkanlah bekal perjalanan akhiratmu! Bertaubatlah dari dosa-dosamu.



Alangkah rugi seseorang yang menjual kenikmatan surga dengan angan-angan dusta, dengan permainan-permainan yang menarik atau menukar surga dengan syahwat yang hina dan perbuatan-perbuatan tercela. 



Sungguh sangat merugi orang yang menyebabkan Allâh Azza wa Jalla murka kepada mereka serta menyia-nyiakan usia mereka dalam gelimangan dosa dan maksiat.



قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ 



Katakanlah, "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [Az-Zumar/39: 15]



Maka hendaklah kita memanfaat waktu yang tersisa untuk mempersiapkan bekal yang pasti kita butuhkan dalam kehidupan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :



وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ



Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu akan memperoleh (balasan)nya di sisi Allâh sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allâh; Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [Al-Muzammil/73:20]



Kaum Muslimin, rahimakumullâh!

Sungguh sengsara orang yang setiap kali Allâh berikan karunia dan kenikmatan yang baru kepadanya, namun dia menggunakan kenikmatan dan karunia itu untuk berbuat dosa, pelanggaran dan maksiat.



Sungguh celaka orang yang semakin bertambah kekayaan dan hartanya, namun semakin bertambah pula penyimpangan dan kesesatannya.



Berbagai kenikmatan dan pemberian Allâh terus tercurah kepadanya .. ada yang berupaka makanan yang bisa menguatkan tubuhnya … ada berupa air yang bisa menghilangkan dahaganya … ada yang berwujud pakaian yang bisa menghiasi tubuhnya dan menutup auratnya … ada kenikmatan dalam bentuk rumah yang menaunginya dari terpaan hujan dan terik matahari yang menyengat juga melindunginya dari serangan hewan buas … ada juga kenikmatan dalam wujud pasangan yang setia memperhatikan dan menemaninya … juga nikmat dalam bentuk keamanan lingkungan dari berbagai hal … Meski begitu banyak nikmat yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepadanya, namun dia terus berada dalam kubangan dosa, tidak mau lepas dan enggan meninggalkan berbagai perbuatan buruk dan maksiatnya. 



Sungguh sangat celaka yang seperti ini, karena bisa jadi berbagai kenikmatan dan kesenangan yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya merupakan salah bentuk istidrâj dan penangguhan dan penguluran siksa. Ingatlah firman Allâh Azza wa Jalla :



وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ



Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan [Ali Imrân/3:178]



Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :



إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ 



Jika engkau melihat Allâh memberikan anugerah dunia kepada hamba-Nya apa yang ia sukai, sementara sang hamba tetap bermaksiat kepadaNya, maka sesungguhnya itu adalah istidrâj [HR. Ahmad]



Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allâh Azza wa Jalla 



فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ



Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. [Al-An'am/6:44]



Ya Allâh! Karuniakanlah kepada kami taufik-Mu untuk menuju semua perkara yang Engkau ridhai! Jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan maksiat!



Jadikanlah kami termasuk para hamba-Mu yang senantiasa takut dan bertakwa kepada-Mu, ya Rabbal 'alamin.



(Diangkat dari khutbah jum'at yang disampaikan oleh Syaikh Shalâh al-Budair di Masjid Nabawi pada tanggal 20 Shafar 1436 H dengan judul Matâ'ud Dunya Qalîl)



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1434H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] almanhaj,or,id



Laporan Pemasukan Donasi Untuk Pembebasan Tanah Ma'had Tahfidzul Qur'an Daar El Dzikr Januari 2016


UPDATE PEMASUKAN DONASI PEMBEBASAN TANAH


MA'HAD TAHFIDZ DAAR EL DZIKR


Ds.Gentan - Bulu - Sukoharjo - Indonesia


(Sampai Januari 2016)




























































































































































No Nama Tanggal Bank Jumlah Dana
1 Pak Surono 2015 250.000.000
2 Kiki Ummu Rizal 26-Oct-2015 Tunai 130.000
3 Ummu Yousuf 30-Oct-2015 Tunai 130.000
4 Hamba Alloh 18-Nov-2015 BRI 1.000.000
5 Sapto Nugroho 19-Nov-2015 Tunai 520.000
6 Tulus Daryanto 20-Nov-2015 BRI 130.000
7 Rahayu 20-Nov-2015 BRI 130.000
8 Hamba Alloh 20-Nov-2015 BRI 130.000
9 Mugiyono 20-Nov-2015 BNI 260.000
10 Gingin 30-Nov-2015 BRI 520.000
11 Agung Darma Hermawan 30-Nov-2015 BNI 13.000.000
12 Hamba Alloh 04-Des-15 BRI 2.000.000
13 Ummu Haidar 04-Des-15 BRI 260.000
14 Sutiyono 04-Des-15 BRI 2.600.000
15 Muh.Hanif Al Hafidz-2C Tunai 390.000
16 Harno Tunai 1.000.000
17 Agus Dwi Sanjoyo 05-Jan-16 Tunai 500.000
Jumlah Total Seluruh Donasi 272.700.000




Telah dikeluarakan Untk Pembebasan Tanah Sejumlah













Sisa Saldo 












250.000.000




















22.700.000







Saat ini Yayasan Dakwah Daar El Dzikr Berupaya Untuk Membebasakan Tanah Seluas 10.000m2 Untuk Pendirian Pondok Pesantren Tahfidz Daar El Dzikr.


Alhamdullillah Telah Dibebsan Tanah Seluas 5.500m2 Seharga Rp. 250.000.000 Dan Masih Sisa Tanah Lagi Seluas 4.500m2 Yang Belum Terbebaskan Dengan Harga Rp.130.000/m2 , Sekitar Rp.585.000.000





Untuk Itu Kami Yayasan Daar El Dzikr Mengajak Kepada Seluruh Kaum Muslim Dimanapun Berada Untuk Mensedakohkan Hartanya Dijalan Alloh Guna Pendirian Ma'had Tahfidz Daar El Dzikr Sebaga Sarana Dakwah Untuk Mencetak Generasi Yang Faham Al-Qura'an dan Sunnah Nabi shalallohu 'alaihi wasalam.





Bagi Kaum Muslimin Yang Ingin Mensedakohkan Hartanya Berikut Nomer Rekening Kami :  






Rekening BRI


Nomor 6893 0101 0717 533


Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir





Rekening BNI Syariah


Nomor 03919 70153


Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir





SMS Konfirmasi 


1. Jumanto, S.Pd.I. (Ketua) - 0813 8443 1686


2. Darmono (Bendahara) - 0852 2938 5801





Dengan Format : DPT#bank#nominal#nama#





Pilih wakaf anda:


1.Wakaf Tanah 1m2 = 130.000,- 


2.Wakaf Tanah 2m2 = 260.000,- 


3.Wakaf Tanah 3m2 = 390.000,- 


4.Dan Setrusnya Berlaku Kelipatannya








Jazakumullohu Khoiron Katsiron