Laman

Hikmah Ibadah Haji






HIKMAH IBADAH HAJI







Oleh


Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz rohimhulloh







Diantara Asmaul Husna yang dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
Al-Hakim yang bermakna : “Yang menetapkan Hukum, atau Yang mempunyai
sifat Hikmah, di mana Allah tidak berkata dan bertindak dengan sia-sia.
Oleh karena itulah semua syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai
kebaikan yang besar dan manfaat yang banyak bagi hamba-Nya di dunia
seperti kebagusan hati, ketenangan jiwa dan kebaikan keadaan. Juga
akibat yang baik dan kemenangan yang besar di kampung kenikmatan
(akhirat) dengan melihat wajah-Nya dan mendapatkan ridha-Nya.





Demikian pula haji, sebuah ibadah tahunan yang besar yang Allah
syari’atkan bagi para hamba-Nya, mempunyai berbagai manfaat yang besar
dan tujuan yang besar pula, yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat.
Dan diantara hikmah ibadah haji ini adalah.





1. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah





Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan
hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan
haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama
yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak
ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan-Nya.





Dan hal ini telah diisyaratkan dalam firman-Nya.





وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ
بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ
وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ





“Dan ingatlah ketika Kami menempatkan tempat Baitullah untuk Ibrahim
dengan menyatakan ; “Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apapun dan
sucikan rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, beribadah, ruku dan
sujud” [al-Hajj/22: 26]





Mensucikan rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah
semata-mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka’bah) yang mulia,
mebersihkan sekitar Ka’bah dari berhala-berhala, patung-patung,
najis-najis yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan serta dari segala
hal yang mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan haji atau umrah
atau hal-hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -pent) dari tujuan
mereka.





2. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah





عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله
عليه وسلم قَالَ : اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا
بَيْنَهُمَا, وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا
اَلْجَنَّةَ





“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa
antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah”
[HR Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275]





مَنْ حَجَّ لِلَّه فَلَمْ يَرْفُثْ وَ لَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ





“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendengar Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke
Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya
ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” [HR Bukhari]


Rafats : jima’ ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq : kemaksiatan


Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka’bah, kemudian menunaikan haji
atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq serta dengan ikhlas
karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, niscaya Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan menuliskan jannah baginya. Dan hal
inilah yang didambakan oleh setiap mu’min dan mu’minah yaitu meraih
keberuntungan berupa jannah dan selamat dari neraka.





3. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam





وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ





“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang
datang dari segenap penjuru yang jauh”[al-Hajj/22: 27]


Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada
manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan siapa saja yang Dia
kehendaki (untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam
tersebut dan menyambutnya. Hal itu berlangsung semenjak zaman Nabi
Ibrahim hingga sekarang.





4. Menyaksikan Berbagai Manfaat Bagi Kaum Muslimin





Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :





لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ





“Agar supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [al-Hajj/22: 28]





Alah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan manfaat-manfaat dengan muthlaq
(secara umum tanpa ikatan) dan mubham (tanpa penjelasan) karena
banyaknya dan besarnya menafaat-manfaat yang segera terjadi dan nanti
akan terjadi baik duniawi maupun ukhrawi.





Dan diantara yang terbesar adalah menyaksikan tauhid-Nya, yakni
mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Mereka
datang dengan niat mencari wajah-Nya yang mulia bukan karena riya’
(dilihat orang lain) dan juga bukan karena sum’ah (dibicarakan orang
lain). Bahkan mereka betauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta mengikrarkan
(tauhid) di antara hamba-hamba-Nya, dan saling menasehati di antara
orang-orang yang datang (berhaji dan sebagainya,-pent) tentangnya
(tauhid).


Mereka thawaf mengelilingi Ka’bah, mengagungkan-Nya, menjalankan
shalat di rumah-Nya, memohon karunia-Nya, berdo’a supaya ibadah haji
mereka diterima, dosa-dosa mereka diampuni, dikembalikan dengan selamat
ke nergara masing-masing dan diberi anugerah kembali lagi untuk berdo’a
dan merendah diri kepda-Nya.





Mereka mengucapkan talbiyah dengan keras sehingga di dengar oleh
orang yang dekat ataupun yang jauh, dan yang lain bisa mempelajarinya
agar mengetahui maknanya, merasakannya, mewujudkan di dalam hati, lisan
dan amalan mereka. Dan bahwa maknanya adalah : Mengikhlaskan ibadah
semata-mata untuk Allah dan beriman bahwa Dia adalah ‘ilah mereka yang
haq, Pencipta mereka, Pemberi rizki mereka, Yang diibadahi sewaktu haji
dan lainnya.





5. Saling Mengenal Dan Saling Menasehati





Dan diantara hikmah haji adalah bahwa kaum muslimin bisa saling mengenal
dan saling berwasiat dan menasehati dengan al-haq. Mereka datang dari
segala penjuru, dari barat, timur, selatan dan utara Makkah, berkumpul
di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tua, di Arafah, di Muzdalifah,
di Mina dan di Makkah. Mereka saling mengenal, saling menasehati,
sebagian mengajari yang lain, membimbing, menolong, membantu untuk
maslahat-maslahat dunia akhirat, maslahat taklim tata cara haji, shalat,
zakat, maslahat bimbingan, pengarahan dan dakwah ke jala Allah.





Mereka bisa mendengar dari para ulama, apa yang bermanfaat bagi
mereka yang di sana terdapat petunjuk dan bimbingan menuju jalan yang
lurus, jalan kebahagiaan menuju tauhidullah dan ikhlas kepada-Nya,
menuju ketaatan yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
mengetahui kemaksiatan untuk dijauhi, dan supaya mereka mengetahui
batas-batas Allah dan mereka bisa saling menolong di dalam kebaikan dan
taqwa.





6. Mempelajari Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala





Dan diantara manfaat haji yang besar adalah bahwa mereka bisa
mempelajari agama Allah dilingkungan rumah Allah yang tua, dan di
lingkungann masjid Nabawi dari para ulama dan pembimbing serta memberi
peringatan tentang apa yang mereka tidak ketahui mengenai hukum-hukum
agama, haji, umrah dan lainnya. Sehingga mereka bisa menunaikan
kewajiban mereka dengan ilmu.





Dari Makkah inilah tertib ilmu itu, yaitu ilmu tauhid dan agama.
Kemudian (berkembang) dari Madinah, dari seluruh jazirah ini dan dari
seluruh negeri-negeri Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada ilmu dan ahli
ilmu. Namun semua asalnya adalah dari sini, dari lingkungan rumah Allah
yang tua.





Maka wajib bagi para ulama dan da’i, dimana saja mereka berada,
terlebih lagi di lingkungan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, untuk
mengajari manusia, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah,
orang-orang asli dan pendatang serta para penziarah, tentang agama dan
manasik haji mereka.


Seorang muslim diperintahkan untuk belajar, bagaimanapun (keadaannya)
ia, dimana saja dan kapan saja ; tetapi di lingkungan rumah Allah yang
tua, urusan ini (belajar agama) lebih penting dan mendesak.


Dan di antara tanda-tanda kebaikan dan kebahagian seseorang adalah
belajar tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu
‘alaihi bersabda :





مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ





“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
memperoleh kebaikan, niscaya Dia menjadikan faqih terhadap agama” [HR
Bukhari, Kitab Al-Ilmi 3 bab : 14]





Di sini, di negeri Allah, di negerimu dan di negeri mana saja, jika
engkau dapati seorang alim ahli syari’at Allah, maka pergunakanlah
kesempatan. Janganlah engkau takabur dan malas. Karena ilmu itu tidak
bisa diraih oleh orang-orang yang takabur, pemalas, lemah serta pemalu.
Ilmu itu membutuhkan kesigapan dan kemauan yang tinggi.





Mundur dari menuntut ilmu, itu bukanlah sifat malu, tetapi suatu kelemahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.





وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ





“Dan Allah tidak malu dari kebenaran” [al-Ahzab/ : 53]





Karenanya seorang mukmin dan mukminah yang berpandangan luas, tidak
akan malu dalam bab ini ; bahkan ia maju, bertanya, menyelidiki dan
menampakkan kemusykilan yang ia miliki, sehingga hilanglah kemusykilan
tersebut.





7. Menyebarkan Ilmu





Di antara manfaat haji adalah menyebarkan ilmu kepada saudara-saudaranya
yang melaksanakan ibadah haji dan teman-temannya seperjalanan, yang di
mobil, di pesawat terbang, di tenda, di Mekkah dan di segala tempat. Ini
adalah kesempatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan. Engkau
bisa menyebarkan ilmu-mu dan menjelaskan apa yang engkau miliki, akan
tetapi haruslah dengan apa yang engkau ketahui berdasarkan Al-Kitab dan
As-Sunnah dan istimbath ahli ilmu dari keduanya. Bukan dari kebodohan
dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah.





8. Memperbanyak Ketaatan





Di antara manfaat haji adalah memperbanyak shalat dan thawaf, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.





ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ





“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan
mereka ; hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan
hendaklah mereka berthawaf sekeliling rumah yang tua itu (Ka’bah)”
[Al-Hajj/22 : 29]





Maka disyariatkan bagi orang yang menjalankan haji dan umrah untuk
memperbanyak thawaf semampunya dan memperbanyak shalat di tanah haram.
Oleh karena itu perbanyaklah shalat, qira’atul qur’an, tasbih, tahlil,
dzikir. Juga perbanyaklah amar ma’ruf nahi mungkar dan da’wah kepada
jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana banyak orang berkumpul dari
Afrika, Eropa, Amerika, Asia dan lainnya. Maka wajib bagi mereka untuk
mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.






9. Menunaikan Nadzar





Walaupun nadzar itu sebaiknya tidak dilakukan, akan tetapi seandainya
seseorang telah bernadzar untuk melakukan ketaatan, maka wajib baginya
untuk memenuhinya.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.





مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ





“Barangsiapa bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah dia mentaati-Nya” [HR Bukhari]





Maka apabila seseorang bernadzar di tanah haram ini berupa shalat,
thawaf ataupun ibadah lainnya, maka wajib baginya untuk menunaikannya di
tanah haram ini.





Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.





وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ





“Dan hendaklah mereka menunaikan nadzar” [al-Hajj/22: 29]





10. Menolong Dan Berbuat Baik Kepada Orang Miskin





Di antara manfaat haji adalah bisa menolong dan berbuat baik kepada
orang miskin baik yang sedang menjalankan haji atau tidak di negeri yang
aman ini.


Seseorang dapat mengobati orang sakit, menjenguknya, menunjukkan ke rumah sakit dan menolongnya dengan harta serta obat.


Ini semua termasuk manfaat-manfaat haji.


لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ


“….agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [al-Hajj/22: 28]







11. Memperbanyak Dzikir Kepada Allah









Di negeri yang aman ini hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah, baik
dalam keadaan berdiri, duduk dan bebaring, dengan tasbih (ucapan
Subhanallah), hamdalah (ucapan Alhamdulillah), tahlil (ucapan Laa ilaaha
ilallah), takbir (ucapan Allahu Akbar) dan hauqallah (ucapan Laa haula
wa laa quwata illa billah).







Dari Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :





مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ





“Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan yang tidak
mengingat-Nya adalah sebagai orang hidup dan yang mati”. [HR Bukhari,
Bahjatun Nadzirin no. 1434]






12. Berdo’a Kepada-Nya





Di antara manfaat haji, hendaknya bersungguh-sungguh merendahkan diri
dan terus menerus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia
menerima amal, membereskan hati dan perbuatan ; agar Dia menolong untuk
mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya ;
agar Dia menolong untuk menunaikan kewajiban dengan sifat yang Dia
ridhai serta agar Dia menolong untuk berbuat baik kepada
hamba-hamba-Nya.





13. Menunaikan Manasik Dengan Sebaik-Baiknya





Di antara manfaat haji, hendaknya melaksanakannya dengan sesempurna
mungkin, dengan sebaik-baiknya dan seikhlas mungkin baik sewaktu
melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah, melempar
jumrah, maupun sewaktu shalat, qira’atul qur’an, berdzikir, berdo’a dan
lainnya. Juga hendaknya mengupayakannya dengan kosentrasi dan ikhlas.





14. Menyembelih Kurban





Di antara manfaat haji adalah menyembelih (binatang) kurban, baik yang
wajib tatkala berihram tammatu dan qiran, maupun tidak wajib yaitu untuk
taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala





Sewaktu haji wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
berkurban 100 ekor binatang. Para sahabat juga menyembelih kurban.
Kurban itu adalah suatu ibadah, karena daging kurban dibagikan kepada
orang-orang miskin dan yang membutuhkan di hari-hari Mina dan lainnya.


Demikianlah sebagian hikmah dari ibadah haji (rukun Islam yang ke
lima) mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaatnya, dan senantiasa
diberi petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta diberi kemudahan
untuk menunaikannya. Aamiin





[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun III/1419H/1999M,
Disadur oleh Abu Shalihah dari Majalah Al-Furqon nomor 72 hal.18-21. ] sumber : almanhaj.or.id






Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Lemah


BERBUAT BAIK KEPADA ORANG-ORANG LEMAH







Oleh


Dr Fadhl Ilahi







Termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah berbuat baik kepada
orang-orang miskin. Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan bahwa para hamba itu ditolong dan diberi rizki disebabkan
oleh orang-orang yang lemah di antara mereka.


Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’d Radhiyallahu anhu
ia berkata, ‘Bahwasanya Sa’d Radhiyallahu anhu merasa dirinya memiliki
kelebihan daripada orang lain. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.





هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ؟





“Bukankah kalian ditolong [1] dan diberi rizki lantaran orang-orang lemah di antara kalian?” [2]





Karena itu, siapa yang ingin ditolong Allah dan diberi rizki olehNya
maka hendaknya ia memuliakan orang-orang lemah dan berbuat baik kepada
mereka.





Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia juga menjelaskan
bahwa keridhaannya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat diperoleh dengan
berbuat baik kepada orang-orang miskin.





Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan
Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia
berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.





اِبْغُوْنِيْ فِي ضُعَفَائِكُمْ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَ تُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ





“Carilah (keridhaan)ku melalui orang-orang lemah di antara kalian.
Karena sesungguhnya kalian diberi rizki dan ditolong dengan sebab
orang-orang lemah di antara kalian” [3]





Menjelaskan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas Al-Mulla
Ali Al-Qari berkata, ‘Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada
orang-orang miskin di antara kalian. [4]





Dan barangsiapa berusaha mendapatkan keridhaan kekasih Yang Maha
Memberi rizki dan Maha Memiliki kekuatan dan keperkasaan, Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbuat baik kepada orang-orang
miskin, niscaya Tuhannya akan menolongnya dari para musuh serta akan
memberi rizki.





[Disalin dari kitab Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah,
Penulis DR Fadhl Ilahi, Edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut
Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Penerbit
Darul Haq- Jakarta]


sumber : almanhaj.or.id


_______


Footnote


[1]. (Seperti) ditolong dari serangan musuh [Murqatul Mafatih, 9/84


[2]. Shahihul Bukhari (yang dicetak bersama Umdatul Qari), Kitab
Al-Jihad was Siyar, Bab Man Ista’ana Bidh Dhu’afa Wash Shalihin Fil
Harbi, no. 108, 14/179


[3]. Al-Musnad 5/198 (cet. Al-Maktab Al-Islami) ; Sunan Abi Daud Kitab
Al-Jihad, Bab Al-Intishar bi Radhalil Khail Wadh Dha’fah, no. 2591,
7/183 ; Jami’ut Tirmidzi, Ababul Jihad, Bab Ma Ja’a Fil Istiftah bi
Sha’alikil Muslimin, no. 1754, 5/291, dan redaksi ini adalah miliknya ;
Sunan An-Nasa’i, Kitab Al-Jihad, Al-Istinshar bidh Dha’if 6/45-46 ;
Al-Ihsan Fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitab As-Siar, Bab Al-Khuruj wa
Kaifiyatul Jihad, Dikru Istihbabil Intishar bi Dhu’aafa’il Muslimin
‘inda Qiyamil Harbi ‘ala Saq, no. 4767, 11/85 ; Al-Mustadrak ‘alash
Shahihain, Kitab Al-Jihad, 2/106. Tentang hadits ini Imam At-Tirmidzi
berkata, Ini adalah hadits Hasan Shahih. (Jami’ut Tirmidzi, 5/292). Dan
dishahihkan oleh Imam Al-Hakim. (Lihat, Al-Mustadrak, 2/106). Disepakati
oleh Adz-Dzahabi (Lihat, At-Talkish, 2/106). Juga dishahihkan oleh
Syaikh Al-Albani. (Lihat Shahih Sunan Abu Daud, 2/492 ; Shahih Sunan
At-Tirmidzi, 2/140 ; Shahih Sunan An-Nasa’i 2/669 ; Silsilatul Ahadits
Ash-Shahihah, no. 779, 2/422


[4]. Lihat, Murqatul Mafatih, 9/84






Betapa Penting Menyambung Silaturahmi








BETAPA PENTING MENYAMBUNG SILATURAHMI







Oleh


Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rohimahulloh







Marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Takwa yang juga dapat
mengantarkan kita pada kebaikan hubungan dengan sesama manusia. Lebih
khusus lagi, yaitu sambunglah tali silaturahmi dengan keluarga yang
masih ada hubungan nasab (anshab). Yang dimaksud, yaitu keluarga itu
sendiri, seperti ibu, bapak, anak lelaki, anak perempuan ataupun
orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari orang-orang sebelum
bapaknya atau ibunya. Inilah yang disebut arham atau ansab. Adapun
kerabat dari suami atau istri, mereka adalah para ipar, tidak memiliki
hubungan rahim ataupun nasab.





Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara
saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan
pemberian yang lain. Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut,
berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang
sudah dikenal manusia dalam membangun silaturahmi. Dengan silaturahmi,
pahala yang besar akan diproleh dari Allah Azza wa Jalla. Silaturahim
menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam surga. Silaturahim juga
menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di
dunia dan akhirat.





Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:





أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا
يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ :
لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ
الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ
شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ
فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ
دَخَلَ الْجَنَّةَ





“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang
bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi
taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau
katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah
dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat,
membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu
pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia
melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.





Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur
panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :





مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ





“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan
umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun
‘alaihi].





Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:





الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ





“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang
menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang
memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun
‘alaihi].





Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa
menyambung silaturahmi lebih besar pahalanya daripada memerdekakan
seorang budak. Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn,
dia berkata:





يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ
أَوَفَعَلْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا
أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ





“Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?”
Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”.
Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada
paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.





Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau
menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu
mau menyambungnya. Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang
ini bukanlah silaturahmi, tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap
orang yang berakal tentu berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan
yang telah diberikan kepadanya, meskipun dari orang jauh.





Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:





لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا





“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung
hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung
silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang
sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].





Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan
kerabat-kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan
mendapatkan balasan yang baik atas mereka.





Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:





يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي
وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ
وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا
تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ
عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ





“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan
dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada
mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut
kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian,
maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan
senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.”
[Muttafaq ‘alaihi].





Begitu pula firman Allah Ta’ala:





وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ
وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي
الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ





“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh
dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan
mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan
dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”.
[ar-Ra’d/13:25].





Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:





لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ





“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].





Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan
dengan orang tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat
selanjutnya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda





أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا
بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ
الْوَالِدَيْنِ





”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa
besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para
sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua
orang tua”.


Demikianlah, betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang
tua. Dosa itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala.
Termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau
berbuat baik kepada keduanya. Lebih parah lagi jika disertai dengan
menyakiti dan memusuhi keduanya, baik secara langsung maupun tidak
langsung.





Dalam shahîhain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:





مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ
اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا
الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ





”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang
tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang
yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang
lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang
lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”.





Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita melihat diri
kita masing-masing, sanak keluarga kita! Sudahkah kita menunaikan
kewajiban atas mereka dengan menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita
berlemah lembut terhadap mereka? Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu
dengan mereka? Sudahkah kita mengunjungi mereka? Sudahkah kita
mencintai, memuliakan, menghormati, saling menunjungi saat sehat, saling
menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu memenuhi atau sekedar
meringankan yang mereka butuhkan?





Ada sebagian orang tidak suka melihat kedua orang tuanya yang dulu
pernah merawatnya kecuali dengan pandangan yang menghinakan. Dia
memuliakan istrinya, tetapi melecehkan ibunya. Dia berusaha mendekati
teman-temannya, akan tetapi menjahui bapaknya. Apabila duduk dengan
kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia sedang duduk di atas bara api.
Dia berat apabila harus bersama kedua orang tuanya. Meski hanya sesaat
bersama orang tua, tetapi ia merasa begitu lama. Dia bertutur kata
dengan keduanya, kecuali dengan rasa berat dan malas. Sungguh jika
perbuatannya demikian, berarti ia telah mengharamkan bagi dirinya
kenikmatan berbakti kepada kedua orang tua dan balasannya yang terpuji.





Ada pula manusia yang tidak mau memandang dan menganggap sanak
kerabatanya sebagai keluarga. Dia tidak mau bergaul dengan karib
kerabat dengan sikap yang sepantasnya diberikan sebagai keluarga. Dia
tidak mau bertegus sapa dan melakukan perbuatan yang bisa menjalin
hubungan silaturahmi. Begitu pula, ia tidak mau menggunakan hartanya
untuk hal itu. Sehingga ia dalam keadaan serba kecukupan, sedangkan
sanak keluarganya dalam keadaan kekurangan. Dia tidak mau menyambung
hubungan dengan mereka. Padahal, terkadang sanak keluarga itu termasuk
orang-orang yang wajib ia nafkahi karena ketidakmampuannya dalam
berusaha, sedangkan ia mampu untuk menafkahinya. Akan tetapi, tetap saja
ia tidak mau menafkahinya.





Para ahlul-‘ilmi telah berkata, setiap orang yang mempunyai hubungan
waris dengan orang lain, maka ia wajib untuk memberi nafkah kepada
mereka apabila orang lain itu membutuhkan atau lemah dalam mencari
penghasilan, sedangkan ia dalam keadaan mampu. Yaitu sebagaimana yang
dilakukan seorang ayah untuk memberikan nafkah. Maka barang siapa yang
bakhil maka ia berdosa dan akan dihisab pada hari Kiamat.





Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi.
Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang
menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali
silaturahmi. Atau ia menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang
memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon ampun kepada Allah
Ta’ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.





[Diadaptasi oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi’, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, hlm. 505-508]


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M.] sumber : almanhaj.or.id

Laporan Donasi Pembangunan Islamic Center Daar El Dzikr Sampai Bulan Juli 2016


Laporan Pemasukan Donasi Pembangunan Islamic Centre Daar El Dzikr 


(Bualan Juli 2016)



























Foto Proses Pembangunan sampai bulan juli 2016





















































no.tanggal pemasukan 
 jumlah  ket. 
1
 pembayaran uged tku april-juni 2015 
 Rp    1.430.000 tunai 
2
 pembayaran uged sdu 
 Rp128.455.000 tunai 
323-Mar-15abu niswah/agus susilo
 Rp       500.000 transfer bri 
424-Mar-15dari ibuny pak sofyan(bu sumarsih)
 Rp    1.000.000 tunai 
57-Apr-15Hamba Alloh (9 muhsinin)
 Rp    2.940.000 tunai 
69-Apr-15wahyudi
 Rp       150.000 tunai 
713-Apr-15rusmini
 Rp       500.000 transfer bri 
817-Jun-15 muhammad  fadhil ramadhan-sdu 
 Rp       100.000 tunai 
917-Jun-15 ilham farras-sdu 
 Rp       100.000 tunai 
1017-Jun-15 anisa&adita-sdu 
 Rp         50.000 tunai 
11
 pembayaran uged tku juli 2015 -skrng 
 Rp  14.480.000 tunai 
1228-Jul-15 ahmad arif w-sdu 
 Rp       200.000 tunai 
1329-Jul-15 erina 
 Rp       100.000 tunai 
1430-Jul-15 aisyah aulia k-2a 
 Rp       150.000 tunai 
153-Ags-15 akbar baihaqi sdu 4a 
 Rp       250.000 tunai 
1614-Ags-15 aisyah aulia k-2a 
 Rp       200.000 tunai 
1718-Ags-15 tarjo-karangasem(kakeknya mahrus) 
 Rp       336.500 tunai 
1819-Ags-15 azzahro-tku 
 Rp       100.000 tunai 
1931-Ags-15 potongan buku yudhistira 
 Rp  12.000.000 tunai 
207-Sep-15 mushlih labib-3a 
 Rp         50.000 tunai 
2117-Sep-15 inas - 2a sdu 
 Rp       250.000 tunai 
2221-Sep-15 amri&atikah 
 Rp       300.000 tunai 
2330-Sep-15 Ibu Hj. Sumi ( neneknya hanifah kl.1 ) 
 Rp    2.000.000 tunai 
2427-Okt-15 bambang abu nabila-pule 
 Rp       250.000 tunai 
256-Nop-15 mahrus khoiruddin-2c 
 Rp    2.000.000 tunai 
2610-Nop-15 muhsinin tangerang 
 Rp       300.000 transfer bri 
2715-Jan-16 muhammad  fadhil ramadhan-6a 
 Rp       500.000 tunai 
2822-Jan-16 saryadi 
 Rp         50.000 tunai 
291-Feb-16 zuhdan Raufan 
 Rp         50.000 tunai 
304-Feb-16 joko catur 
 Rp    2.000.000 transfer bri 
3112-Feb-16 Atik 
 Rp    1.000.000 tunai 
3215-Feb-16 Wati 
 Rp  30.000.000 transfer bni 
3317-Feb-16 malik 
 Rp         40.000 tunai 
3420-Feb-16 Hamba Alloh 
 Rp       260.000 tunai 
3520-Feb-16 najwa 
 Rp       100.000 tunai 
3623-Feb-16 Abu salman 
 Rp       100.000 tunai 
3711-Mar-16 Hamba Alloh 
 Rp       500.000 transfer bri 
3830-Mar-16 Rohmat Budi Santoso 
 Rp       300.000 tunai 
3921-Mar-16 bambang Setiyadi 
 Rp       500.000 tunai 
4023-Mar-16 Hamba Alloh 
 Rp       100.000 transfer bri 
41
 pembayaran tku 1617 
 Rp    6.180.000
42
 pembayaran sdu 1617 
 Rp  27.525.000
4311-Apr-16 Windy 
 Rp    1.000.000 transfer bni  
4425-Apr-16 Hamba Alloh 
 Rp       150.000 transfer bni  
4526-Apr-16 Ibu Ummi 
 Rp    5.000.000 tunai 
4626-Apr-16 sarni 
 Rp       100.000 tunai 
47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

87

78


2-Mei-16

26-May-16

30-May-16

30-May-16

01-Juni-16

02-Juni-16

04-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

21-Juni-16

21-Juni-16

22-Juni-16

23-Juni-16

-

25-Juni-16

25-Juni-16

26-Juni-16

29-Juni-16

29-Juni-16

30-Juni-16

01-Juli-16

02-Juli-16

02-Juli-16

02-Juli-16

02-Juli-16

02-Juli-16

02-Juli-16

02-Juli-16

02-Juli-16

-

03-Juli-16

04-Juli-16

16-Juli-16

19-Juli-16

19-Juli-16

20-Juli-16


 Hamba Alloh

Atik


Ibu Syafi'uddin


Ibu Hanan


Ummu Nayla


Damas Aji Nugroho

Ummu Azka

Hamba Alloh

Ummu Alna

Fikri Tsaqib

Sava Alma

Agung

Fatimah Yasmin

Wali Murid SDU

Nauval Ammar

Ardi Sundari

Abu Abidah

Hamba Alloh

Sunyoto

Wali Murid SDU kls 6

Keluarga Sutrisno

Hamba Alloh

Lingga

Alumni SDU Ank-l-V

Abdulloh

Rahmina

Hamba Alloh

Ashari Susanto

Dewinta

Soewondo

Erdi

Abdul Azizi

 Rahmina

Amalia Firdausi&Vinda

Hamba Alloh

Rosyid Syidik

Ummu Fathi

Erdi

Diwani

Luqman

Hamba Alloh

Yudistira





 Rp       150.000

Rp        250.000

Rp        100.000

Rp        100.000

Rp        150.000

Rp        800.000

Rp        300.000

Rp        100.000

Rp        300.000

Rp        300.000

Rp        100.000

Rp        100.000

Rp        100.000

Rp     1.595.000

Rp        100.000

Rp     2.000.000

Rp        100.000

Rp        150.000

Rp        100.000

Rp     4.085.000

Rp     4.000.000

Rp   10.000.000

Rp        100.000

Rp        391.000

Rp     5.000.000

Rp        500.000

Rp        500.000

Rp     1.100.000

Rp        500.000

Rp     1.000.000

Rp        250.000

Rp        500.000

Rp        500.000

Rp     2.000.000

Rp        500.000

Rp     1.000.000

Rp        500.000

Rp        250.000

Rp        373.000

Rp        100.000

Rp        200.000

Rp      7.000.000


 tunai 

BRI

tunai

tunai

tunai

BNI

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

BRI

BRI

BRI

tinai

tunai

BNI

BRI

BRI

Tunai

BRI

BRI

Tunai

 BNI

BRI

BRI

BRI

BNI

BNI

BRI

BRI

BNI

BRI

BRI

tunai

tunai

tunai

Laba Buku








Jumlah Total Donasi
Rp 315.080.500








AlhamdulliahPerkembangan
dakwah islamiyah sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah As Shahihah di
Kecamatan Bulu dan sekitarnya semakain hari semakin semarak.


dikarnakan minat masyarakat untuk mendalami Islam.kami Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr dibawah binanan Al Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsuddin, Lc.
berancana untuk membangunsebuah Islamic Centeryang dapat digunakan
untuk pusat dakwah,pengajian islam,pengkajian Al-Qur'an dan pengkajian
bahasa Arab.


Esteminasi dana yang dibutuhkan adalah sebesar Rp.672,000,000,-


Kami membuka kesempatan kepada para donatur untuk berpartisipasi dalam pembangunan Islamic Center Daar El Dzikr.


donasi dapat dikirimkan ke 


Rekening Donasi :


BNI SYARIAH SURAKARTA


Nomer : 03919 70153


a.n Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr


BRI cab.Bulu,Sukoharjo


Nomer : 6893 0101 1485 537


a.n Panitia Pembangunan Islamic Center





SMS Konfirmasi : 


PPICD#Bank#Nominal#Nama


Kirim Ke :

1. Jumanto S.Pd.I ( Ketua) 0813 8443 1686

2. Darmono ( Bendahara ) 0852 2938 5801




Informasi Lengka Kunjungi Website kami ydidd.com