Laman

ISLAM BUKAN PRASMANAN

Aqidah Muslim : " Islam Bukan Agama Prasmanan ”







Prasmanan, adalah sebuah istilah yang
tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan
mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah
ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil.
Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan
seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.





Prasmanan dalam pandangan Islam
boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman
yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.





Lantas mengapa artikel ini berjudulkan,
“Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin
menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia
suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.






Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,






أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾






Artinya: “Apakah kalian mengimani
sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada
balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian,
melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak
mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah
sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.”
QS. Al-Baqarah (2): 85.





Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala
mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan
seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam
arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain
kita tolak.





Banyak orang ketika shalat menggunakan
tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh
Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat
berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama
lain.





Ada juga yang saat berpuasa konsisten
dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta.
Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam,
sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan,
memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan
berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah
masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu
boleh menghalalkan segala cara.





Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana
mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika
berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang
keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara
berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur
hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir
hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar
mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.





Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,






يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ






Artinya: “Wahai orang-orang yang
beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah
kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh
yang nyata bagi kalian”.
QS. Al-Baqarah (2): 208.





Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…





Oleh : Ustadz  Abdullah Zaen, Lc., MA hafidzohullah


sumber : tunasilmu.com

Tanamkan Rasa Yakin dalam Diri!








Ketakwaan sangat penting bagi seorang muslim yang ingin mencapai
kebahagian dunia dan akherat. Namun tentunya hal ini membutuhkan rasa
yakin yang tinggi terhadap Allah, janji-janjinya serta semua yang Allah
tetapkan sebagai hadiah ketakwaaan.





Apa itu rasa yakin?





Yakin yang bagaimana yang dituntut dari seorang
hamba dalam mencapai keimanan dan ketakwaannya? Satu pertanyaan yang
mungkin dianggap ringan namun ternyata masih banyak orang yang tidak
mampu menjawabnya.







Yakin adalah tingkatan tertinggi dan sempurna dari ilmu, yaitu
kekuatan dalam ilmu yang dibangun diatas dalil yang benar dan pemahaman
yang tepat. (Lihat Nasihatun Lisy Syabab, Syeikh Ibrahim Ar- Ruhaili hal. 9).


Sehingga dikatakan ia adalah ilmu pengetahuan yang tidak ada sedikitpun keraguan dan keyakinan yang sesuai dengan realitasnya. (Bahjah An-Nazhirin, 1/149).





Dapat juga dikatakan ia adalah kekuatan iman dan keistiqamahan yang
dimiliki seseorang sehingga dengan rasa yakin yang kuat ia seakan-akan
melihat sesuatu yang diyakininya itu seperti melihatnya secara langsung.


Hal ini dapat digambarkan dengan kejadian yang menimpa para sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam perang Ahzab yang Allah abadikan dalam firman-Nya,





“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang
bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan
Rasul-Nya kepada kita”.Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.Dan yang
demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan
ketundukan.’
” (QS. Al-Ahzab: 22).





Lihatlah pernyataan mereka ketika mereka dikepung pasukan sekutu
Quraisy yang menunjukkan keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah dan
kemenangan.





Tingkatan Yakin





Yakin memiliki tiga tingkatan,


  1. Ilmu Yaqin, yaitu keyakinan yang dibangun dengan ilmu dan pengetahuan seperti menyakini adanya syurga dan neraka

  2. ‘Ainul Yaqin, yaitu yakin yang dibangun dengan melihat langsung seperti langsung melihat syurga dan meraka

  3. Haqul Yaqin, yaitu yakin yang dibangun dengan langsung
    merasakannya seperti merasakan langsung kenikmatan syurga dan pedihnya
    neraka. Inilah tingkatan yakin yang tertinggi.



Urgensi Yakin dalam Islam





Sikap yakin ini memiliki kedudukan tinggi dalam Islam dan dalam
kehidupan seorang muslim. Hal ini dapat dilihat dari hal berikut ini:





1. Yakin sebagai satu syarat syahadatain.





Seorang yang mengucapkan syahadatain harus merasa yakin dan tidak ragu dengan kata-kata yang diucapkannya. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya,





“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan
mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka
itulah orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Hujuraat:15)





Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,





أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا
عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ





“Asyhadu An Laa Ilaha Illa Allah Wa anni Rasululloh, tidaklah
seorang hamba menjumpai Allah dengan syahadatain ini dalam keadaan yakin
tanpa ada keraguan padanya kecuali ia akan masuk syurga.”
(HR. Muslim).





2. Yakin adalah ruh dari iman.





Ibnu al Qayyim menyatakan, ” Yakin dari iman seperti kedudukan ruh dari jasadnya. Orang bertingkat-tingkat keimanannya dengan perbedaan rasa yakin ini”. (Madarij As Salikin, 2/397).





Hal ini karena Yakin adalah ruh amalan hati yang menjadi ruh bagi
amalan anggota tubuh lainnya. Bahkan yakin adalah iman itu sendiri
seperti dinyatakan sahabat Ibnu Mas’ud dalam penuturan beliau, “Yakin
adalah iman seluruhnya, agama kita seluruhnya adalah yakin kepada
Allah, yakin kepada janji-janji Allah, yakin dengan semua yang disiapkan
Allah untuk orang-orang yang bertakwa didalam syurga dan yang disiapan
untuk orang-orang kafir di Neraka”.





3. Yakin kunci mendapatkan keimaman dalam agama.





Anda ingin mendapatkan derajat imam dalam agama maka tanamkan dan
sempurnakan sikap yakin ini dalam diri anda. Sebab dengan berbekal
kesabaran dan keyakinan yang benar dan sempurna anda mendapatkkannya
sebagaimana dijanjikan Allah dalam firmanNya,





“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang
memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah
mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
(QS. As-Sajdah:24).





Syeikhul Islam ibnu Taimiyah menyatakan, ” Dengan sabar dan Yakin, keimaman dalam agama dapat dicapai”.





4. Allah mengkhususkan orang yang yakin yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya.





Seperti dijelaskan dalam firman Allah,

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Adz-Dzaariyat: 20).





5. orang yang yakin mendapatkan petunjuk, keberuntungan dan rahmat dari Allah.





Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya,





“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah
diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu,
serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang
tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang
beruntung. (QS. Al Baqorah 2:45) dan firmanNya:

al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.”
(QS. Al-Jaatsiyah: 20).





dari sini jelaslah betapa pentingnya sikap yakin ini ditumbuhkan dalam jiwa kita semuanya.

Semoga bermanfaat.





Penulis Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel www.ustadzkholid.com


PASANGANMU adalah PAKAIANMU

Keluarga : " PASANGANMU adalah PAKAIANMU ”







Pakaian adalah salah satu kebutuhan primer seorang manusia. Allah ta’ala dalam sebuah firman-Nya mengibaratkan suami sebagai pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami.




“هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ”


Artinya: “Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”. QS. Al-Baqarah (2): 187.


Tentu ini adalah metafor yang sangat indah dan dalam maknanya. Berikut sedikit penjabarannya:



  1. Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat [QS. Al-A’raf (7): 26].



Begitu pula pasangan kita berfungsi
untuk menutup aurat dan aib kita. Suami dan istri harus saling menutupi
aib masing-masing. Sehebat apapun seseorang, ketika sudah berumah tangga
maka kekurangan dan kelemahannya akan sangat diketahui oleh
pasangannya. Di sinilah seorang suami harus menutupi aib istrinya dan
seorang istri juga harus menutupi aib suaminya. Bukan sebaliknya, justru
suami atau istri malah menjadi corong informasi yang menyebabkan aib
istri atau suami diketahui oleh tetangganya, teman kerjanya, teman
arisannya atau rekan bisnisnya. Begitu pula problematika rumah tangga,
tidak perlu dibeberkan kepada orang lain. Kecuali manakala tidak mampu
menyelesaikannya, maka meminta bantuan pihak ketiga yang terpercaya.


Lazimnya antara manusia dan pakaiannya
tidak ada pemisah, begitu juga suami istri hubungan satu sama lain harus
erat dan tidak ada orang asing yang ikut campur dalam urusannya.


  1. Pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh [QS. An-Nahl (16): 81].



Sebagaimana pakaian melindungi manusia
dari panas dan dingin, istri merupakan pelindung bagi suaminya dari
perbuatan zina, begitu pula sebaliknya. Maka hak hubungan biologis ini
harus ditunaikan dengan baik oleh masing-masing pasangan.


  1. Pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh [QS. Al-A’raf (7): 31].



Dengan pakaian penampilan seorang insan
akan semakin terlihat indah. Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan
berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan
kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi
istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat
istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada
saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.


Suami merasa senang, gembira, puas,
bahagia dan nikmat terhadap istrinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata,
ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengannya
dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga
harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat
terhadap dirinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan
dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga
(bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas
ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama
terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.


  1. Pakaian menyesuaikan cuaca



Biasanya seseorang menggunakan pakaian
sesuai dengan musim atau udara yang ia rasakan. Ketika hawa panas
manusia akan memakai baju yang agak tipis. Tapi kalau udara dingin,
mereka akan menggunakan pakaian yang tebal. Begitu juga dengan hubungan
suami istri, ketika suami dalam keadaan marah maka istri harus
menghadapinya dengan lemah lembut. Dan ketika istri dalam keadaan capek
maka suami harus mengobati rasa capeknya.


  1. Pakaian adalah penghangat tubuh



Sebagaimana pakaian dapat menghangatkan
tubuh manusia, maka suami harus bisa memberi kehangatan pada keluarganya
dan menjauhkan diri dari sifat dingin dan acuh tak acuh.


Suami adalah sumber ketentraman bagi
istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya.
Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari
pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.





Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA


Sumber : tunasilmu.com

Buah Kezhaliman

Kisah : " Buah Kezhaliman ”




















Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz









Allah pasti akan membalas orang yang dzalim. Berikut ini dua kisah nyata akibat buruk dari kedzaliman.


Kisah pertama, janda berprofesi sebagai dosen sudah dua kali ditalak.
Ia mencintai anak bibinya yang sudah beristri dan dikaruniai lima anak.
Ia bercerita, "Sepupu laki-laki ku yang lain mencintai istri laki-laki
yang kucintai. Kami berusaha bagaimana caranya memisahkan kedua suami
istri itu dengan harapan aku akan menikah dengan yang laki dan sepupuku
akan menikah dengan istrinya. Kami berhasil memfitnah dan menuduh
istrinya bahwa ia selingkuh. Mulailah kami menghembuskan isu diantara
kerabat, selang beberapa waktu berhasillah kami. Goncanglah rumah
tangganya dan berakhir dengan perceraian.




Setahun kemudian wanita
tersebut menikah lagi dengan laki-laki terhormat dan memiliki kedudukan
dan mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain, tidak dengan
diriku. Gagallah harapan kami, tinggallah kami memetik buah dari
kedzaliman kami. Setelah tujuh tahun kemudian saya terkena penyakit
kangker darah! Sedangkan anak bibiku yang ikut memfitnah, ia mati
terbakar saat terjadi kebakaran di rumahnya tiga tahun setelah kami
memfitnah.






Kisah kedua, seorang anak muda
menceritakan kisahnya, "Ketika saya sekolah di SMA terjadilah
pertengkaran antara saya dan teman. Teman saya itu anaknya pandai.
Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk menghancurkan masa depannya.
Suatu hari saya datang ke kelas pagi-pagi, saya bawa sabu-sabu dan saya
masukkan ke tas anak ini. Saya minta teman untuk telpon ke polisi
memberitahukan ada pengedar sabu-sabu di kelas. Strategi saya berhasil,
bahkan saya menjadi saksi palsu sebagai pengguna narkoba dan mengaku
membeli darinya.




Sejak kejadian hari itu, saya selalu merasakan
akibat dari kedzalimanku. Dua tahun lalu terjadi kecelakaan mobil,
tangan kanan saya diamputasi !  Saya menemui teman saya untuk minta maaf
tapi dia tidak mau memaafkan saya karena saya telah mencemarkan nama
baiknya. Keluarganya kecewa kepadanya dan para kerabat menjauhinya.
Setiap malam dia berdoa agar Allah membalas dan menimpakan keburukan
untukku. Dia banyak dirugikan karena ulahku, saya tahu doa orang yang
didzalimi itu mustajab. Disamping tangan kananku buntung sebelah, kedua
kakiku juga sekarang lumpuh akibat kecelakaan untuk kedua kalinya.
Sekarang saya duduk di kursi roda. Hidup saya sengsara, saya takut
kematian, saya takut adzab Allah yang pedih di alam kubur dan di
akhirat!. " ("Qawaid Qur'aniyyah" halaman 39-40, oleh Dr Umar Al Muqbil )




Selain
akibat buruk di dunia, orang yang berbuat dzalim tidak akan lepas dari
pengadilan Allah di akhirat meskipun di dunia bisa lolos dan selamat dan
dianggap sebagai orang yang baik di mata sebagian manusia. Allah
berfirman yang artinya, " Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah
lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang dzalim. Sesungguhnya
Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka)
terbelalak…" (Surah Ibrahim 42)




Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam bersabda, “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan semua
hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan
digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk
kambing yang tak bertanduk". (H.R.Muslim) Baru setelah itu mereka
dikembalikan menjadi tanah.



Jika kita berbuat dzalim segeralah
mengembalikan hak orang lain dan mintalah maaf serta segeralah bertaubat
sebelum terlambat. Jangan berpikir, "Apa kata manusia?".  Berpikirlah,
"Bagaimana saya selamat dari adzab Allah?".





sumber : (  http://www.fariqanuz.com/buah-kezhaliman/ )

Ingatlah Wahai Penista Agama!!









Maraknya fenomena penistaan agama dan gencarnya serangan terhadap
Islam dengan penuh kelancangan dan keberanian adalah sinyal kebangkitan
paham Abu Lahab dkk. yang telah berani mencela Allah, Rasul-Nya,
Kitab-Nya, dan agama-Nya.





Ketahuilah wahai saudaraku seiman -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahimu- bahwa istihza
(mengolok-ngolok) Allah, Nabi-Nya, Kitab-Nya, dan atau agama-Nya
bukanlah masalah yang sepele, melainkan masalah besar yang sangat
berbahaya karena bisa membatalkan keislaman seorang hamba. Allah
berfirman:






وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ
لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ
وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ {65} لاَتَعْتَذِرُوا
قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ
نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ {66}





Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka
lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah
bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan
Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak
usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami
memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan
mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang
selalu berbuat dosa
” (QS at-Taubah [9]: 65–66).





Ayat yang mulia ini memberikan kepada kita beberapa masalah penting:





Pertama: Kita harus memuliakan dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barang siapa menghina Allah Subhanahu wa Ta’ala
maka dia kafir, seperti ucapan Yahudi yang mengatakan Allah fakir dan
pelit, atau seperti ucapan Nashrani yang mengatakan bahwa Allah adalah
Isa ibn Maryam. Semua ini adalah celaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan termasuk kekufuran.





Kedua: Menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sunnahnya adalah kekufuran pula karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah kita semua untuk memuliakan dan mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.





Ketiga: Kita harus mengagungkan al-Qur’an dan memuliakannya karena al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-Nya yang mulia.





Keempat: Kita harus memuliakan agama Islam dan tidak mencelanya. Tidak boleh kita menghinanya dan melecehkannya.





Kelima: Orang yang tidak mengingkari penghinaan
kepada Allah, rasul-Nya, dan kitab-Nya maka dihukumi sama dengan
penghina (dianggap setuju dengan penghinaan tersebut), karena dalam
kejadian ini penghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah satu orang saja, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumi sama terhadap semua munafik yang ada karena mereka semua mengetahuinya tetapi tidak mengingkarinya.





Keenam: Siapa yang mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala, rasul-Nya, atau kitab-Nya maka dia kafir baik sengaja atau hanya bercanda.





Karena pentingnya ayat yang mulia ini, seyogianya setiap muslim
merenungi dan menghayatinya agar tidak terjatuh dalam kubangan dosa
penghinaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agama-Nya yang
semarak terjadi pada zaman sekarang, baik secara lisan atau tulisan di
media-media cetak atau elektronik. Hendaknya kita semua mewaspadai hal
ini dengan menjaga lisan kita dan menyibukkan diri dengan ilmu yang
bermanfaat dan amal shalih.





***





Disadur dari kitab Durusun fi Syarhi Nawaqidhil Islam hal.. 124–134 oleh asy-Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan al-Fauzan.


Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi


Artikel Muslim.or.id








AMALAN-AMALAN YANG PAHALANYA BERLIPAT GANDA

“Orang yang paling baik, Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya”







Setiap orang muslim diantara kita tentu
menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang
disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau ditanya:  Siapakah orang yang paling baik itu? Beliau menjawab:




“Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).



Kehidupan di dunia ini merupakan tempat
untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia
senang setelah kematian serta rela dengan apa yang ia kerjakan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
telah memberitahukan bahwa umur umatnya ini antara enam puluh sampai
tujuh puluh tahun, mereka tidak seperti umur-umur umat sebelumnya. Akan
tetapi Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menunjukkan
mereka kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala
yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat
menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu kalau dibandingkan
dengan umat-umat sebelumnya. Dan inilah yang dinamakan dengan “Al-A’maal Al-Mudha’afah” (amalan-amalan yang pahalanya berlipat ganda) yang tidak semua orang mengetahuinya.



Oleh karena
itu saya hendak menyebutkan sebagian besar dari padanya pada tulisan
yang singkat ini. Dengan harapan agar setiap orang diantara kita
menambah umurnya (dengan amalan) yang produktif dalam kehidupan dunia
ini. Agar tergolong dari orang-orang yang mengerti (untuk mengambil)
selanya. (Kata pepatah): “Darimanakah bahu itu di makan”. Maka mereka
memilih dari amalan-amalan tersebut mana yang paling ringan (dikerjakan)
oleh jiwa dan paling besar pahalanya. Orang seperti ini bagaikan orang
yang mengumpulkan permata-permata yang berharga dari dasar laut
sementara manusia yang lain (hanya) mendapatkan ombaknya saja.


Berikut ini akan kami sebutkan
amalan-amalan maupun ucapan-ucapan secara berurutan dan singkat, dengan
disertai dalil dari setiap ucapan atau amalan yaitu dalil-dalil dari
Kitabullah atau dari hadits-hadits yang shahih dan hasan. Allah-lah Yang
Maha Pemberi taufiq untuk setiap kebaikan.


1. Silaturrahim

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:



“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung (tali) silaturrahimnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).



2. Berakhlaq yang mulia

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:



“Silaturrahim, berbudi mulia dan ramah pada tetangga (dapat) mendirikan kabilah dan menambah umur.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).



3. Memperbanyak shalat di Haramain Syarifain

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Shalat di masjidku ini (Masjid
Nabawi) lebih baik dari seribu (shalat) daripada yang lain kecuali
Masjidil Haram, dan shalat di Masjid haram itu lebih baik dari seratus
ribu (shalat) daripada yang lain.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah).



4. Shalat berjama’ah bersama imam

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Shalat berjama’ah itu lebih baik daripada shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim).



Adapun perempuan shalat di rumah, dan hal
itu lebih baik daripada mereka shalat di masjid, walaupun di Masjid
nabawi. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ummu Humaid-salah satu dari shahabiyat- yang artinya:



“Aku tahu bahwa kamu senang shalat
bersamaku, tapi shalatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu daripada
shalatmu di kamarmu. Dan shalatmu di kamarmu itu lebih baik bagimu
daripada shalatmu di tempat tinggalmu. Dan shalatmu di tempat tinggalmu
lebih baik bagimu daripada shalatmu di Masjidku.”
(HR. Ahmad).



Lalu setelah ini beliau Radhiyallahu ‘anha shalat di penghujung rumahnya di tempat yang gelap sampai beliau menemui ajalnya.


5. Melaksanakan shalat nafilah (sunnah) di rumah

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam:



“Keutamaan shalat seorang laki-laki
di rumahnya dengan shalat yang dilihat oleh orang banyak seperti halnya
keutamaan shalat fardhu atas shalat sunnah.”
(HR. Baihaqi dan dishahihkan olah Albani).



Bukti yang menguatkan hal itu juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shahih:



“Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari dan Muslim).



6. Berhias dengan beberapa adab pada hari Jum’at

Yaitu yang terdapat pada sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam:



“Barangsiapa yang mandi (janabat)
pada hari Jum’at kemudian berangkat di awal waktu, mendapatkan khutbah
pertama, berjalan kaki tidak naik kendaraan, mendekat dari imam,
mendengarkan khutbah dan tidak berbicara maka baginya setiap langkahnya
adalah (bagaikan) amalan setahun dari pahala puasa dan shalat
(taraweh)nya.”
(HR. Ahlus Sunan).



Arti: “Ghassala” adalah membasuh
kepalanya, dan ada yang mengartikan: “Menggaulinya isterinya agar
matanya tidak melihat yang haram pada hari itu. Sedang arti: “Bakkara” adalah berangkat (ke masjid) di awal waktu. Dan “Ibtikara” adalah mendapatkan khutbah pertama.


7. Shalat Dhuha

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Bila masuk waktu pagi maka setiap
jari-jari tangan kamu ada kewajiban shadaqah, lalu setiap (bacaan)
tasbih adalah shadaqah, tahmid adalah shadaqah, tahlil adalah shadaqah,
takbir adalah shadaqah, amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi mungkar adalah
shadaqah, dan cukup dari itu semuanya dengan shalat dua raka’at waktu
Dhuha.”
(HR. Muslim).



Makna: “Sulamaa” adalah
lipatan-lipatan organ tubuh seseorang yang berjumlah 360 lipatan/engsel.
Dan sebaik-baik waktu shalat Dhuha itu tatkala matahari sangat panas,
berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Shalat orang-orang yang bertaubat itu ketika anak unta itu terasa sangat panas.” HR. Muslim).



Maksudnya: tatkala anak unta itu berdiri dari tempatnya karena terik matahari yang sangat panas.


8. Menghajikan orang lain atas biayanya setiap setahun

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Kerjakanlah haji dan umrah itu
berturut-turut, karena sesungguhnya ia (dapat) menghilangkan kefaqiran
dan dosa seperti ubupan (alat peniup api) tukang besi yang menghilangkan
karat besi, emas dan perak.”
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albani).



Dan kadang-kadang seseorang tidak bisa
melakukan haji setiap tahun, oleh karena itu hendaknya ia menghajikan
orang –atas biayanya- yang mampu badannya (dalam mengadakan perjalanan
ke Baitullah).


9. Shalat setelah terbitnya matahari

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa shalat subuh dengan
berjama’ah kemudian ia duduk sambil berdzikir kepada Allah sampai
terbitnya matahari lalu shalat dua raka’at maka baginya seperti ibadah
haji dan umrah yang sempurna, yang sempurna, yang sempurna.”
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Albani).



10. Menghadiri halaqah-halaqah ilmu di masjid

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa yang berangkat ke masjid
dia tidak menginginkan kecuali untuk belajar sesuatu kebaikan atau
mengajarinya maka baginya adalah seperti pahala orang yang beribadah
haji dengan sempurna.”
(HR. Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Albani).



11. Melaksanakan umrah pada Bulan Ramadhan

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Umrah di Bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” (HR. Bukhari).



12. Melaksanakan shalat lima waktu di masjid

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk shalat fardhu maka pahalanya seperti haji.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan olah Albani).



Dan yang lebih utama agar keluar dari
rumahnya sudah dalam keadaan suci, bukan bersuci di toilet masjid
kecuali dalam keadaan terpaksa dan darurat.


13. Hendaknya berada di shaf yang pertama

Berdasarkan ucapan “irbadh bin sariyah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang yang berada di shaf yang
pertama tiga kali, dan shaf yang kedua satu kali. (HR. an-Nasai dan Ibnu
Majah).


Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga yang artinya:



“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya membacakan shalawat kepada orang-orang yang ada di shaf pertama.” (HR. Ahmad dengan sanad yang baik).



14. Shalat di Masjid Quba

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa yang bersuci dari
rumahnya kemudian ia datang ke Masjid Quba lalu shalat di dalamnya maka
baginya seperti pahala umrah.”
(HR. an-Nasai dan Ibnu Majah).



15. Menjadi Tukang Adzan

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Tukang adzan itu akan diampuni
(dosanya) sepanjang suaranya (terdengar), dan dibenarkan oleh orang yang
mendengarkannya baik basah maupun kering dan juga baginya pahala orang
yang shalat bersamanya.”
(HR. Ahmad dan an-Nasai).



Apabila anda tidak dapat menjadi tukang
adzan itu maka paling tidak anda harus mendapatkan pahala yang setimpal
dengannya, yaitu:


16. Untuk mengucapkan seperti yang dikatakan oleh tukang adzan itu

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Katakanlah seperti yang dikatakan
oleh muadzin, bila kamu sudah selesai maka mohonlah (kepada Allah)
niscaya dia akan memberimu.”
(HR. Abu Daud dan an-Nasai).



Maksudnya: memohonlah setelah kamu selesai menjawab muadzin itu.


17. Puasa Ramadhan dan enam hari di Bulan Syawwal setelahnya

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa Puasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di Bulan Syawwal maka (pahalanya) seperti puasa setahun.” (HR. Muslim).



18. Puasa tiga hari setiap bulan (tanggal: 13, 14 dan 15 Bulan Qomariyah)

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa puasa tiga hari dari
setiap bulan maka itulah (pahalanya seperti) puasa setahun.” Kemudian
Allah menurunkan firman-Nya sebagai pembenaran dalam kitab-Nya yang
artinya: “Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala)
sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al An’am:160). Satu hari sama dengan
sepuluh hari
(HR. at-Tirmidzi).



19. Memberi makanan untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa yang memberikan makanan
untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa maka baginya seperti
pahalaya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa
itu.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).



20. Shalat pada malam Lailatul Qadr

Berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya:



“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr:3).



Maksudnya: lebih baik daripada ibadah selama 83 tahun kira-kira.


21. Jihad

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Kedudukan seseorang dalam shaf (jihad) fi sabilillah lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun.” (HR. Hakim dan dishahihkan oleh Albani).



Dan ini merupakan keutamaan
kedudukan/posisi dalam shaf (jihad), lalu bagaimana dengan orang yang
berjihad fi sabilillah dalam tempo berhari-hari, berbulan-bulan atau
bahkan bertahun-tahun?


22. Ar Ribath (bersiap siaga di perbatasan musuh)

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa yang tetap bersiap siaga
(diperbatasan musuh) fi sabilillah dalam satu hari satu malam maka
baginya pahala seperti puasa satu bulan penuh dengan shalat malamnya.
Dan barang siapa yang meninggal dalam keadaan bersiap siaga maka baginya
seperti itu juga pahalanya, dan ia diberikan rezeki serta diamankan
dari fitnah.”
(HR. Muslim).



Yang dimaksud dengan “fitnah” disini adalah siksa kubur.


23. Amal shalih pada sepuluh Dzulhijjah

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Tidak ada hari dimana amal shalih
dalam sepuluh (Dzulhijjah) lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari
lainnya.” Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, juga tidak jihad di
jalan Allah? Beliau menjawab: Juga tidak jihad di jalan Allah, kecuali
orang yang mengeluarkan dengan harta dan jiwanya sementara ia tidak
kembali sedkitpun.”
(HR. Bukhari).



24.Mengulang-ulangi beberapa surat Al-Qur’an

Berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Surat al-Ikhlash sama dengan sepertiga al-qur’an dan surat al-Falaq sama dengan seperempat al-Qur’an.” (HR. ath-Thabarani dan dishahihkan olah Albani).



25. Berdzikir yang pahalanya berlipat ganda dan hal ini banyak (macamnya)

Diantaranya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari (rumah isterinya) Juwairiyah Ummul Mu’minin Radhiyallahu ‘anha
disaat pagi hari ketika beliau shalat subuh sedang dia berada di tempat
shalatnya. Kemudian Rasulullah pulang setelah shalat dhuha sementara
Ummul mu’minin sedang duduk (di tempat shalatnya), seraya beliau
bertanya: “Masihkah engkau dalam keadaan yang tatkala aku tinggalkan?” Ummul mu’minin menjawab: Ya, benar. Lalu beliau bersabda:



“Aku telah mengucapkan empat kalimat
tiga kali setelahmu seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan apa
yang kamu ucapkan mulai hari ini pasti (kalimat-kalimat itu) akan lebih
berat, yaitu: “Subhaanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi
waridhaanafsihi wazinata’arsihi wamidaada kalimaatihi: maha suci Allah
dan segala puji bagi-Nya, Yang menghitung ciptaan-Nya, Yang ridha dengan
Dzat-Nya, berat ‘arsi-Nya dan tinta kalimat-kalimat-Nya.”
(HR. Muslim).



Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu berkata: nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku dan aku sedang menggerakkan bibirku lalu beliau bertanya: “Apa yang kamu ucapkan wahai Abu Umamah? Saya menjawab: Saya berdzikir dan menyebut Allah. Kemudian (beliau mengajariku) lalu bersabda:



“Maukah kamu aku tunjukkan kepada
yang lebih banyak (pahalanya) dalam berdzikir kepada Allah di siang hari
dan malam hari? Maka ucapkanlah: “Walhamdulillahi mil amaa ahshaa
kitaabahu, walhamdulillahi ‘adada kulla syay in, walhamdulillahi mil a
kulla syay in: segala puji bagi Allah Yang Menghitung apa yang
diciptakan-Nya, segala puji bagi-Nya sepenuh apa yang diciptakan-Nya,
segala puji bagi-Nya yang Menghitung apa yang (terdapat) dalam langit
dan bumi, segala puji bagi-Nya Yang menghitung apa yang (termaktub)
dalam kitab-Nya, segala puji bagi-Nya sepenuh apa yang (termaktub) dalam
kitab-Nya, segala puji bagi-Nya Yang Menghitung segala sesuatu, dan
segala puji bagi-Nya sepenuh segala sesuatu.”


“Dan hendaklah kamu bertasbih kepada Allah seperti itu” Lalu beliau
meneruskan sabdanya: “Pelajarilah (do’a-do’a ini) dan ajarilah
orang-orang setelahmu.”
(HR. ath-Thabarani dan dishahihkan oleh Albani).



26. Istighfar yang berlipat ganda

Berdasarkan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Barangsiapa yang memintakan ampunan
bagi orang-orang mu’minin maupun mu’minah Allah akan menulis dari
seperti mu’minin maupun mu’minah sebagai satu kebajikan.”
(HR. ath-Thabarani dan dishahihkan oleh Albani).



27. Melaksanakan kepentingan manusia

Berdasarkan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Sesungguhnya bila aku berjalan
dengan saudaraku muslim untuk memenuhi suatu hajatnya lebih saya cintai
daripada saya beri’tikaf di masjid selama satu bulan.”
(HR. Ibnu Abi Dun-yaa dan dihasankan oleh Albani).



28. Perbuatan-perbuatan yang pahalanya senantiasa mengalir sampai setelah mati

Yaitu yang dijelaskan dalam hadits Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Ada empat macam pahala yang selalu
mengucur (walaupun) setelah meninggal: “Seseorang yang selalu siap siaga
(di perbatasan musuh) di jalan Allah, seseorang yang mengajarkan suatu
ilmu maka pahalanya akan selalu mengucur selama ilmu itu diamalkan,
seseorang yang memberi shadaqah maka pahalanya akan selalu mengucur
(kepadanya) selama (shadaqah tersebut) dipergunakan dan seorang ayah
yang meninggalkan anak yang shalih yang mendo’akan kepadanya.”
(HR. Ahmad dan Thabrani).



29. Mempergunakan waktu

Hendaknya seorang muslim menggunakan waktunya dengan ketaatan (kepada
Allah). Seperti membaca al-Qur’an, berdzikir, ibadah, mendengarkan
kaset-kaset yang bermanfaat agar waktunya tidak sia-sia belaka agar ia
tidak dilalaikan dimana saat itu tidak bermanfaat lagi kelalaian,
seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:



“Dua nikmat yang (sering) dilupakan oleh kebanyakan orang, yaitu: kesehatan dan kekosongan (waktu).” (HR. Bukhari).



Allah-lah yang Maha Memberikan taufiq
kepada kita semua agar umur kita dipanjangkan oleh-Nya dalam kebaikan.
Dan dapat mempergunakan kesempatan-kesempatan yang berlipat ganda
(pahalanya) dimana kebanyakan orang melalaikannya.





Oleh: Sulaiman bin Shalih al Kharasyi

Penerjemah: Farid bin Muhammad al-Bathothy


Diketik ulang oleh Rudi Elprian dari buletin Jeddah Dakwah Center


Sumber :  fariqgasimanuz.wordpress.com

KEISTIMEWAAN SEDEKAH, RENUNGAN BAGI ORANG YANG SAKIT

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS : Asy Sura 30)

 







Segala puji hanya milik Allah, kita
selalu memujiNya dikala senang maupun susah. Shalawat dan salam semoga
tetap tercurah kepada Rasulullah -yang pernah mengalami sakit dan
tertimpa cobaan-, kepada keluarga dan sahabat beliau yang penyabar lagi
ridha terhadap taqdir Allah.





Pada zaman ini berbagai penyakit semakin
menyebar dan banyak macamnya. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa
ditangani oleh dokter dan belum ditemukan obatnya, seperti kanker dan
semisalnya, meskipun sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah tidak
menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut
belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh
Allah.





Mungkin penyebab utama banyaknya penyakit
adalah banyaknya kemaksiatan dan dilakukan dengan terang-terangan tanpa
malu. Kemaksiatan yang menyebar ditengah masyarakat dapat membinasakan
mereka. Allah berfirman yang artinya,



“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”  (Surat Asy Sura 30)



Diantara hikmah penyakit yang diderita
seorang hamba adalah sebagai ujian dari Allah kepadanya, dunia adalah
tempat berseminya berbagai musibah, kesedihan, kepedihan dan penyakit.





Ketika saya melihat orang sakit bergulat
dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan
dengan menahan rasa perihnya, mereka telah melakukan berbagai macam
ikhtiar namun mereka melewatkan sebab penyembuhan yang hakekatnya dari
Allah. Maka saya tergerak menulis untuk semua orang yang sedang sakit,
agar rasa duka dan sedihnya lenyap, dan penyakitnya dapat terobati.





Wahai anda yang sedang sakit menahan
lara, yang sedang gelisah menanggung duka, yang tertimpa musibah dan
bala, Semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan
yang menimpamu, sebanyak duka nestapa yang kau rasakan. Penyakitmu telah
memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan
penderitaan. Orang lain tertawa sedang engkau menangis. Sakitmu tidak
kunjung reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau
harus membayar dengan semua yang engkau punya.





Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak
ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab dan
membuatmu terlepas dari derita yang bertahun tahun. Obat ini didapat
dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,



“Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah” 


(Dihasankan oleh syaikh Albani dalam Shahihul Jami’)



Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah
dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak sedekah,
namun tidak engkau niatkan agar Allah menyembuhkanmu dari penyakit yang
engkau derita. Cobalah sekarang dan hendaknya engkau yakin bahwasanya
Allah akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah
beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah
jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan kesulitan,
musibah atau cobaan. Mereka dari golongan Allah yang diberi taufik oleh
Allah telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyah
yang lebih mujarab dari obat jasmani. Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyah sekaligus obat ilahiyah.
Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan
penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta
mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri,
jika engkau memang memiliki harta dan kemudahan. Inilah kesempatannya
telah datang..!!





Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak
pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa
lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan
berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak
menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergilah dan
galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap
akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan
sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun
sembuh.” (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).





Seorang laki-laki pernah ditimpa penyakit
kanker. Ia lalu mencari obat keliling dunia, namun ia tidak
mendapatkannya. Ia kemudian bersedekah pada seorang janda yang memiliki
anak-anak yatim dan Allah pun menyembuhkannya.





Kisah lain, orang yang mengalami kisah ini menceritakan kepadaku, ia berkisah,



“Anak perempuan saya yang masih kecil
tertimpa penyakit di tenggorokannya. Saya membawanya ke beberapa rumah
sakit. Saya menceritakan penyakitnya kepada banyak dokter, namun tidak
ada hasilnya. Dia belum juga sembuh, bahkan sakitnya tambah parah.
Hampir saja saya ikut jatuh sakit karena sakit anak perempuan saya yang
mengundang iba semua keluarga. Akhirnya dokter memberinya suntikan untuk
mengurangi rasa sakit, hingga kami putus asa dari semuanya kecuali dari
rahmat Allah. Hal itu berlangsung sampai datangnya sebuah harapan dan
dibukanya pintu kelapangan. Seorang shalih menghubungi saya dan
menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Obatilah orang sakit diantara kalian dengan sedekah” (Dihasankan oleh Albani dalam Shahihul Jami’)
Saya berkata, “Saya telah banyak bersedekah”. Ia pun menjawab,
“Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu”.
Sayapun mengeluarkan sedekah sekedarnya untuk seorang fakir, namun tidak
ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, “Engkau
adalah seorang yang banyak mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah,
hendaknya engkau bersedekah sebanding dengan banyaknya hartamu”. Sayapun
pergi pada kesempatan kedua, saya penuhi isi mobil saya dengan beras,
ayam dan bahan-bahan sembako dan makanan lainnya dengan menghabiskan
uang yang cukup banyak. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang
membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. Demi Allah saya tidak
pernah menyangka bahwa setelah saya mengeluarkan sedekah itu anak saya
tidak perlu disuntik lagi, anak saya sembuh total walhamdulillah. Saya
yakin bahwa faktor (yang menjadi sebab) paling besar yang dapat
menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun,
ia tidak merasakan penyakit apapun. Semenjak itu saya banyak
mengeluarkan sedekah khususnya berupa wakaf. Setiap saat saya merasakan
hidup penuh kenikmatan, keberkahan, dan sehat sejahtera baik pada diri
pribadi maupun keluarga saya.






Saya mewasiatkan kepada semua orang sakit
agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan
mengeluarkan sedekah terus menerus, niscaya Allah akan menyembuhkannya
walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah dengan apa
yang saya ceritakan. Sungguh Allah tidak melalaikan balasan untuk orang
yang berbuat baik.



Kisah lainnya, diceritakan oleh pelakunya sendiri. Ia berkata,



“Saudara laki-laki saya pernah pergi ke
suatu tempat. Ditengah jalan ia berhenti. Sebelumnya ia tidak pernah
mengeluh sakit apapun. Pada saat itu tiba-tiba ia jatuh pingsan,
seolah-olah peluru menembus kepalanya. Kami mengira ia tertimpa al ‘ain
(sakit karena pengaruh mata dengki seseorang) atau kanker atau
penyempitan pembuluh darah. Kami lalu membawanya ke berbagai klinik dan
rumah sakit. Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan dan roentgen.
Hasilnya, kepalanya normal saja, namun ia mengeluh sakit yang membuatnya
tidak bisa berbaring. Juga tidak bisa tidur dan hal ini berlangsung
lama. Bahkan jika sakitnya parah, ia tidak bisa bernapas apalagi
berbicara.






Saya lalu bertanya kepadanya, “Apakah
engkau mempunyai harta yang bisa kami sedekahkan? Semoga Allah
menyembuhkanmu”. Ia menjawab, “Ada”. Lalu ia memberiku kartu ATM dan aku
cairkan dari kartu tersebut sekitar tujuh belas juta rupiah. Setelah
itu saya menghubungi salah seorang yang shalih yang mengenal beberapa
orang fakir, agar ia membagikan uang tersebut kepada mereka. Saya
bersumpah demi Allah yang maha mulia, saudara saya sembuh dari sakitnya
pada hari itu juga, sebelum orang-orang fakir itu menerima harta titipan
tersebut. Saya benar-benar yakin bahwa sedekah mempunyai pengaruh yang
besar bagi kesembuhan penyakit seseorang. Sekarang sudah berlalu satu
tahun, ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit di kepalanya lagi,
alhamdulillah. Dan saya wasiatkan kepada kaum muslilimin agar mengobati
penyakit mereka dengan sedekah.



 Berikut kisah lainnya, pelakunya sendiri yang menceritakan kisah ini. Ia berkata,



 “Anak perempuan saya menderita sakit
demam dan panas. Ia tidak mau makan. Saya membawanya ke beberapa klinik,
namun panasnya masih tinggi dan keadaannya semakin memburuk. Saya masuk
rumah dengan gelisah. Saya bingung apa yang harus saya perbuat. Istri
saya berkata, “Kita akan bersedekah untuknya”. Saya lalu menghubungi
seseorang yang mengenal orang-orang miskin. Saya berkata kepadanya,
“Saya harap anda datang shalat bersama saya di masjid. Ambillah dua
puluh kantong beras dan dua puluh kotak ayam di tempat saya, lalu
bagikanlah kepada orang-orang yang membutuhkan”. Saya bersumpah demi
Allah dan saya tidak melebih-lebihkan cerita, lima menit setelah saya
menutup telpon, tiba-tiba saya melihat anak saya menggerak-gerakkan kaki
dan tangannya, bermain dan melompat diatas tempat tidur. Ia pun makan
hingga kenyang dan sembuh total. Ini semua berkat karunia Allah kemudian
sebab sedekah. Saya wasiatkan semua orang untuk mengeluarkan sedekah
ketika tertimpa penyakit”.



Marilah saudaraku, pintu telah terbuka,
tanda kesembuhan telah tampak di depanmu. Bersedekahlah dengan
sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah. Jangan seperti orang yang
melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian
hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita
sakit dan mondar mandir ke dokter untuk mengobati penyakitnya, dengan
merogoh banyak uang dari sakunya.





Jika engkau telah mencoba resep ini dan
engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan
harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk
dirimu sendiri, namun obatilah penyakit orang-orang yang sakit dari
keluargama dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, ketahuilah
engkau sebenarnya telah disembuhkan walau sedikit. Keluarkan sedekah
lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh,
mungkin Allah memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang
dikehendakiNya atau karena kemaksiatan yang menghalangi kesembuhanmu.
Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak doa di sepertiga malam
terakhir.





Sedangkan bagi anda yang diberikan nikmat
sehat oleh Allah, jangan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat.
Seperti halnya orang yang sakit bisa sembuh maka orang sehatpun bisa
sakit. Sebuah pepatah mengatakan, “Mencegah lebih baik dari mengobati”.





Apakah engkau akan menunggu penyakit hingga engkau berobat dengan sedekah? Jawablah…! Kalau begitu bersegeralah bersedekah…





(Sulaiman bin Abdul Karim Al Mufarraj)


Sumber: Buletin dakwah terbitan yayasan al sofwah Jakarta


(dengan sedikit perubahan redaksi)


Muroja’ah: Fariq Gasim Anuz


(Jeddah Da’wah Center)


Sumber fariqanuz.com

Laporan Pemasukan Donasi Pembebasan Tanah Ma'had Tahfidz Daar El Dzikr (Sampai Oktober 2016)


PEMBEBASAN TANAH MA'HAD TAHFIDZUL QUR'AN DAAR EL DZIKR


Ds.Gentan - Bulu - Sukoharjo - Indonesia

Pendiri Dan Pembina Ustadz Zaenal Abidin Syamsuddin. Lc

























Foto lokasi tanah













Total Seluruh donasiRp 299.830.000





Telah dikeluarkan untuk pembebasan tanahRp 250.000.000
SALDO DONAS SAAT INI Rp 49.760.000








Saat Ini Yayasan Dakwah Daar El Dzikr Yang Didirikan Dan Dibina Oleh Ustadz Zaenal Abidin Syamsuddin. Lc  Sedang Berupaya Membebasakan Tanah Seluas 10.000m2 Untuk Pendirian Pondok Pesantren Tahfidz Daar El Dzikr.




Alhamdullillah Telah Dibebsan Tanah Seluas 5.500m2 Seharga Rp. 250.000.000 Dan Masih Sisa Tanah Lagi Seluas 4.500m2 Yang Belum Terbebaskan Dengan Harga Rp.130.000/m2 , Sekitar Rp.585.000.000






Untuk Itu Kami Yayasan Daar El Dzikr Mengajak Kepada Seluruh Kaum Muslim Dimanapun Berada Untuk Mensedakohkan Hartanya Dijalan Alloh Guna Pendirian Ma'had Tahfidz Daar El Dzikr Sebaga Sarana Dakwah Untuk Mencetak Generasi Yang Faham Al-Qura'an dan Sunnah Nabi shalallohu 'alaihi wasalam.









Bagi Kaum Muslimin Yang Ingin Mensedaqohkan Hartanya Berikut Nomer Rekening Kami :  





Rekening BRI




Nomor 6893 0101 0717 533




Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir










Rekening BNI Syariah






Nomor 03919 70153






Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir













SMS Konfirmasi 






1. Jumanto, S.Pd.I. (Ketua) - 0813 8443 1686






2. Darmono (Bendahara) - 0852 2938 5801













Dengan Format : DPT#bank#nominal#nama#













Pilih wakaf anda:






1.Wakaf Tanah 1m2 = 130.000,- 






2.Wakaf Tanah 2m2 = 260.000,- 






3.Wakaf Tanah 3m2 = 390.000,- 






4.Dan Setrusnya Berlaku Kelipatannya















Jazakumullohu Khoiron Katsiron