Laman

Sikap Ahlussunnah Diantara Firqah-Firqah Sesat





SIKAP AHLUSSUNNAH DI ANTARA FIRQAH-FIRQAH SESAT [1]





Aqidah Ahlussunnah wal Jamâ’ah adalah aqidah Islam yang benar, berada
di pertengahan di antara akidah-aqidah golongan-golongan sesat yang
menisbatkan diri kepada agama Islam. Dalam setiap bab-bab akidah,
Ahlussunnah wal Jamâ’ah berada ditengah antara dua golongan, yang
pemikiran keduanya saling bertentangan, salah satunya ghuluw (melewati
batas), yang lain meremehkannya. Jadi, akidah ahlussunnah wal Jamâ’ah
adalah akidah yang haq di antara dua kebatilan. Inilah di antara contoh
hal tersebut.


  1. DALAM BAB IBADAH



Di dalam bab ibadah, Ahlussunnah berada di tengah-tengah antara
golongan  Râfidhah juga Shûfiyah dengan golongan Duruz dan Nushairiyyah.


Golongan  Râfidhah dan Shûfiyah menyembah Allâh Azza wa Jalla dengan
ibadah yang tidak disyari’atkan, seperti berbagai dzikir, tawassul, dan
membuat hari raya dan perayaan bid’ah, membangun kubur, shalat di
dekatnya, thawaf mengelilingi kuburan, dan menyembelih binatang di
dekatnya. Banyak di antara mereka menyembah orang-orang yang telah
dikubur dengan cara menyembelih untuk mereka, berdoa kepada mereka agar
menjadi perantara kepada Allâh Azza wa Jalla untuk mendatangkan perkara
yang diinginkan atau menolak perkara yang dikhawatirkan.





Sebaliknya, golongan Duruz dan Nushairiyyah, yang menamakan diri dengan ‘Alawiyyin,
meninggalkan peribadatan kepada Allâh sama sekali. Mereka tidak
menjalankan shalat, tidak berpuasa, tidak menunaikan zakat, tidak
berhaji dan seterusnya.





Ahlussunnah wal Jamâ’ah berada diantara dua golongan tersebut. Mereka
beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan cara yang telah dijelaskan
dalam kitabullâh, al-Qur’an dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Mereka tidak meninggalkan ibadah-ibadah yang telah Allâh
wajibkan atas mereka. Mereka juga tidak membuat-buat ibadah baru
berdasarkan kemauan diri mereka sendiri. Ini sebagai realisasi dari
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :





مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ





Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini,
apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. [HR. Al-Bukhâri no. 2697
dan Muslim no. 1718]




Di dalam riwayat laim imam Muslim:



مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ





Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami padanya, maka amalan itu tertolak. [HR. Muslim no. 1718]





Dan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah Beliau:





«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»





Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah kitab
Allâh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk
perkara (dalam agama) adalah perkara-perkara yang baru, dan semua
perkara baru (dalam agama) adalah kesesatan.
[HR. Muslim, no. 867]





2.DALAM BAB : NAMA DAN SIFAT ALLAH





Ahlussunnah wal Jamâ’ah bersikap tengah dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allâh di antara golongan mu’atthilah dengan golongan mumats-tsilah.





Di antara golongan mu’atthilah, ada yang mengingkari semua
nama dan sifat-sifat Allâh, seperti golongan Jahmiyyah. Diantara mereka 
ada yang mengingkari sifat-sifat Allâh, seperti golongan Mu’tazilah.
Dan di antara mereka  ada yang mengingkari mayoritas sifat-sifat Allâh
dan menta’wilkannya, seperti golongan Asyâ’irah. Ini mereka lakukan
berdasarkan akal mereka yang dangkal, dan lebih mendahulukan akal
daripada kitab  Allâh dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Mereka seakan mengukur nash-nash syari’at dengan akal mereka.
Nash yang diterima akal mereka, diterima, sedangkan nash yang tidak
diterima akal mereka, ditolak atau dita’wilkan. Mereka menganggap itu
sebagai tanzîh (sikap mensucikan Allâh Azza
wa Jalla). Mereka menjadikan nash-nash syari’at sebagai terdakwa, bukan
sebagai hakim. Mereka menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber ilmu
mereka, al-Qur’an dan as-Sunnah harus mengikuti akal. Perkara-perkara
yang diputuskan oleh akal mereka anggap sebagai prinsip-prinsip global
yang pertama, tidak membutuhkan nash-nash syari’at.





Oleh karena itu mereka menetapkan berbagai kewajiban atau keharusan
dan berbagai larangan atau kemustahilan pada diri Allâh Azza wa Jalla
dengan argumen-argumen akal menurut mereka. Mereka mengganggapnya
sebagai kebenaran, padahal itu kebatilan. Mereka menentang nash-nash
al-Qur’an dan as-Sunnah dengan akal, sehingga ada salah seorang di
antara mereka berkata:





وَكُلُّ نَصٍّ أَوْهَمَ التَّشْبِيْهَا … أَوِّلْهُ أَوْ فَوِّضْ وَرُمْ تَنْزِيْهَا





Semua nash yang menyebabkan salah faham adanya tasybîh (keserupaan Allâh dengan makhluk-pent), takwilkan, atau tafwidh-kan, dan carilah tanzîh (kesucian Allâh-pent).





Silahkan lihat perkataan ini di dalam kitab Jauharut Tauhîd, karya Ibrahim al-Laqâni al-Asy’ari dengan syarah (penjelasan)nya karya Al-Baijuuri, hlm. 91





Mereka ini menolak nash syari’at dan menta’wilkannya dari maknanya
yang hakiki yang difahami kepada makna yang jauh, dengan tanpa dalil
dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka mengatakan, “Yang dimaksud bukanlah
makna yang ditunjukkan oleh zhahir nash, tetapi yang benar adalah apa
yang telah ketahui dari akal kita.” Kemudian mereka berusaha
menta’wilkan nash-nash kepada macam-macam ta’wil yang sesuai dengan
pendapat mereka. Oleh karena itu, kebanyakan mereka tidak menetapka
ta’wil, tetapi mereka berkata, “Mungkin yang dimaksudkan demikian, boleh
jadi yang dimaksudkan demikian.” Dan mereka berselisih di dalam
menta’wilkan sebagian sifat-sifat dengan perselisihan yang banyak.





Diantara mereka ada juga yang mengatakan, “Sesungguhnya Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan apa yang dimaksudkan
dari nash, tetapi kita telah mengetahui kebenaran dengan akal kita.”
Sikap mereka itu merupakan bentuk tuduhan kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bahwa Beliau tidak menjelaskan al-Qur’an, padahal
Allâh telah mengutus Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
menjelasakan al-Qur’an, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :





وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ





Dan Kami turunkan adz-Dzikr (peringatan; al-Qur’an) kepadamu,
agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka
. [An-Nahl/16: 44]





Mereka memandang bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara
dalam masalah sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan pembicaaran yang
dimaksudkan bukanlah makna yang sesungguhnya yang segera difahami, dan
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada manusia,
dan bahwa Salaf (orang-orang dahulu) dari kalangan Sahabat dan
orang-orang setelah mereka tidak memahaminya dan tidak menjelasakannya
kepada manusia. Sampai datang al-Asy’ari dan orang-orang setelahnya yang
mengikuti jalannya, lalu mereka ini mengetahuinya dan menjelaskannya
kepada manusia. Ini adalah pendapat yang nyata kebatilannya, dan nyata
menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sempurna di dalam
menyampaikan risalah (tugas diutusnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ).Sesungguhnya sebab yang menjerumuskan golongan muawwilah
ke dalam ta’wil adalah karena mereka membanding-bandingkan sifat-sifat
al-Khâliq k dengan sifat-sifat makhluk. Kemudian hal itu mendorong
mereka melakukan ta’wil terhadap kebanyakan sifat-sifat Allâh Subhanahu
wa Ta’ala yang telah ditetapkan di dalam al-Kitab dab as-Sunnah. Karena
mereka mengangap sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla itu menyerupai
sifat-sifat makhluk. Ini adalah kesalahan yang nyata, karena Allâh Azza
wa Jalla berfirman:





لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ





Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. [Asy-Syûrâ/42:11]





Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat yang sesuai
dengan kebesaran-Nya dan keagungan-Nya, demikian pula makhluk memiliki
sifat-sifat yang sesuai dengan kefakirannya, kehinaannya, dan
kelemahannya.





Sehingga sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla tidak menyamai sifat-sifat makhluk. (Silahkan lihat Kitâb at-Tauîid, 1/57-117, karya Ibnu Khuzaimah; Majmû’ Fatâwâ, 5/27, karya Ibnu Taimiyah; Syarah Thahâwiyah, hlm. 57-68, karya Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi)





Sedangkan golongan mumats-tsilah, mereka membuat
persamaan-persamaan bagi Allâh Azza wa Jalla . Mereka menganggap
sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla sama dengan sifat-sifat makhluk.
Sebagian mereka berkata, “Tangan Allâh Azza wa Jalla seperti tanganku”,
“Pendengaran Allâh Subhanahu wa Ta’ala seperti pendengaranku”. Maha suci
Allâh Azza wa Jalla dari perkataan mereka.





Kemudian Allâh Azza wa Jalla memberi petunjuk kepada Ahlussunnah wal
Jama’ah dengan pendapat yang pertengahan di dalam bab ini. Yaitu
pendapat yang ditunjukkan oleh Kitab Allâh dan Sunnah Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka beriman kepada semua nama-nama
Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan semua sifat-sifatNya yang ditetapkan di
dalam nash-nash syari’at. Sehingga mereka menyifati Allâh Subhanahu wa
Ta’ala dengan sifat-sifat yang Allâh sifati diri-Nya dengan sifat-sifat
tersebut, dan dengan sifat-sifat yang disifatkan oleh manusia yang
paling mengenal-Nya, yaitu Rasul-Nya, Nabi Muhammad bin Abdullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ahlussunnah menyifati Allâh Azza wa Jalla
dengan tanpa ta’thîl, ta’wîl, tamtsîl, dan takyîf.
Mereka mengimani bahwa itu adalah sifat-sifat Allâh yang sebenarnya,
sifat-sifat yang pantas dengan keagungan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , dan
tidak menyerupai sifat-sifat makhluk. Itu semua sebagai pengamalan
firman Allâh Azza wa Jalla :





لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ





Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Asy-Syuuraa/42: 11]





Ahlussunnah wal Jama’ah bersandar kepada nash-nash syari’at, dan
lebih mengedepankan nash-nash syari’at dari pada akal manusia. Mereka
menjadikan akal manusia sebagai sarana untuk memahami nash-nash
syari’at, dan sebagai syarat untuk mengenal segala ilmu, dan
kesempurnaan serta kebaikan semua amalan. Dengan akal manusia, ilmu dan
amal menjadi sempurna, tetapi akal tidak bisa berdiri sendiri dalam hal
ini.





Dengan demikian Ahlussunnah wal Jama’ah juga bersikap tengah dalam
masalah akal,  mereka tidak mengedepankan akal di atas nash-nash
syari’at, sebagaimana dilakukan oleh para ahli kalam dari kalangan
Mu’tazilah, Asya’irah dan lainnya. Namun  Ahlussunnah wal Jama’ah juga
tidak menyia-nyiakan akal dan mencelanya, sebagaimana dilakukan oleh
banyak orang-orang shufiyah. Mereka ini mencela akal, dan menetapkan
perkara-perkara yang didustakan oleh akal yang sehat. Mereka juga
mempercayai pada perkara-perkara yang diketahui kedustaannya oleh akal
yang sehat.





[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIX/1436H/2015. ]


Sumber : Almanhaj.Or.Id

_______

Footnote

[1] Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 20-25, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin.




Laporan Pemasukan & Pengeluaran Donasi Pembangunan Islamic Centre Daar El Dzikr Sampai Awal Januari 2017

Laporan Donsi Pembangunan Islamic Center Daar El Dzikr







































Berikut Laporan Pemasukan Donasi Sampai Awal Januari 2017 Sebagai Berikut : 







 

92  Hanif Rp 25.000 ( Tunai ) 05 Oktober 2006



 
93. Hamba Alloh Rp 200.000 ( Tunai )  11 Oktober 2016


 
94. Sava Alma Rp 50.000 ( Tunai ) 20 Oktober 2016


 
95. Hamba Alloh Rp 300.000 ( Tunai ) 20 Oktober 2016


 
96. Hamba Alloh Rp 1.500.000 ( BNI ) 26 Oktober 2016


 
97. Hamba Alloh Rp 500.000 ( Tunai ) 31Oktober 2016


 
89. Pembayaran uged SDU  Rp. 2.520.000


 
99. Hamba Alloh Rp 500.000 ( Tunai ) 02 November 2016


100. Rosmiyati ibnati Kartakusuma Rp 5.000.000 ( BRI ) 06 November 2016


101. Hamba Alloh Rp 700.000 ( BNI ) 08 November 2016


102. Ghozy Rp. 1.000.000 ( Tunai ) 10 Oktober 2016


103. Koesdijanto Rp. 1.000.000 ( BNI ) 10 November 2016


104. Komite Ortu Kls.2a Rp. 500.000 ( Tunai ) 14 N0vember 2016


105. Abu Salma Rp. 1.300.000 ( BNI ) 14 November 2016


106. Jama'ah Ustadz Zaenal Abidin Rp. 50.000.000 ( BNI) 16 November 2016


107. Agus Dwi Sanjoyo Rp. 300.000 ( BNI ) 28 November 2016


108. Sava Alma Rp 50.000 ( Tunai ) 02 Desember 2016


109. Ibu Sumarsih Rp 230.000 ( Tunai ) 03 Desember 2016


110. Hamba Alloh Rp. 10.000.000 ( BRI ) 16 Desember 2016


111. Jama'ah Ustadz Zaenal Abidin Rp 50.000.000 ( BNI) 20 Desember 2016


112. Agus Dwi Sanjoyo Rp. 300.000 ( Tunai ) 4 Januari 2016









     Total Donasi Sampa Saat Ini : Rp 495.110.500 






     Pengeluaran Umtuk Pembangunan : Rp 449.692.000


     Saldo Sampai Saat Ini : Rp 45.418.500


   







Kami masih terus memberi kesempatan kepara para donatur untuk berpartisipasi dalam pembangunan Islamic Centre Daar El Dzikr. Dana yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 672.000.000 dan sudah terkumpul mencapai 73%





Salurkan Donasi kenomer rekening : 





BNI Syariah Surakarta 


No : 03919 70153


a.n Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr





BRI Cab.Bulu - Sukoharjo


No : 6893 0101 1485 537


a.n Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr





sms konfirmasi :


PPICD#Bank#Nominal#Nama#Tangal





Kirim ke ;


1. 0813 8443 1686 ( ust.Jumanto.S.Pd.I ) Mudir


2, 0852 2938 5801 ( Darmono ) Bendahara




Semoga Alloh Membalas amal kebaikan sodara dengan balasan yang lebih baik didunia dan akhirat





Jazakumullohu Khoeren Katsiron




Tingginya Semangat Para Salaf Dalam Menjalankan Sunnah

Akhlak " Tingginya Semangat Para Salaf Dalam Menjalankan Sunnah ”


Orang yang
membaca kisah-kisah kehidupan para salafus shalih dan para ulama besar
yang mapan ilmu dan amalnya, mereka akan menemukan ternyata para salaf
memiliki uluwwul himmah 





 



Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Abbad hafizhahulloh





Orang yang membaca kisah-kisah kehidupan para salafus
shalih dan para ulama besar yang mapan ilmu dan amalnya, mereka akan
menemukan ternyata para salaf memiliki uluwwul himmah (semangat
yang tinggi) dan tekad yang tulus serta gigih dalam berpegang teguh pada
ajaran agama, yang itu semua membantu mereka (dengan izin Allah) dalam
menapaki jalan mereka yang mulia.





Berikut ini saya paparkan sebagian contoh dari
generasi masa yang telah lampau dari sejarah umat ini yang menunjukkan
betapa gigihnya tamassuk (konsistensi) mereka terhadap As Sunnah
dan indahnya kekokohan mereka di atas kebaikan dalam hal-hal yang
diserukan dan dianjurkan oleh agama. Dan terlebih lagi dalam
perkara-perkara fardhu dan wajib. Sedangkan di antara orang sekarang,
telah sampai kepada mereka penjelasan mengenai apa-apa yang wajib dan
apa-apa yang diperintahkan dalam agama. Namun mereka tidak memiliki
semangat untuk menjalankannya dengan konsisten dan tidak ada ambisi
untuk berpegang teguh padanya.





Dan tujuan kita dalam membaca kisah-kisah para salaf
yang mulia tersebut, adalah agar kita lebih bersungguh-sungguh untuk
meneladani mereka dengan baik. Barangsiapa di antara kita yang paling
mendekati praktek para salaf, maka ia paling mendekati kesempurnaan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:





أكمل هذه الأمة في ذلك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ومن كان بهم أشبه





“Umat yang paling sempurna dalam hal itu (menjalankan agama) adalah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan orang-orang yang paling mendekati praktek mereka”.





Maka renungkanlah beberapa contoh dari para salaf berikut ini:





Contoh pertama





عن النعمان بن سالم عن
عمرو بن أوس قال حدثنى عنبسة بن أبى سفيان فى مرضه الذى مات فيه بحديث
يتسار إليه قال سمعت أم حبيبة تقول سمعت رسول الله
صلى الله عليه وسلميقول « من صلى اثنتى عشرة ركعة فى يوم وليلة بنى له بهن بيت فى الجنة ». قالت أم حبيبة فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله صلى الله عليه وسلم-. وقال عنبسة فما تركتهن منذ سمعتهن من أم حبيبة. وقال عمرو بن أوس ما تركتهن منذ سمعتهن من عنبسة. وقال النعمان بن سالم ما تركتهن منذ سمعتهن من عمرو بن أوس.رواه مسلم.





Dari An Nu’man bin Salim, dari Amr’ bin Aus ia
berkata: ‘Anbasah bin Abu Sufyan menuturkan sebuah hadits kepadaku
ketika ia sedang sakit, yang dengan sebab sakitnya itulah ia wafat. Ia
berkata: aku mendengar Ummu Habibah mengatakan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa shalat 10 rakaat sehari-semalam, akan dibangunkan sebuah rumah baginya di surga”. Ummu Habibah mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”.
‘Anbasah juga mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku
mendengar hadits ini dari Ummu Habibah”. An Nu’man juga mengatakan: “aku
tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari
‘Anbasah” (HR. Muslim).





Contoh ke dua





عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلمقال « ما حق امرئ مسلم له شىء يوصى فيه يبيت ثلاث ليال إلا ووصيته عنده مكتوبة ». قال عبد الله بن عمر ما مرت على ليلة منذ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلمقال ذلك إلا وعندى وصيتى.رواه مسلم.





Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah
dibenarkan bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan,
ia menyimpannya sampai tiga malam, kecuali wasiat tersebut menjadi
wajib baginya untuk disampaikan
”. Abdullah bin Umar berkata: “sejak aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata demikian, tidaklah berlalu satu malam pun kecuali aku menyampaikan wasiatku” (HR. Muslim).





Contoh ke tiga





عن علي بن أبي طالب أن فاطمة رضي الله عنهما أتت
النبي صلى الله عليه وسلم تسأله خادما فقال ألا أخبرك ما هو خير لك منه
تسبحين الله عند منامك ثلاثا وثلاثين وتحمدين الله ثلاثا وثلاثين وتكبرين
الله أربعا وثلاثين ، ثم قال سفيان إحداهن أربع وثلاثون
فما تركتها بعدُ، قيل ولا ليلة صفين قال ، ولا ليلة صفين.متفق عليه.





Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Fathimah radhiallahu’anha datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta seorang pembantu. Lalu Nabi bersabda: “wahai
Fathimah, maukah aku sampaikan kepadamu suatu hal yang lebih baik dari
hal itu? Bertasbihlah ketika hendak tidur 33x, bertahmidlah 33x,
bertakbirlah 34x”
. Lalu Sufyan mengatakan: ‘salah satu dzikir
tersebut hitungannya 34x’. Ali mengatakan: “aku tidak pernah
meninggalkannya setelah (mendengar hadits) itu”. Lalu ada yang bertanya:
”bagaimana ketika hari-hari peristiwa Shiffin?”. Ali berkata: “demikian
juga di hari-hari peristiwa Shiffin (aku tidak meninggalkannya)” (Muttafaq ‘alaihi).





Contoh ke empat





عن ابن عمر رضي الله عنهما قال بينما نحن نصلى مع رسول الله صلى الله عليه وسلمإذ قال رجل من القوم الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم– « من القائل كلمة كذا وكذا ». قال رجل من القوم أنا يا رسول الله. قال « عجبت لها فتحت لها أبواب السماء ». قال ابن عمر فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلميقول ذلك. رواه مسلم





Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata: “ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang yang dari makmum berdoa: Allahu akbar kabiiran wal hamdulillahi katsiran wa subhaanallahi bukratan wa ashiilan”. Maka (setelah shalat) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “siapa yang berdoa demikian dan demikian?”. Orang tadi berkata: “saya wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Saya sampai terheran, karena dibuka pintu langit dengan sebab doamu tadi”. Ibnu Umar lalu mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut setelah aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut” (HR. Muslim).





Contoh ke lima





عن أبي أمامةرضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ آية الكرسي في دبر كلِّ صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة إلا أن يموت»رواه النسائي





Dari Abu Umamah radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa
yang membaca ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, ia tidak ada yang
menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian
” (HR. An Nasa’i).





Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad mengatakan:





وبلغني عن شيخنا أبي العباس ابن تيمية قدس الله روحه أنَّه قال: ما تركتها عقيب كلِّ صلاة





“Telah sampai kepadaku perkataan dari guruku, Abul
Abbas Ibnu Taimiyah semoga Allah mensucikan ruhnya, bahwa ia mengatakan:
aku tidak pernah meninggalkan amalan tersebut setiap selesai shalat”.





Contoh ke enam





عن أبي سعيد الخدريرضي الله عنه أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «غسل الجمعة واجب على كلِّ محتلم». رواه أحمد. قال ابن عثيمين رحمه الله في شرحه لبلوغ المرام :الصواب عندي : أنَّ
غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا
صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه
الاغتسال
.





Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “mandi di hari Jum’at wajib bagi setiap lelaki yang sudah baligh” (HR. Ahmad).





Syaikh Ibnu Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Bulughul Maram mengatakan:





الصواب عندي : أنَّ
غسل الجمعة واجب على كلِّ إنسان ، وما تركته منذ علمت بهذا الحديث لا
صيفاً ولا شتاء ، ولا حراً ولا برداً ، ولا إذا كان فيّ مرض أتحمل معه
الاغتسال





“yang tepat menurutku, mandi di hari Jum’at itu wajib
bagi semua orang. Dan saya tidak pernah meninggalkannya sejak saya
mengetahui hadits ini, baik musim panas maupun musim dingin. Baik dalam
cuaca panas maupun cuaca dingin. Bahkan jika dalam keadaan sakit, saya
tetap paksakan untuk mandi”.





Contoh-contoh yang demikian sesungguhnya banyak. Dan tujuan penyebutan contoh-contoh di atas sudah bisa terbaca dari isinya.





Semoga Allah mengumpulkan kita semua dengan
hamba-hamba-Nya yang shalih, dan semoga Allah memberi kita taufik untuk
menjalankan setiap kebaikan, dengan nikmat-Nya dan kemurahan-Nya.





***


Sumber: http://al-badr.net/muqolat/3379


Penerjemah: Yulian Purnama


Artikel Muslim.Or.Id




Ciri-ciri Orang Yang Terkena Fitnah



Oleh: 

Ustadz Zainal Abidin Sayamsuddin. Lc hafizhahullah.





السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ،
أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ
مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،



Kaum muslimin yang berbahagia,yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.



Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam menegaskan:



إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ



"Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah."

(Hadīts, shahīh riwayat Abu Dawud nomor 4263)



Dari sini kita bisa pahami bahwa orang yang paling celaka, orang yang
paling sengsara dan binasa adalah orang yang menceburkan bahkan menjadi
dalang dalam fitnah.



Tanda-tanda orang tercebur ke dalam fitnah ada 4 (empat), yaitu:





1. Dia memandang yang dulunya halal sekarang dianggap haram atau (sebaliknya) yang dulunya haram sekarang dianggap halal.



Demikian itu bukan karena dulu dia tidak mengerti dalīlnya kemudian sekarang paham, bukan!

Atau dulu dia tidak memahami dalīl itu dengan benar, sekarang paham, tidak!

Tapi murni pengaruh-pengaruh negatif lingkungan yang ada disekitarnya.

Bisa karena:



√ Buku bacaan yang dia baca.

√ Teman yang mengitarinya atau,

√ Jama'ah kelompok yang diikutinya.



Sehingga muncul berbagai macam syubhat yang ada diotaknya (pikirannya)



Dengan demikian Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam menegaskan bahwa:



بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ
الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا
وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا



"Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang pekat
(gelap gulita). Di pagi hari seorang dalam keadaan beriman, lalu kafir
pada sore hari. Di sore hari seorang dalam keadaan beriman lalu kafir
pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia."

 (Hadīts riwayat Muslim nomor 169 versi Syarh Muslim nomor 118)



Dengan demikian suatu yang paling ditakutkan oleh seorang mu'min adalah
perubahan-perubahan yang terjadi pada keagamaannya (fitnah yang menimpa
agamanya).



Sehingga Hudzaifah Ibnu Yaman mengatakan:



فَاعْلَمْ أَنَّ الضَّلالَةَ حَقَّ الضَّلالَةٍ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ
تُنْكِرُ, وَأَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ, وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ
فِي دِينِ الله تَعَالَى, فَإِنَّ دِينَ الله وَاحِدٌ. (شرح أصول اعتقاد
أهل السنة والجماعة لللالكائي)



"Ketahuilah, kesesatan dari biang
kesesatan adalah engkau anggap baik yang dulunya kamu ingkari dan kamu
ingkari yang dulunya kamu anggap baik. Dan waspadalah terhadap
warna-warni di dalam agama Allah Ta'ala. Sesungguhnya agama Allah satu."

 (Kitab Syarh Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al Lalikai)



2. Berwarna-warni di dalam agamanya (التَّلَوُّنَ فِي دِينِ).



Berpindah-pindah di dalam prinsipnya dan tidak memiliki satu pegangan yang tetap di dalam agamanya.

Ini yang dikatakan oleh Ummar bin Abdul Aziz akibat banyaknya debat, banyaknya adu mulut.



مَنْ أَكْثَرَ الخُصُوْمَات أَكْثَرَ تَنَقُّلَ



"Barangsiapa yang banyak adu mulut, maka dia akan gampang (banyak) untuk berubah."

Menjadi muslim dimana di dalam memegang prinsipnya, bak air di daun talas adalah ciri orang munafiq.

Dan memberikan warna shibqhah Islam di dalam dirinya berubah-ubah seperti bunglon adalah suatu yang berbahaya.



Karena kata Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bahwa manusia
paling buruk adalah ذا الوجهين, manusia yang memiliki dua wajah.



Dengan demikian kata Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam:



وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فِي دِينِ



"Waspadalah kamu terhadap sikap berubah-ubah warna di dalam agama."

√ Yang kemarin dia katakan sesat, sekarang dia katakan benar.

√ Yang kemarin dikatakan manhaj sekarang dikatakan khilafiyyah.



Contoh:

⇒ Banyak orang yang dulu menganggap safarnya wanita tanpa mahram adalah haram, tetapi sekarang dipandang halal.

⇒ Demo dulu dianggap perkara manhaj sekarang ternyata khilafiyyah.

Ini masalah berat.



3. Mengikuti syubhat (اتبع المتشابهات) dan tidak mau mengembalikan kepada yang muhkamat.

Ini jelas sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:



فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ
مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ



"Adapun orang-orang yang ada di dalam
hatinya penyimpangan ( زَيْغٌ) maka dia akan mengikuti yang mutasyabih
dalam rangka untuk mencari-cari takwil yang bathil dan mengikuti hal-hal
yang sifatnya menyimpang, takwil-takwil yang tidak benar dalam hal-hal
yang sebetulnya tidak tahu takwil secara benar kecuali Allah Subhanahu
wa Ta'ala."

(QS Al 'Imran: 7)



Kita temui banyak diantara
tokoh, diantara mereka yang dikatakan ulama atau minimal ahlul 'ilmi
yang dulu sangat tegas di dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan
keagamaan, sangat bagus di dalam menjabarkan naskh-naskh yang muhkamah,
tetapi setelah beberapa kondisi melalui dia (masa melewati dia) maka
hal-hal yang diangkat kebanyakan adalah mutasyabihat.



Dan tanda orang tercebur ke dalam fitnah dan akhirnya bisa menjadi dalang fitnah adalah:



4. Mentolerir kebatilan dan bahkan memberikan banyak toleran terhadap
berbagai macam penyimpangan-penyimpangan (التسويغ للباطل وتعديل له).



Diawali dengan mereka memuji tokoh-tokoh kebathilan, mendekati tokoh-tokoh kebathilan bahkan kompromi dengan kebathilannya.



Akhirnya tidak mau ngomong terhadap berbagai macam
penyimpangan-penyimpangan agama, baik itu syirik, bid'ah maupun kufur
bahkan memusuhi (menyalahkan) orang yang selama ini menjelaskan
kebathilan.

Menyalahkan orang yang menjelaskan tentang kebid'ahan
entah karena dikatakan melawan banteng, melawan berbagai macam
kekuatan-kekuatan yang mayoritas atau dia telah menabrak tembok keras
yang itu akan membahayakan dirinya sendiri.



Minimal takut
dakwahnya hilang dari peredaran masyarakat atau terpicunya masa rakyat
kecil untuk melawan dia dan berbagai macam alasan-alasan yang ada.



Semoga kita semuanya bisa terhindar dari empat yang menjadi ciri khas
orang terjatuh kedalam fitnah yang suatu ketika akan menjadi dalang
fitnah.



Saya ulas lagi,



(1). Yang dulu dianggap haram sekarang menjadi halal atau sebaliknya.

(2). Berubah-ubah warna dalam berdakwah, beragama dan dalam mengikuti ajaran dien.

(3). Mengikuti yang syubhat dan meninggalkan yang muhkamat.

(4). Mentolerir kebathilan, toleran terhadap berbagai macam penyimpangan-penyimpangan.



Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjauhkan kita dari itu semua dan
kita diberikan keteguhan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam
berpijak, memegang prinsip sampai kita bertemu Allah Subhanahu wa
Ta'ala.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ



"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar
taqwa dan janganlah sekali-kali kamu mati (bertemu Allah) melainkan
dalam keadaan beragama Islam."

(QS Al 'Imran: 102)



أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاستَغْفِرُ الله لِيْ وَلَكُمْ وَاستغفر الله العظيم إن الله هو الغفور الرحيم

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته



Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-ZA-CiriKenaFitnah

Download Video : https://www.youtube.com/watch?v=TgzP5PqEyr4