Laman

PROMO MURAH PAKET UMROH SEPESIAL Janauari - Maret 2016


Paket Umroh Sepesial Di Bulan Januarai,Februari,Maret 2016


Bersama Pendamping 


Al Ustadz. Zaenal Abidin Syamsuddin .Lc


































9 Hari $ 1,700 (+ 1.200.000,- Perlengkapan )


Fight by : Garuda Indonesia 


Hotel : 3 Stars Plus  ( ± 300 m dari Masjidil Haram )


Tanggal Keberangkatan :


14 Januari 2016


11 Februari 2016


10 Maret 2016









9 Hari $ 1,590 (+ 1.200.000,- Perlengkapan )


Fight by : Garuda Indonesia 


Hotel : 3 Stars ( ± 1 km /  Fasilitas Shuttle Bus )


Tanggal Keberangkatan :


28 Januari 2016


25 Februari 2016


31 Maret 2016













Pendaftaran Hubungi Kami 












AKU KEJAR CINTAMU HINGGA SURGA










ROMANTIKA MERAJUT CINTA HINGGA BERLABUH DI SURGA





 


        Disusun oleh: Ustadz. Abu Ahmad Zaenal Abidin bin Syamsuddin.Lc





Rumah Tangga Penuh Berkah


             Pernikahan merupakan ladang
subur untuk meraup keberkahan dalam hidup dan kecukupan dalam materi,
maka tidak ada alasan bagi siapapun baik lelaki atau wanita untuk
menunda-nunda pernikahan, apalagi menolak jodoh yang sudah cocok dari
sisi agama dan akhlak, seperti yang telah ditegaskan Rasulullah dalam
sabdanya:


إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض.


Jika ada seorang laki-laki datang
kepadamu yang telah kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah
dan jika tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah dan kerusakan
. (H.R Tirmidzi dengan sanad yang hasan).

             Segera menikah terutama
bagi wanita sangat bagus, untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri.
Jangan menunda-nunda pernikahan hanya karena alasan studi, kerja atau
karier sebab menikah merupakan sumber kebahagian dan ketenangan hidup
yang bisa mengganti kenikmatan belajar, kerja atau karier sedang
nikmatnya pernikahan tidak bisa diganti dengan nikmatnya belajar, kerja
atau karier meskipun sampai pada puncak kesuksesan.


      Pernikahan sebagai wahana untuk
melestarikan keturunan paling aman, mendidik generasi umat paling
manfaat, menyempurnakan agama paling tepat, menyalurkan syahwat paling
sehat, memupuk cinta dan kasih sayang paling mantap, dan menjaga diri
dari perkara yang diharamkan sesuai dengan fitrah manusia. Pernikahan
juga menjadi faktor utama meraih ketenangan hati dan ketentraman batin
sehingga masing-masing pasangan meraih kesempurnaan dalam beribadah,
kesuksesan dalam mencari ilmu dan keberhasilan dalam berkarya.


                  Dari Anas bin Malik bahwasannya Rasulullah bersabda:


من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه علي شطر دينه فليتق الله في الشطر الثاني.


Barangsiapa yang telah dikaruniai isteri yang salihah maka Allah telah membantu separuh agamanya maka hendaklah bertakwa kepada Allah dalam separuh agama yang lainnya. (H.R Hakim dan beliau menyatakan sahih dan disetujui oleh Adz Dzahabi).


             Pernikahan merupakan
kerangka dasar bagi bangunan masyarakat muslim dan tiang pancang
penyangga bagi bangunan hidup bersosial dan bernegara maka sangatlah
pantas bila seluruh anggota masyarakat menyambut gembira dengan memberi
ucapan selamat dan doa keberkahan yang diliputi rasa gembira dan bersuka
ria. Akan tetapi harus tetap berada diatas koridor dan etika Islam agar
proses pendirian bangunan itu tetap terarah dan tegak dengan benar
sehingga bisa terwujud masyarakat madani dan islami dengan baik.





Saatnya Memupuk Cinta


              Rasa kasih sayang dan
ketentraman yang tumbuh di dalam hati suami dan isteri merupakan bagian
dari nikmat Allah atas semua hamba-Nya. Dengan bantuan isteri seorang
suami mampu mengatasi berbagai macam problem dan kesulitan dalam
menunaikan berbagai tugas maupun beban berat pekerjaan, hati terhibur
pada saat-saat dirundung berbagai musibah dan penderitaan, dan seorang
isteri mampu membantu suami dalam beramal salih, beraksi sosial dan
menolong orang-orang lemah. Begitu juga suami menjadi pelindung,
pengayom, dan pembina bagi isterinya, serta memberikan hak-haknya secara
sempurna.


            Telah ada contoh baik pada
diri Ummul Mukminin, Khadijah ketika pertama kali turun wahyu kepada
Rasulullah maka ibunda Khadijah menghiburnya ketika beliau berkata
kepadanya: Sungguh aku khawatir terhadap diriku sendiri. Maka Khadijah
berkata: Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan membuatmu
terhina selamanya. Sungguh engkau orang yang senang menyambung
silaturrahim, suka menolong, senang membantu orang dalam kesulitan,
menghormati tamu dan membela pihak yang benar.[1]





Meraih Kesalihan Pasutri Dengan Ilmu Bermanfaat


             Semua pasangan baik suami
dan isteri harus mengenal Allah secara baik dalam hatinya, sehingga
merasa dekat dan akrab pada saat sedang bermunajat. Dia merasa manisnya
berdzikir, berdoa, bermunajat dan berkhidmah kepada Allah. Tidak ada
yang bisa mendapatkan itu kecuali orang yang telah memiliki ilmu
pengetahuan yang cukup tentang agama dan diwujudkan dalam realita
ketaatan kepada Allah dalam keadaan sepi maupun ramai.


            Bila suami atau isteri telah
merasakan cinta, takut dan berharap hanya kepada Allah maka dia telah
mengenal tuhannya dengan baik dan pengenalan secara khusus sehingga bila
meminta akan diberi dan bila memohon akan dikabulkan. Seorang hamba
pasti akan mengalami kesulitan dan kesedihan baik di dunia, di alam
kubur maupun di padang makhsyar, jika dia memiliki ilmu dan ma’rifat
yang mampu mengenal Allah secara baik maka semua itu akan menjadi ringan
dan Allah mencukupinya.


            Sesungguhnya ilmu yang
bermanfaat hanyalah ilmu yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah serta Ijma’ para shahabat seperti yang telah ditegaskan Imam
adz-Dzahabi: Kami memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat, tahukah
kamu apakah yang dimaksud dengan ilmu bermanfaat, yaitu ilmu yang datang
dari al-Qur’an dan dijelaskan Rasulullah melalui ucapan dan
perbuatannya serta tidak ada dalil yang melarang untuk mempelajarinya.[2]


            Dan ilmu yang bermanfaat
hanyalah ilmu yang mampu mengenalkan seseorang kepada Allah secara benar
dan ilmu yang mampu menunjukkan seorang hamba hingga dekat dengan
Tuhannya sehingga merasa akrab dan beribadah seakan-akan melihatnya.


            Imam Ahmad berkata tentang kebaikan: Sumber ilmu adalah takut kepada Allah.[3]


            Asal ilmu adalah ilmu
tentang Allah yang mampu menumbuhkan Khasyah, kecintaan, kedekatan dan
keakraban dengan Allah serta kerinduan kepada-Nya kemudian ilmu tentang
hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan apa-apa yang disenangi dan
diridhai Allah baik berupa ucapan, perbuatan, tindakan dan keyakinan.





            Dakwah Makmur, Rumah Tangga Mujur


               Persoalan rumah tangga
dan cara menghidupkan dakwah serta usaha untuk memperbaiki keluarga
merupakan masalah yang sangat penting dan urgen karena rumah adalah
wahana utama pendidikan dan bangunan utama untuk membentuk sebuah
masyakarat yang madani.


               Nikmat Allah yang paling
agung yang dikarunikan kepada hamba-Nya adalah nikmat hidayah kepada
agama hanif dan sampai kepada jalan yang lurus sehingga nanti di hari
kiamat meraih kemuliaan dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Di
antara ayat yang menjelaskan tentang agungnya karunia hidayah dan
demikian hanya taufik dari Allah sebagaimana yang telah dikisahkan Allah
tentang orang-orang mukmin yang mengakui keanggungan nikmat tersebut.
Allah berfirman: Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di
dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka
berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada
(surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau
Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul
tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan dan diserukan kepada mereka:
“Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu
kerjakan
. (Al ‘Araaf –43)


                   Imam Ibnu Katsir[4] ketika menafsirkan ayat ini menukil sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:


كل أهل الجنة يري مقعده من النار فيقول: لو لا أن الله هداني فيكون له الشكر.


Setiap penghuni surga menyaksikan
tempatnya di neraka lalu berkata: Jikalau Allah tidak memberi hidayah
kepada kami niscaya kami akan celaka maka bagi-Nya syukur.


            Hidayah memiliki peran
penting dan kedudukan agung dan tidak ada yang mampu menghargai nilai
hidayah kecuali orang yang telah merasakannya dan tidak ada yang
mengetahui cahaya hidayah kecuali orang yang telah mencicipi pahitnya
kesesatan. Apalagi ketika mereka melihat orang-orang yang tersesat dan
tidak meraih taufik kepada jalan yang lurus sehingga mereka merugi di
hari kiamat dan masing-masing mengungkapkan penyesalan mereka sebagaima
dalam firman Allah: Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa. (Az Zumar :57).


       Ketika Cinta Mulia Bersemi



       Islam merupakan dien yang Agung
yang menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya. Rasa cinta bagaikan
pohon di dalam hati yang akarnya berupa kepatuhan kepada sang Khalik,
batangnya adalah ma’rifat kepada-Nya dan cabangnya adalah rasa takut
kepada-Nya. Daun-daunya adalah rasa malu terhadap-Nya dan buahnya adalah
ketaatan kepada-Nya, pupuknya selalu ingat kepada-Nya. Kecintaan yang
tidak memiliki faktor-faktor tersebut berarti cintanya tidak sempurna.


Barangsiapa  yang mampu mencintai Allah
berdasarkan ilmu maka ia akan mendapatkan hati yang khusyuk, jiwa yang
qanaah dan doa yang didengar. Dan siapapun yang tidak bisa mencintai
Allah maka ia terjerat dengan empat perkara dan Rasulullah telah memohon
perlindungan darinya yaitu ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak
khusyu’, jiwa yang tidak pernah merasa puas dan doa yang tidak
dikabulkan. Sehingga ilmunya menjadi malapetaka dan racun bagi dirinya
dan ia tidak mengambil manfaat dari ilmunya karena hatinya semakin jauh
dari Allah, jiwa bertambah kering dan tamak bahkan semakin bertambah
tamak. Akhirnya doanya tidak didengar akibat pelanggaran terhadap
perintah Allah dan tidak menjauhi apa-apa yang dibenci dan dimurkai oleh
Allah.


            Allah menjelaskan tentang
diri-Nya sendiri bahwasannya Dia mencintai hambanya yang beriman dan
merekapun mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat. Dia pun
menjelaskan bahwa diri-Nya adalah al-Waddud yang maksudnya adalah mencintai dengan tulus, Al Bukhari berkata al-Wuddud artinya kecintaan yang murni dan Dia mencintai hamba-Nya yang beriman dan mereka juga mencintai-Nya dengan tulus.


            Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik bahwasannya Rasulullah bersabda: Barangsiapa
mengejek waliKu berarti ia telah mengumumkan peperangan terhadapKu.
HambaKu akan senantiasa mendekat kepadaKu dengan berbagai kewajiban yang
diwajibkan atasnya dan senantiasa mendekat kepada Ku dengan amalan
sunnah hingga aku mencintainya maka Aku akan menjadi pendengaran yang
dipakainya untuk mendengar, penglihatan yang digunakan  untuk melihat,
tangan yang digunakan untuk memukul, kaki yang digunakannya untuk
melangkah. DenganKu ia mendengar, denganKu ia melihat, denganKu ia
memukul dan denganKu pula ia melangkah. Apa bila  ia meminta niscaya
akan aku beri. Apabila memohon perlindungan niscaya Aku lindungi . Aku
sama sekali tidak ragu melakukannya, sebagaimana keraguanKu untuk
mencabut nyawa seorang hambaKu yang beriman yang tidak suka
menyakitinya, sedangkan kematiannya sudah merupakan suatu keharusan..”


Barangsiapa yang ingin bercinta secara
benar dan sejati sehingga taman surga bisa diraih dan kebahagian abadi
mampu didapat maka hendaklah mencoba mewarnai kehidupan dengan cinta
yang murni dan sejati, yaitu mencintai pasangan hidup karena Allah dan
Rasul-Nya, hamba kekasih Rab Yang Maha Pengasih.


   


-          Shahih Bukhari


-          Mustadrak al-Hakim.


-          Fadhlu Ilmis Salaf, Ibnu Rajab al-Hambali.


-          Tafsir Ibnu Katsir


-          Ar-Rahiqul Makhtum, Mubarak Fury


-          Hubunnabi Wa Alamatuhu, DR. Fadhul Ilahi


-          Raudhatul Mahbub Min Kalami Muharikil Qulub Ibnu Qayyim, Manshur bin Abdul Aziz Al Ujayyan.


-          Tauhid Ali, Syaikh Fauzan.


-          Ighatsatul Lahafan, Ibnu Qayyim.


-          Islahul Qulub, Abdul Hadi bin Hasan Al Wahby.







[1] . Shahih Bukhari, 1/ 3 dan ar-Rahiqul Makhtum, Mubarak Fury, Hl. 63.


[2] .  Siyar ‘Alamin Nubala’, 19/340.


[3] . Fadhlu Ilmis Salaf, Ibnu Rajab, Hl. 52.


[4]
Tafsir Ibnu Katsir-Abi Al fida’ Ismail bin Katsir- 188, Ibnu Katsir
berkata dari Hadits Riwayat An Nasa’i dan Ibnu Mardaweh dan lafadz dari
beliau. Dan hadits di atas dihasankan Albani di dalam shahih jami’ 4514.








Pengertian Sunnah














PENGERTIAN SUNNAH



Oleh

Syaikh Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani



Sunnah itu memiliki penganut. Dan para penganutnya memiliki aqidah atau
keyakinan dan selalu bersatu di atas kebenaran. Maka sudah sepantasnya
penulis memaparkan di sini pengertian dari ketiga kata tersebut : Aqidah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah.



Pengertian Aqidah Secara Bahasa Dan Menurut Istilah

Aqidah secara bahasa diambil dari kata 'aqad yakni ikatan dan buhulan
yang kuat. Bisa juga berarti teguh, permanent, saling mengikat dan
rapat. Bila dikatakan tali itu di-'aqad-kan, artinya diikat. Bisa juga
digunakann dalam ikatan jual beli atau perjanjian. Meng-'aqad sarung,
berarti mengikatnya dengan kuat. Kata aqad adalah lawan dari hall
(melepas/mengurai)[1].

Pengertian aqidah menurut istilah adalah : Bahwa aqidah itu digunakan
dalam arti iman yang teguh, kokoh dan kuat yang tidak akan terasuki oleh
keragu-raguan. Yakni keyakinan yang menyebabkan seseorang itu diberi
jaminan keamanan, hati dan nuraninya terikatt pada keyakinan itu, lalu
dijadikan sebagai madzhab dan agamanya. Apabila iman yang teguh, kokoh,
kuat dan pasti itu benar, maka aqidah seseorang juga menjadi benar,
seperti aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Kalau keimanan itu batil, maka
aqidah pemiliknya juga batil, seperti aqidah yang dimiliki oleh
kelompok-kelompok sesat.[2]



Pengertian Ahlus Sunnah

Sunnah secara bahasa artinya adalah jalan atau riwayat hidup, baik
ataupun buruk.[3] Sementara sunnah menurut istilah para ulama aqidah
Islam adalah petunjuk yang dijalani oleh Rasulullah dan para sahabat
beliau ; dalam ilmu, amalan, keyakinan, ucapan dan perbuatan. Itulah
ajaran sunnah yang wajib diikuti dan dipuji pelakunya, serta harus
dicela orang yang meninggalkannya. Oleh sebab itu dikatakan ; si Fulan
temasuk Ahlus Sunnah. Artinya, ia orang yang mengikuti jalan yang lurus
dan terpuji.[4]



Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menyatakan : "Sunnah adalah
jalan yang dilalui, termasuk diantaranya adalah berpegang teguh pada
sesuatu yang dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan para Al-Khulafa Ar-Rasyidun, berupa keyakinan, amalan dan ucapan.
Itulah bentuk sunnah yang sempurna". [Jami'ul Ulumiwal Hikam I : 120]



Syaikhul Islam Ibnu Timiyah rahimahullah menyatakan : "Sunnah adalah
sesuatu yang ditegakkan di atas dalil syari'at, yakni ketaatan kepada
Allah dan RasulNya, baik itu perbuatan beliau, atau perbuatan yang
dilakukan di masa hidup beliau, atau belum pernah beliau lakukan dan
tidak pula pernah dilakukan di masa hidup beliau karena pada masa itu
tidak ada hal yang mengharuskan itu dilakukan pada masa hidup beliau,
atau karena ada hal yang menghalanginya".[Majmu' Al-Fatawa oleh Ibnu
Taimiyah XXI : 317]



Dengan demikian perngertian itu, berarti adalah mengikuti jejak
Rasulullah secara lahir dan batin, dan mengikuti jalan hidup orang-orang
terdahulu dari generasi awal umat ini dari kalangan Al-Muhajirin dan
Al-Anshar. [Refernsi sebelumnya III : 157]



Pengertian Jama'ah

Jama'ah secara bahasa diambil dari kata dasar jama'a (mengumpulkan).
Dari akar kata itulah muncul kata-kata semacam ijma' (kesepakatan) dan
ijtima' (pertemuan), lawan kata dari tafarruq (perpisahan).



Ibnu Faris menyatakan : "Huruf Jim, Mim dan 'Ain berasal dari satu kata
dasar yang menunjukkan pengumpulan sesuatu. Saya menjamak sesuatu
artinya mengumpulkannya sedemikian rupa".[5]



Sementara Jama'ah menurut istilah ulama aqidah Islam yang tidak lain
adalah generasi As-Salaf dari umat Islam dari kalangan sahabat, tabi'in
dan yang mengikuti jejak mereka hingga hari Kiamat, yang mereka bersatu
dalam kebenaran yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah Rasul.[6]



Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu menyebutkan : "Jama'ah adalah
sesuatu yang bersesuaian dengan kebenaran meski hanya engkau seorang
diri"



Nu'aim bin Hammad menyatakan : "Yakni apabila jama'ah kaum muslimin
sudah rusak, hendaknya engkau berpegang pada sesuatu yang dilaksanakan
oleh jama'ah itu sebelum ia rusak, meski hanya engkau seorang diri.
Karena pada saat itu, engkaulah jama'ah itu sendiri". [7]



[Disalin dari kitab Nurus Sunnah wa Zhulumatul Bid'ah Fi Dhauil Kitabi
was Sunnah, Edisi Indonesia Mengupas Sunnah, Membedah Bid'ah, Penulis Dr
Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Penerbit Darul Haq]

_______

Footnote

[1]. Lihat Lisanul Arab oleh Ibnu Mandzur, bab huruf daal, pasal huruf
'ain III:296. Lihat juga Qamus Al-Muhith oleh fairuz Abadi, bab huruf
daal pasal huruf 'ain, hal.383. Lihat juga Mu'jamul Maqayis Fil Lughah
oelh Ibnu Faris kitab Al-Ain hal.679.

[2]. Lihat Mabahits Fi Aqidah Ahlus Sunnah, oleh Doktor Nashir Al-Aql, hal.9-10

[3]. Lihat Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur bab ; Nuun, pasal huruf sien XIII : 225.

[4]. Lihat Mabahits Fi Aqidah Ahlus Sunnah, oleh Doktor Nashir Al-Aql, hal. 15

[5]. Mu'jamul Maqayis Fil Lughah oleh Ibnu Faris, kitab huruf Jiim hal. 224

[6]. Lihat Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah oleh Ibnu Abil Izzi hal. 68
dan Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah tulisan Khalil Hirras hal, 61

[7]. Oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan I : 70, lalu dinisbatkan kepada Al-Baihaqi.











 almanhaj.or.id

Mayoritas Kaum Muslimin Sekarang Tidak Memahami Makna Laa Ilahaa Illallah Dengan Pemahaman Yang Baik

Tauhid Prioritas Utama











MAYORITAS KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI TIDAK MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DENGAN PEMAHAMAN YANG BAIK





Oleh


Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rohimahulloh





Mayoritas kaum muslimin sekarang ini yang telah bersaksi Laa Ilaaha
Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah)
tidak memahami makna Laa Ilaaha Illallah dengan baik, bahkan barangkali
mereka memahami maknanya dengan pemahaman yang terbalik sama sekali.
Saya akan memberikan suatu contoh untuk hal itu : Sebagian di antara
mereka [1] menulis suatu risalah tentang makna Laa Ilaaha Illallah, dan
menafsirkan dengan "Tidak ada Rabb (pencipta dan pengatur) kecuali
Allah" !! Orang-orang musyrik pun memahami makna seperti itu, tetapi
keimanan mereka terhadap makna tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :





وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ





"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : 'Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi ?' Tentu mereka akan menjawab : 'Allah'. "
[Luqman/31 : 25]



Manfa’at pernikahan



Orang-orang musyrik itu beriman bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta
yang tidak ada sekutu bagi-Nya, tetapi mereka menjadikan
tandingan-tandingan bersama Allah dan sekutu-sekutu dalam beribadah
kepada-Nya. Mereka beriman bahwa Rabb (pengatur dan pencipta) adalah
satu (esa), tetapi mereka meyakini bahwa sesembahan itu banyak. Oleh
karena itu, Allah membantah keyakinan ini yang disebut dengan ibadah
kepada selain Allah di samping beribadah kepada Allah melalui firman-Nya
:





وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ





"Dan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata) :
'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'". [az-Zumar/39: 3].





Kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah
mengharuskannya untuk berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah
Azza wa Jalla. Adapun mayoritas kaum muslimin sekarang ini, menafsirkan
kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah ini dengan : "Tidak ada Rabb
(pencipta dan pengatur) kecuali Allah". Padahal apabila seorang muslim
mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan dia beribadah kepada selain Allah
disamping beribadah kepada Allah, maka dia dan orang-orang musyrik
adalah sama secara aqidah, meskipun secara lahiriah adalah Islam, karena
dia mengucapkan lafazh Laa Ilaaha Illallah, sehingga dengan ungkapan
ini dia adalah seorang muslim secara lafazh dan secara lahir. Dan ini
termasuk kewajiban kita semua sebagai da'i Islam untuk menda'wahkan
tauhid dan menegakka hujjah kepada orang-orang yang tidak mengetahui
makna Laa Ilaaha Illallah dimana mereka terjerumus kepada apa-apa yang
menyalahi Laa Ilaaha Illallah. Berbeda dengan orang-orang musyrik,
karena dia enggan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, sehingga dia bukanlah
seorang muslim secara lahir maupun batin. Adapun mayoritas kaum
muslimin sekarang ini, mereka orang-orang muslim, karena Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :





فَإِذَا قَالُوْ هَا عَصَمُوْا مِنِّي دَمَاعَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقَّهَا، وَحِسَابُهُم عَلَى اللَّهِ تَعَالَى





"Apabila mereka mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah), maka kehormatan dan
harta mereka terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungan
mereka atas Allah Subhanahu wa Ta'ala".[2]





Oleh karena itu, saya mengatakan suatu ucapan yang jarang terlontar
dariku, yaitu : Sesungguhnya kenyataan mayoritas kaum muslimin sekarang
ini adalah lebih buruk daripada keadaan orang Arab secara umum pada masa
jahiliyah yang pertama, dari sisi kesalahpahaman terhadap makna kalimat
tahyyibah ini, karena orang-orang musyrik Arab dahulu memahami makna
Laa Ilaaha Illallah, tetapi mereka tidak mengimaninya. Sedangkan
mayoritas kaum muslimin sekarang ini mereka mengatakan sesuatu yang
tidak mereka yakini, mereka mengucapkan : 'Laa Ilaaha Illallah' tetapi
mereka tidak menginmani -dengan sebenarnya- maknanya. [3]





Oleh karena itu, saya meyakini bahwa kewajiban pertama atas da'i kaum
muslimin yang sebenarnya adalah agar mereka menyeru seputar kalimat
tauhid ini dan menjelaskan maknanya secara ringkas. Kemudian dengan
merinci konsekuensi-konsekuensi kalimat thayyibah ini dengan
mengikhlaskan ibadah dan semua macamnya untuk Allah, karena ketika Allah
Azza wa Jalla menceritakan perkataan kaum musyrikin, yaitu :





مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ





"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [az-Zumar/39 : 3]





Allah menjadikan setiap ibadah yang ditujukan bagi selain Allah sebagai
kekufuran terhadap kalimat thayyibah Laa Ilaaha Illallah.





Oleh karena itu, pada hari ini saya berkata bahwa tidak ada faedahnya
sama sekali upaya mengumpulkan dan menyatukan kaum muslimin dalam satu
wadah, kemudian membiarkan mereka dalam kesesatan mereka tanpa memahami
kalimat thayyibah ini, yang demikian ini tidak bermanfaat bagi mereka di
dunia apalagi di akhirat !.





Kami mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam





مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاًَّ اللَّهُ مُخْلِصًا
مِنْ قَلْبِهِ حَرَّمَ اللَّهُ بَدَنَّهُ عَلَى النَّارِ وفى رواية أخرى:
دَخَلَ الْجَنَّةَ





"Barangsiapa mati dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang
berhak diibadahi kecuali Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah
mengharamkan badannya dari Neraka" dalam riwayat lain : "Maka dia akan
masuk Surga".[4]





Maka mungkin saja orang yang mengucapkan kalimat thayyibah dengan ikhlas
dijamin masuk Surga. meskipun setelah mengucapkannya menerima adzab
terlebih dahulu. Orang yang meyakini keyakinan yang benar terhadap
kalimat thayyibah ini, maka mungkin saja dia diadzab berdasarkan
perbuatan maksiat dan dosa yang dilakukannya, tetapi pada akhirnya
tempat kembalinya adalah Surga.





Dan sebaliknya barangsiapa mengucapkan kalimat tauhid ini dengan
lisannya, sehingga iman belum masuk kedalam hatinya, maka hal itu tidak
memberinya manfaat apapun di akhirat, meskipun kadang-kadang memberinya
manfaat di dunia berupa kesalamatan dari diperangi dan dibunuh, apabila
dia hidup di bawah naungan orang-orang muslim yang memilki kekuatan dan
kekuasaan. Adapun di akhirat, maka tidaklah memberinya manfaat
sedikitpun kecuali apabila :





1. Dia mengucapkan dan memahami maknanya.


2. Dia meyakini makna tersebut, karena pemahaman semata tidaklah cukup
kecuali harus dibarengi keimanan terhadap apa yang dipahaminya.





Saya menduga bahwa kebanyakan manusia lalai dari masalah ini ! Yaitu
mereka menduga bahwa pemahaman tidak harus diiringi dengan keimanan.
Padahal sebenarnya masing-masing dari dua hal tersebut (yaitu pemahaman
dan keimanan) harus beriringan satu sama lainnya sehingga dia menjadi
seorang mukmin. Hal itu karena kebanyakan ahli kitab dari kalangan
Yahudi dan Nashrani mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah seorang rasul yang benar dalam pengakuannya sebagai
seorang rasul dan nabi, tetapi pengetahuan mereka tersebut yang Allah
Azza wa Jalla telah mepersaksikannya dalam firman-Nya.





يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ





"Mereka (ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nashara) mengenalnya
(Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri ...."
[al-Baqarah/2: 146 & al-An'am/6: 20]





Walaupun begitu, pengetahuan itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun
! Mengapa ? Karena mereka tidak membenarkan apa-apa yang diakui oleh
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa nubuwah (kenabian) dan
risalah (kerasulan). Oleh karena itu keimanan harus didahului dengan
ma'rifah (pengetahuan). Dan tidaklah cukup pengetahuan semata-mata,
tanpa diiringi dengan keimanan dan ketundukan, karena Al-Maula Jalla Wa'
ala berfirman dalam Al-Qur'an :





فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ





"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi
kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosa mu ......." [Muhammad/47 :
19].





Berdasarkan hal itu, apabila seorang muslim mengucapkan Laa Ilaaha
Illallah dengan lisannya, maka dia harus menyertakannya dengan
pengetahuan terhadap kalimat thayyibah tersebut secara ringkas kemudian
secara rinci. Sehingga apabila dia mengetahui, membenarkan dan beriman,
maka dia layak untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan sebagaimana yang
dimaksud dalam hadits-hadits yang telah saya sebutkan tadi, diantaranya
adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai isyarat
secara rinci :





مَنْ قَالَ :لاَّ إِلَهَ إِلاًَّ اللَّهُ، نَفَعَتْهُ يَوْ مًا مِنْ دَهْرِهِ





"Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka bermanfaat baginya meskipun satu hari dari masanya".[5]





Yaitu : Kalimat thayyibah ini -setelah mengetahui maknanya- akan menjadi
penyelamat baginya dari kekekalan di Neraka. Hal ini saya ulang-ulang
agar tertancap kokoh di benak kita.





Bisa jadi, dai tidak melakukan konsekuensi-konsekuensi kalimat thayyibah
ini berupa penyempurnaan dangan amal shalih dan meninggalkan segala
maksiat, akan tetapi dia selamat dari syirik besar dan dia telah
menunaikan apa-apa yang dituntut dan diharuskan oleh syarat-syarat iman
berupa amal-amal hati -dan amal-amal zhahir/lahir, menurut ijtihad
sebagian ahli ilmu, dalam hal ini terdapat perincian yang bukan disini
tempat untuk membahasnya- [6]. Da dia berada dibawah kehendak Allah,
bisa jadi dia masuk ke Neraka terlebih dahulu sebagai balasan dari
kemaksiatan-kemaksiatan yang dia lakukan atau kewajiban-kewajiban yang
ia lalaikan, kemudian kalimat thayyibah ini menyelamtkan dia atau Allah
memaafkannya dengan karunia dan kemuliaan-Nya. Inilah makna sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu :





مَنْ قَالَ :لاَّ إِلَهَ إِلاًَّ اللَّهُ، نَفَعَتْهُ يَوْ مًا مِنْ دَهْرِهِ





Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka ucapannya ini akan
memberi manfaat baginya meskipun satu hari dari masanya".[7]





Adapun orang yang menucapkan dengan lisannya tetapi tidak memahami
maknanya, atau memahami maknanya tetapi tidak mengimani makna tersebut,
maka ucapan Laa Ilaaha Illaallah-nya tidak memberinya manfaat di
akhirat, meskipun di dunia ucapan tersebut masih bermanfaat apabila ia
hidup di bawah naungan hukum Islam.





Oleh karena itu, harus ada upaya untuk memfokuskan da'wah tauhid kepada
semua lapisan masyarakat atau kelompok Islam yang sedang berusaha secara
hakiki dan bersungguh-sungguh untuk mencapai apa yang diserukan oleh
seluruh atau kebanyakan kelompok-kelompok Islam, yaitu merealisasikan
masyarakat yang Islami dan mendirikan negara Islam yang menegakkan hukum
Islam di seluruh pelosok bumi manapun yang tidak berhukum dengan hukum
yang Allah turunkan.





Kelompok-kelompok tersebut tidak mungkin merealisasikan tujuan yang
telah mereka sepakati dan mereka usahakan dengan sungguh-sungguh,
kecuali memulainya dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, agar tujuan tersebut bisa menjadi
kenyataan.





[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia
TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani, Penerjemah Fariq Gasim Anuz, Murajaah Zainal Abidin, Penerbit
Darul Haq - Jakarta]


_______


Footnote


[1]. Dia adalah Syaikh Muhammad Al-Hasyimi, salah seorang tokoh sufi
dari thariqah Asy-Syadziliyyah di Suriah kira-kira 50 tahun yang lalu


[2]. Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (25) dan pada tempat
lainnya, dan Muslim (22), dan selainnya, dari hadits Ibnu Umar
Radhiyallahu anhum.


[3]. Mereka menyembah kubur, menyembelih kurban untuk selain Allah,
berdo'a kepada orang-orang yang telah mati, ini adalah kenyataan dan
hakikat dari apa-apa yang diyakini oleh orang-orang syi'ah rafidhah,
shufiyah, dan para pengikut thariqah lainnya. berhaji ke tempat
pekuburan dan tempat kesyirikan dan thawaf di sekitarnya serta
beristighatsah (meminta tolong) kepada orang-orang shalih dan bersumpah
dengan (nama) orang-orang shalih adalah merupakan keyakinan-keyakinan
yang mereka pegang dengan kuat


[4]. Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (5/236), Ibnu Hibban (4)
dalam Zawa'id dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3355).


[5]. Hadits Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah
Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam
Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam
Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu
'anhu


[6]. Ini adalah aqidah Salafus Shalih, dan ini merupakan batas pemisah kita dengan khawarij dan murji'ah


[7]. Hadits Shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah
Ash-Shahihah (1932) dan beliau menyandarkan kepada Sa'id Al-A'rabi dalam
Mu'jamnya, dan Abu Nu'aim dalam Al-Hidayah (5/46) dan Thabrani dalam
Mu'jam Al-Ausath (6533), dan daia dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu


Buah Hati, Antara Perhiasan Dan Ujian Keimanan

Risalah Anak Muslim










BUAH HATI..ANTARA PERHIASAN DAN UJIAN KEIMANAN




Oleh

Al Maghribi bin As Sayyid Mahmud Al Maghrib





ANAK SEBAGAI PERHIASAN DUNIA

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, shalawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada manusia pilihan Muhammad Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabat keluarga dan para pengikutnya
dengan baik hingga hari akhir.



Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan segala sesuatu yang ada di
permukaan bumi sebagai perhiasan bagi kehidupan dunia, termasuk di
dalamnya adalah harta dan anak-anak. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman,



زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ
وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ
الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ



Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali
yang baik (surga). [Ali Imran:14].



Anak merupakan karunia dan hibah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai
penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua dan sekaligus perhiasan
dunia, serta belahan jiwa yang berjalan di muka bumi. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman.



الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً



Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi
Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan. [Al Kahfi:46].



Dan diantara bentuk perhiasan dunia adalah bangga dengan banyaknya anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُُ وَلَهْوُُ وَزِينَةٌ
وَتَفَاخُرُُ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرُُ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ



Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan
suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta
berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak. [Al Hadid:20].



Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.



تَزَوَّجُوْا الْوَلُوْدَ الْوَدُوْدَ فَإنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ



Nikahilah wanita yang banyak anak (subur) dan penyayang. Karena aku bangga dengan jumlah kalian yang banyak. [HR Nasa’i].



النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ, وَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِيْ فَلَيْسَ
مِنِّيْ تَزَوَّجُوْا الْوَلُوْدَ الْوَدُوْدَ فَإنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ.



Nikah adalah sunnahku dan barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku
maka bukan termasuk golonganku. Nikahilah wanita yang banyak anak
(subur) dan penuh kasih sayang. Karena aku bangga dengan jumlah kalian
yang banyak pada hari kiamat. [HR. Nasa’i]



Seorang yang bijak, jika sudah mengetahui bahwa anak merupakan
perhiasan, tentunya ia akan menjaga perhiasan tersebut sebaik-baiknya.
Yakni dengan membekali mereka dengan pendidikan yang baik. Hingga mereka
betul-betul menjadi penyejuk pandangan mata, memiliki keluhuran budi
pekerti, akhlak mulia dan sikap ksatria.



Hal ini adalah perkara yang wajib atas setiap orang tua. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا



Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. [At Tahrim:6].



Cukuplah sebagai tanda jasa dan pujian bagi pendidik, bahwa seorang
hamba akan meraih balasan pahala yang besar setelah wafatnya dan masa
umurnya habis serta habis masa hidupnya.



Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.



إِذَا مَاتَ اْلإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ صَدَقَةٌ
جَارِيَةٌ أوْ عِلْمٌ يَنْتَفِعُ بِهِ أوْ وَلَدٌ صَالحٌِ يَدْعُوْ لَهُ.



Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga
perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang
mendo’akannya. [1]



Jadi, seorang pendidik akan meraih derajat yang tinggi, pahala berlipat
ganda dan meninggalkan pusaka yang mulia di dunia bagi anak cucunya.



Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.



إنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي اْلجَنَّةِ, فَيَقُوْلُ: أَنَّي لِي هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.



Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia
berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar
anakmu kepadamu”.[2]



Begitu pula dia akan dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan
kerabatnya sebagai karunia dan balasan yang baik dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.



وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ
أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآأَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن
شَىْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ



Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka
dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami
tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia
terikat dengan apa yang dikerjakannya. [Ath Thur:21].



ANAK SEBAGAI FITNAH DUNIA

Anak, selain sebagai perhiasan dan penyejuk mata, juga bisa menjadi
fitnah (ujian dan cobaan) bagi orang tuanya. Ia merupakan amanah yang
akan menguji setiap orang tua. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ
عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا
وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ
وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ



Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu
terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta
mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan
(bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15].



Firman Allah di atas dengan sangat tegas menandaskan, anak bisa menjadi
fitnah dunia bagi kita. Ibarat permata zamrud yang wajib kita pelihara.
Maka berhati-hatilah, janganlah kita terlena dan tertipu sehingga kita
melanggar perintah Allah Azza wa Jalla dan menodai laranganNya. Jangan
sampai anak kita menjadi penyebab turunnya murka dan bencana Allah Azza
wa Jalla pada diri kita. Allah Azza wa Jalla befirman,



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ
وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ , وَاعْلَمُوا أَنَّمَآ
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرُُ
عَظِيمُُ



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan
RasulNya, dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu padahal kamu mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di
sisi Allah-lah pahala yang besar. [Al Anfal:27, 28].



Berkenaan dengan firman Allah Azza wa Jalla di atas, Syaikh Abdurrahman
bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata,”Allah Ta’ala memerintahkan
para hambaNya yang beriman, agar mereka menunaikan amanah yang
diembankan kepada mereka, baik berupa perintah-perintahNya maupun
larangan-laranganNya. Sesungguhnya amanah adalah hal yang pernah Allah
tawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan
untuk memikul amanat itu, dan mereka khawatir akan mengkhianatinya.
Kemudian dipikullah amanat tersebut oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu amat zhalim dan amat bodoh. Maka barangsiapa yang menunaikan amanah
tersebut, ia berhak meraih pahala dan ganjaran dari Allah. Adapun orang
yang menyia-nyiakan amanah tersebut, ia berhak mendapat siksa yang
pedih, dan ia menjadi orang yang berkhianat terhadap Allah dan RasulNya
serta amanahNya. Dia telah menurunkan derajat dirinya sendiri dengan
sifat tercela, yakni khianat. Dan telah telah melenyapkan dari dirinya
kesempurnaan sifat, yaitu sifat amanah.” [3]



Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.



يَآأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَيَجْزِي
وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلاَمَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئًا
إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
وَلاَيَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الْغَرُورُ



Hai manusia, bertawaqalah kepada Rabb-mu, dan takutilah suatu hari yang
(pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang
anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah
adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan
kamu, dan jangan (pula) penipu (syaithan) memperdayakan kamu dalam
(mentaati) Allah. [Luqman:33].



Dalam realita, mungkin kerap kita saksikan, para orang tua bekerja
membanting tulang tak kenal lelah demi sang anak. Mencurahkan segenap
upayanya, semata demi kebahagiaan anak. Dari sini dapat kita fahami,
betapa anak mampu menggelincirkan orang tua dari jalan kebenaran,
melalaikan mereka dari akhirat, jika mereka tidak mendasari segala upaya
tersebut untuk meraih ridha Allah.



Sebagian orang mungkin berasumsi, orang tua yang beruntung adalah yang
berhasil menyekolahkan anaknya sampai meraih gelar doktor, insinyur dan
seabrek titel dan gelar lainnya. Mungkin asumsi ini benar, jika ditilik
dari satu sisi saja. Namun ada satu hal penting yang harus diperhatikan
oleh orang tua, bahwa keberhasilan mendidik anak serta kebahagiaan hidup
tidak hanya terletak pada gelar sarjana dan segala fasilitas dunia
lainnya. Anak juga membutuhkan pendidikan rohani dan bimbingan religi,
agar mereka kelak tumbuh menjadi pribadi yang seimbang, mengerti
tugasnya sebagai hamba Allah Azza wa Jalla, juga memahami kedudukannya
sebagai anak dan fungsinya sebagai bagian dari umat. Alangkah baiknya
jika kita memiliki anak bergelar doktor sekaligus muwahhid. Betapa
bahagianya orang tua yang memiliki anak bergelar arsitek yang mu’min dan
shalih. Sehingga ilmu mereka bisa bermanfaat untuk kemashlahatan umat.



Oleh karena itu, setiap orang tua wajib mengetahui perkara-perkara yang
telah Allah wajibkan kepada mereka berkaitan dengan anak-anak. Sehingga
dapat menjaga amanah yang berharga ini.



Diantara yang bisa menebus dosa akibat fitnah yang ditimbulkan dari anak
adalah puasa, shalat dan amar ma’ruf nahi munkar. Hal itu berdasarkan
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim serta Tirmidzi
dari Hudzaifah dalam hadits yang panjang, beliau berkata,”Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.



فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أهْلِهِ وَمَالِهِ وَ وَلَدِهِ وَنَفْسِهِ
وِجَارِهِ يُكَفَّرُهَا: الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلأمْرُ
بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ.



Fitnah seseorang dari keluarganya, hartanya, anaknya, dirinya dan
tetangganya ditebus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi
munkar. [Muttafaqun’alaih]



Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan karunia anak yang shalih,
yang membantu dalam ketaatan dan menjadi pengingat dari kelalaian, serta
memberi nasihat ketika lupa dan luput dari ajaran Islam. Wallahu
waliyyut taufiq.



(Diadaptasi dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Salihan, karya Al Akh Al
Maghribi bin As Sayyid Mahmud Al Maghrib, dengan beberapa tambahan oleh
Ummu Rasyidah).



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VIII/1425H/2004M
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.
8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296] almanhaj.or.id

_______

Footnote

[1]. Shahih Bukhari, 7/247, 6514 dan Shahih Muslim, 3/1016, 1631.

[2]. Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/294, 2954, dan dikeluarkan Ahmad di dalam Musnad, 2/509.

[3]. Taisir Karimir Rahman, 1/793

At-Tuhfatus Saniyyah - Tanda-tanda Fi'il

At-Tuhfatus Saniyyah - Tanda-tanda Fi'il















Tanda-tanda Fi'il 








وَالۡفِعۡلُ يُعۡرَفُ بِقَدۡ
وَالسِّينِ وَسَوۡفَ وَتَاءِ التَّأۡنِيثِ السَّاكِنَةِ.


Fi’il dikenali dengan قَدۡ, huruf sin, سَوۡفَ, dan huruf ta` ta`nits yang disukun.


وَأَقُولُ: يَتَمَيَّزُ الْفِعْلُ
عَنْ أَخَوَيْهِ: الْإِسْمِ وَالْحَرْفِ بِأَرْبَعِ عَلَامَاتٍ؛ مَتَى وَجَدْتَ
فِيهِ وَاحِدَةً مِنْهَا أَوْ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَقْبَلُهَا عَرَفْتَ أَنَّهُ
فِعْلٌ.


الْأُولَى: قَدْ، وَالثَّانِيَةُ:
السِّينُ، وَالثَّالِثَةُ: سَوْفَ، وَالرَّابِعَةُ: تَاءُ التَّأْنِيثِ
السَّاكِنَةُ.


Fi’il dibedakan dari
dua saudaranya: isim dan huruf dengan empat tanda. Kapan engkau mendapatkan
pada sebuah kata salah satu darinya atau engkau melihat bahwa kata itu bisa
menerima tanda itu, engkau dapat mengetahui bahwa kata itu adalah fi’il.


  1. قَدْ,

  2. huruf sin,

  3. سَوْفَ

  4. huruf ta` ta`nits yang disukun.




أَمَّا (قَدْ)فَتَدْخُلُ عَلَى
نَوْعَيْنِ مِنَ الْفِعْلِ، وَهُمَا: الْمَاضِي، وَالْمُضَارِعُ.



فَإِذَا دَخَلَتْ عَلَى الْفِعْلِ
الْمَاضِي دَلَّتْ عَلَى أَحَدِ مَعْنَيَيْنِ -وَهُمَا التَّحْقِيقُ وَالتَّقْرِيبُ-
فَمِثَالُ دَلَالَتِهَا عَلَى التَّحْقِيقِ قَوْلُهُ تَعَالَى: (قَدْ أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ) وَقَوْلُهُ جَلَّ شَأْنُهُ: (لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ
الْمُؤْمِنِينَ) وَقَوْلُنَا: (قَدْ حَضَرَ مُحَمَّدٌ) وَقَوْلُنَا: (قَدْ سَافَرَ
خَالِدٌ) وَمِثَالُ دَلَالَتِهَا عَلَى التَّقْرِيبِ قَوْلُ مُقِيمِ الصَّلَاةِ:
(قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ) وَقَوْلُكَ: (قَدْ غَرَبَتِ الشَّمْسُ).


وَإِذَا دَخَلَتْ عَلَى الْفِعْلِ
الْمُضَارِعِ دَلَّتْ عَلَى أَحَدِ مَعْنَيَيْنِ أَيْضًا -وَهُمَا التَّقْلِيلُ
وَالتَّكْثِيرُ- فَأَمَّا دَلَالَتُهَا عَلَى التَّقْلِيلِ، فَنَحْوُ ذَلِكَ:
(قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوبُ) وَقَوْلُكَ: (قَدْ يَجُودُ الْبَخِيلُ) وَقَوْلُكَ:
(قَدْ يَنْجَحُ الْبَلِيدُ). وَأَمَّا دَلَالَتُهَا عَلَى التَّكْثِيرِ؛ فَنَحْوُ
قَوْلِكَ: (قَدْ يَنَالُ الْمُجْتَهِدُ بُغْيَتَهُ) وَقَوْلُكَ: (قَدْ يَفْعَلُ
التَّقِيُّ الْخَيْرَ) وَقَوْلُ الشَّاعِرِ:


قَدْ يُدْرِكُ الْمُتَأَنِّي
بَعْضَ حَاجَتِهِ وَقَدْ يَكُونُ مَعَ الْمُسْتَعْجِلِ الزَّلَلُ


Adapun قَدْ
masuk pada dua jenis fi’il: madhi dan mudhari’.


Jika قَدْ masuk kepada fi’il madhi, maka
menunjukkan salah satu dari dua makna, yaitu tahqiq (sungguh) dan taqrib
(hampir). Contoh yang menunjukkan tahqiq adalah firman Allah ta’ala:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (Sungguh beruntung orang-orang mukmin), firmanNya jalla
sya`nuh:
لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ
الْمُؤْمِنِينَ
(Sungguh Allah
meridhai orang-orang mukmin), dan ucapan kita:
قَدْ
حَضَرَ مُحَمَّدٌ
(Muhammad sungguh
telah datang) dan
قَدْ سَافَرَ خَالِدٌ (Khalid sungguh telah bepergian). Dan contoh yang menunjukkan
taqrib adalah ucapan orang yang mengumandangkan iqamah untuk shalat:
قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
(Shalat akan ditegakkan), dan ucapanmu:
قَدْ
غَرَبَتِ الشَّمْسُ
(Matahari hampir
tenggelam).


Jika قَدْ masuk kepada fi’il mudhari’, maka
menunjukkan salah satu dari dua makna juga, yaitu taqlil (jarang) dan taktsir
(sering). Contoh yang menunjukkan taqlil seperti:
قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوبُ
(Pendusta terkadang benar),
قَدْ
يَجُودُ الْبَخِيلُ
(Orang yang kikir
terkadang berderma),
قَدْ يَنْجَحُ الْبَلِيدُ (Orang yang bodoh terkadang berhasil). Adapun yang menunjukkan
taktsir, seperti:
قَدْ يَنَالُ الْمُجْتَهِدُ
بُغْيَتَهُ
(Orang yang rajin
sering mendapatkan cita-citanya),
قَدْ
يَفْعَلُ التَّقِيُّ الْخَيْرَ

(Orang yang bertaqwa sering berbuat kebaikan), dan ucapan penyair:


قَدْ يُدْرِكُ الْمُتَأَنِّي
بَعْضَ حَاجَتِهِ وَقَدْ يَكُونُ مَعَ الْمُسْتَعْجِلِ الزَّلَلُ


Orang yang tidak
terburu-buru sering mendapatkan sebagian kebutuhannya,


Dan ketergelinciran
seringnya bersama orang yang tergesa-gesa.


وَأَمَّا السِّينُ وَسَوْفَ:
فَيَدْخُلَانِ عَلَى الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ وَحْدَهُ، وَهُمَا يَدُلَّانِ عَلَى
التَّنْفِيسِ، وَمَعْنَاهُ الْإِسْتِقْبَالُ، إِلَّا أَنَّ (السِّينَ) أَقَلُّ
اسْتِقْبَالًا مِنْ (سَوْفَ). فَأَمَّا السِّينُ فَنَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى:
(سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ)، (سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ)
وَأَمَّا (سَوْفَ) فَنَحْوُ قَوْلِهِ تَعَالَى: (وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ
فَتَرْضَى)، (سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا)، (سَوْفَ يَؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ).


Adapun huruf sin dan سَوْفَ
keduanya masuk kepada fi’il mudhari’ saja. Keduanya menunjukkan tanfis yang
bermakna akan datang. Bedanya bahwa huruf sin lebih sedikit waktu akan
datangnya daripada
سَوْفَ.
Contoh huruf sin adalah firman Allah ta’ala:
سَيَقُولُ
السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ
(Orang-orang bodoh
di antara manusia itu akan berkata),
سَيَقُولُ
لَكَ الْمُخَلَّفُونَ
(Orang-orang yang
tertinggal akan mengatakan kepadamu). Adapun
سَوْفَ maka seperti firman Allah ta’ala: وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (Dan kelak Rabbmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu
kamu menjadi puas),
سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا (Kelak kami akan masukkan mereka ke dalam neraka), سَوْفَ يَؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ (Kelak Dia akan memberikan mereka pahala-pahala mereka).


وَأَمَّا تَاءُ التَّأْنِيثِ
السَّاكِنَةُ: فَتَدْخُلُ عَلَى الْفِعْلِ الْمَاضِي دُونَ غَيْرِهِ؛ وَالْغَرَضُ
مِنْهَا الدَّلَالَةُ عَلَى أَنَّ الْإِسْمَ الَّذِي أُسْنِدَ هَذَا الْفِعْلُ
إِلَيْهِ مُؤَنَّثٌ؛ سَوَاءٌ أَكَانَ فَاعِلًا، نَحْوُ (قَالَتْ عَائِشَةُ أُمُّ
الْمُؤْمِنِينَ) أَمْ كَانَ نَائِبَ فَاعِلٍ، نَحْوُ (فُرِشَتْ دَارُنَا بِالْبُسُطِ).


وَالْمُرَادُ أَنَّهَا سَاكِنَةٌ
فِي أَصْلِ وَضْعِهَا؛ فَلَا يَضُرُّ تَحْرِيكَهَا لِعَارِضِ التَّخَلُّصِ مِنْ
إِلْتِقَاءِ السَاكِنَيْنِ فِي نَحْوِ قَوْلِهِ تَعَالَى: (قَالَتِ اخْرُجْ
عَلَيْهِنَّ)، (إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ)، (قَالَتَا أَتَيْنَا
طَائِعِينَ).


Adapun huruf ta`
ta`nits yang disukun hanya masuk kepada fi’il madhi, tidak selainnya. Tujuan
huruf ini adalah menunjukkan bahwa isim yang disandarkan fi’il madhi ini
kepadanya adalah muannats. Sama saja baik berupa fa’il, seperti
قَالَتْ عَائِشَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ (‘A`isyah ibunda kaum mu`minin telah berkata), atau berupa
naibul fa’il, seperti
فُرِشَتْ دَارُنَا بِالْبُسُطِ (Rumah kami dihampari oleh permadani-permadani).


Yang diinginkan bahwa
ta` ini disukun adalah pada asal peletakannya. Sehingga tidak menjadi masalah
adanya perubahan harakat untuk menghindari pertemuan dua sukun. Seperti firman
Allah ta’ala:
قَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ,
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ, قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ
.


وَمِمَّا تَقَدَّمَ يَتَبَيَّنَ
لَكَ أَنَّ عَلَامَاتِ الْفِعْلِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُؤَلِّفُ عَلَى ثَلَاثَةِ
أَقْسَامٍ قِسْمٌ يَخْتَصُّ بِالدُّخُولِ عَلَى الْمَاضِي، وَهُوَ تَاءُ
التَّأْنِيثِ السَّاكِنَةُ، وَقِسْمٌ يَخْتَصُّ بِالدُّخُولِ عَلَى الْمُضَارِعِ،
وَهُوَ السِّينُ وَسَوْفَ، وَقِسْمٌ يَشْتَرِكُ بَيْنَهُمَا، وَهُوَ قَدْ.


Dari penjelasan yang
telah lewat, jelas bagimu bahwa tanda-tanda fi’il yang penulis sebutkan terbagi
menjadi tiga bagian. Satu bagian khusus untuk fi’il madhi, yaitu ta` ta`nits
yang disukun. Satu bagian khusus untuk fi’il mudhari’, yaitu huruf sin dan
سَوْفَ.
Satu bagian lagi untuk fi’il madhi dan mudhari’, yaitu
قَدْ.


وَقَدْ تَرَكَ عَلَامَةَ فِعْلِ
الْأَمْرِ، وَهِيَ دَلَالَتُهُ عَلَى الطَّلَبِ مَعَ قَبُولِهِ يَاءَ
الْمُخَاطَبَةِ أَوْ نُونَ التَّوْكِيدِ، نَحْوُ (قُمْ) وَ (اقْعُدْ) وَ (اكْتُبْ)
وَ (انْظُرْ) فَإِنَّ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَ دَالَّةٌ عَلَى طَلَبِ
حُصُولِ الْقِيَامِ وَالْقُعُودِ وَالْكِتَابَةِ وَالنَّظْرِ، مَعَ قَبُولِهَا
يَاءَ الْمُخَاطَبَةِ فِي نَحْوِ (قُومِي) و (اقْعُدِي) أَوْ مَعَ قَبُولِهَا نُونَ
التَّوْكِيدِ فِي نَحْوِ (اكْتُبَنَّ وَانْظُرَنَّ إِلَى مَا يَنْفَعُكَ).


Beliau melewatkan
tanda fi’il amr. Yaitu yang menunjukkan kepada permintaan dan bisa menerima
huruf ya` mukhathabah atau nun taukid. Contohnya
قُمْ,
اقْعُدْ, اكْتُبْ,
dan
انْظُرْ.
Empat kata ini menunjukkan permintaan untuk diwujudkannya berdiri, duduk,
penulisan, dan pandangan; empat kata ini juga menerima huruf ya` mukhathabah,
seperti
قُومِي
dan
اقْعُدِي;
atau menerima nun taukid, seperti
اكْتُبَنَّ
وَانْظُرَنَّ إِلَى مَا يَنْفَعُكَ
.