Laman

(Update 1-Desember 2015) Laporan Pemasukan Donasi Pembebasan Tanah Ma'had Tahfidz Daar El Dzikr


(Update 1-Desember-2015)


 Laporan Pemasukan Donasi Pembebasan Tanah Ma'had Tahfidz Daar El Dzikr 


 Ds.Gentan-Kec.Bulu-Kab.Sukoharjo-Jawa Tengah 

































































































































































No Nama Tangal Bank Jumalah Donasi
 1 Pak Surono 2015
250,000,000
2 Kiki Ummu Rizal 26-Oct-15 Tunai 130,000
3 Ummu Yususf 30-Oct-15 Tunai 130,000
4 Hamba Alloh 18-Nov-15 BRI 1,000,000
5 Sapto Nugroho 19-Nov-15 Tunai 520,000
6 Tulus Daryanto 20-Nov-15 BRI 130,000
7 Rahayu 20-Nov-15 BRI 130,000
8 Hamba Alloh 20-Nov-15 BRI 130,000
9 Mugiyono 20-Nov-15 BNI 260,000
10 Gingin 30-Nov-15 BRI 520,000
11 Agung Dharma Hermawan 30-Nov-15 BNI 13,000,000






Jumlah
total


265,950,000












Saat ini Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr Sedang Berupaya Membebaskan Tanah Seluas 10.000m2 Untuk Pendirian Ponpes Tahfidz.Alhamdulillah Untuk Saat Ini Telah Terbebsakan sekitar 5.500m2,Masih sekitar 4.500m2 Lagi Dengan Harga Rp.130.000,-/m2



Bagi Kaum Muslimin Yang Ingin Mendonasikan Hartanya Guna Pembebsan Tanah Pondok Pesantren Tahfidz Daar El Dzikr,Berikut Nomor Rekening Kami :











Rekening BRI
Nomor 6893 0101 0717 533
Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir


Rekening BNI Syariah

Nomor 03919 70153
Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir


SMS Konfirmasi

1. Jumanto, S.Pd.I. (Ketua) - 0813 8443 1686
2. Darmono (Bendahara) - 0852 2938 5801

Dengan Format : DPT#bank#nominal#nama#alamat

Jazakumullohu Khoiron Katsiron




Landasan Utama Berbisnis

Muamalah - Landasan Utama Berbisnis


LANDASAN UTAMA BERBISNIS 



Ustadz.Zaenal Abidin Syamsuddin .Lc,











Seorang usahawan muslim
dalam melakukan berbagai aktivitas usaha selalu bersandar pada
dasar-dasar sebagai berikut:





1. Niat, seorang muslim dalam bekerja
adalah dalam rangka untuk beribadah kepada Allah agar terhindar dari
hal-hal yang diharamkan serta memelihara diri dari sifat-sifat yang
tidak baik seperti meminta-minta. Bekerja juga bisa menjadi sarana untuk
berbuat baik kepada orang lain dengan cara ikut andil membangun umat di
masa sekarang dan untuk masa yang akan datang serta melepaskan umat
dari belenggu ketergantungan kepada umat lain.



2. Akhlak yang baik seperti sikap jujur,
amanah, menepati janji, menunaikan hutang dan membayar hutang dengan
baik memberi kelonggaran orang yang kesulitan membayar hutang,
menghindari sikap menangguhkan pembayaran hutang, penipuan, kolusi dan
manipulasi atau yang sejenisnya.



3. Bekerja dalam hal-hal yang baik,
sehingga dalam pandangan mata seorang usahawan muslim tidak akan sama
antara proyek pembangunan. Tidak akan sama baginya antara yang baik dan
yang buruk , meskipun hal yang buruk itu menarik hatinya karena besar
keuntungannya. Ia akan selalu menghalalkan yang halal dan mengharamkan
yang haram, hanya melakukan usaha sebatas yang dibolehkan oleh Allah dan
Rasul-Nya.


4.  Menunaikan hak-hak yang harus
ditunaikan tanpa melakukan penangguhan pembayaran hutang atau
mengakhir-akhirkan hak orang, yang terpenting di antaranya adalah
hak-hak sesama hamba seperti perjanjian usaha dan sejenisnya.


5.   Menghindari riba atau berbagai bentuk usaha haram lainnya yang menggiring ke arah riba.


6. Menghindari memakan harta orang
dengan cara haram, kehormatan harta seorang seperti kehormatan darahnya.
Harta seorang muslim haram untuk untuk diambil kecuali dengan kerelaan
hatinya


7. Menghindari sikap yang membahayakan
orang lain. Seorang usahawan muslim harus menjadi seorang kompetitor
yang baik  yang selalu didasari dengan kaidah”Segala bahaya dan yang
membahayakan itu haram hukumnya.


8.  Berpegang teguh pada syareat, sehingga tidak menjerumuskan dirinya melakukan pelanggaran sehingga mendapatkan sanksi hokum.


9.   Bersikap loyal kepada kaum mukminin.





 Sumber http://zainalabidinsyamsuddin.com/

Seharusnya Kita Selalu Menangis

Tazkiyah Nufus


SEHARUSNYA KITA SELALU MENANGIS





Oleh

Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari












Pernahkah anda menangis -dalam keadaan sendirian- karena takut siksa
Allah Azza wa Jalla ? ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan
selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla
akan mendorong hamba untuk selalu istiqรขmah di jalan-Nya, sehingga akan
menjadi perisai dari api neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:




ู„ุงَ ูŠَู„ِุฌُ ุงู„ู†َّุงุฑَ ุฑَุฌُู„ٌ ุจَูƒَู‰ ู…ِู†ْ ุฎَุดْูŠَุฉِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุนُูˆْุฏَ
ุงู„ู„َّุจَู†ُ ูِูŠ ุงู„ุถَّุฑْุนِ ูˆَู„ุงَ ูŠَุฌْุชَู…ِุนُ ุบُุจَุงุฑٌ ูِูŠ ุณَุจِูŠْู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ
ูˆَุฏُุฎَุงู†ُ ุฌَู‡َู†َّู…َ



Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada
Allah sampai air susu kembali ke dalam teteknya. Dan debu di jalan Allah
tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam.[1]




MENGAPA HARUS MENANGIS?




Seorang Mukmin yang mengetahui keagungan Allah Azza wa Jalla dan
hak-Nya, setiap dia melihat dirinya banyak melalaikan kewajiban dan
menerjang larangan, dia khawatir dosa-dosa itu akan menyebabkan siksa
Allah Azza wa Jalla kepadanya. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:



ุฅِู†َّ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َ ูŠَุฑَู‰ ุฐُู†ُูˆุจَู‡ُ ูƒَุฃَู†َّู‡ُ ูِูŠ ุฃَุตْู„ِ ุฌَุจَู„ٍ ูŠَุฎَุงูُ
ุฃَู†ْ ูŠَู‚َุนَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ْูَุงุฌِุฑَ ูŠَุฑَู‰ ุฐُู†ُูˆุจَู‡ُ ูƒَุฐُุจَุงุจٍ ูˆَู‚َุนَ
ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْูِู‡ِ ู‚َุงู„َ ุจِู‡ِ ู‡َูƒَุฐَุง ูَุทَุงุฑَ



Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia
berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya.
Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat
yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya
–begini-, maka lalat itu terbang. [HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan
dishahรฎhkan oleh al-Albรขni rahimahullah]



Ibnu Abi Jamrah rahimahullah berkata, "Sebabnya adalah, karena hati
seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada
sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu
menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila
musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada
kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan
gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak
akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada
siksa Allah Azza wa Jalla -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan
imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah
keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allah-pen) dan
bermurรขqabah (mengawasi Allah). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan
khawatir terhadap amal buruknya yang kecil". [Tuhfatul Ahwadzi, no.
2497]



Apalagi jika dia memperhatikan berbagai bencana dan musibah yang telah
Allah Azza wa Jalla timpakan kepada orang-orang kafir di dunia ini, baik
dahulu maupun sekarang. Hal itu membuatnya tidak merasa aman dari siksa
Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:



ูˆَูƒَุฐَٰู„ِูƒَ ุฃَุฎْุฐُ ุฑَุจِّูƒَ ุฅِุฐَุง ุฃَุฎَุฐَ ุงู„ْู‚ُุฑَู‰ٰ ูˆَู‡ِูŠَ ุธَุงู„ِู…َุฉٌ ۚ
ุฅِู†َّ ุฃَุฎْุฐَู‡ُ ุฃَู„ِูŠู…ٌ ุดَุฏِูŠุฏٌ ุฅِู†َّ ูِูŠ ุฐَٰู„ِูƒَ ู„َุขูŠَุฉً ู„ِู…َู†ْ ุฎَุงูَ
ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ۚ ุฐَٰู„ِูƒَ ูŠَูˆْู…ٌ ู…َุฌْู…ُูˆุนٌ ู„َู‡ُ ุงู„ู†َّุงุณُ ูˆَุฐَٰู„ِูƒَ
ูŠَูˆْู…ٌ ู…َุดْู‡ُูˆุฏٌ ูˆَู…َุง ู†ُุคَุฎِّุฑُู‡ُ ุฅِู„َّุง ู„ِุฃَุฌَู„ٍ ู…َุนْุฏُูˆุฏٍ ูŠَูˆْู…َ
ูŠَุฃْุชِ ู„َุง ุชَูƒَู„َّู…ُ ู†َูْุณٌ ุฅِู„َّุง ุจِุฅِุฐْู†ِู‡ِ ۚ ูَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุดَู‚ِูŠٌّ
ูˆَุณَุนِูŠุฏٌ ูَุฃَู…َّุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุดَู‚ُูˆุง ูَูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ ู„َู‡ُู…ْ ูِูŠู‡َุง ุฒَูِูŠุฑٌ
ูˆَุดَู‡ِูŠู‚ٌ



Dan begitulah adzab Rabbmu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri
yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya sangat pedih lagi keras.
Sesungguhnya pada peristiwa itu benar-benar terdapat pelajaran bagi
orang-orang yang takut kepada adzab akhirat. Hari Kiamat itu adalah
suatu hari dimana manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)-Nya, dan hari
itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). Dan Kami
tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Saat
hari itu tiba, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan
izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.
Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di
dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih).
[Hรปd/11:102-106]



Ketika dia merenungkan berbagai kejadian yang mengerikan pada hari
Kiamat, berbagai kesusahan dan beban yang menanti manusia di akhirat,
semua itu pasti akan menggiringnya untuk takut kepada Allah Azza wa
Jalla al-Khรขliq . Allah Azza wa Jalla berfirman:



ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงุชَّู‚ُูˆุง ุฑَุจَّูƒُู…ْ ۚ ุฅِู†َّ ุฒَู„ْุฒَู„َุฉَ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ
ุดَูŠْุกٌ ุนَุธِูŠู…ٌ ูŠَูˆْู…َ ุชَุฑَูˆْู†َู‡َุง ุชَุฐْู‡َู„ُ ูƒُู„ُّ ู…ُุฑْุถِุนَุฉٍ ุนَู…َّุง
ุฃَุฑْุถَุนَุชْ ูˆَุชَุถَุนُ ูƒُู„ُّ ุฐَุงุชِ ุญَู…ْู„ٍ ุญَู…ْู„َู‡َุง ูˆَุชَุฑَู‰ ุงู„ู†َّุงุณَ
ุณُูƒَุงุฑَู‰ٰ ูˆَู…َุง ู‡ُู…ْ ุจِุณُูƒَุงุฑَู‰ٰ ูˆَู„َٰูƒِู†َّ ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู„َّู‡ِ ุดَุฏِูŠุฏٌ



Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan hari
kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua
wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya, dan
semua wanita yang hamil gugur kandungan. Kamu melihat manusia dalam
keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi adzab
Allah itu sangat keras. [al-Hajj/22:1-2]



Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Di dunia, mereka takut
terhadap siksa Rabb mereka, kemudian berusaha menjaga diri dari
siksa-Nya dengan takwa, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Maka, Allah Azza wa Jalla memberikan balasan sesuai dengan
jenis amal mereka. Dia memberikan keamanan di hari Kiamat dengan
memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:



ูˆَุฃَู‚ْุจَู„َ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ุนَู„َู‰ٰ ุจَุนْุถٍ ูŠَุชَุณَุงุกَู„ُูˆู†َ ู‚َุงู„ُูˆุง ุฅِู†َّุง ูƒُู†َّุง
ู‚َุจْู„ُ ูِูŠ ุฃَู‡ْู„ِู†َุง ู…ُุดْูِู‚ِูŠู†َ ูَู…َู†َّ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู†َุง ูˆَูˆَู‚َุงู†َุง
ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ุณَّู…ُูˆู…ِ ุฅِู†َّุง ูƒُู†َّุง ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ُ ู†َุฏْุนُูˆู‡ُ ۖ ุฅِู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ
ุงู„ْุจَุฑُّ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ُ



Dan sebagian mereka (penghuni surga-pent) menghadap kepada sebagian yang
lain; mereka saling bertanya. Mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami
dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga, kami merasa takut (akan
diadzab)". Kemudian Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara
kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.
[ath-Thรปr/52:25-28]





ILMU ADALAH SEBAB TANGISAN KARENA ALLAH AZZA WA JALLA 




Semakin bertambah ilmu agama seseorang, semakin tambah pula takutnya
terhadap keagungan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:



ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ูˆَุงู„ุฏَّูˆَุงุจِّ ูˆَุงู„ْุฃَู†ْุนَุงู…ِ ู…ُุฎْุชَู„ِูٌ ุฃَู„ْูˆَุงู†ُู‡ُ
ูƒَุฐَٰู„ِูƒَ ۗ ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุฎْุดَู‰ ุงู„ู„َّู‡َ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ุงู„ْุนُู„َู…َุงุกُ ۗ ุฅِู†َّ
ุงู„ู„َّู‡َ ุนَุฒِูŠุฒٌ ุบَูُูˆุฑٌ



Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan
binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
[Fรขthir/35:28]



Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



ุนُุฑِุถَุชْ ุนَู„َูŠَّ ุงู„ْุฌَู†َّุฉُ ูˆَุงู„ู†َّุงุฑُ ูَู„َู…ْ ุฃَุฑَ ูƒَุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ูِูŠ
ุงู„ْุฎَูŠْุฑِ ูˆَุงู„ุดَّุฑِّ ูˆَู„َูˆْ ุชَุนْู„َู…ُูˆْู†َ ู…َุง ุฃَุนْู„َู…ُ ู„َุถَุญِูƒْุชُู…ْ
ู‚َู„ِูŠْู„ุงً ูˆَู„َุจَูƒَูŠْุชُู…ْ ูƒَุซِูŠุฑًุง ู‚َุงู„َ ูَู…َุง ุฃَุชَู‰ ุนَู„َู‰ ุฃَุตْุญَุงุจِ
ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَูˆْู…ٌ ุฃَุดَุฏُّ ู…ِู†ْู‡ُ
ู‚َุงู„َ ุบَุทَّูˆْุง ุฑُุกُูˆْุณَู‡ُู…ْ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ุฎَู†ِูŠْู†ٌ



Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang
kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa
yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak
menangis.

Anas bin Mรขlik –perawi hadits ini mengatakan, "Tidaklah ada satu hari
pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi
kepala mereka sambil menangis sesenggukan. [HR. Muslim, no. 2359]



Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Makna hadits ini, 'Aku tidak pernah
melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam
surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi
apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu
melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku
ketahui semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti
sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis". [Syarah
Muslim, no. 2359]



Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa
Allah Azza wa Jalla dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak
tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.



Lihatlah para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum, begitu mudahnya mereka
tersentuh oleh nasehat! Tidak sebagaimana kebanyakan orang di zaman ini.
Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling
banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka
adalah Salafus Shรขlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani
mereka. [Lihat Bahjatun Nรขzhirรฎn Syarh Riyรขdhus Shรขlihin 1/475; no. 41]



Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena takut kepada
Allah Azza wa Jalla merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allah
Azza wa Jalla , tentulah kita akan menangis karena-Nya atau berusaha
menangis sebisanya. Nabi Muhammad n menjelaskan keutamaan tetesan air
mata ini dengan sabda beliau:



ู„َูŠْุณَ ุดَูŠْุกٌ ุฃَุญَุจَّ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†ْ ู‚َุทْุฑَุชَูŠْู†ِ ูˆَุฃَุซَุฑَูŠْู†ِ
ู‚َุทْุฑَุฉٌ ู…ِู†ْ ุฏُู…ُูˆْุนٍ ูِูŠْ ุฎَุดْูŠَุฉِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู‚َุทْุฑَุฉُ ุฏَู…ٍ ุชُู‡َุฑَุงู‚ُ
ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุฃَู…َّุง ุงْู„ุฃ َุซَุฑَุงู†ِ ูَุฃَุซَุฑٌ ูِูŠ ุณَุจِูŠْู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ
ูˆَุฃَุซَุฑٌ ูِูŠ ูَุฑِูŠْุถَุฉٍ ู…ِู†ْ ูَุฑَุงุฆِุถِ ุงู„ู„َّู‡ِ



Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allah daripada dua
tetesan dan dua bekas. Tetesan yang berupa air mata karena takut kepada
Allah dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allah. Adapun dua
bekas, yaitu bekas di jalan Allah dan bekas di dalam (melaksanakan)
suatu kewajiban dari kewajiban-kewajibanNya.[2]



Namun yang perlu kita perhatikan juga bahwa menangis tersebut adalah
benar-benar karena Allah Azza wa Jalla , bukan karena manusia, seperti
dilakukan di hadapan jama'ah atau bahkan dishooting TV dan disiarkan
secara nasional. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjanjikan kebaikan besar bagi seseorang yang menangis dalam keadaan
sendirian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



ุณَุจْุนَุฉٌ ูŠُุธِู„ُّู‡ُู…ْ ุงู„ู„َّู‡ُ ูِูŠ ุธِู„ِّู‡ِ ูŠَูˆْู…َ ู„ุงَุธِู„َّ ุฅِู„ุงَّ ุธِู„ُّู‡ُ
ุงْู„ุฅِู…َุงู…ُ ุงู„ْุนَุงุฏِู„ُ ูˆَุดَุงุจٌّ ู†َุดَุฃَ ูِูŠ ุนِุจَุงุฏَุฉِ ุฑَุจِّู‡ِ ูˆَุฑَุฌُู„ٌ
ู‚َู„ْุจُู‡ُ ู…ُุนَู„َّู‚ٌ ูِูŠ ุงู„ْู…َุณَุงุฌِุฏِ ูˆَุฑَุฌُู„ุงَู†ِ ุชَุญَุงุจَّุง ูِูŠ ุงู„ู„َّู‡ِ
ุงุฌْุชَู…َุนَุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุชَูَุฑَّู‚َุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุฑَุฌُู„ٌ ุทَู„َุจَุชْู‡ُ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٌ
ุฐَุงุชُ ู…َู†ْุตِุจٍ ูˆَุฌَู…َุงู„ٍ ูَู‚َุงู„َ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุฎَุงูُ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุฑَุฌُู„ٌ
ุชَุตَุฏَّู‚َ ุฃَุฎْูَู‰ ุญَุชَّู‰ ู„ุงَ ุชَุนْู„َู…َ ุดِู…َุงู„ُู‡ُ ู…َุง ุชُู†ْูِู‚ُ ูŠَู…ِูŠู†ُู‡ُ
ูˆَุฑَุฌُู„ٌ ุฐَูƒَุฑَ ุงู„ู„َّู‡َ ุฎَุงู„ِูŠًุง ูَูَุงุถَุชْ ุนَูŠْู†َุงู‡ُ



Tujuh (orang) yang akan diberi naungan oleh Allah pada naungan-Nya di
hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Pertama: Imam yang
berbuat adil; kedua: pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya;
ketiga: seorang laki-laki yang hatinya tergantung di masjid-masjid;
keempat: dua orang lak-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya
berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah; kelima: seorang
laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan
kecantikan, lalu dia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”;
keenam: seorang laki-laki yang bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi,
sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh
tangan kanannya; ketujuh: seorang laki-laki yang menyebut Allah di
tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata”.[HR.
al-Bukhรขri, no. 660; Muslim, no. 1031]



Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba
akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat isi hati
manusia akan dibongkar, segala rahasia akan ditampakkan di hadapan
Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka kemana orang akan
berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan
Allah Azza wa Jalla pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu
adalah menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla .



Syaikh Muhammad bin Shรขlih al-‘Utsaimรฎn rahimahullah berkata, "Wahai
saudaraku, jika engkau menyebut Allah Azza wa Jalla , sebutlah Rabbmu
dengan hati yang kosong dari memikirkan yang lain. Jangan fikirkan
sesuatupun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau
tidak akan bisa menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla atau
karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin menangis
sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau
akan menangis karena rindu kepada Allah Azza wa Jalla dan karena takut
kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya? Oleh karena itu,
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "seorang laki-laki yang
menyebut Allah di tempat yang sepi", yaitu hatinya kosong dari selain
Allah Azza wa Jalla , badannya juga kosong (dari orang lain), dan tidak
ada seorangpun di dekatnya yang menyebabkan tangisannya menjadi riyรข'
dan sum'ah. Namun, dia melakukan dengan ikhlas dan konsentrasi". [Syarh
Riyรขdhus Shรขlihรฎn 2/342, no. 449]



Setelah kita mengetahui hal ini, maka alangkah pantasnya kita mulai
menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla . Wallรขhul Musta'รขn.



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII/1431/2010M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] almanhaj.or.id

_______

Footnote

[1]. HR. at-Tirmidzi, no. 1633, 2311; an-Nasรข`i 6/12; Ahmad 2/505;
al-Hรขkim 4/260; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/264. Syaikh Salรฎm
al-Hilรขli hafizhahullah mengatakan, "Shahรฎh lighairihi". Lihat
penjelasannya dalam kitab Bahjatun Nรขzhirรฎn Syarh Riyรขdhus Shรขlihรฎn
1/517; no. 448)

[2]. HR. at-Tirmidzi, no. 1669; dihasankan oleh Syaikh Salรฎm al-Hilรขli hafizhahullah dalam Bahjatun Nรขzhirรฎn, 1/523, no. 455


Azas Islam Adalah Tauhid Dan Menjauhkan Syirik

Prinsip Dasar Islam







AZAS ISLAM ADALAH TAUHID DAN MENJAUHKAN SYIRIK



Oleh

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas












 Setiap muslim wajib mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan
segala bentuk kesyirikan. Seorang muslim juga mesti mengetahui
pengertian tauhid, makna syahadat, rukun syahadat dan syarat-syaratnya
supaya ia benar-benar memahami tauhid.




Kalimat tauhid bagi kaum muslimin, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah
adalah kalimat yang sudah tidak asing lagi, karena tauhid bagi mereka
adalah suatu ibadah yang wajib dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari
dan yang pertama kali didakwahkan sebelum yang lainnya.



Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala



ูˆَู„َู‚َุฏْ ุจَุนَุซْู†َุง ูِูŠ ูƒُู„ِّ ุฃُู…َّุฉٍ ุฑَّุณُูˆู„ًุง ุฃَู†ِ ุงุนْุจُุฏُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุงุฌْุชَู†ِุจُูˆุง ุงู„ุทَّุงุบُูˆุชَ



“Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul
(untuk menyeru) agar beribadah hanya kepada Allah saja (yaitu
mentauhidkan-Nya) dan menjauhi thaghut…” [An-Nahl: 36]



Tauhid menurut bahasa (etimologi) diambil dari kata: ูˆَุญَّุฏَ، ูŠُูˆَุญِّุฏُ، ุชَูˆْุญِูŠْุฏًุง artinya menjadikan sesuatu itu satu.



Sedangkan menurut ilmu syar’i (terminologi), tauhid berarti mengesakan
Allah Azza wa Jalla terhdap sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik dalam
Uluhiyyah, Rububiyyah, maupun Asma' dan Sifat-Nya.



Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja.



A. Macam-Macam Tauhid

1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah
Subhanahu wa Ta'ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan
mematikan. Allah adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala
sesuatu.



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



ุฃَู„َุง ู„َู‡ُ ุงู„ْุฎَู„ْู‚ُ ูˆَุงู„ْุฃَู…ْุฑُ ۗ ุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุจُّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ



“... Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]



Allah Azza wa Jalla berfirman:



ุฐَٰู„ِูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุจُّูƒُู…ْ ู„َู‡ُ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ ۚ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุชَุฏْุนُูˆู†َ ู…ِู† ุฏُูˆู†ِู‡ِ ู…َุง ูŠَู…ْู„ِูƒُูˆู†َ ู…ِู† ู‚ِุทْู…ِูŠุฑٍ



“...Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabb-mu, ke-punyaan-Nya-lah
segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah,
tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” [Faathir: 13]



Kaum musyrikin pun mengakui sifat Rububiyyah Allah. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:



ู‚ُู„ْ ู…َู† ูŠَุฑْุฒُู‚ُูƒُู… ู…ِّู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ ุฃَู…َّู† ูŠَู…ْู„ِูƒُ
ุงู„ุณَّู…ْุนَ ูˆَุงู„ْุฃَุจْุตَุงุฑَ ูˆَู…َู† ูŠُุฎْุฑِุฌُ ุงู„ْุญَูŠَّ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َูŠِّุชِ
ูˆَูŠُุฎْุฑِุฌُ ุงู„ْู…َูŠِّุชَ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَูŠِّ ูˆَู…َู† ูŠُุฏَุจِّุฑُ ุงู„ْุฃَู…ْุฑَ ۚ
ูَุณَูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุงู„ู„َّู‡ُ ۚ ูَู‚ُู„ْ ุฃَูَู„َุง ุชَุชَّู‚ُูˆู†َ ูَุฐَٰู„ِูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ
ุฑَุจُّูƒُู…ُ ุงู„ْุญَู‚ُّ ۖ ูَู…َุงุฐَุง ุจَุนْุฏَ ุงู„ْุญَู‚ِّ ุฅِู„َّุง ุงู„ุถَّู„َุงู„ُ ۖ
ูَุฃَู†َّู‰ٰ ุชُุตْุฑَูُูˆู†َ



“Katakanlah (Muhammad): ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari
langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati
dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang
mengatur segala urusan?’ Maka, mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka,
katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ Maka, (Dzat yang
demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada
sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka, mengapa kamu masih
berpaling (dari kebenaran)?” [Yunus: 31-32]



Firman Allah Azza wa Jalla:



ูˆَู„َุฆِู† ุณَุฃَู„ْุชَู‡ُู… ู…َّู†ْ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ู„َูŠَู‚ُูˆู„ُู†َّ ุฎَู„َู‚َู‡ُู†َّ ุงู„ْุนَุฒِูŠุฒُ ุงู„ْุนَู„ِูŠู…ُ



“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit
dan bumi?’ Pastilah mereka akan menjawab, ‘Semuanya diciptakan oleh
Yang Maha Perkasa lagi Mahamengetahui.’” [Az-Zukhruuf: 9] [1]



Kaum musyrikin pun mengakui bahwasanya hanya Allah semata Pencipta
segala sesuatu, Pemberi rizki, Pemilik langit dan bumi, dan Pengatur
alam semesta. Namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka
anggap sebagai penolong, mereka bertawassul dengannya (berhala tersebut)
dan menjadikan mereka sebagai pemberi syafa’at, sebagai-mana yang
disebutkan dalam beberapa ayat.[2]



Dengan perbuatan tersebut, mereka tetap dalam keadaan musyrik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :



ูˆَู…َุง ูŠُุคْู…ِู†ُ ุฃَูƒْุซَุฑُู‡ُู… ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู„َّุง ูˆَู‡ُู… ู…ُّุดْุฑِูƒُูˆู†َ



“Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam
keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan-sesembahan lain).”
[Yusuf: 106]



Sebagian ulama Salaf berkata, “Jika kalian bertanya kepada mereka,
‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Mereka pasti menjawab,
‘Allah.’ Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada
selain-Nya.” [3]



2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui
segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan
diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila hal itu disyari’atkan
oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah
(cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’aanah (minta
pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah
(meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan
diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya
kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan ibadah tersebut tidak
boleh dipalingkan kepada selain Allah.



Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apa
pun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka
pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak
diampuni dosanya (apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat kepada
Allah atas perbuatan syiriknya). [Lihat An-Nisaa: 48, 116] [4]



Al-ilaah artinya al-ma’-luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.



Allah Azza wa Jalla berfirman:



ูˆَุฅِู„َٰู‡ُูƒُู…ْ ุฅِู„َٰู‡ٌ ูˆَุงุญِุฏٌ ۖ ู„َّุง ุฅِู„َٰู‡َ ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ ุงู„ุฑَّุญْู…َٰู†ُ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ُ



“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada ilah yang berhak
diibadahi dengan benar melainkan Dia. Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.” [Al-Baqarah: 163]



Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat th. 1376 H)
rahimahullah berkata, “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama,
Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam
Dzat-Nya, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama
dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak
ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam
semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah
satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan Allah tidak boleh
disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.” [5]



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



ุดَู‡ِุฏَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَู†َّู‡ُ ู„َุง ุฅِู„َٰู‡َ ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ ูˆَุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉُ ูˆَุฃُูˆู„ُูˆ
ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ู‚َุงุฆِู…ًุง ุจِุงู„ْู‚ِุณْุทِ ۚ ู„َุง ุฅِู„َٰู‡َ ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ ุงู„ْุนَุฒِูŠุฒُ
ุงู„ْุญَูƒِูŠู…ُ



“Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan
benar selain Dia, (demikian pula) para Malaikat dan orang-orang yang
berilmu (yang menegakkan keadilan). Tidak ada yang berhak diibadahi
dengan benar selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” [Ali
‘Imran: 18]



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengenai Laata, ‘Uzza dan Manaat
yang disebut sebagai ilah (sesembahan), namun tidak diberi hak
Uluhiyyah:



ุฅِู†ْ ู‡ِูŠَ ุฅِู„َّุง ุฃَุณْู…َุงุกٌ ุณَู…َّูŠْุชُู…ُูˆู‡َุง ุฃَู†ุชُู…ْ ูˆَุขุจَุงุคُูƒُู… ู…َّุง ุฃَู†ุฒَู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡َุง ู…ِู† ุณُู„ْุทَุงู†ٍ



“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu
mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan satu keterangan pun untuk
(menyembah)-nya...” [An-Najm: 23]



Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:



ุฐَٰู„ِูƒَ ุจِุฃَู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู‡ُูˆَ ุงู„ْุญَู‚ُّ ูˆَุฃَู†َّ ู…َุง ูŠَุฏْุนُูˆู†َ ู…ِู† ุฏُูˆู†ِู‡ِ
ู‡ُูˆَ ุงู„ْุจَุงุทِู„ُ ูˆَุฃَู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู‡ُูˆَ ุงู„ْุนَู„ِูŠُّ ุงู„ْูƒَุจِูŠุฑُ



“Demikianlah (kebesaran Allah) karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang
Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang
bathil, dan sesung-guhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi, Mahabesar.”
[Al-Hajj: 62]



Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissallam, yang berkata kepada kedua temannya di penjara:



ูŠَุง ุตَุงุญِุจَูŠِ ุงู„ุณِّุฌْู†ِ ุฃَุฃَุฑْุจَุงุจٌ ู…ُّุชَูَุฑِّู‚ُูˆู†َ ุฎَูŠْุฑٌ ุฃَู…ِ ุงู„ู„َّู‡ُ
ุงู„ْูˆَุงุญِุฏُ ุงู„ْู‚َู‡َّุงุฑُู…َุง ุชَุนْุจُุฏُูˆู†َ ู…ِู† ุฏُูˆู†ِู‡ِ ุฅِู„َّุง ุฃَุณْู…َุงุกً
ุณَู…َّูŠْุชُู…ُูˆู‡َุง ุฃَู†ุชُู…ْ ูˆَุขุจَุงุคُูƒُู… ู…َّุง ุฃَู†ุฒَู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡َุง ู…ِู†
ุณُู„ْุทَุงู†ٍ



“Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Apa
yang kamu sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek
moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun
tentang (nama-nama) itu...” [Yusuf: 39-40]



Oleh karena itu, para Rasul Alaihimussallamr menyeru kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja: [6]



ุฃَู†ِ ุงุนْุจُุฏُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ู…َุง ู„َูƒُู… ู…ِّู†ْ ุฅِู„َٰู‡ٍ ุบَูŠْุฑُู‡ُ ۖ ุฃَูَู„َุง ุชَุชَّู‚ُูˆู†َ



”... Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada ilah yang
haq selain Dia. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”
[Al-Mukminuun: 32]



Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja
mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka menyembah,
meminta bantuan dan pertolongan kepada sesembahan-sesembahan itu dengan
menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala.



Pengambilan sesembahan-sesembahan yang dilakukan oleh orang-orang
musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan dua
bukti:



Pertama : Sesembahan-sesembahan yang diambil itu tidak mempunyai
keistimewaan Uluhiyyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak
dapat menciptakan, tidak dapat memberi manfaat, tidak dapat menolak
bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan.



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



ูˆَุงุชَّุฎَุฐُูˆุง ู…ِู† ุฏُูˆู†ِู‡ِ ุขู„ِู‡َุฉً ู„َّุง ูŠَุฎْู„ُู‚ُูˆู†َ ุดَูŠْุฆًุง ูˆَู‡ُู…ْ
ูŠُุฎْู„َู‚ُูˆู†َ ูˆَู„َุง ูŠَู…ْู„ِูƒُูˆู†َ ู„ِุฃَู†ูُุณِู‡ِู…ْ ุถَุฑًّุง ูˆَู„َุง ู†َูْุนًุง ูˆَู„َุง
ูŠَู…ْู„ِูƒُูˆู†َ ู…َูˆْุชًุง ูˆَู„َุง ุญَูŠَุงุฉً ูˆَู„َุง ู†ُุดُูˆุฑًุง



“Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal
mereka itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan
dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat
memberi manfaat serta tidak kuasa mematikan dan menghidupkan juga tidak
(pula) dapat membangkitkan.” [Al-Furqaan: 3]



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



ู‚ُู„ِ ุงุฏْุนُูˆุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฒَุนَู…ْุชُู… ู…ِّู† ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ۖ ู„َุง ูŠَู…ْู„ِูƒُูˆู†َ
ู…ِุซْู‚َุงู„َ ุฐَุฑَّุฉٍ ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَู„َุง ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู…َุง ู„َู‡ُู…ْ
ูِูŠู‡ِู…َุง ู…ِู† ุดِุฑْูƒٍ ูˆَู…َุง ู„َู‡ُ ู…ِู†ْู‡ُู… ู…ِّู† ุธَู‡ِูŠุฑٍ ูˆَู„َุง ุชَู†ูَุนُ
ุงู„ุดَّูَุงุนَุฉُ ุนِู†ุฏَู‡ُ ุฅِู„َّุง ู„ِู…َู†ْ ุฃَุฐِู†َ ู„َู‡ُ



“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai
sesembahan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat
dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak
mempunyai suatu saham (peran) pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan
tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tidaklah
berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah
diizinkan oleh-Nya (memperoleh syafa’at)...” [Saba': 22-23]



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



ุฃَูŠُุดْุฑِูƒُูˆู†َ ู…َุง ู„َุง ูŠَุฎْู„ُู‚ُ ุดَูŠْุฆًุง ูˆَู‡ُู…ْ ูŠُุฎْู„َู‚ُูˆู†َ ูˆَู„َุง ูŠَุณْุชَุทِูŠุนُูˆู†َ ู„َู‡ُู…ْ ู†َุตْุฑًุง ูˆَู„َุง ุฃَู†ูُุณَู‡ُู…ْ ูŠَู†ุตُุฑُูˆู†َ



“Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang
tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun? Padahal berhala itu sendiri
diciptakan dan (berhala itu) tidak mampu memberi pertolongan kepada
penyembah-penyembahnya bahkan berhala itu tidak dapat memberi
pertolongan kepada dirinya sendiri.” [Al-A’raaf: 191-192]



Apabila demikian keadaan berhala-berhala itu, maka sungguh sangat bodoh,
bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah (sesembahan)
dan tempat meminta pertolongan.



Kedua : Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa
Ta'ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan
atas segala sesuatu. Mereka pun mengakui bahwa hanya Allah yang dapat
melindungi dan tidak ada yang dapat memberi-Nya perlindungan. Hal ini
mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan), seperti mereka
mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah. Tauhid Rububiyyah mengharuskan
adanya konsekuensi untuk melaksanakan Tauhid Uluhiyyah (beribadah hanya
kepada Allah saja).



ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงุนْุจُุฏُูˆุง ุฑَุจَّูƒُู…ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ
ู…ِู† ู‚َุจْู„ِูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุชَّู‚ُูˆู†َ ุงู„َّุฐِูŠ ุฌَุนَู„َ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ْุฃَุฑْุถَ
ูِุฑَุงุดًุง ูˆَุงู„ุณَّู…َุงุกَ ุจِู†َุงุกً ูˆَุฃَู†ุฒَู„َ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ู…َุงุกً ูَุฃَุฎْุฑَุฌَ
ุจِู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุซَّู…َุฑَุงุชِ ุฑِุฒْู‚ًุง ู„َّูƒُู…ْ ۖ ูَู„َุง ุชَุฌْุนَู„ُูˆุง ู„ِู„َّู‡ِ
ุฃَู†ุฏَุงุฏًุง ูˆَุฃَู†ุชُู…ْ ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ



“Wahai manusia, beribadahlah hanya kepada Rabb-mu yang telah menciptakan
dirimu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Dia-lah)
yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,
dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan
hujan itu buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
[Al-Baqarah: 21-22]



3. Tauhid Asma’ wa Shifat Allah

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya,
baik itu berupa Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal
tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Sifat-Sifat Allah,
baik yang terdapat di dalam Al-Qur-an maupun dalam As-Sunnah, dan tidak
boleh ditakwil.



Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas,
al-Auza’i, al-Laits bin Sa’d dan Sufyan ats-Tsauri Radhiyallahu anhum
tentang berita yang datang mengenai Sifat-Sifat Allah, mereka semua
menjawab:



ุฃَู…ِุฑُّูˆْ ู‡َุง ูƒَู…َุง ุฌَุงุกَุชْ ุจِู„ุงَ ูƒَูŠْูَ.



“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat-Sifat Allah) seperti datangnya
dan janganlah engkau persoalkan (jangan engkau tanya tentang bagaimana
sifat itu).” [7]



Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:



ุขู…َู†ْุชُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ، ูˆَุจِู…َุง ุฌَุงุกَ ุนَู†ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ู…ُุฑَุงุฏِ ุงู„ู„ู‡ِ، ูˆَุขู…َู†ْุชُ
ุจِุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจِู…َุง ุฌَุงุกَ ุนَู†ْ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َู‰ ู…ُุฑَุงุฏِ
ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ.



“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang datang dari Allah
sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah, dan aku beriman kepada
Rasulullah dan kepada apa-apa yang datang dari beliau, sesuai dengan apa
yang dimaksud oleh Rasulullah.” [8]



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Manhaj Salaf dan
para Imam Ahlus Sunnah adalah mengimani Tauhid al-Asma’ wash Shifat
dengan menetapkan apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya dan
apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa
sallam untuk diri-Nya, tanpa tahrif [9] dan ta’thil [10] serta tanpa
takyif [11] dan tamtsil [12]. Menetapkan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa
ta’thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan
Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.”



Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :



ู„َูŠْุณَ ูƒَู…ِุซْู„ِู‡ِ ุดَูŠْุกٌ ۖ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุจَุตِูŠุฑُ



“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Syuuraa: 11]



Lafazh ayat: ู„َูŠْุณَ ูƒَู…ِุซْู„ِู‡ِ ุดَู‰ْุกٌ “Tidak ada yang sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya,” merupakan bantahan terhadap golongan yang menyamakan
Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sifat makhluk-Nya.



Sedangkan lafazh ayat: ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุจَุตِูŠุฑُ “Dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat,” adalah bantahan terhadap orang-orang yang
menafikan atau mengingkari Sifat-Sifat Allah. [13]



B. Makna ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ

Makna dari kalimat ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (laa ilaaha illallaah) adalah
ู„ุงَ ู…َุนْุจُูˆْุฏَ ุจِِِِِุญَู‚ٍّ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (laa ma’buda bi haqqin
ilallaah), tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan
benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.



Ada beberapa penafsiran yang salah tentang makna kalimat ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ
ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (laa ilaaha illallaah) dan kesalahan tersebut telah
menyebar luas. Kesalahan tersebut antara lain: [14]



1. Menafsirkan kalimat ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (laa ilaaha illallaah)
dengan ู„ุงَ ู…َุนْุจُูˆْุฏَ ุฅِู„ุงَّ ِู„ู„ู‡ِ (tidak ada yang diibadahi kecuali
Allah), padahal makna tersebut rancu karena dapat berarti bahwa setiap
yang diibadahi, baik dengan benar maupun salah, adalah Allah.



2. Menafsirkan kalimat ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (laa ilaaha illallaah)
dengan ู„ุงَ ุฎَุงู„ِู‚َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (tidak ada pencipta kecuali Allah),
padahal makna tersebut merupakan bagian dari makna kalimat ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ
ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (laa ilaaha illallaah) dan penafsiran ini masih berupa
Tauhid Rububiyyah saja sehingga belum cukup. Inilah yang diyakini juga
oleh orang-orang musyrik.



3. Menafsirkan kalimat ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (laa ilaaha illallaah)
dengan ู„ุงَ ุญَุงูƒِู…ِูŠَّุฉَ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ (tidak ada hak untuk menghukumi
kecuali hanya bagi Allah), padahal pengertian ini juga tidak cukup
karena apabila mengesakan Allah dengan penga-kuan atas sifat Allah Yang
Mahakuasa saja lalu berdo’a kepada selain-Nya atau menyimpangkan tujuan
ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum termasuk definisi
yang benar.



[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah
yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka
At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]  


almanhaj.or.id

_______

Footnote

[1]. Lihat juga Al-Mu'-minuun: 84-89, lihat juga ayat-ayat lain.

[2]. Lihat Yunus: 18, Az-Zumar: 3, 43-44.

[3]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha',
Ikrimah, asy-Sya’bi, Qatadah dan lainnya. Lihat Fat-hul Majiid Syarh
Kitabit Tauhiid (hal. 39-40), tahqiq: Dr. Walid bin ‘Abdirrahman bin
Muhammad al-Furaiyan.

[4]. Lihat Min Ushuuli ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah dan ‘Aqidatut
Tauhiid (hal. 36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan, Fat-hul Majiid Syarah
Kitabut Tauhiid dan al-Ushuul ats-Tsalaatsah (Tiga Landasan Utama).

[5]. Lihat Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 60), cet. Mu-assasah ar-Risalah, 1417 H.

[6]. Lihat Al-Qur-an pada surat al-A’raaf ayat 65, 73 dan 85.

[7]. Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitabus Sunnah,
al-Laalikai (no. 930). Sanadnya shahih, lihat Fatwa Hamawiyah Kubra
(hal. 303, cet. I, th. 1419 H) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
tahqiq: Hamd bin ‘Abdil Muhsin at-Tuwaijiry, Mukhtashar al-‘Uluw lil
‘Aliyil Ghaffar (hal. 142 no. 134).

[8]. Lihat Lum’atul I’tiqaad oleh Imam Ibnul Qudamah al-Maqdisy, syarah oleh Syaikh Muhammad Shalih bin al-‘Utsaimin (hal. 36).

[9]. Tahrif atau ta’wil yaitu merubah lafazh Nama dan Sifat, atau
merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.

[10]. Ta’thil yaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-Sifat Allah atau
mengingkari seluruh atau sebagian Sifat-Sifat Allah Azza wa Jalla.

Perbedaan antara tahrif dan ta’thil ialah, bahwa ta’thil itu mengingkari
atau menafikan makna yang sebenarnya yang dikandung oleh suatu nash
dari al-Qur-an atau hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan
tahrif ialah, merubah lafazh atau makna, dari makna yang sebenarnya
yang terkandung dalam nash tersebut.

[11]. Takyiif adalah menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau
mempertanyakan: “Bagaimana Sifat Allah itu?” Atau menentukan hakikat
dari Sifat Allah, seperti menanyakan: “Bagaimana Allah bersemayam?” Dan
yang sepertinya adalah tidak boleh bertanya tentang kaifiyat Sifat Allah
karena berbicara tentang sifat sama juga berbicara tentang dzat.
Sebagaimana Allah Azza wa Jalla mempunyai Dzat yang kita tidak
mengetahui kaifiyatnya. Dan hanya Allah yang mengetahui dan kita wajib
mengimani tentang hakikat maknanya.

[12]. Tamtsiil sama dengan tasybiih, yaitu mempersamakan atau
menyeru-pakan Sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat makhluk-Nya. Lihat
Syarah al-‘Aqiidah al-Waasithiyyah (I/86-100) oleh Syaikh Muhammad bin
Shalih al-‘Utsaimin, Syarah al-‘Aqiidah al-Waasithiyyah (hal 66-69) oleh
Syaikh Muhammad Khalil Hirras, tahqiq ‘Alawiy as-Saqqaf, at-Tanbiihaat
al-Lathiifah ‘ala Mahtawat ‘alaihil ‘Aqiidah al-Waasi-thiyyah (hal
15-18) oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, tahqiq Syaikh
‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, al-Kawaasyif al-Jaliyyah ‘an Ma’anil Wasithiyah
(hal. 86-94) oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz as-Salman.

[13]. Lihat Minhajus Sunnah (II/111, 523) tahqiq DR. Muhammad Rasyad Salim.

[14]. Lihat ‘Aqiidatut Tauhiid oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan (hal. 39-40)














Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Memperingatkan Anak Yang Melakukan Kekeliruan

Risalah Anak Muslim


NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MEMPERINGATKAN ANAK YANG MELAKUKAN KEKELIRUAN





Oleh

Dr Fadhl Ilahi



Fenomena yang muncul di hadapan kita, adanya asumsi keliru memandang
anak sebagai personal yang belum layak untuk menerapkan amar ma’ruf nahi
munkar pada diri mereka, merupakan pandangan yang perlu dikoreksi.
Dalih yang melatarbelakangi asumsi ini, karena memandang anak-anak masih
kecil, sehingga mereka dianggap sebagai hal yang lumrah bila melakukan
kekeliruan. Maka tak ayal, membiarkan anak dalam keadaan seperti itu
juga menjadi hal yang biasa di kalangan orang tua. Hal ini dapat
menimbulkan dampak negatif, karena anak menjadi terbiasa melakukan
kekeliruan, yang berarti mereka tumbuh dan berkembang dengan dituntun
budaya kejahatan dan alergi terhadap kebaikan.




Allah Azza wa Jalla telah menggambarkan kedudukan ummat Islam sebagai
ummat terbaik. Dan ini menjadi salah satu sebab disandangnya sebutan
tersebut, yaitu sebagai umat yang selalu menyampaikan amar ma’ruf nahi
munkar (Ali Imran ayat 110). Begitu pula yang dilakukan oleh Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap anak-anak, meski usia mereka
belum baligh. Tetapi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap memberikan
peringatan kepada mereka. Ini menjadi contoh kongkrit, bahwa pada diri
anak-anak yang belum baligh juga perlu diterapkan nahi munkar atas diri
mereka.



Yang mesti diperhatikan, dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar pada
diri anak, tidak cukup hanya ditempuh dengan cara pelarangan keras dan
mencemooh mereka, tetapi hendaklah dengan menggunakan langkah-langkah
dakwah yang benar. Yaitu dengan memberikan nasihat dan bimbingan. Jika
hal itu tidak berhasil, maka bisa dilakukan dengan sikap yang tegas,
begitu seterusnya. Lihat Ihya ‘Ulumuddin (2/329), Muhtashar Minhajil
Qashidin (hlm. 135-137), Tanbihul Ghafilin ‘An A’malil Jahilin (hlm.
47-60).



Berikut kami contohkan peringatan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
pada beberapa peristiwa yang berkaitan dengan ‘Abdullah bin ‘Abbas
Radhiyallahu 'anhu (Ibnu ‘Abbas) yang waktu itu masih kecil.



NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MELARANG ANAK PAMANNYA YANG MASIH KECIL BERDIRI DI SEBELAH KIRI BELIAU PADA WAKTU SHALAT

Si kecil ‘Abdullah bin ‘Abbas menginap di rumah bibinya, Ummul Mukminin
Maimunah. Saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menunaikan
shalat malam, Ibnu ‘Abbas juga bangun untuk shalat bersama Beliau dan
berdiri di sebelah kirinya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menarik
Ibnu ‘Abbas sehingga berada di sebelah kanan Beliau.



Asy Syaikhani, Al Bukhari Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia
berkata: “Suatu malam aku menginap di rumah bibiku, Maimunah. Setelah
beberap saat malam lewat, Nabi bangun untuk menunaikan shalat. Beliau
melakukan wudhu` ringan sekali (dengan air yang sedikit) dan kemudian
shalat. Maka, aku bangun dan berwudhu` seperti wudhu` Beliau. Aku
menghampiri Beliau dan berdiri di sebelah kirinya. Beliau memutarku ke
arah sebelah kanannya dan meneruskan shalatnya sesuai yang dikehendaki
Allah …”. [1]



Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits yang mulia ini, ialah :

1). Ihtisab (dakwah) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Ibnu
‘Abbas yang melakukan kesalahan karena berdiri di sisi kiri Beliau saat
menjadi makmum dalam shalat bersama Beliau. Karena seorang makmum harus
berada di sebelah kanan imam, jika ia sendirian bersama imam. Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkan kekeliruan Ibnu ‘Abbas
dengan dalih umurnya yang masih dini, namun Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam tetap mengoreksinya dengan mengalihkan posisinya ke kanan
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.



2). Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian, meski dalam keadaan
sedang shalat, tidak menghalangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
untuk melakukan nahi munkar terhadap anak kecil yang melakukan kesalahan
dalam shalatnya. Ini menunjukkan betapa besarnya perhatian dan
pengawasan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada anak-anak serta
adanya bimbingan menuju kebenaran.



Realitas ini berlawanan dengan sikap para orang tua. Meski para ibu atau
ayah menyibukkan dengan amalan ketaatan, seperti mengerjakan shalat
nafilah, membaca Al Qur`an, duduk untuk berdzikir, menghadiri majlis
ilmu, banyak melakukan umrah, haji dan lain-lain, namun mereka kirang
memperhatikan anak-anak yang masih kecil, bahkan juga kurang perhatian
kepada anak-anak yang sudah mencapai baligh. Anak-anak dibiarkan
terhanyut dengan perbuatan maksiat, mendengarkan hal-hal yang dilarang
Allah dan RasulNya, dan bermain di lingkungan yang buruk dan penuh
kemaksiatan.



Para orang tua, harus mengintrospeksi diri, jika menginginkan
keselamatan, bercita-cita untuk mendapatkan kemenangan dan kejayaan.
Sebab, tidak ada keselamatan, tidak ada kemenangan bahkan tidak
kejayaan, kecuali dengan meneladani perilaku Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam.



3). Dari perbuatan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut, dapat
disimpulkan, bahwa anak-anak yang sudah mulai mengerjakan ibadah, baik
yang berupa wudhu`, shalat, berpuasa, umrah, haji atau ibadah lainnya,
jika mereka melakukan kesalahan, maka tidak boleh dibiarkan larut dengan
kekeliruannya tersebut, dengan dalih usia mereka masih kecil. Kewajiban
kita sebagai orang Islam, semestinya menghidupkan semangat amar ma’ruf
nahi munkar terhadap anak-anak dan mengarahkan mereka kepada yang lebih
benar, sebagaimana dicontohkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
terhadap diri Ibnu ‘Abbas yang waktu itu masih berusia kanak-kanak.



Dengan demikian, anak tidak dibiarkan larut dengan kesalahan-kesalahan
yang mungkin diperbuatnya. Sehingga, bila melakukan ibadah, mereka
selalu melaksanakan dengan cara yang benar sesuai tuntunan Allah dan
RasulNya.



NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MELARANG ANAK PAMANNYA YANG MASIH KECIL TIDUR KETIKA MENGERJAKAN SHALAT

Tatkala Ibnu ‘Abbas menunaikan shalat tahajjud bersama Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam di rumah bibinya, Ummul Mukminin Maimunah, ia sempat
dihantui rasa kantuk, lantaran pada waktu itu dia masih berusia
kanak-kanak. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkannya
tertidur. Setiap kantuk datang, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
menarik ujung telinganya agar ia segar kembali.



Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Aku menginap di
rumah bibiku, Maimunah binti Al Harits. Aku meminta tolong kepadanya.
Aku berkata,’Bila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bangun untuk
shalat (malam), bangunkanlah aku’. Saat Rasulullah melaksanakan shalat,
aku berdiri di sebelah kirinya. Maka Beliau memegang tanganku dan
mengalihkanku ke sisi kanannya. Dan saat aku tertidur dalam shalat,
Beliau memegangi ujung telingaku”. Ibnu ‘Abbas menambahkan,”Beliau
shalat sebelas rakaat.”[2]



Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka Beliau meletakkan tangan kanannya
di atas kepalaku dan memegang telinga kananku untuk mengingatkanku”. [3]




Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits di atas ialah :

1). Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan nahi munkar (melarang
dari perbuatan mungkar) kepada Ibnu ‘Abbas yang kedapatan tertidur saat
melakukan shalat, satu keadaan yang tidak pantas terjadi saat sedang
shalat. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mendiamkannya,
meskipun Ibnu ‘Abbas waktu itu masih berusia bocah. Justru yang
dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ialah memegangi ujung
telinga Ibnu ‘Abbas untuk membangunkan dan menyegarkannya dari rasa
kantuk yang menyerangnya.



2). Hadits ini menunjukkan sebagai bukti kelembutan dan kasih sayang
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diungkapkannya dengan melakukan
nahi munkar terhadap anak kecil. Yaitu dengan meletakkan tangan Beliau
di kepala Ibnu ‘Abbas dan memegangi ujung telinganya serta
menekan-nekannya. Tindakan ini menunjukkan kelembutan, sikap lunak dan
kasih sayang Beliau. Perlakuan Beliau yang seperti ini bukan tindakan
aneh, sebab Allah Ta’ala mengutus Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
sebagai rahmat bagi semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :



ูˆَู…َุข ุฃَุฑْุณَู„ْู†َุงูƒَ ุฅِู„ุงَّุฑَุญْู…َุฉً ู„ِّู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ



"Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" [Al Anbiya` : 107]



Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam sebagai orang yang sangat pengasih kepada orang-orang yang
beriman.



ู„َู‚َุฏْ ุฌَุขุกَูƒُู…ْ ุฑَุณُูˆู„ٌ ู…ِّู†ْ ุฃَู†ูُุณِูƒُู…ْ ุนَุฒِูŠุฒٌ ุนَู„َูŠْู‡ِ ู…َุงุนَู†ِุชُّู…ْ ุญَุฑِูŠุตٌ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ุฑَุกُูˆูٌ ุฑَّุญِูŠู…ٌ



"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri,
berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mu`min" [At Taubat:128]



3). Dalam kisah ini, meskipun pada waktu itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam sedang sibuk dengan shalat, namun tidak mengendurkan niat Beliau
untuk melakukan nahi munkar terhaap kesalahan yang diperbuat Ibnu
‘Abbas. Tindakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini
menunjukkan perhatian yang sangat besar diri Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam terhadap dunia anak dan pembinaannya menuju kondisi yang baik.



Maka dapat kita pahami, bahwa para orang tua berkewajiban untuk
menggalakkan amar ma`ruf nahi munkar terhadap anak-anak mereka yang
melakukan kesalahan dalam beribadah. Kesibukan orang tua meski saat
melakukan ketaatan, tidak boleh menjadi penghalang dalam melakukan amar
ma`ruf nahi munkar tersebut.



PENGINGKARAN TERHADAP ANAK YANG MENYALAHI ATURAN SYAR'I MENJADI HAL YANG MA'RUF PADA MASA NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di Mina melaksanakan
shalat bersama kaum muslimin, datanglah Ibnu ‘Abbas dengan menunggang
keledainya. Pada waktu itu, Ibnu ‘Abbas masih anak-anak yang belum
baligh. Dia melewati barisan shalat, dan tidak ada seorangpun yang
menegurnya.



Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,”Aku datang
dengan keledai betina. Pada waktu itu, aku hampir mamasuki masa akil
baligh. Dan Rasulullah menunaikan shalat tanpa penghalang tembok. Aku
melewati barisan shalat. Aku lepaskan tungganganku untuk makan rumput.
Aku memasuki shaf shalat tanpa ada yang menegur(ku).” [4]. Dalam riwayat
lain disebutkan : “Tidak ada seorangpun yang mengingkariku”. [5]



Dari riwayat ini, kita mendapatkan beberapa fakta sebagai berikut :

1). Pada waktu itu, Ibnu ‘Abbas belum baligh. Ini ditunjukkan dengan
ucapannya: “Pada waktu itu, aku hampir mamasuki masa akil baligh”.



Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan : “(Artinya) aku mendekati usia baligh;
yang dimaksud dengan ihtilam ialah, baligh dalam pandangan syariat”.
[6]



Hal ini juga dipertegas oleh Imam Bukhari dalam memberikan judul pada
hadits ini, yaitu dengan judul Bab Kapan Kecakapan Anak Dianggap Sah
(Diterima)?[7]. Juga terdapat pada Bab Haji Anak-Anak [8]



2). Ibnu ‘Abbas menjadikan hadits ini sebagai landasan bolehnya melewati
shaf shalat, sebab para sahabat tidak bereaksi terhadap tindakannya.



Imam Ibnu Daqiqil ‘Id mengatakan,”Ibnu ‘Abbas ber-istidlal (menjadikan
hadist ini sebagai dalil) bolehnya melewati depan shaf makmum dengan
tidak adanya pengingkaran (dari para sahabat).” [9]



Imam Al Bukhari menjadikan hadits ini sebagai landasan, bahwa sutrah
(penghalang atau pembatas shaf imam adalah sutrah makmum yang ada di
belakangnya, sebab para sahabat tidak mengingkari perbuatan Ibnu ‘Abbas
yang melewati depan makmum. Imam Al Bukhari menamai babnya dengan
(judul) Bab Sutrah Imam Menjadi Sutrah Bagi Makmum Yang Ada di
Belakangnya. [10]



Seandainya pengingkaran terhadap pelanggaran agama yang dilakukan oleh
anak kecil bukan merupakan hal yang ma`ruf pada masa Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, tentu istidlal (pengambilan dalil dengan hadits ini)
tidak kuat. Sehingga akan ada yang berkomentar, bahwa tindakan Ibnu
‘Abbas tidak diingkari karena usianya masih kecil. Namun lantaran sudah
menjadi suatu yang biasa pada masa Nabi, maka istidlal-nya tepat dan
bebas dari sanggahan. Wallahu a’lam bish shawab.



Demikian di antara contoh-contoh yang dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap anak. tidak
hanya yang berkaitan dengan shalat saja, tetapi masih banyak contoh yang
diberikan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, misalnya : larangan Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap model rambut ala Yahudi, larangan
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memakan jenis makanan yang bukan
haknya, larangan ceroboh dalam mengambil makanan saat bersantap, dan
lain-lain. Semoga bermanfaat.



(Diangkat dari Al Ihtisab ‘Alal Athfal, Dr. Fadhl Ilahi. Telah
diindonesikan dengan judul Mendakwahi Anak (Dasar dan Tahapannya), oleh
Muhammad Ashim, Lc., Penerbit Darus Sunnah, Cetakan Pertama, Dzulhijjah
1425H/Maret 2005M)



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun IX/1426H/2005.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] dari almanhaj.or.id

_______

Footnote

[1]. Shahih Bukhari, Kitab Adzan, Bab Wudhu` Anak-Anak … no. hadits 859
(2/344) dan lafazh hadits milik Bukhari; Shahih Muslim (1/528), Kitab
Shalat Orang Musafir dan Mengqasharnya, Bab Doa Pada Shalat Malam dan
Pelaksanaan Shalatnya, no. hadits 186 (763) dengan redaksi “maka Beliau
memutarku ke belakang”.

[2]. Shahih Muslim (1/528), Kitab Shalat Orang Musafir dan
Mengqasharnya, Bab Doa Pada Shalat Malam dan Pelaksanaan Shalatnya, no.
hadits 185 (763)

[3]. Ibid, no. hadits 182 (763).

[4]. Shahih Bukhari, Kitab Ilmu, Bab Kapan Kecakapan Anak Kecil Dianggap Sah, no. hadits 76. (Fathul Bari, 1/171).

[5]. Ibid, Kitab Shalat, Bab Sutrah Bagi Imam Sutrah Bagi Para Makmum, no. hadits 493. (Fathul Bari, 1/571).

[6]. Fathul Bari, 1/171.

[7]. Shahih Al Bukhari, 1/171. Juga terdapat pada Bab Haji Anak-Anak.

[8]. Ibid, no. hadits 1857 (4/71).

[9]. Dinukil dari Fathul Bari, 1/572. Lihat juga 1/571.

[10]. Shahih Bukhari, Kitab Shalat, no. hadits 493 (1/571).

Wasiat-Wasiat Generasi Salaf

Nasihat Ulama - Wasiat Generasi Salaf


WASIAT-WASIAT GENERASI SALAF





Oleh

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari






GENERASI SALAF SEBAGAI GENERASI PILIHAN





Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya:



ูˆَุงู„ุณَّุงุจِู‚ُูˆู†َ ุงْู„ุฃَูˆَّู„ُูˆู†َ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُู‡َุงุฌِุฑِูŠู†َ ูˆَุงْู„ุฃَู†ุตَุงุฑِ
ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุงุชَّุจَุนُูˆู‡ُู… ุจِุฅِุญْุณَุงู†ٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…ْ ูˆَุฑَุถُูˆุง
ุนَู†ْู‡ُ ูˆَุฃَุนَุฏَّ ู„َู‡ُู…ْ ุฌَู†َّุงุชٍ ุชَุฌْุฑِูŠ ุชَุญْุชَู‡َุง ุงْู„ุฃَู†ْู‡َุงุฑُ
ุฎَุงู„ِุฏِูŠู†َ ูِูŠู‡َุข ุฃَุจَุฏًุง ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْูَูˆْุฒُ ุงู„ْุนَุธِูŠู…ُ



Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di
antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah :
100]




Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi pujian kepada para
sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah
generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya
dalam mengemban risalah ilahi.



Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau
kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi
Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam.



Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa
meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik
rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan
apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik”. Sungguh sebuah ucapan
yang pantas di tulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil
generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan
niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.



Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf
menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara
dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.




SALAF DAN TAZKIYATUN NUFUS





Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah
tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun
nufus bersama dengan ilmu. Allah berfirman:



ูƒَู…َุขุฃَุฑْุณَู„ْู†َุง ูِูŠูƒُู…ْ ุฑَุณُูˆู„ุงً ู…ِّู†ูƒُู…ْ ูŠَุชْู„ُูˆุง ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ
ุกَุงูŠَุงุชِู†َุง ูˆَูŠُุฒَูƒِّูŠูƒُู…ْ ูˆَูŠُุนَู„ِّู…ُูƒُู…ُ ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَุงู„ْุญِูƒْู…َุฉَ
ูˆَูŠُุนَู„ِّู…ُูƒُู… ู…َّุงู„َู…ْ ุชَูƒُูˆู†ُูˆุง ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ



Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang
membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu
apa yang belum kamu ketahui. [Al-Baqarah : 151]



Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan
tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama
salaf tentang kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu’an dan kebersihan jiwa
mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi
tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf
sangat menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah. Hamdun bin
Ahmad pernah ditanya: “Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat
daripada ucapan-ucapan kita?” beliau menjawab: “Karena mereka berbicara
untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman,
sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan
mencari ridha manusia!”




SALAF DAN KEGIGIHAN DALAM MENUNTUT ILMU





Imam Adz-Dzahabi berkata: "Ya'qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari
Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar
berkata: "Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya:
"Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits!" Beliau berkata: "Bacalah!"

"Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku!" jawabku.

"Bacalah!" kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau.
Akhirnya ia berkata: "Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan
pukul dia lima belas kali!" Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku
lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau.
Pelayan itu berkata: "Saya telah mencambuknya!" Maka aku berkata kepada
beliau: "Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima
belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan
tuan!"

"Apa tebusannya?" tanya beliau.

"Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas
hadits!" jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku.
Lalu kukatakan kepada beliau: "Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan
tuan menambah hadits untukku!" Imam Malik hanya tertawa dan berkata:
"Pergilah!"




SALAF DAN KEIKHLASAN





Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati.
Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat
malam beliau. Dengan marah ia berkata: “Demi Allah satu rakaat yang
kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada
shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada
orang-orang!”



Ar-Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!”



Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti,
mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: “Apabila
seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan
menghadapkan hati manusia kepadanya.”



Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan
tidak mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: “Tidak
ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas,
karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.”



Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: “Beruntunglah bagi orang yang
mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap
ridha Allah!”



Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak
keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan
diangkat-angkat.



Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas.”



Yahya bin Muadz berkata: “Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.”



Abu Utsman Sa’id bin Al-Haddad berkata: “Tidak ada perkara yang
memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila
sanjungan.”



Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada
murid-muridnya. Ar-Rabi’ bin Shabih menuturkan: “Suatu ketika, kami
hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi
wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu.
Al-Hasan berkata kepadanya: “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan
menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!”




SALAF DAN TAUBAT





Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah
adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih.
Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!



‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”



Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah
kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam
majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian
tidak tahu kapan turunnya ampunan!”




TANGIS GENERASI SALAF





Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut.
Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci
Al-Qur'an.



Ketika membaca firman Allah:



ูˆَู‚َุฑْู†َ ูِูŠ ุจُูŠُูˆุชِูƒُู†َّ



“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” [Al-Ahzab : 33]



‘Aisyah Radhiyallahu 'anha menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.



Demikian pula Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu, ketika membaca ayat.



ุฃَู„َู…ْ ูŠَุฃْู†ِ ู„ِู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุฃَู† ุชَุฎْุดَุนَ ู‚ُู„ُูˆุจُู‡ُู…ْ ู„ِุฐِูƒْุฑِ ุงู„ู„َّู‡ِ



“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk
hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun
(kepada mereka).” [Al-Hadid : 16]



Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.



Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat



ู„ِูŠَูˆْู…ٍ ุนَุธِูŠู…ٍ ูŠَูˆْู…َ ูŠَู‚ُูˆู…ُ ุงู„ู†َّุงุณُ ู„ِุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ



“Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” [Al-Muthaffifiin : 5-6]



Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.




SALAF DAN TAWADHU'





Pernah disebut-sebut tentang tawadhu’ di hadapan Al-Hasan Al-Bashri,
namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia
berkata kepada mereka: “saya lihat kalian banyak bercerita tentang
tawadhu’!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu’ wahai Abu Sa’id?” Beliau
menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim
ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”



Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan
bin Uyainah, ia berkata: “Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang
yang lebih senior dari kami.”



Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: “Apa itu tawadhu’?” Ia menjawab: “Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!”



Mutharrif bin Abdillah berkata: “Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.”




SALAF DAN SIFAT SANTUN





Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia
melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun
dan berkata: “Apakah engkau gila!” Umar menjawab: “Tidak” Namun para
pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz
mencegah mereka seraya berkata: “Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila!
dan saya jawab: Tidak.”



Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya Fulan
telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan
kurir selain engkau!”




SALAF DAN SIFAT ZUHUD





Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Aku tidak
pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap
kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah
makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan
kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi
membelanya.”



Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu
dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: “Bisa saja, asalkan ia
tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika
berkurang.”



Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi
kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa
memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap
aspek kehidupan.



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.
8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


almanhaj.or.id