Laman

Keutamaan Kalimat Tauhid














KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID





Khutbah Pertama:





إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
.


يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ  [آل عمران: 102
].


يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيبًا  [النساء: 1
].


يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70)
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  [الأحزاب: 70، 71
].


أَمَّا
بَعْدُ
..:





Ma’asyiral muslimin,





Khotib wasiatkan kepada diri khotib
pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah
ﷻ.





-،  وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ
لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ





“Barangsiapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS:Ath-Thalaaq | Ayat: 2-3).







وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا





“Dan barangsiapa yang bertakwa
kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan
melipat gandakan pahala baginya.” (QS:Ath-Thalaaq | Ayat: 5).


Kaum muslimin,





Sungguh Allah telah menciptakan
Adam ‘alaihissalam dengan tangan-Nya. Dia tiupkan ruh-Nya kepadanya. Dia
ciptakan Adam di atas tauhid. Kemudian Allah mengambil perjanjian kepada
keturunan-keturunannya agar mereka hanya menyembah Allah semata dan tidak
menyekutukannya.





وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ
عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ
تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ





Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
(QS:Al-A’raf | Ayat: 172).





Dalam Shahih Muslim, Nabi ﷺ bersabda,





وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ
أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ
مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ
سُلْطَانًا




“Sesungguhnya Aku telah menciptakan
hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (Islam) semuanya. Kemudian setan
memalingkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang Aku
halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang
tidak Aku turunkan keterangannya.” (HR. Muslim).





Setelah Nabi Adam wafat, manusia
hidup di muka bumi selama 10 abad tanpa menyekutukan Allah
ﷻ. Hingga
terjadi kesyirikan pada kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Lalu Allah
ﷻ mengutus Nabi
Nuh dengan membawa risalah tauhid.





يَا
قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ


“Wahai kaumku sembahlah Allah,
sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 59).





Semua nabi dan rasul diutus kepada
kaum mereka dengan membawa ajaran tauhid, mengesakan Rabb mereka.





وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا
إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ




Dan Kami tidak mengutus seorang
rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
(QS:Al-Anbiyaa | Ayat: 25).





Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya
untuk mentauhidkan-Nya. Dia menjadikan tauhid sebagai pondasi agama. Maka tidak
akan diterima suatu kebaikan kecuali disertai dengan tauhid. Tanpa tauhid amal
akan terhapus. Walaupun amalan tersebut sebesar gunung.





وَلَوْ
أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ





“Seandainya mereka mempersekutukan
Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(QS:Al-An’am | Ayat: 88).





Laa ilaaha illallaah, karena inilah Allah utus
rasul-rasul-Nya. Dia turunkan kitab-kitab-Nya. Dia ciptakan surga dan neraka.
Dia kelompokkan makhluk ini menjadi golongan orang yang beriman dan orang yang
kafir. Laa ilaaha illallaah adalah kebaikan yang paling utama.
Sebesar-besar perkara yang bisa menghapus dosa. Jika terkumpul tauhid, yakin,
dan ikhlas.





Sebuah hadits shahih dalam Sunan
Ibnu Majah dan Mustadrak al-Hakim, Nabi
ﷺ bersabda,





يُصَاحُ
بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ
فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ
ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ
لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ
أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ
بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ
فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ
الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ.
فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ
وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ





“Ada seseorang yang terpilih dari
umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan
catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Satu catatannya saja jika dibentangkan
sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau
mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali
wahai Rabbku.”





Allah bertanya lagi, “Apakah yang
mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau
punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia
berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih
kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.”





Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh
(kartu) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallaah wa anna muhammadan
‘abduhu wa rasulullah
’.
Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama
dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya,
“Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di
salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallaah’ di
daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan
dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalaah’ tadi. (HR. Ibnu
Majah dan Tirmidzi).





Betapa agungnya kalimat laa
ilaaha illallaah
.
Kalimat ini adalah sebaik-baik kalimat. Amalan yang
paling utama. Cabang keimanan yang paling tinggi. Sesuatu yang paling berat di
timbangan. Kalimat ini adalah sebaik-baik bekal yang dipersiapkan untuk
berjumpa dengan Allah
ﷻ. Karena itu
para nabi berwasiat dengan kalimat ini tatkala mereka hendak meninggal.





وَوَصَّى
بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى
لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ





Dan Ibrahim telah mewasiatkan
ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai
anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah
kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS:Al-Baqarah | Ayat: 132).





Siapa yang kalimat terakhir yang ia
ucapkan di dunia adalah laa ilaaha illallaah, maka ia akan masuk surga.


Ibadallah,





Orang yang bertauhid adalah orang
yang paling berbahagia dengan syafaat Nabi
ﷺ di hari
kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,





يَا
رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ





“Wahai Rasulullah, Siapakah orang
yang paling bahagia dengan mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat?”


Maka Nabi ﷺ menjawab :





أَسْعَدُ
النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ





“Orang yang paling bahagia dengan
mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa
ilaaha illallaah
(tiada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali
Allah) secara ikhlas dari dalam hatinya.” (HR. al-Bukhari).





Ibnul Qayyim rahimahullah
mengatakan, “Semakin besar tauhid seseorang, maka semakin sempurna ampunan
Allah untuknya. Siapa yang berjumpa dengan Allah tanpa menyekutukan sesuatu
apapun dengan-Nya, Allah akan mengampuni semua dosanya.”





Dalam Shahih Muslim, Allah ﷻ berfirman
dalam hadits qudsi,





مَنْ
لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ
بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً





“Barangsiapa menjumpai-Ku dengan
membawa dosa sepenuh bumi sedangkan dia tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, maka
Aku akan menjumpainya dengan ampunan sepenuh bumi.” (HR. Muslim).


Ibadallah,





Oleh karena itu, Nabi ﷺ melandasi
dakwahnya dengan kalimat ini. Kehidupan beliau
ﷺ semuanya
adalah realisasi dari tauhid. Baik saat beliau berada di Mekah atau sesudah
hijrah ke Madinah. Baik saat beliau tinggal atau sedang bersafar. Baik saat
damai atau berperang.





قُلْ
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ





Katakanlah: sesungguhnya
sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku
dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS:Al-An’am
| Ayat: 162-163).





Rasulullah ﷺ membina
umatnya di atas kalimat ini. Dalam Sunan at-Tirmidzi disebutkan bahwa Ibnu
Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan,





يَا
غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ
تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ
فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ
يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ
لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ
إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ
الصُّحُفِ





“Wahai anak kecil, saya akan
mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan
menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu
meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah
pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul
untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat
memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan
jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak
akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena
telah diangkat dan lembaran telah kering.”





Allahu Akbar! Sebuah wasiat yang agung.
Menanamkan tauhid di dalam hati. Demi Allah, Dialah yang menciptakan segala
perkara. Di tangan-Nya perbendaharaan langit dan bumi. Dialah yang memenuhi
kebutuhan. Yang menjawab doa-doa. Semua makhluk itu miskin dan membutuhkannya.
Sangat butuh pada karunia dan kedermawanan-Nya. Sangat butuh pada kasih sayang
dan pemberian dari-Nya.





أَمَّنْ
يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ
الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ





“Atau siapakah yang memperkenankan
(doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang
menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di
bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu
mengingati(Nya).” (QS:An-Naml | Ayat: 62).





Saat Nabi ﷺ sakit yang
membawanya kepada wafat. Salah seorang istri beliau bercerita tentang gereja
yang dilihatnya di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang ada di dalamnya.
Kemudian Nabi
ﷺ menegakkan
kepalanya dan berkata,





إِنَّ
أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى
قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ
الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ





“Sesungguhnya mereka itu apabila di
antara mereka terdapat orang yang sholih yang meninggal dunia, maka mereka pun
membangun di atas kuburnya masjid (tempat ibadah) dan mereka memasang di
dalamnya gambar-gambar untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu
adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak” (HR.
Bukhari dan Muslim).


Kaum muslimin,





Rasulullah ﷺ benar-benar
bersemangat dalam menjaga tauhid agar nilai-nilai tauhid itu tidak berkurang.
Baik nilai-nilai tersebut terdapat pada niat, ucapan, maupun perbuatan. Dalam
Musnad Imam Ahmad, Rasulullah
ﷺ mendengar
seseorang yang mengatakan, “Masya Allahu wa syi’ta (artinya: atas kehendak
Allah dan kehendakmu)” Nabi
ﷺ berkata
padanya,





أَجَعَلْتَنِى
وَاللَّهَ عَدْلاً بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ





“Apakah engkau ingin menjadikanku
dan Allah itu semisal (sejajar), cukuplah katakan masya Allahu wahdah (artinya:
atas kehendak Allah saja).” (HR. Ahmad),





Ada pula seorang laki-laki datang
menemui Nabi
ﷺ, ia berkata,





إَنِّي
نَذَرْتُ أَنْ أَنْحَرَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ – يَعْنِي: مَوْضِعًا
-،
فَقَالَ النَبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: هَلْ كَانَ فِيْهَا
وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ؟ قَالُوْا : لاَ، قَالَ : هَلْ
كَانَ فِيْهَا عِيْدٌ مِنْ أَعْيَادِ هِمْ؟، قَالُوْا : لاَ، قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْفِ بِنَذَرِكَ فَإِنَّهُ لاَ
وَفَاءَ لِنَذَرٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ





“Sesungguhnya aku bernadzar untuk
menyembelih seekor onta di Buwanah –nama sebuah tempat-.” Nabi
ﷺ bertanya,
“Apakah di situ terdapat berhala jahiliyah yang disembah?” “Tidak ada”, jawab
mereka.





Nabi bertanya kembali, “Apakah di
sana dirayakan hari raya mereka?” “Tidak”, jawab mereka.


Nabi ﷺ bersabda,
“Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam
maksiat terhadap Allah.” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya).


Ibadallah,





Demikian juga dengan niat-niat.
Wajib hanya ikhlak kepada Allah, Rabb penguasa langit dan bumi. Dalam Shahih
Muslim, Nabi
ﷺ bersabda,





قَالَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ





“Allah Tabaraka wa Ta’ala
berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik.
Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan
meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan
syiriknya.” (HR. Muslim).





Ibnul Qayyim rahimahullah
mengatakan, “Ikhlas dan tauhid adalah sebuah pohon yang berada di dalam hati.
Cabang-cabangnya adalah amalan. Buahnya adalah baiknya kehidupan dunia dan
kenikmatan yang abadi di akhirat. Sebagaimana buah surga, tidak pernah berhenti
dan tak sulit mengambilnya. Seperti inilah buah ikhlas dan tauhid. Demikian
juga syirik, kemunafikan, dan riya’ adalah pohon yang berada di dalam hati.
Buahnya di dunia adalah rasa takut, bingung, cemas, dada yang sempit, dan hati
yang gelap. Buahnya di akhirat adalah Zaqqum dan adzab yang abadi. Allah telah
menyebutkan dua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.”





أعوذُ
بالله من الشيطان الرجيم:  أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا
كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي
السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ
اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ
كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا
لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ
الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ
الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ  [إبراهيم: 24- 27
]. 





“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana
Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik,
akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya
pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan
itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang
buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari
permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia
dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa
yang Dia kehendaki.” (QS:Ibrahim | Ayat: 24-27).





بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
.








Khutbah Kedua





اَلْحَمْدُ لِلَّهِ،
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ
رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
.


أَمَّا بَعْدُ ..
مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ
:





Nash-nash syariat yang menjelaskan tentang
keutamaan kalimat tauhid (laa ilaaha illallaah) menunjukkan betapa agung
dan mulia kalimat ini. Di antranya:





Kalimat tauhid membuat darah pemiliknya terjaga.
Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Usamah radhiallahu ‘anhu:





” بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلى
الْحُرَقَةِ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ
مِنَ الأَنْصارِ رَجُلاً مِنْهُمْ، فَلَمّا غَشِينَاهُ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ،
فَكَفَّ الأَنْصارِيُّ عَنْهُ، وَطَعَنْتُهُ بِرُمْحي حَتّى قَتَلْتُهُ؛ فَلَمّا
قَدِمْنَا، بَلَغَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقالَ: يا أُسامَةُ
أَقَتَلْتَهُ بَعْدَما قَالَ لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ، قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا؛
فَما زَالَ يُكَرِّرُها حَتّى تَمَنَّيْتُ أَنّي لَمْ 


أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ
ذَلِكَ الْيَوْمِ ” رواه البخاري ومسلم





“Rasulullah ﷺ mengutus kami ke daerah
Alhuraqah. Kami pun segera menyerbu orang-orang di sana di pagi hari, sehingga
kami mengalahkan mereka. Kemudian aku bersama seorang sahabat Anshar mengejar
seorang lelaki di antara mereka. Ketika telah kami kepung tiba-tiba ia
mengucapkan : “Laa ilaaha illallaah”, maka kawanku al-Anshari itu
menghentikan pedangnya, namun aku langsung menikamnya dengan tombakku hingga ia
mati. Saat kami kembali kembali ke Madinah, rupanya -berita itu telah sampai
kepada Nabi
ﷺ. Beliau pun bertanya padaku, “Wahai Usamah
apakah Anda membunuhnya sesudah ia mengucapkan: “Laa ilaaha illallaah?”
“Dia hanya akan menyelamatkan dirinya.”, jawabku. Nabi
ﷺ pun mengulang-ulang
tegurannya, sehingga aku mengandai-andai bahwa diriku ini belum masuk Islam
sebelum hari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).





Dalam riwayat Imam Muslim diterangkan bahwa
orang yang dibunuh Usamah telah memusuhi kaum muslimin dan membunuh beberapa
sahabat Rasulullah
ﷺ. Ketika melihat pedang –kalah dan hampir
mati- ia mengucapkan Laa ilaaha illallaah. Bersamaan dengan itu, Nabi
ﷺ masih mengatakan pada
Usamah, “Apakah Anda membunuhnya.” Usamah menjawab, “Iya.” Kemudian Rasulullah
ﷺ bersabda,





فَكَيْفَ تَصْنَعُ بِـ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إَذَا جَاءَتْ يَوْمُ القِيَامَةِ؟!». قَالَ: يَا
رَسُوْلَ اللهِ! اسْتَغْفِرْ لِي، قَالَ
: «وَكَيْفَ تَصْنَعُ بِـ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إَذَا جَاءَتْ يَوْمُ القِيَامَةِ؟!».
قَالَ: فَجَعَلَ لَا يَزِيْدُهُ عَلَى أَنْ يَقُوْلَ
: « وَكَيْفَ تَصْنَعُ بِـ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ إَذَا جَاءَتْ يَوْمُ القِيَامَةِ ؟





“Apa yang akan engkau perbuat dengan Laa
ilaaha illallaah
ketika datang hari kiamat?!” “Wahai Rasulullah, mohonkan
ampunan untukku.”, kata Usamah. “Apa yang akan engkau perbuat dengan Laa
ilaaha illallaah
ketika datang hari kiamat?!” Beliau tidak menambahkan
ucapannya kecuali mengulang-ulang, “Apa yang akan engkau perbuat dengan Laa
ilaaha illallaah
ketika datang hari kiamat?!”


Ibadallah,





Sesungguhnya perkara darah tidak menjadi halal
hanya karena penafsiran dan sangka saja. Nabi
ﷺ sama sekali tidak
menoleransi penafsiran dan pendapat Usamah. Beliau mengecamnya dengan kecaman
keras, “Apa yang akan engkau perbuat dengan Laa ilaaha illallaah ketika
datang hari kiamat?!” Sampai-sampai Usamah lupa amalan-amalan kebajikan yang
pernah ia lakukan. Ia hanya berharap baru masuk Islam ketika itu.





Saudaraku kaum muslimin,





Jika darah seorang yang memerangi kaum muslimin
saja dianggap sesuatu yang besar oleh Nabi
ﷺ, dan secara zahir orang
tersebut mengucapkannya hanya supaya tidak dibunuh (dalam perang), bagaimana
dengan darah seorang muslim dan bertauhid?





Betapa agama Islam ini menganggap serius
permasalahan darah. Dan mengancam orang-orang yang meremehkan dan
mengucurkannya tanpa sebab yang dibenarkan. Mereka diancam dengan adzab yang
besar di dunia dan akhirat.





وَمَنْ يَقْتُلْ
مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ
عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا





“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin
dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah
murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
(QS:An-Nisaa | Ayat: 93).





Ibadallah,





Permasalahan darah sudah begitu jelas. Nash-nash
syariat memberi batasan yang gamblang. Penafsiran-penafsiran orang-orang yang
sesat ditolak. Tidaklah yang melenceng dari permasalahan ini kecuali dia akan
binasa. Apa yang akan mereka perbuat dengan Laa ilaaha illallaah ketika
datang hari kiamat?!





اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ
الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ
: أَبِيْ بَكْرٍ،
وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَحَابَةِ وَالتَّابِعْيَنْ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَجُوْدِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ 





وَالمُسْلِمِيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا
مُطْمَئِنًّا رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ
.





اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا
تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ
.





اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ
يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ،
وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ
.





اَللَّهُمَّ فَرِّجْ
هَمَّ المَهْمُوْمِيْنَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ، وَنَفِّسْ كَرْبَ المَكْرُوْبِيْنَ،
وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ المَدِيْنِيْنَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى
المُسْلِمِيْنَ
.





اَللَّهُمَّ وَفِّقْ
إِمَامَنَا بِتَوْفِيْقِكَ، وَأَيِّدْهُ بِتَأْيِيْدِكَ، وَاجْزِهُ خَيْرَ
الجَزَاءِ عَنِ الإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُ وَنَائِبَيْهِ لِمَا فِيْهِ خَيْرٌ لِلْبَلَادِ
وَالعِبَادِ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أُمُوْرَ المُسْلِمِيْنَ لِمَا
تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ. اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَنَا وَبِلَادَنَا وَأَمْنَنَا وَرِجَالَ
أَمْنِنَا بِسُوْءٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرًا عَلَيْهِ، اَللَّهُمَّ
إِنَّا نَدْرَأُ بِكَ فِي نُحُوْرِهِمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ وَانْصُرْ جُنُوْدَنُا المُرَابِطِيْنَ عَلَى حُدُوْدِ
بِلَادِنَا، اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ
وَعَدُوِّهِمْ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
.





اَللَّهُمَّ اجْعَلْ
خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ،
وَآخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا
: شَهَادَةَ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
.

سُبْحَانَ
ربِّكَ رَبِّ العِزَّة عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ، والحمدُ
للهِ رَبَّ العَالَمِيْنَ







Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Mahir al-Mu’ayqali (Imam dan Khotib Masjid al-Haram)

Judul: Fadhail Kalimat at-Tauhid

Tanggal: 10 Syawwal 1437 H



Read more https://khotbahjumat.com/4076-khutbah-jumat-masjid-al-haram-keutamaan-kalimat-tauhid.html


Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Mahir al-Mu’ayqali (Imam dan Khotib Masjid al-Haram)

Judul: Fadhail Kalimat at-Tauhid

Tanggal: 10 Syawwal 1437 H



Read more https://khotbahjumat.com/4076-khutbah-jumat-masjid-al-haram-keutamaan-kalimat-tauhid.html

Diterjemahkan dari khotbah jumat Syaikh Mahir al-Mu'ayqali ( Imam dan Khatib Masjid al-Haram)

Judul : Fadhail Kalimat at-Tauhid

Tanggal : 10 Syawwal 1437H

Sumber Artikel  : Khotbah Jumat.Com

Kenapa Harus Mengingat Mati

" Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan Hari Kiamat ( yaitu ) kedatangan kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila kiamat sudah datang ?? " (Muhammad: 18 )













MENJEMPUT KEMATIAN




Oleh: Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsuddin. Lc



Kenapa Harus Mengingat Mati 








Kematian,
inilah yang kita selalu lari darinya. Ini juga yang sering kali kita lupakan,
dan hanya orang berimanlah yang selalu teringat dengannya.





Banyak
sekali keutamaan yang bias dipetik seorang hamba dari mengingat kematian,
diantaranya membersihkan hati yang telah khusut, tumbuhnya kesadaran untuk
kembali keakhirat, menghidupkan rohani yang sudah berkarat, menggugah semangat
ibadah yang sedang melemah, menumbuhkan keimanan dan ketaatan yang telah
mengendur, menguatkan tekad dalam berbuat dan membentuk pribadi tangguh dan
qona’ah. 









Sementara
yang terlena dalam kenikmatan dunia akan silau dengan gemerlapnya harta, dan
menjadi budak syahwat sehingga hatinya lalai untuk mengingat kematian. Ketika
kematian diingatkan, dia sangat membencinya dan ingin lari darinya, bahkan
tidak ingin berpisah dengan dunia dan ingin hidup seribu tahun lagi.  




   



وَلَتَجِدَنَّهُمْ
أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ
لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن
يُعَمَّرَ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ





“Dan sungguh
kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di
dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka
ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak
akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
kerjakan.”
( Al-Baqarah: 96 ) 









Abdullah
bin Mutharrif berkata, “ Sesungguhnya kematian menjadikan para pecinta
kenikmatan dunia tidak selera lagi untuk menikmati seluruh kenikmatan, maka
carilah kenikmatan yang tidak trersentuh kenikmatan. “ [1]





Dari
Abu Hurairah beliau berkata bahwa Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam
bersabda, 







أكسروا من ذكر
هادم اللذات الموت





“ Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kelezatan, yaitu
kematian “ [2]









Abu
Ali ad-Daqqaq berkata, “ Sipa yang memperbanyak mengingat kematian maka akan mendapatkan
tiga kemuliaan: bersegeralah untuk bertaubat, hatinya qana’ah dan semangat
beribadah.”
[3]


 


Dari
Ibnu Umar Radhiyallahuanhuma  bahwasanya
beliau bersabda, 





كنت مع رسول الله
صلى الله على وشلم فجاءه رجل من الأنصار فسلم على النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال
يا رسول الله أي المؤمنين أفضل ؟ قال : أحسنهم خلقا قال : فأي المؤمنين أكيس ؟ قال
: أكثرهم للموت ذكرا وأحسنتم لم بعده استعدادا أولءك الأكياس.





“ Kami duduk-duduk bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam, datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memgucapkan salam kepada
Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulallah, orang
mukmin manakah yang lebih utama? ‘Belia bersabda, ‘mereka yang
paling baik akhlaknya.’ Dia berkata, ‘ Orang islam manakah yang peling cerdik? ‘
Beliau bersabda,’ Mereka yang paling banyak memgingat kematian dan orang yang
paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya, mereka itulah orang yang
cerdik.”
[4]





Sahal bin Abdullah at-Tustari
berkata, “Tidak ada orang yang paling nekad mati kecuali tiga orang: orang yang
bodoh tentang kehidupan setelah kematian, oaring yang ingin melarikan diri dari
takdir Allah atas dirinya, dan orang ya.g rindu ingin bertemu dengan Allah.”
[5]





Abdullah bin Mas’ud berkata,”Cukuplah
kematian menjadi pengingat, cukuplah keyakinan sebagai kecukupan, dan cukuplah
ibadah menjadi kesibukan.”
[6]





Abu Darda berkata, “ Siapa banyak
memgingat kematian akan sedikit sikap hasadnya dan akan sedikit sikap melampoi
batasnya.”
[7]





Mengingat kematian memiliki
keutamaam yang sangat banyak, karna mengingat kematian mengajak seorang hamba
berlatih meninggalkan hunian penuh penipuan dan bersiap-siap untuk menuju kampung akhirat. Lalai mengingat kematian membuat manusia terlena dalam kumbangan
syahwat dunia.[8]





[disalin dari buku Rintangan Setelah
Kematian,
penulis Ustadz Zaenal Abidin Syamsuddin, Lc. Penerbit Pustaka
Imam Bonjol Cetakan Kedua, Rajab 1436H./ April 2015M. Alamat : Jalan Raya
Munjul Gg. Mushala Fathul Ulum no.11 Munjul Cipayung Jakrta Timur 13850
Tel/Fax: (021)87753478 Layanan SMS: 08111816600]





Footnote :


[1] Maudzatul Mukminin, Muhammad Jamaluddin
al-Qasimi, hal.480.


[2]shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah
dalam sunan-nya, no. 2307; Imam Nasa’i dalam sunnannya, no.1824; Imam Ibnu
Majah dalam sunnannya, no.3358; Imam al-Baghawi dalam syarhus Sunnahnya,
no.1447 dan disahihkan Syaikh al-Albani dalam shahih al-jami’,no.1210 dan
Irwaul Ghalil,no.682.


[3] Lihat adz-Tadzkirah, Imam al-Qurthubi,
hal.15


[4]Hasan: Diriwayatkan  Ibnu Majah dalam Su.nannya,no. 4259 dan
dishahih kan Syaikh al-Albani dalam shahih al-jami’, no.7978.


[5]Lihat adz-Tadzkirah, Imam al-Qurthubi, hal.9
danSyarhus Sudur, as-Suyuthi, hal.16.


[6]Lihat Syarhu Sunnah, Imam ak-Baghawi, 5/261


[7] Lihat Kitab Zuhud, Imam Ahmad, no. 772.


[8] Lihay Ihya’ Ulumuddin, 4/412

One Heart Rumah Tangga Satu Hati Satu Langkah

" Meraju Asa Meraih Mimpi di Bawah Bimbingan Syari'ah "











Oleh :

Ustadz Zaenal Abidin Syamsuddin, Lc. 




SEKAPUR SIRIH





Rumah tangga bahagia
adalah angan-angan,  impin dan harapan
semua insan. Angan-angan kadang menjadi impian, impian menjadi harapan, impian
dan harapan bias menjadi kenyataan namun tidak jarang impian dan harapan hannya
menjadi angan-angan yang melelahkan. Seluruh tenaga telah dikerahkan, seluruh
teori telah dipelajari dan seluruh persyaratan telah dipenuhi untuk mewujudkan
rumah tangga yang bahagia , ada yang berhasil akan tetapi tidak sedikit yang
tidak mampu menghadapi badai rumah tangga yang datang silih berganti, bahkan
tidak jarang badai yang nenghantam berhasil meluluh lantahkan mahlighai rumah
tangga yang telah dibinanya, memporak-porandakan ikatan cinta yang telah
dijalinnya dan menggoncangkan jiwa yang sedang dimadu kasih.


      

     


            Kebahagiaan hidup bukan karena
banyak nya harta dan tersedianya fasilitas mewah, gaya hidup gelamor pun tidak
bias dijadikan ukuran, banyak dari mereka yang terpenuhi fasilitas hidup dengan
kemewahan, kantong tidak pernah kering dari duit dan jaminan materi tidak
diragukan, tetapi batin mereka banyak yang tersiksa, ketenangan hidup terusik
dan jiwa mereka terancam, maka benar sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam
:





إن لكل أمة فتنة وإن فتنة أمتي المال





“
Sesungguhnya setiap umat ada fitnah 
(yang merusaknya ) dan fitnah umat ku dari harta “
[1]











            Oleh sebab itu banyak diantara
meraka yang lari dari kenyataan menghadapi problemantika hidup dengan menenggak
minuman keras, menelan obat terlarang dan menghabiskan waktunya di café-café,
alasan meraka untuk mencari ketenangan hidup. Apakah dengan cara seperti itu
ketenangan hidup dan kebahagiaan akan tercapa ? Tidak. Justru kegelisahan hidup
yang akan mereka peroleh karena ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup hanya
bias diperoleh bila hati penuh dengan hidayah dan ketaatan pada pemilik jiwa
yaitu Allah Subahanahu wata’ala , Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:





إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ
آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ،
وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ





“Sesungguhnya
Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu,
niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku
penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu
dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia) “
[2]





            Seluruh manusia dari berbagai macam
profesi, asal-usul dan latar belakang semuannya berharap hidupnya jauh dari
kegelisahan dan kemalangan. Tidak ada jalan paling baik untuk melenyapkan
kegelisahan dan mendatangkan kebahagiaan kecuali dengan mengkonsentrasikin diri
kepada Allah, beramal dengan ikhlas karena Allah dan beribadah sesuai dengan
syariat, menghadapi masalah dengan lapang dada, menyelesaikan problem hidup
dengan tenang hati dan bersifat qona’ah terhadap nasib rezeki yang telah
ditetapkan Allah Subhanahu wata’ala atas hamba- Nya, Itulah maksud
hadist Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam :





ليس الغنى عن كسرة العرض , ولكن الغنى
غنى النفس





“
Bukanlah kaya itu dengan banayaknya harta, tetapi kaya adalah kaya hati.”
[3]





            Umar bin Khotob Radhiyallohu ‘anhu
berkata : “ Wahai manusia, sesungguhnya sebagian sifat rakus merupakan
bagian dari kemiskinan, didak berharap dari manusia merupakan suatu kecukupan.
Dan sungguh kalian mengumpulkan harat yang tidak kalian makan, kalian
berangan-angan dengan sesuatu yang tidak mungkin kalian gapai. Ketahuilah,
bahwa sebagian dari kikir adalah cabang dari kemunafikan, maka berinfaklah,
karan demikian itu lebih baik buat dirimu.”
[4]





            Bila para suami maupun istri
membekali dirinya dengan sifat diatas dalam mengarungi bahtera rumah tangganya,
sebesar apapun tantangan dan masalah yang dihadapi dan seberat apapun ujian dan
cobaan yang dialami, maka kebahagiaan hidup dan ketenangan batin tetap
menyapanya.





[disalin dari buku One
Heart “ rumah tangga satu hati satu langkah”,
penulis Ustadz Zaenal Abidin
Syamsuddin, Lc. Penerbit Pustaka Imam Bonjol Cetakan Ketiga, Muharram 1436H./
November 2014M. ]





Footnote :


[1] Shahih :
disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-jami’, no.2148


[2] Shahih :
diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam sunannya, no.2584, Imam Ibnu
Majah dalam sunannya, no.4107 dan Imam Hakim dalam mustadraknya, no.3657
dan disepakati oleh adz-Dzahabi, sementara Syaikh al-Albani berkata tentang
hadist ini, memang setatusnya seperti yang dikatakan keduanya. Lihat as-Silsilah
as-Shahihah,
no.1359,3/347.


[3] Shahih :
dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, no.1051, Imam at-Tirmdzi
dalam sunannya, no.2373 dan Imam Ibnu Majah dalam sunannya,
no.4137.


[4] Lihat tafsir
Ruhlah Ma’ani, al-Alusi,
3/65-66. Dan lihat Tafsir ad-Duru al-Mantsur,
Imam as-Syuyuthi, 1/262.

Tebar Hewan Qurban 1438H/2017M


Qurban-Qu Bersama Daar El Dzikr


  

Yuk bantu tebar qurban di daerah Perbatasan Sukoharjo - Wonogiri dan sekitarnya, ke daerah yang sulit merasakan qurban, semuanya termasuk daerah binaan Yayasan Daar El Dzikir












Kami membuka kesempatan kepada Koum Muslimin yang akan Berqurban ,



Pilih Hewan Qurban anda;



1. 2jt - 4jt Untuk Domba

2. 21jt / Ekor ( 1/7@ 3jt ) Untuk Sapi



Donasi dapat anda Salurkan dengan datang langsung ke Komplek YDI Daar El Dzikr atau melalui rekening :


BRI Bulu 

No. 6893 0101 0717 533

a.n Yayasan Dakwah Daar El Dzikir


BNI Syariah Solo

No. 03919 70153

a.n Yayasan Dakwah Daar El Dzikr


Komfirmasi sms/telp. ke :

0813-8443-1686



Dengan Format ;


Qurban-Qu#Nama Sahibul Qurban#Alamat#No.Hp#Bentuk Qurban#Bnak Tujuan#Tanggal Transfer#Besar Transfer











Acar Tebar Qurban Pada Tebar Hewan Qurban Bersama Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr Pada Tahun 1437H / 2016M"


Dokumen Penyaluran 52 Ekor Kambing Ke Masjid-masjid Binaan dan Warga Daerah Sekitar Kompleks Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr Bulu - Sukoharjo 1437H / 2017 M