Laman

Bagaimana Sikap Para Pemuda Yang Masih Pemula Terhadap Jama’ah-Jama’ah Yang Ada Sekarang Ini?

" Bagaimana Sikap Para Pemuda Yang Masih Pemula Terhadap Jama’ah-Jama’ah Yang Ada Sekarang Ini?"







Oleh

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan






Pertanyaan :




Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Bagaimana
sikap para pemuda yang masih pemula (dalam mempelajarai Islam,-pent)
terhadap jama’ah-jama’ah yang ada sekarang ini, mengingat
jama’ah-jama’ah tersebut menghendaki mereka, untuk bergabung kepadanya.






Jawaban :




Sungguh Allah dan RasulNya telah memberi kabar tentang akan munculnya
firqah-firqah (golongan-golongan) yang menyelisihi jamaah ahlus sunnah,
dan menjelaskan tentang bagaimana kita bermuamalah (bersikap) dengan
firqah-firqah ini. Allah Ta’ala telah berfirman.





“Artinya : Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah
jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu
dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu
bertakwa.” [Al-An’aam: 153]





Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan hal tersebut
dengan penjelasan yang gambalang, di mana beliau pernah menggaris satu
garis lurus, lalu membuat garis-garis bengkok dari sebelah kanan dan
kirinya, kemudian beliau bersabda mengenai garis yang lurus tersebut,
“Ini adalah jalan Allah”, dan bersabda mengenai garis-baris bengkok,
“Dan ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan tersebut ada setan yang
mengajak manusia kepadanya.” [1]





Dan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tentang suatu kaum yang datang di akhir zaman.


“Artinya : (Akan ada) para penyeru (dai) yang berada di atas
pintu-pintu Jahannam, siapa yang mentaatinya, maka mereka akan
melemparkannya dia ke dalamnya.”[2]





Maka wajib bagi para pemuda dan yang lainnya untuk lepas dari semua
jamaah-jamaah dan firqah-firqah yang menyelisihi jamaah ahlus sunnah,
lalu istiqamah (di atas manhaj ahlus sunnah), dan agar berhati-hati
terhadap dai-dai yang menyeru/mengajak kepada jamaah-jamaah tersebut,
sebagaimana Rasulullah telah memperingatkan untuk berhati-hati dari
mereka, dan agar (senantiasa) komitmen terhadap jamaah ahlus sunnah,
yaitu jamaah tunggal yang berada di atas apa yang Rasulullah dan para
shahabat berada di atasnya, sesuai sabdanya.





“Artinya : Maka sesungguhnya, siapa yang hidup di antara kalian, maka
akan melihat perpecahan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk
berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnahnya para khalifah yang
terbimbing.” [Hadits shahih dari beberapa jalan, dikeluarkan oleh Imam
Ahmad IV/126, Imam At-Tirmidzi: 2676, Imam al-Hakim I/96, dan Al-Baghawi
di dalam Syarhus Sunnah I/105 no. 102]





Rasulullah memerintahkan untuk (selalu) berpegang teguh dengan
sunnahnya dan sunnah para khalifah yang terbimbing serta (memerintahkan)
untuk selalu komitmen terhadap jamaah kaum muslimin dan imamnya, ketika
terjadi perselisihan dan perpecahan (umat).





[sumber : Almanhaj.Or.Id Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah An-As-ilah Al-Manahij
Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II,
Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah
Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]

_______

Footnote

[1]. Beliau hafizhahullah mengisyaratkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu yang tsabit (termaktub) di dalam Ash-Shahih bahwa ia berkata:
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuat satu garis dengan
tangannya kemudian dia bersabda: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.”

Ibnu Mas’ud berkata: Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
membuat garis dari kanan dan kiri garis tersebut, kemudian
beliaubersabda.

“Ini adalah jalan-jalan, yang tidak satu jalan pun darinya kecualiada setan yang menyerunya.

Kemudian beliau membaca.

“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah iadan jangan mengikuti jalan-jalan.” [HR. Imam Ahmad I/465]

Dan lafazh yang mendekati adalah hadits yang diriwyatkan oleh Al-Hakim
II/318, yang lafadznya: Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasallam membuat untuk kami suatu garis kemudian beliau membuat
garis-garis dari kanan dan kirinya, kemudian bersabda.

“Ini adalah jalan Allah, sedangkan ini adalah jalan-jalan yang pada
setiap jalan ini ada setan yang menyeru kepadanya….” [Al-Hadits]

Al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih, Bukhari dan Muslimi tidak mengeluarkannya”, dan adz-Dzahabi menyetujuinya.


[2]. Ini adalah potongan hadits Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu
‘anhu di mana ia berkata, “Pada waktu itu manusia bertanya kepada
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedang aku
bertanya kepadanya tentang kejelekan karena khawatir hal itu akan
menimpaku, maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dulu
pernah hidup pada masa jahiliyyah dan kejahatan. Kemudian Allah
memberikan pada kita kebaikan (Islam), apakah setelah kebaikan ini ada
kejelekan’. Maka Rasulullah menjawab.

‘Benar, (hal itu akan terjadi, pent)’. Aku bertanya lagi: ‘Apakah
setelah adanya kejelekan itu akan ada kebaikan?’, ‘Benar, di dalamnya
ada kerusakan’. Lalu aku (Hudzaifan) bertanya lagi, ‘Dan apa
setelahkebaikan ada kejelekan lagi?’

Beliau menjawab.

‘Ada suatu kaum yang menunjuki tanpa dengan petunjukku, engkau mengenal di antara mereka dan engkau mengingkarinya.’

Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan ada kejelekan lagi?’

Beliau menjawab.

“Ya, (yaitu) para dai (yang menyeru) ke pintu Jahannam, siapa yang
menjawab (seruan) mereka, ia akan mereka lemparkan ke dalamnya.’

Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, terangkanlah sifat-sifat merekakepada kami’.

Beliau menjawab.

‘Mereka ini berasal dari kulit kita sendiri dan berbicara denganbahasa kita pula.’

Saya bertanya, ‘Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami jika kami menjumpai hal itu?’

Beliau menjawab.

“Tetapi (jangan tingkalkan) jamaah kaum muslimin!”

Aku berkata, “Jika mereka (muslimin) tidak memiliki jamaah dan Imam?”

Maka beliau menjawab.

“Berlepaslah kamu dari semua firqah-firqah (golongan-golongan),walaupun
kamu harus menggigit akar pohon sampai engkau meninggal dunia sedang
engkau dalam keadaan demikian.” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari no. 3411,
dan ini lafazh bagi dia,dikeluarkan pula oleh Muslim, Al-Hakim dan yang
lain]






Program Penyaluran Uang Riba



Kami  siap menyalurkan dana riba dan syubhat untuk fasilitas umum.

Salurkan  melalui rekening :




BRI 
Nomor rekening : 6893010717533
a/n Yayasan Dakwah Daar El Dzikir



BNI Syariah
Nomer rekening : 0391970153
a/n Yayasan Daar El Dzikir



Konfirmasi ke : 


 


0813 8443 1686 / 0852 2938 5801


 


Dengan format : UangRiba#Bank#Nominal#Tanggal


 


Contoh : UangRiba#BRI#2.00.000#21Maret2017






















Pengaruh Ilmu

" Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan dan pelita bagi orang yang sedang berjalan.."









Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan dan pelita bagi orang yang
sedang berjalan. Ia merupakan poros kemajuan dan perkembangan juga
merupakan jalan kebangkitan bagi dunia Islam untuk membangun peradaban
yang indah, perekonomian yang kuat dan pribadi yang seimbang.




Keutamaan ilmu dan urgensinya telah dijelaskan dalam kitab-kitab para
Ulama dan saat ini kita tidak membicarakan itu. Kali ini, kita akan
fokus pembicaraan tentang hakekat nilai ilmu, dampak dan buahnya.


Majunya suatu umat bukan diukur dengan banyaknya wawasan yang telah
terisikan dalam kepala, tidak juga dengan banyaknya hafalan yang
diucapkan oleh mulut, akan tetapi diukur dengan efek dari ilmu tersebut
dalam prilakunya dan hatinya. Jika jujur melihat kondisi kaum Muslimin
saat ini, kita dapati mereka sangat membutuhkan pengembangan efek ilmu
itu dalam  segala bidang dan lini kehidupan.





Diantara yang melemahkan efek ilmu bahkan menghilangkan sebagian
nilainya adalah adanya sebagian orang yang menjadikan ilmu sebagai
perhiasan yang berbangga diri dengannya. Mereka ini menjadikan ilmu
sebagai tangga untuk meraih popularitas, menumpuk harta, atau mendulang
pujian manusia. Na’udzubillah


Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :





لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَالنَّارَ النَّارَ





Janganlah kalian menuntut ilmu demi membanggakannya dihadapan
Ulama, jangan juga untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan juga
agar unggul di forum-forum. Barangsiapa yang melakukan demikian maka
neraka-neraka”
[HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Hadits ini dinilai shahih Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak]





Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Dahulu tidaklah
seseorang belajar ilmu, kecuali tidak lama kemudian terlihat efek ilmu
dalam kakhusyu’annya, dalam pandangannya, lisannya, tangannya,
shalatnya, pembicaraannya dan zuhudnya”





Efek ilmu dalam jiwa itu bertingkat-tingkat dan berbeda-beda sesuai
dengan perbedaan jiwa masing-masing. Dari Abu Musa al-Asy’ari
Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :





مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الذي أُرسلتُ به





Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allâh utus aku untuk membawanya
adalah seperti hujan deras yang mengguyur tanah. Maka ada tanah yang
baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan
rerumputan yang lebat. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib, tanah
yang bisa menampung air (namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka
Allâh menjadikannya bermanfaat bagi manusia, mereka dapat mengambil air
minum dari tanah ini, lalu memberi minum untuk hewan ternaknya, dan
manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah 
tanah qi’an yaitu tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa
menumbuhkan tetumbuhan. Inilah permisalan orang yang memahami agama
Allâh, sehingga bermanfaat baginya ajaran yang Allâh utus aku untuk
membawanya, maka iapun mengilmuinya dan mengajarkan ilmu. Dan
perumpamaan orang yang tidak memperdulikan ilmu, dia tidak mau menerima
petunjuk yang Allâh mengutusku dengannya.”
[HR. Al-Bukhâri].





Iman merupakan pengendali dan pengarah jalan bagi ilmu agar efek baik
terwujud. Jika ilmu tidak disertai dengan iman, maka kebaikan ilmu akan
berubah menjadi keburukan, manfaatnya menjadi kemudorotan, dan efek
buruknya akan terlihat pada individu dan umat.


Mereka yang memiliki ilmu, namun berlaku sombong dan mengingkari
karunia Allâh Azza wa Jalla , mengingkari Rabb yang telah menciptakan
mereka, sampai akhirnya terjerumus dalam kekufuran dan atheisme,
penyebabnya adalah ilmu dan hati mereka tidak tersucikan dengan
keimanan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:





فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا
بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ
يَسْتَهْزِئُونَ





Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus
kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa
senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh
adzab Allâh yang selalu mereka perolok-olokkan itu
[Ghâfir/40:83]





Ilmu akan memberikan buahnya dalam budaya, pemikiran dan adab tatkala
terikat dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Tidak mungkin bagi umat ini bisa
membuktikan eksistensinya sehingga bisa mengendalikan kepemimpinan dan
berada pada posisi terdepan tanpa al-Qur’an dan As-Sunnah.





Al-Qur’an memiliki pengaruh yang tidak akan berakhir. Al-Qur’an
mengangkat derajat individu dan masyarakat di dunia dan akhirat.
Siapapun yang mendekatinya ia akan naik derajatnya dan meningkat,
sebaliknya siapapun yang meninggalkannya pasti ia akan celaka dan
terpuruk. Al-Qur’an membentuk kepribadian yang sempurna, mengharumkan
nama suatu umat dan membimbingnya agar memiliki peradaban tinggi dan
menjadi yang terdepan.





Umat yang mengerti akan arti dan urgensi al-Qur’an, mereka pasti akan
memberikan porsi perhatian yang besar kepada al-Qur’an. Mereka akan
membacanya,  memahaminya, mentadabburinya lalu mengamalkannya.





Ilmu juga berpengaruh pada akhlak yang merupakan barometer suatu
umat. Ilmu sendiri tanpa tarbiyah tidak akan membuahkan generasi yang
sukses. Jika ilmu telah bisa membenahi akhlak, meluruskan etika dan
membersihkan hati, maka itulah ilmu yang diharapkan.





Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Jika siang hariku sama
dengan siang hari orang pandir, dan malamku seperti malam orang jahil,
lalu apa yang telah aku lakukan terhadap ilmu yang telah aku catat?”


Apalah artinya ilmu, jika hasad dan dendam tetap bercokol di hati?
Forum-forumnya penuh dengan ghibah, namimah dan berbagai keburukan
lainnya?





Apalah artinya ilmu, jika pemiliknya ternyata menentang Robnya dengan
melanggar syari’at-Nya, mengkhianati agama, negeri dan masyarakatnya?!
Serta berdusta dalam perbuatan dan interaksinya dengan orang lain?!





Sungguh ia telah merobek tirai kemuliaan ilmu dan memadamkan cahayanya dengan tingkah dan akhlak buruknya.





Alangkah besar dosanya, jika dengan sebab itu masyarakat menjauhi dan
membenci syari’at Allâh n yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam .





Dampak baik dari ilmu juga tampak pada perkembangan akal, pemikiran yang lurus, logika yang mapan dan argumen yang kuat.





Demi mewujudkan itu semua, al-Qur’an al-Karim mendidik kaum Muslimin
yang membacanya agar merenungkan ayat-ayat Allâh, dan mentadaburi
keajaiban-keajaiban kekuasaan Allâh yang tersebar di penjuru alam
semesta dan kehidupan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :





سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ





Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)
Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas
bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar. 
[Fusshilat/41:53]





Lalu Allâh Azza wa Jalla menutup banyak ayat-Nya dengan firman-Nya, yang artinya, “Apakah kalian tidak berakal?”… Apakah kalian tidak berfikir?”… “Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?”


Ini semua untuk mengaktifkan dan mengembangkan akal serta melatihnya menempuh metode-metode berfikir yang tersetruktur.





Manfaat ilmu itu seharusnya juga tampak dalam kemampuan seserorang
menjaga diri dari syubhat-syubhat dan pemikiran-pemikiran menyimpang dan
batil. Ini tidak mungkin diperoleh kecuali dengan belajar ilmu syar’i
dan mengikat para pemuda dengan aturan-aturan syari’at, terutama
pengaruh kelompok-kelompok sesat yang menyusup ke tengah kaum Muslimin.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:





وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ





Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak
menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
melampaui batas
[Al-An’âm/6:119]





Dan masih banyak lagi pengaruh baik lainnya yang merupakan buah dari ilmu.





Akhirnya kita berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar terus berkenan
menganugerahkan taufiq-Nya kepada kita dengan memberikan ilmu yang
bermanfaat kepada kita.





[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2015M.9]

_______

Footnote

[1] Diadaptasi dari khutbah Jum’ah yang disampaikan oleh Syaikh DR. Abdul Bâri ats-Tsubaiti di Masjid Nabawi pada tanggal 13 Dzulqa’dah 1436 H dengan judul Atsarul ilmi fi Nufûs





Ekstra Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama







Dalam situasi seperti masa-masa sekarang ini, saatnya kita super
hati-hati dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan ilmu agama.





Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:





 “Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).






Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini.. oleh karena
itu, harusnya kita selalu wasapada dan mengingat terus pesan-pesan para
ulama Ahlussunnah dalam masalah ini:





Sahabat Ibnu Abbas –rodhiallohu anhuma-:


“Dahulu, jika kami mendengar orang mengatakan ‘Nabi shollallohu
alaihi wasallam bersabda’; mata-mata kami langsung tertuju kepadanya,
dan telinga-telinga kami juga langsung mendengarkannya dg seksama.


Lalu ketika orang-orang menaiki tunggangan yg liar dan jinak (yakni:
menceburkan diri dalam urusan yg tidak mereka kuasai dg baik); maka kami
pun tidak mengambil dari orang-orang, kecuali ilmu yg kami ketahui
(sebelumnya)” (Muqoddimah Shahih Muslim 1/13).





Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:





“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika
terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang
(sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah;
haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah;
haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).





Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:





“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).





Imam Ibrohim An-Nakho’i –rohimahulloh-:





“Dahulu, jika mereka ingin mengambil (ilmu agama) dari seseorang;
mereka (lebih dahulu) melihat kepada shalatnya, kepada penampilan
lahirnya, dan kepada perhatiannya terhadap sunnah”. (Al-Jarhu Wat Ta’dil libni Abi Hatim 2/29).





Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua dalam menimba ilmu agama, dan semoga Allah meneguhkan kita di atas sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam, amin.





***





Penulis: Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc., MA


Artikel Muslim.or.id




Jadilah Dokter, Bukan Hakim!

Nasihat " Jadilah Dokter, Bukan Hakim !



Kesehatan adalah mahkota di atas kepala
orang-orang yang sehat, hanya orang sakit saja yang dapat melihat
mahkota tersebut. Sering kita merasakan betapa besarnya nikmat sehat di
kala sakit.




Seorang muslim saat sakit, ia sabar
mengharapkan rahmat Allah berupa penghapusan dosa, bertambahnya pahala
dan ketinggian derajat di sisiNya. Ia berdoa kepada Allah memohon
kesembuhan. Ia berikhtiar berobat dengan jalan yang diperbolehkan
syariat. Ia berobat dengan doa, sedekah, ruqiyah, minum air zam-zam dan
berobat ke dokter.





Ia tidak berobat ke dukun. Ia tidak
berobat ke paranormal atau “orang pintar”. Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang mendatangi tukang
ramal atau dukun lalu ia membenarkannya dengan apa yang ia katakan maka
ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad”
(Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Hakim).






Sesungguhnya ada penyakit yang lebih
berbahaya dari penyakit fisik. Yaitu penyakit hati berupa kesyirikan,
beribadah tanpa mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam, sombong, iri dengki, tamak terhadap harta, riya dan maksiat
lainnya yang sering tidak disadari apalagi diobati.





Penyakit-penyakit hati bahayanya tidak
saja membinasakan penderitanya di dunia tapi juga di akhirat akan
mendapatkan siksa yang pedih. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita “Qalbun Salim”.
Kewajiban setiap muslim untuk mengobati penyakit hati. Mengobatinya
dengan berdoa, membaca, memahami dan mengamalkan Al Quran, mengikuti
tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, berdakwah, amar makruf
nahi mungkar dan saling menasehati dengan penuh kasih sayang.





Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (Wafat 751 H) berkata dalam kitab “Ar Ruuh“,


“Nasehat, merupakan perbuatan baik
kepada orang yang Anda nasehati dalam bentuk kasih sayang, rasa kasihan,
cinta dan cemburu. Nasehat itu semata-mata perbuatan baik didasari
kasih sayang, kelembutan dan dimaksudkan hanya mencari ridha Allah.
Nasehat merupakan kebaikan kepada makhlukNya. Ia bersikap lemah-lembut
semaksimal mungkin dalam menjalankan nasehat tersebut dan sabar dalam
menerima gangguan atau celaan dari orang-orang yang dinasehatinya. Ia
bersikap seperti seorang dokter yang ahli. Ia penuh rasa kasih sayang
kepada pasiennya yang menderita sakit komplikasi dan dalam keadaan
setengah sadar. Ia sabar menghadapi kekurangajaran pasiennya dan
tindak-tanduknya yang tidak tahu aturan. Dokter tersebut tetap bersikap
lemah-lembut dan merayunya dengan berbagai cara dalam usahanya untuk
meminumkan obat kepadanya. Begitulah sikap seorang pemberi nasehat”.





Jadilah dokter hati, bukan hakim! Kalau
kita hobi memvonis orang lain maka kita tidak sedang mengobati. Malah
mungkin memperparah penyakit, membinasakan diri dan orang lain. Bukan
berarti kita tidak boleh memvonis. Memvonis kadang diperlukan dengan
syarat ikhlas, dengan data yang akurat, tidak kadaluwarsa dan
memperhatikan maslahat atau madharat. Setiap ucapan dan tulisan kita
akan dipertanggungjawabkan kelak di hari akhirat.





Keterbatasan kita banyak sekali. kurang
ilmu, lemah iman, sedikit ibadah dan rapuh akhlak. Kita harus
memperbaiki diri dan mendidik keluarga. Kita akan ditanya di akhirat
kelak atas amanat ini.





Saudara-saudara kita yang mukhlis
dan sedang membangun kejayaan Islam, jika mereka salah apakah kita
cukup memvonis saja? Pernahkah kita berdoa di tempat dan waktu yang
mustajab untuk perbaikan diri kita dan mereka? Sejauh mana upaya kita
untuk menyelamatkan diri kita dan mereka dari belitan iblis dan
kungkungan hawa nafsu yang membutakan?





Apakah cara kita sudah tepat dan bijak
dalam amar ma’ruf nahi mungkar? Kita berusaha seoptimal mungkin
menjadikan orang lain menyadari dan memperbaiki kesalahannya bukan malah
lari dari kebenaran dan antipati terhadap pendukung kebenaran. Semoga
Allah memberikan taufik dan memberkahi waktu, ilmu dan dakwah kita.





Semoga Allah meluruskan niat kita,
menjaga lisan kita dan memudahkan kita untuk banyak beramal shalih
sebagai bekal kita pulang ke kampung akhirat.





Jadilah dokter hati guna memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat!





Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan
memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang patut disembah kecuali
Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.





(Dari buku “MEREKA MENANTI KITA” Oleh: Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Daun Publishing, cet ke 3 Januari 2015)

sumber :  http://www.fariqanuz.com/

Laporan Pemasukan Donasi Pembangunan Islamic Centre Daar El Dzikr Sampai Februari 2017



Laporan Donsi Pembangunan Islamic Center Daar El Dzikr




Laporan Pemasukan Donasi Sampai Februari 2017 Sebagai Berikut :




































 




 
93. Hamba Alloh Rp 200.000 ( Tunai )  11 Oktober 2016


 
94. Sava Alma Rp 50.000 ( Tunai ) 20 Oktober 2016


 
95. Hamba Alloh Rp 300.000 ( Tunai ) 20 Oktober 2016


 
96. Hamba Alloh Rp 1.500.000 ( BNI ) 26 Oktober 2016


 
97. Hamba Alloh Rp 500.000 ( Tunai ) 31Oktober 2016


 
89. Pembayaran uged SDU  Rp. 2.520.000


 
99. Hamba Alloh Rp 500.000 ( Tunai ) 02 November 2016


100. Rosmiyati ibnati Kartakusuma Rp 5.000.000 ( BRI ) 06 November 2016


101. Hamba Alloh Rp 700.000 ( BNI ) 08 November 2016


102. Ghozy Rp. 1.000.000 ( Tunai ) 10 Oktober 2016


103. Koesdijanto Rp. 1.000.000 ( BNI ) 10 November 2016


104. Komite Ortu Kls.2a Rp. 500.000 ( Tunai ) 14 N0vember 2016


105. Abu Salma Rp. 1.300.000 ( BNI ) 14 November 2016


106. Jama'ah Ustadz Zaenal Abidin Rp. 50.000.000 ( BNI) 16 November 2016


107. Agus Dwi Sanjoyo Rp. 300.000 ( BNI ) 28 November 2016


108. Sava Alma Rp 50.000 ( Tunai ) 02 Desember 2016


109. Ibu Sumarsih Rp 230.000 ( Tunai ) 03 Desember 2016


110. Hamba Alloh Rp. 10.000.000 ( BRI ) 16 Desember 2016


111. Jama'ah Ustadz Zaenal Abidin Rp 50.000.000 ( BNI) 20 Desember 2016


112. Agus Dwi Sanjoyo Rp. 300.000 ( Tunai ) 4 Januari 2017

113. Abu Dzaky Rp. 250.000 ( BNI )13 Januari 2017

114. Sri Lestari Rp. 200.000 (Tunai) 19 Januari 2017

115. Hamba Alloh Rp. 50.000.000 ( Trans Rek.Pak Maji ) 27 Januari 2017

116. Hamba Alloh Rp. 500.000 (BRI) 08 Februari 2017

117. Muhammad Fadhil Rp. 300.000 ( BRI) 16 Februari 2017




Total Donasi Sampa Saat Ini : Rp 547.150.500

Pengeluaran Umtuk Pembangunan : Rp 527.892.500



Saldo Sampai Saat Ini : Rp 10.058.000







   


Kami masih terus memberi kesempatan kepara para donatur untuk berpartisipasi dalam pembangunan Islamic Centre Daar El Dzikr. Dana yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 672.000.000 dan sudah terkumpul mencapai 81%





Salurkan Donasi kenomer rekening : 





BNI Syariah Surakarta 


No : 03919 70153


a.n Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr





BRI Cab.Bulu - Sukoharjo


No : 6893 0101 1485 537


a.n Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr





sms konfirmasi :


PPICD#Bank#Nominal#Nama#Tangal





Kirim ke ;


1. 0813 8443 1686 ( ust.Jumanto.S.Pd.I ) Mudir


2, 0852 2938 5801 ( Darmono ) Bendahara




Semoga Alloh Membalas amal kebaikan sodara dengan balasan yang lebih baik didunia dan akhirat





Jazakumullohu Khoeren Katsiron



Sikap Ahlussunnah Diantara Firqah-Firqah Sesat





SIKAP AHLUSSUNNAH DI ANTARA FIRQAH-FIRQAH SESAT [1]





Aqidah Ahlussunnah wal Jamâ’ah adalah aqidah Islam yang benar, berada
di pertengahan di antara akidah-aqidah golongan-golongan sesat yang
menisbatkan diri kepada agama Islam. Dalam setiap bab-bab akidah,
Ahlussunnah wal Jamâ’ah berada ditengah antara dua golongan, yang
pemikiran keduanya saling bertentangan, salah satunya ghuluw (melewati
batas), yang lain meremehkannya. Jadi, akidah ahlussunnah wal Jamâ’ah
adalah akidah yang haq di antara dua kebatilan. Inilah di antara contoh
hal tersebut.


  1. DALAM BAB IBADAH



Di dalam bab ibadah, Ahlussunnah berada di tengah-tengah antara
golongan  Râfidhah juga Shûfiyah dengan golongan Duruz dan Nushairiyyah.


Golongan  Râfidhah dan Shûfiyah menyembah Allâh Azza wa Jalla dengan
ibadah yang tidak disyari’atkan, seperti berbagai dzikir, tawassul, dan
membuat hari raya dan perayaan bid’ah, membangun kubur, shalat di
dekatnya, thawaf mengelilingi kuburan, dan menyembelih binatang di
dekatnya. Banyak di antara mereka menyembah orang-orang yang telah
dikubur dengan cara menyembelih untuk mereka, berdoa kepada mereka agar
menjadi perantara kepada Allâh Azza wa Jalla untuk mendatangkan perkara
yang diinginkan atau menolak perkara yang dikhawatirkan.





Sebaliknya, golongan Duruz dan Nushairiyyah, yang menamakan diri dengan ‘Alawiyyin,
meninggalkan peribadatan kepada Allâh sama sekali. Mereka tidak
menjalankan shalat, tidak berpuasa, tidak menunaikan zakat, tidak
berhaji dan seterusnya.





Ahlussunnah wal Jamâ’ah berada diantara dua golongan tersebut. Mereka
beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan cara yang telah dijelaskan
dalam kitabullâh, al-Qur’an dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Mereka tidak meninggalkan ibadah-ibadah yang telah Allâh
wajibkan atas mereka. Mereka juga tidak membuat-buat ibadah baru
berdasarkan kemauan diri mereka sendiri. Ini sebagai realisasi dari
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :





مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ





Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini,
apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. [HR. Al-Bukhâri no. 2697
dan Muslim no. 1718]




Di dalam riwayat laim imam Muslim:



مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ





Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami padanya, maka amalan itu tertolak. [HR. Muslim no. 1718]





Dan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah Beliau:





«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ،
وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»





Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah kitab
Allâh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk
perkara (dalam agama) adalah perkara-perkara yang baru, dan semua
perkara baru (dalam agama) adalah kesesatan.
[HR. Muslim, no. 867]





2.DALAM BAB : NAMA DAN SIFAT ALLAH





Ahlussunnah wal Jamâ’ah bersikap tengah dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allâh di antara golongan mu’atthilah dengan golongan mumats-tsilah.





Di antara golongan mu’atthilah, ada yang mengingkari semua
nama dan sifat-sifat Allâh, seperti golongan Jahmiyyah. Diantara mereka 
ada yang mengingkari sifat-sifat Allâh, seperti golongan Mu’tazilah.
Dan di antara mereka  ada yang mengingkari mayoritas sifat-sifat Allâh
dan menta’wilkannya, seperti golongan Asyâ’irah. Ini mereka lakukan
berdasarkan akal mereka yang dangkal, dan lebih mendahulukan akal
daripada kitab  Allâh dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Mereka seakan mengukur nash-nash syari’at dengan akal mereka.
Nash yang diterima akal mereka, diterima, sedangkan nash yang tidak
diterima akal mereka, ditolak atau dita’wilkan. Mereka menganggap itu
sebagai tanzîh (sikap mensucikan Allâh Azza
wa Jalla). Mereka menjadikan nash-nash syari’at sebagai terdakwa, bukan
sebagai hakim. Mereka menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber ilmu
mereka, al-Qur’an dan as-Sunnah harus mengikuti akal. Perkara-perkara
yang diputuskan oleh akal mereka anggap sebagai prinsip-prinsip global
yang pertama, tidak membutuhkan nash-nash syari’at.





Oleh karena itu mereka menetapkan berbagai kewajiban atau keharusan
dan berbagai larangan atau kemustahilan pada diri Allâh Azza wa Jalla
dengan argumen-argumen akal menurut mereka. Mereka mengganggapnya
sebagai kebenaran, padahal itu kebatilan. Mereka menentang nash-nash
al-Qur’an dan as-Sunnah dengan akal, sehingga ada salah seorang di
antara mereka berkata:





وَكُلُّ نَصٍّ أَوْهَمَ التَّشْبِيْهَا … أَوِّلْهُ أَوْ فَوِّضْ وَرُمْ تَنْزِيْهَا





Semua nash yang menyebabkan salah faham adanya tasybîh (keserupaan Allâh dengan makhluk-pent), takwilkan, atau tafwidh-kan, dan carilah tanzîh (kesucian Allâh-pent).





Silahkan lihat perkataan ini di dalam kitab Jauharut Tauhîd, karya Ibrahim al-Laqâni al-Asy’ari dengan syarah (penjelasan)nya karya Al-Baijuuri, hlm. 91





Mereka ini menolak nash syari’at dan menta’wilkannya dari maknanya
yang hakiki yang difahami kepada makna yang jauh, dengan tanpa dalil
dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka mengatakan, “Yang dimaksud bukanlah
makna yang ditunjukkan oleh zhahir nash, tetapi yang benar adalah apa
yang telah ketahui dari akal kita.” Kemudian mereka berusaha
menta’wilkan nash-nash kepada macam-macam ta’wil yang sesuai dengan
pendapat mereka. Oleh karena itu, kebanyakan mereka tidak menetapka
ta’wil, tetapi mereka berkata, “Mungkin yang dimaksudkan demikian, boleh
jadi yang dimaksudkan demikian.” Dan mereka berselisih di dalam
menta’wilkan sebagian sifat-sifat dengan perselisihan yang banyak.





Diantara mereka ada juga yang mengatakan, “Sesungguhnya Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan apa yang dimaksudkan
dari nash, tetapi kita telah mengetahui kebenaran dengan akal kita.”
Sikap mereka itu merupakan bentuk tuduhan kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bahwa Beliau tidak menjelaskan al-Qur’an, padahal
Allâh telah mengutus Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
menjelasakan al-Qur’an, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :





وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ





Dan Kami turunkan adz-Dzikr (peringatan; al-Qur’an) kepadamu,
agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka
. [An-Nahl/16: 44]





Mereka memandang bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara
dalam masalah sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan pembicaaran yang
dimaksudkan bukanlah makna yang sesungguhnya yang segera difahami, dan
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepada manusia,
dan bahwa Salaf (orang-orang dahulu) dari kalangan Sahabat dan
orang-orang setelah mereka tidak memahaminya dan tidak menjelasakannya
kepada manusia. Sampai datang al-Asy’ari dan orang-orang setelahnya yang
mengikuti jalannya, lalu mereka ini mengetahuinya dan menjelaskannya
kepada manusia. Ini adalah pendapat yang nyata kebatilannya, dan nyata
menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sempurna di dalam
menyampaikan risalah (tugas diutusnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ).Sesungguhnya sebab yang menjerumuskan golongan muawwilah
ke dalam ta’wil adalah karena mereka membanding-bandingkan sifat-sifat
al-Khâliq k dengan sifat-sifat makhluk. Kemudian hal itu mendorong
mereka melakukan ta’wil terhadap kebanyakan sifat-sifat Allâh Subhanahu
wa Ta’ala yang telah ditetapkan di dalam al-Kitab dab as-Sunnah. Karena
mereka mengangap sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla itu menyerupai
sifat-sifat makhluk. Ini adalah kesalahan yang nyata, karena Allâh Azza
wa Jalla berfirman:





لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ





Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. [Asy-Syûrâ/42:11]





Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat yang sesuai
dengan kebesaran-Nya dan keagungan-Nya, demikian pula makhluk memiliki
sifat-sifat yang sesuai dengan kefakirannya, kehinaannya, dan
kelemahannya.





Sehingga sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla tidak menyamai sifat-sifat makhluk. (Silahkan lihat Kitâb at-Tauîid, 1/57-117, karya Ibnu Khuzaimah; Majmû’ Fatâwâ, 5/27, karya Ibnu Taimiyah; Syarah Thahâwiyah, hlm. 57-68, karya Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi)





Sedangkan golongan mumats-tsilah, mereka membuat
persamaan-persamaan bagi Allâh Azza wa Jalla . Mereka menganggap
sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla sama dengan sifat-sifat makhluk.
Sebagian mereka berkata, “Tangan Allâh Azza wa Jalla seperti tanganku”,
“Pendengaran Allâh Subhanahu wa Ta’ala seperti pendengaranku”. Maha suci
Allâh Azza wa Jalla dari perkataan mereka.





Kemudian Allâh Azza wa Jalla memberi petunjuk kepada Ahlussunnah wal
Jama’ah dengan pendapat yang pertengahan di dalam bab ini. Yaitu
pendapat yang ditunjukkan oleh Kitab Allâh dan Sunnah Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka beriman kepada semua nama-nama
Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan semua sifat-sifatNya yang ditetapkan di
dalam nash-nash syari’at. Sehingga mereka menyifati Allâh Subhanahu wa
Ta’ala dengan sifat-sifat yang Allâh sifati diri-Nya dengan sifat-sifat
tersebut, dan dengan sifat-sifat yang disifatkan oleh manusia yang
paling mengenal-Nya, yaitu Rasul-Nya, Nabi Muhammad bin Abdullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ahlussunnah menyifati Allâh Azza wa Jalla
dengan tanpa ta’thîl, ta’wîl, tamtsîl, dan takyîf.
Mereka mengimani bahwa itu adalah sifat-sifat Allâh yang sebenarnya,
sifat-sifat yang pantas dengan keagungan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , dan
tidak menyerupai sifat-sifat makhluk. Itu semua sebagai pengamalan
firman Allâh Azza wa Jalla :





لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ





Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Asy-Syuuraa/42: 11]





Ahlussunnah wal Jama’ah bersandar kepada nash-nash syari’at, dan
lebih mengedepankan nash-nash syari’at dari pada akal manusia. Mereka
menjadikan akal manusia sebagai sarana untuk memahami nash-nash
syari’at, dan sebagai syarat untuk mengenal segala ilmu, dan
kesempurnaan serta kebaikan semua amalan. Dengan akal manusia, ilmu dan
amal menjadi sempurna, tetapi akal tidak bisa berdiri sendiri dalam hal
ini.





Dengan demikian Ahlussunnah wal Jama’ah juga bersikap tengah dalam
masalah akal,  mereka tidak mengedepankan akal di atas nash-nash
syari’at, sebagaimana dilakukan oleh para ahli kalam dari kalangan
Mu’tazilah, Asya’irah dan lainnya. Namun  Ahlussunnah wal Jama’ah juga
tidak menyia-nyiakan akal dan mencelanya, sebagaimana dilakukan oleh
banyak orang-orang shufiyah. Mereka ini mencela akal, dan menetapkan
perkara-perkara yang didustakan oleh akal yang sehat. Mereka juga
mempercayai pada perkara-perkara yang diketahui kedustaannya oleh akal
yang sehat.





[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIX/1436H/2015. ]


Sumber : Almanhaj.Or.Id

_______

Footnote

[1] Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 20-25, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin.