Mengapa Terjerumus Dalam Ibadah Kepada Selain Allah?
MENGAPA TERJERUMUS DALAM IBADAH KEPADA SELAIN ALLÂH?
Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
Tidak seorangpun Muslim yang mengingkari bahwa beribadah kepada selain
Allâh adalah kufur dan syirik akbar. Tetapi mengapa sebagian kaum
Muslimin terjerumus ke dalam kemusyrikan ini? Ternyata terdapat
masalah-masalah rancu yang melilit pemahaman sebagian kaum Muslimin,
sehingga tanpa disadari mereka terperangkap ke dalamnya.
Ada beberapa sebab yang mengakibatkan rancunya masalah-masalah itu,
mudah-mudahan pemaparan yang singkat ini, dengan taufiq Allâh, akan
membuka hati kaum Muslimin untuk lebih menjaga keutuhan tauhidnya dan
menjauhi segala wasilah syirik. Beberapa sebab itu antara lain berupa
kesalahan dalam hal-hal berikut.
PENGERTIAN BERHALA
Menyembah atau beribadah kepada berhala, jelas merupakan kekafiran. Jika
itu dilakukan bersamaan dengan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla ,
berarti itu adalah kemusyrikan, syirik akbar. Banyak sekali nash yang
menegaskan supaya orang di zaman ini atau zaman sebelumnya, meninggalkan
penyembahan kepada sesembahan-sesembahan selain Allâh Azza wa Jalla
itu. Di antaranya firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allâh, maka janganlah kamu
menyembah apapun selain Allâh di dalamnya. [al-Jin/72:18].
Ketika Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh 'Abdullâh
bin Mas'ûd Radhiyallahu anhu tentang dosa apakah yang paling besar,
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. رواه البخاري ومسلم
Apabila engkau menjadikan selain Allâh sebagai tandinganNya yang
disembah, padahal Dialah yang telah menciptakan engkau. [HR Bukhârî dan
Muslim][1].
Namun ada sebagian kaum Muslimin yang keliru memahami. Menurut anggapan
mereka, berhala hanyalah patung, kayu, batu, pohon, serta tempat-tempat
keramat yang biasa disembah oleh orang-orang Hindu, Budha dan sejenisnya
yang bukan beragama Islam. Sedangkan kuburun orang-orang shalih yang
dipuja-puja atau yang biasa dikunjungi oleh sebagian kaum Muslimin untuk
mencari wasilah mendapatkan berkah, tidak dianggap sebagai berhala.
Maka ketika sebagian kaum Muslimin berbondong-bondong ngalap berkah dari
berbagai penjuru daerah ke tempat-tempat yang dianggap sakral di
kuburan orang-orang shalih untuk memohon berkah kepada penghuni kuburan
atau mencari syafa'at, hal itu tidak dianggap sebagai penyimpangan dalam
peribadatan dan bukan peribadatan kepada selain Allâh Azza wa Jalla.
Bahkan justeru dianggap jenis peribadatan kepada Allâh Azza wa Jalla
yang utama. Ini jelas batil.
Karena fakta inilah, maka Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menegaskan larangannya agar tidak menjadikan kuburannya sebagai berhala.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا...الحديث، رواه أحمد
Ya Allâh, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala. [HR Ahmad
dalam al-Musnad. Syaikh Ahmad Muhammad Syâkir menyebutkan, isnadnya
Shahîh][2].
Hadits ini menunjukkan bahwa jika kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam disembah, tentu akan menjadi berhala. Akan tetapi Allâh Azza wa
Jalla menjaganya hingga manusia terhalang untuk menyembahnya [3]. Pada
hadits lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan
larangannya agar tidak menjadikan kuburannya sebagai lahan perayaan
karena hal itu akan menjadi wasilah menuju kemusyrikan, menuju
pemberhalaan terhadap kuburan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَ لاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِي عِيْدًا. رواه أبو داود
Janganlah engkau jadikan rumah-rumahmu menjadi (seperti) kuburan, dan
janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan. [HR Abu
Dawud, dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani] [4].
Kesimpulannya, berhala adalah segala sesuatu yang dijadikan sesembahan
selain Allâh Azza wa Jalla , baik berupa kuburan atau benda-benda
keramat yang ada di dalamnya [5], termasuk makhluk halus atau benda apa
saja yang menjadi tumpuan harapan atau tumpuan ngalap berkah. Itulah
berhala. Wallâhu al-Musta'ân.
PENGERTIAN IBADAH
Pengertian Ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla juga banyak disalahfahami
oleh banyak umat Islam. Sebagian di antara mereka memiliki asumsi bahwa
ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala terbatas pada amaliah lahiriyah
shalat, puasa, haji, zakat dan amaliah-amaliah lahiriyah lainnya saja.
Di sisi lain ada yang menganggap bahwa ziarah kubur para wali atau
orang-orang shalih pada hari-hari tertentu, bahkan menyengaja melakukan
perjalan jauh (syaddu ar-Rihâl) ke kuburan-kuburan itu merupakan ibadah
kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang sangat utama.
Pada saat yang sama, sikap mengagungkan, cinta, tunduk dan merendahkan
diri kepada tempat-tempat sakral, seperti kepada kuburan orang-orang
shalih, petilasan-petilasan, atau bahkan masjid-masjid kuno yang
dikeramatkan; oleh sebagian kaum Muslimin justeru tidak dianggap sebagai
peribadatan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . Padahal hakikat ibadah
pada prinsipnya adalah sikap merendahkan diri dengan bertumpu pada cinta
dan pengagungan kepada yang diibadahi.[6]
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, ibadah menghimpun dua
pokok; cinta yang setinggi-tingginya dan sikap merendehkan diri serta
tunduk yang setunduk-tunduknya. Siapa saja yang engkau cintai, tetapi
engkau tidak tunduk kepadanya, maka engkau bukan penghamba terhadapnya.
Begitu pula sebaliknya. Siapa saja yang engkau tunduk kepadanya, tetapi
tidak menyintainya, engkaupun bukan penghamba terhadapnya. Sampai engkau
betul-betul menyintainya dan betul-betul tunduk serta merendahan diri
kepadanya[7]
Apabila seseorang melaksanakan kewajiban atau melakukan amaliah
lahiriyah, didorong oleh sikap merendahkan diri yang didasari kecintaan
dan sekaligus pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla , maka itu adalah
ibadah yang sebenarnya. Salah satu contohnya terkait dengan sabda
Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَاباَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ و مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِإِيْمَانًا وَاحْتِسَاباَ
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. رواه مسلم
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan karena
mencari pahala Allâh, maka akan diampunkan dosanya yang telah berlalu
dan barangsiapa yang mendirikan shalat malam pada malam lailatu qadar
karena iman dan karena mencari pahala Allâh, maka akan diampunkan
dosanya yang telah berlalu. [HR Muslim] [8].
Juga sabda beliau pada riwayat lain:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَاباَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. رواه مسلم
Barangsiapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman
dan karena mencari pahala Allâh, maka akan diampunkan dosanya yang telah
berlalu. [HR Muslim][9].
Maksudnya, puasa dan shalat malam seseorang akan berfungsi benar sebagai
ibadah yang menghapus dosa jika puasa itu dilandasi oleh keimanan dan
dalam rangka mencari pahala Allâh. Mafhum dari penjelasan di atas, jika
seseorang bersikap merendahkan diri dan tunduk dengan dilandasi rasa
cinta dan pengagungan, penuh khidmat, penuh rasa harap dan cemas, kepada
benda-benda atau tempat-tempat yang disakralkan seperti kuburan para
wali, petilasan dan sejenisnya, berarti itu termasuk peribadatan kepada
selain Allâh. Dan hukumnya jelas, termasuk syirik akbar. Wal 'Iyâdzu
Billâh.
MENGIKUTI NENEK MOYANG
Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam adalah
taklid kepada tradisi nenek moyang yang menyimpang. Dan ini sebenarnya
merupakan perilaku dan kebiasaan kaum musyrikin semenjak zaman dahulu.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman menceritakan perihal mereka:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ
نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ
لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allâh", mereka menjawab: "(Tidak) kami hanya akan mengikuti apa yang
kami dapati pada nenek moyang kami biasa melakukannya". Padahal nenek
moyang mereka itu tidak mengetahui apapun dan tidak mendapat petunjuk.
[al-Baqarah/2:170].
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah menjelaskan ayat di atas: Apabila
dikatakan kepada orang-orang kafir dari kalangan kaum musyrikin itu:
"Ikutilah wahyu yang diturunkan Allâh kepada RasulNya, dan tinggalkan
kesesatan serta kebodohan yang kalian lakukan", mereka akan menjawab:
"(Tidak) kami hanya akan mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek
moyang kami", yaitu penyembahan kepada patung-patung dan
berhala-berhala. Maka Allâh pun berfirman mengingkari sikap mereka
(dengan firmanNya pada akhir ayat).[10]
Demikian pula firman Allâh pada ayat lain:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ
نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ
يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan
Allâh", mereka menjawab: "(Tidak) tetapi kami hanya akan mengikuti
kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami". Apakah mereka (akan
mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka
ke dalam azab api neraka yang menyala-nyala? [Luqmân/31:21].
SALAH PERSEPSI TENTANG WASILAH
Merasa bahwa diri penuh dosa, tidak suci dari kesalahan, banyak memiliki
kotoran hati dan banyak melakukan kemaksiatan, adalah perasaan positif
yang akan dapat mendorong seseorang semakin taat dan bertakwa kepada
Allâh serta semakin menjauhi larangan-laranganNya. Tetapi jika seseorang
merasa tidak layak untuk langsung memohon kepada Allâh karena merasa
dirinya terlalu kotor hingga memerlukan wasilah dari orang shalih yang
telah meninggal dunia supaya bisa sampai kepada Allâh, maka ini adalah
suatu kesalahan fatal.
Apalagi jika untuk membenarkan sikap ini, ia berargumen bahwa "menghadap
presiden saja perlu wasilah yang dapat memberikan syafa'at", jelas ia
semakin terjerumus dalam kesalahan yang lebih fatal lagi. Yaitu
menyerupakan Allâh dengan seorang presiden. Mengapa? Sebab sadar atau
tidak sadar, ia telah menganggap bahwa Allâh seperti seorang presiden.
Untuk menghadap Allâh, memerlukan wasilah seperti halnya menghadap
presiden. Padahal presiden banyak memiliki kelemahan, di antaranya tidak
mengetahui persis kebutuhan setiap rakyatnya, sehingga ia memerlukan
pembantu untuk menghubungkan dirinya dengan rakyatnya. Sedangkan Allâh
Azza wa Jalla Maha Sempurna dan Maha mengetahui segala-galanya, tidak
memerlukan satu pembantupun.
Menyerupakan Allâh dengan makhlukNya adalah kufur. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka janganlah kamu menjadikan makhluk-makhluk serupa dengan Allâh.
Sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.
[an-Nahl/16:74].
Pada ayat ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk mengadakan sesuatu yang serupa dengan Allâh.[11]
Kaum musyrikin Arab zaman dahulu juga menjadikan patung-patung yang
menggambarkan orang-orang shalih yang telah meninggal dunia sebagai
wasilah. Mereka menganggap hal ini serupa dengan menghadap para raja
dunia yang memerlukan wasilah.[12] Dan ini adalah kebatilan.
Kaum musyrikin menyatakan bahwa penyembahan mereka kepada para berhala
hanyalah sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allâh dengan
sedekat-dekatnya. Tetapi tindakan mereka itu tetap disebut penyekutuan
terhadap Allâh Azza wa Jalla . Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman
menceritakan tentang kilah kaum musyrikin penyembah berhala itu:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allâh dengan sedekat-dekatnya. [ az-Zumar/39:3].
Imam Ibnu Katsîr t dalam tafsirnya menjelaskan (artinya): Mereka
menyembah patung-patung itu karena menganggap bahwa patung-patung itu
menggambarkan para malaikat yang dekat hubungannya dengan Allâh, supaya
patung-patung malaikat itu memberikan syafa'at kepada mereka di sisi
Allâh.[13]
Jadi itulah tindakan kaum musyrikin zaman dulu, membuat wasilah untuk
mendekatkan diri kepada Allâh dengan sesuatu yang sebenarnya bukan
wasilah. Dan mereka tetap disebut kaum musyrikin. Adapun pembahasan
rinci tentang wasilah yang benar dan yang tidak benar, pernah dikupas di
Majalah As-Sunnah pada edisi beberapa waktu yang lalu.
Demikianlah beberapa sebab yang menjadikan sebagian kaum Muslimin
terjerumus dalam kemusyrikan yang amat berbahaya. Beberapa sebab di atas
hanya beberapa saja yang pokok. Sebenarnya masih ada beberapa sebab
lain, seperti ketidakmengertian dan mengikuti hawa nafsu. Tetapi
mudah-mudahan apa yang dikemukakan di atas cukup merangsang kesadaran
umat Islam untuk memperbaiki pemahaman serta jalan hidupnya agar kelak
pada hari akhirat dapat mempertanggungjawabkan segalanya di hadapan
Allâh yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa. Wallâhu Waliyyu at-Taufîq.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1435H/2014.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Shahîh al-Bukhârî dalam Fathu al-Bâry VIII/163, Kitâb at-Tafsîr,
Bâb III no. 4477 serta yang lainnya, dan Shahîh Muslim bi Syarhi
an-Nawawî, tahqîq Khalîl Maˈmûn Syîhâ, Dâr al-Ma'rifah, Beirut, Cet VII,
1421 H/ 2000 M, II/266-267, no. 253.
[2]. Musnad Imam Ahmad, Juz VII, Syarh & Ta'lîq: Ahmad Muhammad
Syâkir, Dâr al-Hadîts, Kairo, cet. I 1416 H/1995 M, hal. 173, no. 7352,
Musnad Abî Hurairah.
[3]. Lihat Fathu al-Majîd Syarhu Kitab at-Tauhîd, Syaikh 'Abdur Rahmân
bin Hasan Âlu asy-Syaikh, murâja'ah: Syaikh Bin Bâz, Maktabah Dâr
as-Salâm & Dâr al-Faihâˈ, 1414 H/1993 M, Bâb Mâ Jâˈa Annal Ghuluw
fish-Shâlihîn….hal. 212.
[4]. Shahîh Sunan Abî Dâwûd, Maktabah al-Ma'ârif, Riyadh, cet. II dari terbitan terbaru, I/571, no. 2042
[5]. Fathu al-Majîd Syarhu Kitab at-Tauhîd, op.cit. hal. 212
[6]. Lihat Taqrîb at-Tadmuriyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih
al-'Utsimîn, I'tinâˈ & takhrîj: Sayyid bin 'Abbâs bin 'Alî
al-Julaimî, Maktabah as-Sunnah, Kairo, cet. I, 1413 H/1992 M. hal. 113.
[7]. Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibnu al-Qayyim, Dâr Ihyâˈ at-Turâts al-'Arabîy, cet. II, 1421 H/2001 M, I/66
[8]. Shahîh Muslim Bi Syarhi an-Nawawî, op.cit. VI/283, no. 1778
[9]. Ibid, no. 1777
[10]. Tafsîr Ibnu Katsir, ayat terkait, Juz I.
[11]. Syarh al-'Aqîdah al-Wâsithiyyah, Syaikh Dr. Shâlih bin Fauzân
al-Fauzân, Maktabah al-Ma'ârif, Riyadh, cet VI, 1413 H/1993 M, hal. 73,
sub judul no. 17.
[12]. Ibid
[13]. Tafsir Ibnu Katsîr, juz IV, Surat az-Zumar/39 ayat 3 dengan diringkas bahasanya.
Wajib Memberikan Perhatian Kepada Tauhid Terlebih Dahulu Sebagaimana Metode Para Nabi Dan Rasul
WAJIB MEMBERIKAN PERHATIAN KEPADA TAUHID TERLEBIH DAHULU SEBAGAIMANA METODE PARA NABI DAN RASUL ALAIHIMUSSAlAM
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحه الله
Berkaitan dengan apa yang disebutkan dalam pertanyaan diatas, yaitu
berupa buruknya kondisi umat Islam, maka kami katakan : Sesungguhnya
kenyataan yang menyakitkan ini tidaklah lebih buruk daripada kondisi
orang Arab pada zaman jahiliyah ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam diutus kepada mereka, disebabkan adanya risalah Islam di antara
kita dan kesempurnaannya, serta adanya kelompok yang eksis di atas
Al-Haq (kebenaran), memberi petunjuk dan mengajak manusia kepada Islam
yang benar dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan manhaj. Memang tidak
bisa dipungkiri bahwa kenyataan orang Arab pada masa jahiliyah
menyerupai kenyataan kebanyakan kelompok-kelompok kaum muslimin sekarang
ini !.
Berdasarkan hal itu, kami mengatakan bahwa : Jalan keluarnya adalah
jalan keluar yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan obatnya adalah seperti obat yang pernah digunakan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana Rasulullah telah
mengobati jahiliyah yang pertama, maka para juru da'wah Islam sekarang
ini harus meluruskan kesalahan pahaman umat akan makna Laa Ilaha
Illallah, dan harus mencari jalan keluar dari kenyataan pahit yang
menimpa mereka dengan pengobatan dan jalan keluar yang di tempuh oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan makna yang demikian ini
jelas sekali apabila kita memperhatikan firman Allah Azza wa Jalla.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ
يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah". [al-Ahzab/33 :
21]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah suri teladan yang baik
dalam memberikan jalan keluar bagi semua problem umat Islam di dunia
modern sekarang ini pada setiap waktu dan kondisi. Hal ini yang
mengharuskan kita untuk memulai dengan apa-apa yang telah dimulai oleh
Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu pertama-tama memperbaiki
apa-apa yang telah rusak dari aqidah kaum muslimin. Dan yang kedua
adalah ibadah mereka. Serta yang ketiga adalah akhlak mereka. Bukannya
yang saya maksud dari urutan ini adanya pemisahan perkara antara satu
dengan yang lainnya, artinya mendahulukan yang paling penting kemudian
sebelum yang penting, dan selanjutnya !. Tetapi yang saya kehendaki
adalah agar kaum muslimin memeperhatikan dengan perhatian yang sangat
besar dan serius terhadap perkara-perkara di atas. Dan yang saya maksud
dengan kaum muslimin adalah para juru da'wah, atau yang lebih tepatnya
adalah para ulama di kalangan mereka, karena sangat disayangkan sekali
sekarang ini setiap muslim mudah sekali mendapat predikat sebagai da'i
meskipun mereka sangat kurang dalam hal ilmu. Bahkan mereka sendiri
menobatkan diri sebagai da'i Islam. Apabila kita ingat kepada suatu
kaidah yang terkenal -saya tidak berkata kaidah itu terkenal di kalangan
ulama saja, bahkan terkenal pula dikalangan semua orang yang berakal-
kaidah itu adalah :
فَاقِدُ الشَّيْءِ لاَيُعْطِيْهِ
"Orang yang tidak memiliki, tidak dapat memberi".
Maka kita akan mengetahui sekarang ini bahwa disana ada sekelompok kaum
muslimin yang besar sekali, bisa mencapai jutaan jumlahnya, apabila
disebut kata : para da'i maka manusia akan mengarahkan pandangan kepada
mereka. Yang saya maksudkan adalah jama'ah da'wah atau jama'ah tabligh.
Bersamaan dengan itu, kebanyakan mereka adalah sebagaimana firman Allah
Azza wa Jalla.
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" [al-A'raaf/7 : 187]
Sebagaimana diketahui dari metode da'wah mereka bahwa mereka itu telah
benar-benar berpaling dari memperhatikan pokok pertama atau perkara yang
paling penting diantara perkara-perkara yang disebutkan tadi, yaitu
aqidah, ibadah dan akhlak. Dan mereka menolak untuk memperbaiki aqidah
dimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memulai dengannya,
bahkan semua nabi memulai dengan aqidah ini.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan) : "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut". [an-Nahl/ :
36].
Mereka tidak mempunyai perhatian terhadap pokok ini dan terhadap rukun
pertama dari rukun-rukun Islam ini -sebagaimana telah diketahui oleh
kaum muslimin semuanya-. Rasul yang pertama di antara para rasul yang
mulia Nuh 'Alaihis sallam telah mengajak kepada masalah aqidah hampir
seribu tahun. Dan semua mengetahui bahwa pada syariat-syariat terdahulu
tidak terdapat perincian hukum-hukum ibadah dan muamalah sebagaimana
yang telah dikenal dalam agama kita ini, karena agama kita ini adalah
agama terakhir bagi syariat-syariat agama-agama lain. Bersamaan dengan
itu, Nabi Nuh 'Alaihis sallam tetap mengajak kaumnya selama 950 tahun
dan beliau menghabiskan waktunya bahkan seluruh perhatiannya untuk
berda'wah kepada tauhid. Meskipun demikian, kaumnya menolak da'wah
beliau sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur'an.
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
"Dan mereka berkata :'Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan
(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu
meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa', Yaghuts, Ya'uq
dan Nasr". [Nuh/70 : 23]
Ini menunjukkan dengan tegas bahwa sesuatu yang paling penting untuk di
prioritaskan oleh para da'i Islam adalah da'wah kepada tauhid. Dan ini
adalah makna firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
"Maka ketahuilah, bahwa sesunguhnya tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) melainkan Allah". [Muhammad/47 : 19]
Demikian sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara amalan
maupun pengajaran. Adapun amalan beliau, maka tidak perlu dibahas,
karena pada periode Makkah perbuatan dan da'wah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam kebanyakan terbatas dalam hal menda'wahi kaumnya agar
beribadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Sedangkan dalam hal pengajaran, disebutkan dalam hadits Anas bin Malik
Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan di dalam Ash-Shahihain. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz ke Yaman, beliau
bersabda.
لِيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوك لِذَلِكَ
"Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah
persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah
saja, maka jika mereka mentaatimu dalam hal itu ..... dan seterusnya
sampai akhir hadits.[1]
Kalau begitu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
memerintahkan para shahabatnya untuk memulai dengan apa yang dimulai
oleh beliau sendiri yaitu da'wah kepada tauhid.
Tidak diragukan lagi bahwa terdapat perbedaan yang besar sekali antara
orang-orang Arab musyrikin dimana mereka itu memahami apa-apa yang
dikatakan kepada mereka dengan bahasa mereka, dengan mayoritas
orang-orang Arab Muslim sekarang ini. Orang-orang Arab Muslim sekarang
ini tidak perlu diseru untuk mengucapkan : Laa Ilaha Illallah, karena
mereka adalah orang-orang yang telah mengucapkan syahadat Laa Ilaha
Illallah, meskipun aliran dan keyakinan mereka berbeda-beda. Mereka
semuanya mengucapkan Laa Ilaha Illallah, tetapi pada kenyataannya mereka
sangat perlu untuk memahami lebih banyak lagi tentang makna kalimat
thayyibah ini. Dan perbedaan ini adalah perbedaan yang sangat mendasar
dengan orang-orang Arab dahulu dimana mereka itu menyombongkan diri
apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyeru mereka untuk
mengucapkan Laa Ilaha Illallah, sebagaimana yang dijelaskan dalam
Al-Qur'anul Azhim [2]. Mengapa mereka menyombongkan diri ?. Karena
mereka memahami bahwa makna Laa Ilaha Illallah adalah bahwa mereka tidak
boleh menjadikan tandingan-tandingan bersama Allah, dan agar mereka
tidak beribadah kecuali kepada Allah, padahal dahulu mereka menyembah
selian Allah pula, mereka menyeru selain Allah, beristighatsah (meminta
tolong) kepada selain Allah, lebih-lebih lagi dalam masalah nadzar untuk
selain Allah, bertawasul kepada selain Allah, menyembelih kurban untuk
selain Allah dan berhukum kepada selain Allah dan seterusnya.
Ini adalah sarana-sarana kesyirikan paganisme yang dikenal dan
dipraktekkan oleh mereka, padahal mereka mengetahui bahwa diantara
konsekwensi kalimat thayyibah Laa Ilaha Illallah dari sisi bahasa Arab
adalah bahwa mereka harus berlepas diri dari semua perkara-perkara ini,
karena bertentangan dengan makna Laa Ilaha Illallah.
[Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia
TAUHID, Prioritas Pertama dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani, Penerjemah Fariq Gasim Anuz, Murajaah Zainal Abidin, Penerbit
Darul Haq - Jakarta] disalin dari almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Hadits Shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1395) dan ditempat
lainnya, dan Muslim (19), Abu Daud (1584), At-Tirmidzi (625), semuanya
dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu) Hadits ini telah diketahui dan
masyhur, Insya Allah.
[2]. Beliau mengisyaratkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
يَسْتَكْبِرُون ﴿٣٥﴾َ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا
لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
"Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka : Laa Ilaha
Illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah)
mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata : 'Apakah sesungguhnya
kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena kami seorang
penyair yang gila ?"[Ash-Shaffat/ : 35-36]
Buletin Adz Dzikr Edisi 55 - Agama Islam Adalah Agama Yang Haq Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
AGAMA ISLAM ADALAH AGAMA YANG HAQ (BENAR) YANG DIBAWAH OLEH NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Islam secara bahasa (etimologi) adalah berserah diri, tunduk, atau patuh.
Adapun menurut syari’at (terminologi), definisi Islam berada pada dua keadaan:
Pertama: Apabila Islam disebutkan sendiri tanpa diiringi dengan kata
iman, maka pengertian Islam mencakup keseluruhan agama, baik ushul
(pokok) maupun furu’ (cabang), seluruh masalah ‘aqidah, ibadah,
keyakinan, perkataan dan perbuatan. Jadi pengertian ini menunjukkan
bahwa Islam adalah pengakuan dengan lisan, meyakininya dengan hati dan
berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla atas semua yang telah
ditentukan dan ditakdirkan. [1]
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim Alaihissallam:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim
menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.’” [Al-Baqarah:
131][2]
Ada juga yang mendefinisikan Islam dengan:
َاْلإِسْتِسْلاَمُ ِللهِ بِالتَّوْحِيْدِ وَاْلإِنْقِيَادُ لَهُ باِلطَّاعَةِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ.
“Berserah diri kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, tunduk patuh
kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan (atas segala perintah dan
larangan-Nya), serta membebaskan diri dari perbuatan syirik dan
orang-orang yang berbuat syirik.”[3]
Kedua: Apabila Islam disebutkan bersamaan dengan kata iman, maka yang
dimaksud dengan Islam adalah perkataan dan amal-amal lahiriyah yang diri
dan hartanya terjaga [4] dengan perkataan dan amal-amal tersebut, baik
dia meyakini Islam ataupun tidak. Sedangkan kalimat iman berkaitan
dengan amalan hati.[5]
Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah
(kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah
tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu...” [Al-Hujuraat:
14]
Dengan Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri serta menyempurna-kan
agama-Nya yang dianut ummat sebelumnya untuk para hamba-Nya. Dengan
Islam pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan kenikmatan-Nya dan
meridhai Islam sebagai agama. Agama Islam adalah agama yang benar dan
satu-satunya agama yang diterima Allah, agama (kepercayaan) selain Islam
tidak akan diterima Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam.” [Ali ‘Imran: 19]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali
tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat ia
termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]
Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada seluruh manusia untuk
memeluk agama Islam karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
diutus untuk seluruh manusia.
Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ
لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul (utusan) Allah
kepadamu semua, yaitu Allah yang memiliki keajaan langit dan bumi, tidak
ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang
menghidupkan dan Yang me-matikan.’ Maka berimanlah kamu kepada Allah dan
Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada
Kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah ia, agar kamu
mendapat petunjuk.”[Al-A’raaf: 158]
Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ
هَذِهِ اْلأُمَّـةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ
يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ
النَّارِ.
“Demi (Rabb) yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar
seseorang dari ummat Yahudi dan Nasrani tentang diutusnya aku
(Muhammad), kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang
aku diutus dengannya (Islam), niscaya ia termasuk penghuni Neraka.” [6]
Mengimani Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, artinya
membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan pada seluruh apa yang
dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib
(paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) termasuk kafir, yaitu orang
yang tidak beriman kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun ia
membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
ia membenarkan pula bahwa Islam adalah agama yang terbaik.
Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang terkandung di dalam
agama-agama terdahulu. Islam memiliki keistimewaan, yaitu cocok dan
sesuai untuk setiap masa, tempat dan kondisi ummat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Dan Kami turunkan Al-Qur-an kepadamu dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan sebagai batu ujian terhadap Kitab-kitab yang lain...”
[Al-Maa-idah: 48]
Islam dikatakan cocok dan sesuai di setiap masa, tempat, dan kondisi
ummat maksudnya adalah berpegang teguh kepada Islam tidak akan
menghilangkan kemaslahatan ummat, bahkan dengan Islam ini ummat akan
menjadi baik, sejahtera, aman dan sentausa. Tetapi harus diingat bahwa
Islam tidak tunduk terhadap masa, tempat dan kondisi ummat sebagaimana
yang dikehendaki oleh sebagian orang. Apabila ummat manusia menginginkan
keselamatan di dunia dan di akhirat, maka mereka harus masuk Islam dan
tunduk dalam melaksanakan syari’at Islam.
Agama Islam adalah agama yang benar, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjanjikan kemenangan kepada orang yang berpegang teguh kepada agama
ini dengan baik, namun dengan syarat mereka harus mentauhidkan Allah,
menjauhkan segala (bentuk) perbuatan syirik, menuntut ilmu syar’i, dan
mengamalkan amal yang shalih.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur-an)
dan agama yang haq (benar), untuk dimenangkan-Nya atas segala agama,
walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” [At-Taubah: 33]
Juga dalam firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ
هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa sungguh Dia akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana telah Dia jadikan
orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada
dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku
dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa
yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang
yang fasik.” [An-Nuur: 55]
Islam adalah agama yang sempurna dalam ‘aqidah dan syari’at. Di antara bentuk kesempurnaannya adalah:
1. Islam memerintahkan untuk bertauhid dan melarang perbuatan syirik.
2. Memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang bersikap bohong.
3. Memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang bersikap zhalim.
4. Memerintahkan untuk bersikap amanah dan melarang bersikap khianat.
5. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.
6. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta melarang mendurhakai keduanya.
7. Islam menjaga agama dan Islam mengharamkan seseorang murtad (keluar dari agama Islam).
8. Islam menjaga jiwa. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla
mengharam-kan pembunuhan dan penumpahan darah ummat Islam. Islam
memelihara jiwa, oleh karena itu Islam mengharamkan pem-bunuhan secara
tidak haq (benar), dan hukuman bagi orang yang membunuh jiwa seorang
Muslim secara tidak haq adalah hukuman mati.
9. Islam menjaga akal. Oleh karena itu, Islam mengharamkan setiap yang memabukkan seperti khamr, narkoba dan rokok.
10. Islam menjaga harta. Oleh karena itu, Islam mengajarkan amanah
(kejujuran) dan menghargai orang-orang yang amanah bahkan menjanjikan
kehidupan bahagia dan Surga kepada mereka. Dan Islam juga melarang
mencuri dan korupsi serta mengancam pelakunya dengan hukuman potong
tangan (sebatas pergelangan).[7]
11. Islam menjaga nasab (keturunan). Oleh karena itu, Allah Azza wa
Jalla mengharamkan zina dan segala jalan yang membawa kepada zina.[8]
12. Islam menjaga kehormatan. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla
mengharamkan menuduh orang baik-baik sebagai pezina atau dengan
tuduhan-tuduhan lain yang merusak kehormatannya.
Dalil-dalil bahwa Islam menjaga jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin di antaranya:
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُمْ، وَأَعْرَاضَكُمْ، بَيْنَكُمْ
حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا،
فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ...
“Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram
atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini dan negeri ini.
Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir...” [9]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.
“Lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim.” [10]
Dari Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا.
‘Terbunuhnya seorang Mukmin lebih berat (urusannya) di sisi Allah daripada lenyapnya dunia.’” [11]
Bahkan darah seorang Muslim lebih mulia dari Ka’bah yang mulia.[12]
Secara umum Islam memerintahkan agar berakhlak yang mulia, bermoral baik
dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan
baik dan melarang perbuatan yang buruk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي
الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ber-buat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah me-larang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu
dapat mengam-bil pelajaran.” [An-Nahl: 90]
Islam didirikan atas lima dasar. Sebagaimana yang disebutkan dalam
sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Radhiyallahu
anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَـامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ
الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ.
“Islam dibangun atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah, (2) menegakkan shalat, (3) membayar zakat,
(4) berpuasa di bulan Ramadhan, dan (5) menunaikan haji ke
Baitullaah.”[13]
Rukun Islam ini wajib diimani, diyakini dan wajib diamalkan oleh setiap Muslim dan Muslimah.
Rukun Pertama: Kesaksian tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi
dengan benar kecuali Allah Azza wa Jalla dan (bahwa) Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba serta Rasul-Nya, merupakan
keyakinan mantap yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya
itu, seakan-akan ia dapat menyaksikan-Nya.
Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun padahal yang disaksikan itu
ada dua hal, ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah penyampai risalah dari Allah Azza wa Jalla. Jadi, kesaksian bahwa
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah
Azza wa Jalla merupakan kesempurnaan kesaksian لاَ إِلهَ إِلاَّ الله,
tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah.
Syahadatain (dua kesaksian) tersebut merupakan prinsip dasar keabsahan
dan diterimanya semua amal. Amal akan sah dan diterima bila dilakukan
dengan keikhlasan hanya karena Allah Azza wa Jalla dan mutaba’ah
(mengikuti) Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ikhlas
karena Allah Azza wa Jalla merupakan realisasi dari syahadat (kesaksian)
laa ilaaha illallaah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan
benar kecuali Allah. Sedangkan mutaba’ah atau meng-ikuti Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan realisasi dari pada
kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan
Rasul-Nya.
Faedah terbesar dari dua kalimat syahadat tersebut adalah membebaskan
hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk dengan beribadah hanya
kepada Allah Azza wa Jalla saja serta tidak mengikuti melainkan hanya
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rukun Kedua: Menegakkan shalat artinya beribadah kepada Allah dengan
melaksanakan shalat wajib lima waktu secara istiqamah dan sempurna, baik
waktu maupun caranya. Shalat harus sesuai dengan contoh Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيتُمُوْنِي أُصَلِّي.
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” [14]
Salah satu hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan
hati, serta menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. [15]
Rukun Ketiga: Membayar zakat artinya beribadah hanya kepada Allah Azza
wa Jalla dengan menyerahkan kadar yang wajib dari harta-harta yang harus
dikeluarkan zakatnya.[16]
Salah satu hikmah membayar zakat adalah membersihkan harta, jiwa dan
moral yang buruk, yaitu kekikiran serta dapat menutupi kebutuhan Islam
dan kaum Muslimin, menolong orang fakir dan miskin.
Rukun Keempat: Berpuasa di bulan Ramadhan artinya beribadah hanya kepada
Allah dengan cara meninggalkan makan, minum, jima’ (bercampur) antara
suami isteri dan hal-hal yang dapat membatalkannya dari mulai terbit
fajar shadiq sampai terbenam matahari.
Salah satu hikmah berpuasa di bulan Ramadhan adalah melatih jiwa untuk
meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridha Allah Azza wa
Jalla.
Rukun Kelima: Menunaikan (ibadah) haji ke Baitullah (rumah Allah)
artinya beribadah hanya kepada Allah dengan menuju al-Baitul Haram
(Ka’bah di Makkah al-Mukarramah) untuk melaksanakan syi’ar atau manasik
haji.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang pertama-tama dibangun untuk (tempat beribadah)
manusia adalah Baitullah yang berada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi
dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” [Ali ‘Imran: 96]
Salah satu hikmah menunaikan haji ke Baitullah adalah melatih jiwa untuk
mengerahkan segala kemampuan, harta, dan jiwa agar tetap taat kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itulah, haji merupakan salah satu
macam dari jihad fii sabiilillaah.[17]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box
7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M] sumber almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Lihat Mufradaat Alfaazhil Qur-aan (hal. 423, bagian سَلِمَ), karya
al-‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani dan Ma’aarijul Qabuul (II/20) oleh
Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami.
[2]. Lihat juga QS. Al-Baqarah: 208 dan QS. Ali ‘Imran: 19.
[3]. Al-Ushuuluts Tsalaatsah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan
Syarah Tsalaatsatil Ushuul (hal. 68-69) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih
al-‘Utsaimin.
[4]. Dirinya terjaga maksudnya tidak boleh diperangi (dibunuh); dan
hartanya terjaga maksudnya yaitu tidak boleh diambil (dirampas).
[5]. Lihat Ma’aarijul Qabuul (II/21), karya Syaikh Hafizh bin Ahmad
al-Hakami, cet. I, Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah dan Jaami’ul ‘Uluum wal
Hikam oleh al-Hafizh Ibnu Rajab.
[6]. HR. Muslim (I/134 no. 153), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[7]. Lihat QS. Al-Maa-idah: 38.
[8]. Lihat QS. Al-Israa': 32.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 67, 105, 1741) dan Muslim (no. 1679 (30)), dari Sahabat Abu Bakrah Radhiyallahu anhu
[10]. HR. An-Nasa-i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu.
Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh al-Albani dalam Sha-iih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul
Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).
[11]. HR. An-Nasa-i (VII/83), dari Buraidah Radhiyallahu anhu.
Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan
lihat Ghaayatul Maram fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no.
439).
[12]. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 3420), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.
[13]. Mutafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari dalam Kitaabul Iimaan pada bab
Qaulun Nabi j بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ (no. 8), Muslim dalam
Kitaabul Iimaan bab Arkaanul Islaam (no. 16), Ahmad (II/26, 93, 120,
143), at-Tirmidzi (no. 2609) dan an-Nasa-i (VIII/107).
[14]. HR. Al-Bukhari (no. 631), dari Sahabat Malik bin Khuwairits.
[15]. Lihat QS. Al-Ankabut: 45.
[16]. Lihat QS. Al-Baqarah: 43.
[17]. Diringkas dan ditambah dari kitab Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 4-10) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
Laporan Pemasukan Donasi Pembebasan Tanah Ma'had Tahfidzul Qur'an Daar El Dzikr
UPDATE PEMASUKAN DONASI PEMBEBASAN TANAH
MA'HAD TAHFIDZUL QUR'AN DAAR EL DZIKR
Ds.Gentan - Bulu - Sukoharjo - Indonesia
(Sampai Maret 2016)
| No | Nama | Tanggal | Bank | Jumlah Dana |
| 1 | Pak Surono | 2015 | 250.000.000 | |
| 2 | Kiki Ummu Rizal | 26-Oct-2015 | Tunai | 130.000 |
| 3 | Ummu Yousuf | 30-Oct-2015 | Tunai | 130.000 |
| 4 | Hamba Alloh | 18-Nov-2015 | BRI | 1.000.000 |
| 5 | Sapto Nugroho | 19-Nov-2015 | Tunai | 520.000 |
| 6 | Tulus Daryanto | 20-Nov-2015 | BRI | 130.000 |
| 7 | Rahayu | 20-Nov-2015 | BRI | 130.000 |
| 8 | Hamba Alloh | 20-Nov-2015 | BRI | 130.000 |
| 9 | Mugiyono | 20-Nov-2015 | BNI | 260.000 |
| 10 | Gingin | 30-Nov-2015 | BRI | 520.000 |
| 11 | Agung Darma Hermawan | 30-Nov-2015 | BNI | 13.000.000 |
| 12 | Hamba Alloh | 04-Des-2015 | BRI | 2.000.000 |
| 13 | Ummu Haidar | 04-Des-2015 | BRI | 260.000 |
| 14 | Sutiyono | 04-Des-2015 | BRI | 2.600.000 |
| 15 | Muh.Hanif Al Hafidz-2C | 15-Des-2015 | Tunai | 390.000 |
| 16 | Harno | 15-Des-2016 | Tunai | 1.000.000 |
| 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 | Agus Dwi Sanjoyo Suryadi Dwiani Kanthi Atik Suparpti Abdulloh Hamba Alloh Hetty Sulistyorini Joko Catur Hamba Alloh Hamba Alloh Eko Setyaningsih Bambang Setiyadi Saryadi Arif Syaifuddin Jayadi Hamba Alloh Agus Atikah Yoko Permana Hamba Alloh Saryadi Edi Abu Afifah Atik Saidi | 05-Jan-2016 16-Jan20-16 19-Jan-2016 21-Jan-2016 25-Jan-2016 30-Jan-2016 1-Feb-2016 1-Feb-2016 4-Feb-2016 4-Feb-2016 6-Feb-2016 9-Feb-2016 9-Feb-2016 12-Feb-2016 13-Feb-2016 15-Feb-2016 15-Feb-2016 19-Feb-2016 19-Feb-2016 23-Feb-2016 1-Mar-2016 4-Mar-2016 8-Mar-2016 10-Mar-2016 14-Mar-2016 17-Mar-2016 | Tunai Tunai BNI BNI Tunai Tunai BNI Tunai BRI BNI BNI BNI Tunai Tunai BRI Tunai Tunai Tunai BRI - - - - - BRI - | 500.000 130.000 7.800.000 1.300.000 500.000 260.000 100.000 260.000 2.000.000 130.000 300.000 130.000 1.500.000 130.000 250.000 100.000 390.000 2.100.000 700.000 500.000 130.000 130.000 1.300.000 650.000 500.000 130.000 |
| Jumlah Total Seluruh Donasi | 293.630.000 | |||
Telah dikeluarakan Untk Pembebasan Tanah Sejumlah Sisa Saldo | 250.000.000 43.630.000 |
Saat ini Yayasan Dakwah Daar El Dzikr Berupaya Untuk Membebasakan Tanah Seluas 10.000m2 Untuk Pendirian Pondok Pesantren Tahfidz Daar El Dzikr.
Alhamdullillah Telah Dibebsan Tanah Seluas 5.500m2 Seharga Rp. 250.000.000 Dan Masih Sisa Tanah Lagi Seluas 4.500m2 Yang Belum Terbebaskan Dengan Harga Rp.130.000/m2 , Sekitar Rp.585.000.000
Untuk Itu Kami Yayasan Daar El Dzikr Mengajak Kepada Seluruh Kaum Muslim Dimanapun Berada Untuk Mensedakohkan Hartanya Dijalan Alloh Guna Pendirian Ma'had Tahfidz Daar El Dzikr Sebaga Sarana Dakwah Untuk Mencetak Generasi Yang Faham Al-Qura'an dan Sunnah Nabi shalallohu 'alaihi wasalam.
Bagi Kaum Muslimin Yang Ingin Mensedakohkan Hartanya Berikut Nomer Rekening Kami :
Rekening BRI
Nomor 6893 0101 0717 533
Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir
Rekening BNI Syariah
Nomor 03919 70153
Atas Nama Yayasan Dakwah Islam Daar el Dzikir
SMS Konfirmasi
1. Jumanto, S.Pd.I. (Ketua) - 0813 8443 1686
2. Darmono (Bendahara) - 0852 2938 5801
Dengan Format : DPT#bank#nominal#nama#
Pilih wakaf anda:
1.Wakaf Tanah 1m2 = 130.000,-
2.Wakaf Tanah 2m2 = 260.000,-
3.Wakaf Tanah 3m2 = 390.000,-
4.Dan Setrusnya Berlaku Kelipatannya
Jazakumullohu Khoiron Katsiron
Jadikanlah Akhirat Sebagai Niatmu!
JADIKANLAH AKHIRAT SEBAGAI NIATMU !
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله
Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ،
وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا
إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ
اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا
وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan
mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk
matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang
telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah
negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan
di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ”
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/
183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh
Zham'ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu
anhu.
Lafazh hadits ini milik Ibnu Mâjah rahimahullah . Dishahihkan juga oleh
Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani
rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 950).
KOSA KATA HADITS
• هَمٌّ : mashdar dari هّمَّ - يَهُمُّ yaitu kemauan yang kuat,
keinginan, niat, dan tujuan. Al-hammu juga berarti kesedihan. Jamaknya
adalah هُمُوْمٌ (humuum).[1]
• فَرَّقَ اللهُ : yaitu Allâh mencerai-beraikannya.
• وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ : yaitu dia hanya mendapat apa yang telah ditetapkan baginya.[2]
• رَاغِمَةٌ : ذّلِيْلَةٌ تَابِعَةٌ لَهُ (hina dan mengikutinya), yaitu
dunia tersebut mengikutinya dengan sukarela dan terpaksa.[3]
SYARAH HADITS
Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya n mencela sikap tamak kepada
dunia. Bahkan, Allâh Azza wa Jalla sangat merendahkan kedudukan dunia
dalam banyak ayat-ayat al-Qur-an. Allâh Azza wa Jalla berfirman bahwa
kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali ‘Imrân/3:185]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ
وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ
كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ
مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ
وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan
dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan
yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu
menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di
akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan
yang menipu.” [Al-Hadîd/57:20]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara)
dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. [Ghâfir/40:39]
Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan
mengesampingkan urusan akhiratnya, maka Allâh Azza wa Jalla akan
menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit,
serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Allâh Azza wa
Jalla juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin,
atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang Allâh Azza wa
Jalla karuniakan kepadanya.
Dunia yang dapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya,
tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan
hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada
Allâh, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan
lainnya.
Cinta kepada dunia adalah pokok semua kejelekan, oleh karenanya tidak
boleh menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Allâh Azza wa Jalla
berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا
صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami
berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna)
dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana
apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah
mereka kerjakan." [Hûd/11:15-16]
Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ
لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا
مَدْحُورًا
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami
segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang
Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka
Jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir."
[Al-Isrâ'/17:18]
Juga firman Allâh Azza wa Jalla :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ
كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي
الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan
keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia
Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia
tidak akan mendapat bagian di akhirat.” [Asy-Syûrâ/42:20]
Dunia ini dilaknat oleh Allâh dan dilaknat apa yang ada di dalamnya,
oleh karena itu jangan jadikan dunia sebagai tujuan. Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِـيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُـتَـعَلِّـمٌ.
Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di
dalamnya, kecuali dzikir kepada Allâh dan ketaatan kepada-Nya, orang
berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu[4].
Orang yang hatinya sehat, dia akan lebih mengutamakan akhirat daripada
kehidupan dunia yang fana, tujuan hidupnya adalah akhirat. Dia
menjadikan dunia ini sebagai tempat berlalu dan mencari bekal untuk
akhirat yang kekal. Orang yang hatinya sehat akan selalu mempersiapkan
diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal-amal shalih dengan
ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan larangan-larangan-Nya,
karena dia yakin pasti mati dan pasti menjadi penghuni kubur dan pasti
kembali ke akhirat. Karena itu, dia selalu berusaha untuk menjadi
penghuni surga dengan berbekal iman, takwa, dan amal-amal yang shalih.
Orang Muslim tujuan hidupnya adalah akhirat, karena itu ia wajib
berbekal untuk akhirat dengan bekal terbaik yaitu takwa kepada Allâh
Azza wa Jalla . Takwa yaitu melaksanakan perintah-perintah Allâh Azza wa
Jalla dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apabila seorang Muslim
beriman dan bertakwa kepada Allâh, maka ia akan diberi rizki dari arah
yang tidak diduga dan diberikan jalan keluar dari problematikanya. Allâh
Azza wa Jalla berfirman :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“...Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan
keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangkanya...” [Ath-Thalâq/65:2-3]
Orang yang beriman dan bertakwa kepada Allâh akan dimudahkan urusannya.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, "…Dan barangsiapa
bertakwa kepada Allâh, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam
urusannya.” [Ath-Thalâq/65:4]
Orang yang beriman dan bertakwa kepada Allâh juga akan dihapuskan
dosa-dosanya dan dilipatgandakan ganjarannya. Allâh Azza wa Jalla
berfirman, yang artinya, "...Barangsiapa bertakwa kepada Allâh, niscaya
Allâh akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan
pahala baginya.” [Ath-Thalâq/65:5]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa
kehidupan yang sebenarnya dan yang kekal adalah kehidupan akhirat, bukan
dunia. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
اَللّٰهُمَّ ، لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ ، فَأَصْلِحِ الْأَنْصَارَ وَالْـمُهَاجِرَةَ
Ya Allâh, tidak ada kehidupan (yang kekal) kecuali kehidupan akhirat,
maka bereskanlah (urusan) kaum Anshar dan kaum Muhajirin.”[5]
Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
اَللّٰهُمَّ ، لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ ، فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْـمُهَاجِرَةِ
Ya Allâh, tidak ada kehidupan (yang kekal) kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin.[6]
‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu mengatakan,
اِرْتَـحَلَتِ الـدُّنْـيَـا مُـدْبِرَةً ، وَارْتَـحَلَتِ الْآخِرَةُ
مُقْبِلَةً ، وَلِـكُـلِّ وَاحِدَةٍ مِـنْـهُمَـا بَـنُـوْنٌ ،
فَـكُـوْنُـوْا مِنْ أَبْـنَـاءِ الْآخِرَةِ ، وَلَا تَـكُوْنُوْا مِنْ
أَبْنَـاءِ الدُّنْيَـا ، فَإِنَّ الْـيَـوْمَ عَـمَـلٌ وَلَا حِسَابَ ،
وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.
Sesungguhnya dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti
akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak,
karenanya, hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan kalian jangan
menjadi anak-anak dunia, karena hari ini adalah hari amal tanpa hisab
(di dalamnya), sedang kelak adalah hari hisab tanpa amal (di
dalamnya)[7].
Ada kabar mutawatir dari ulama Salaf mengatakan, “Cinta dunia merupakan
induk dari segala kesalahan (dosa) dan merusak agama. Hal ini ditinjau
dari beberapa segi:[8]
Pertama: Mencintai dunia berarti mengagungkan dunia, padahal ia sangat
hina di mata Allâh Azza wa Jalla . Termasuk dosa yang paling besar
adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allâh Azza wa Jalla.
Kedua: Allâh mengutuk, memurkai, dan membenci dunia, kecuali yang
ditujukan kepada-Nya. Karena itu, siapa saja yang mencintai apa yang
dikutuk, dimurkai, dan dibenci Allâh maka ia akan berhadapan dengan
kutukan, murka, dan kebencian-Nya.
Ketiga: Orang yang mencintai dunia akan menjadikan dunia sebagai
tujuannya dan ia akan menjadikan amalan yang seharusnya menjadi sarana
menuju Allâh dan negeri Akhirat berubah menjadi sarana meraih
kepentingan dunia.
Di sini ada dua persoalan:
1. Menjadikan sesuatu yang seharusnya menjadi wasilah (sarana) sebagai tujuan.
2. Menjadikan amal akhirat sebagai alat untuk menggapai dunia.
Ini adalah keburukan yang terbalik dari semua sisi. Juga berarti
membalik sesuatu pada posisi yang benar-benar terbalik. Ini sesuai
sekali dengan firman Allâh Azza wa Jalla :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا
صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami
berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna
dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang
tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa
yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11:15-16]
Keempat: Mencintai dunia membuat manusia tidak sempat (terhalang dari)
melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya di akhirat sebagai akibat dari
kesibukannya dengan dunia dan segala yang dicintainya.
Kelima: Cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar manusia.
Keenam: Pecinta dunia adalah orang yang paling banyak disiksa karena dunia, ia disiksa pada tiga keadaan :
1. Ia tersiksa di dunia dengan usaha, kerja keras untuk mendapatkannya
serta disiksa dengan usahanya untuk merebut dunia dari sesama pecinta
dunia
2. Ia tersiksa di alam barzakh (kubur) dengan terlepasnya segala yang ia cintai dari dirinya
3. Ia tersiksa pada hari Kiamat.
Ketujuh: Orang yang sangat mencintai dunia dan lebih mengutamakan dunia
daripada akhirat adalah orang yang paling bodoh dan idiot. Sebab, ia
lebih mengutamakan khayalan daripada kenyataan, lebih mengutamakan tidur
daripada terjaga, lebih mengutamakan bayang-bayang yang akan segera
hilang daripada kenikmatan yang kekal, lebih mengutamakan rumah yang
segera binasa dan menukar kehidupan yang abadi dan nyaman dengan
kehidupan yang tidak lebih dari sekedar mimpi atau bayang-bayang yang
segera hilang. Sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan tertipu dengan
hal-hal semacam itu.[9]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى
“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan
(kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang
berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.”[10]
Seorang Muslim tujuan hidupnya adalah akhirat dan dunia sebagai ladang
menuju akhirat. Seorang Muslim wajib ingat bahwa dia diciptakan untuk
beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Oleh karena itu, dia wajib
meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , dan
hendaknya seorang Muslim setiap jam dan harinya penuh dengan ibadah
kepada Allâh Azza wa Jalla .
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman :
يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ
غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ
شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
‘Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya
Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup
kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua
tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.’”[11]
Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh tertipu oleh kehidupan dunia dan
tidak boleh panjang angan-angan. Hadits-hadits tentang celaan terhadap
dunia dan kehinaannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala sangat banyak.
Diriwayatkan dari Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berjalan melewati pasar saat banyak orang berada di pasar
tersebut. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati seekor
anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil dan telah mati pula.
Sambil memegang telinga anak kambing tersebut, beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
أَيُّكُم يُحِبُّ أنْ يَكُونَ هَذَا لَهُ بِدرْهَم ؟ فَقَالُوْا : مَا
نُحِبُّ أنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ ؟ ثُمَّ قَالَ :
أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ؟ قَالُوا : وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيّاً كَانَ
عَيْباً ، إنَّهُ أسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ ميِّتٌ ! فَقَالَ : فوَاللهِ
للدُّنْيَا أهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
"Siapa diantara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham ?"
Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa
yang bisa kami perbuat dengannya ?” Beliau bersabda, “Apakah kalian suka
jika ini menjadi milik kalian ?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh,
kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua
telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau bersabda, “Demi Allâh,
sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing
ini bagi kalian.”[12]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
واللّٰـهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ
أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ - وَأَشَارَ يَـحْيَ بِالسَّبَّابَةِ - فِـي
الْيَمِّ ، فَـلْيَنْظُرْ بِمَ تَـرْجِعُ ؟
Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah
seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya -Yahya (perawi hadits)
berisyarat dengan jari telunjuknya- ke laut, maka lihatlah apa yang
dibawa jarinya itu ?[13]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, bahwa
dunia seperti air yang menempel di jari yang dicelupkan ke dalam lautan,
sedangkan akhirat adalah ibarat lautan yang sangat luas. Dunia ini
sedikit dan fana, sedangkan akhirat penuh dengan kenikmatan dan kekal
abadi.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
لَـوْ كَـانَتِ الدُّنْـيَـا تَـعْـدِلُ عِـنْـدَ اللّٰـهِ جَـنَـاحَ بَـعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِـرًا مِنْـهَـا شَرْبَـةَ مَـاءٍ.
Seandainya dunia ini di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala senilai dengan
(berat) sayap nyamuk, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberi
minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.[14]
Dunia ini tidak ada harganya meskipun hanya seberat sayap nyamuk. Tapi
anehnya manusia sibuk dan tamak kepada dunia, mereka lupa kepada
kehidupan akhirat yang penuh dengan kenikmatan. Bahkan manusia lebih
mengutamakan kehidupan dunia. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Bahkan kalian mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” [Al-A’lâ/87:16-17]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيْرِ شَابًّا فِيْ اثْنَتَيْنِ ؛ فِيْ حُبِّ الدُّنْيَا وَطُوْلِ الْأَمَلِ.
Senantiasa hati orang yang sudah tua, tetap muda (tetap tamak) kepada dua hal; cinta dunia dan panjang angan-angan.”[15]
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَبْقَى مِنْهُ اثْنَتَانِ ؛ الْحِرْصُ وَالْأَمَلُ.
‘Setiap anak Adam itu akan menjadi tua dan hanya tersisa darinya dua hal; ambisi dan angan-angannya.”[16]
Begitu banyak manusia yang dilalaikan dengan dunia beserta
mimpi-mimpinya. Indahnya dunia telah menghalangi mereka dari jalan
petunjuk dan ketakwaan. Sementara itu, setan terus memperpanjang
khayalan-khayalan mereka.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang akan muncul disebabkan
banyaknya angan-angan adalah malas untuk mengerjakan ketaatan,
menunda-nunda taubat, berambisi terhadap dunia, lupa akhirat, dan
mengerasnya hati. Sebab, kelembutan dan kejernihan hati terbentuk
hanyalah dengan mengingat kematian, alam kubur, dosa dan pahala, serta
dahsyatnya hari Kiamat.”[17]
FAWAA-Id HADITS
Ada beberapa faedah yang dapat kita petik dari hadits yang mulia ini, di antaranya:
1. Hendaknya seorang Muslim selalu waspada, jangan menjadikan dunia
sebagai tujuan dan jangan tertipu dengan dunia yang penuh dengan
keindahan yang menipu. Ingat, bahwa dunia adalah kehidupan yang hina,
sementara, sedikit, dan menipu.
2. Peringatan bagi seorang Muslim agar menjadikan akhirat sebagai
tujuannya, dia wajib ingat bahwa dia pasti mati dan kembali kepada
Allâh, karena itu dia wajib mempersiapkan bekal untuk akhirat dengan
melakukan amal-amal shalih dan menjauhkan larangan-larangan Allâh Azza
wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Peringatan tentang akibat yang buruk bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya.
4. Di antara akibat bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya
yaitu dijadikan kefakiran di depan pelupuk matanya dan urusannya
tercerai-berai.
5. Iman kepada qadha’ dan qadar dan kita wajib usaha sesuai dengan syari’at.
6. Di antara nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang paling besar dan
agung atas hamba-Nya, yaitu memberikan kekayaan pada hatinya, merasa
puas dan cukup dengan apa yang Allâh Azza wa Jallaaruniakan.
7. Luasnya karunia Allâh Azza wa Jalla dan kebaikannya kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa.
8. Seorang muslim tidak boleh panjang angan-angan, akan tetapi dia harus beramal shalih yang bermanfaat untuk akhiratnya.
9. Barangsiapa bertakwa kepada Allâh, maka Allâh akan memberikannya jalan keluar dan rizki dari arah yang tidak di duga-duga.
10. Sesungguhnya rizki itu ada di Tangan Allâh, diperoleh dengan usaha yang halal.
11. Seorang Muslim wajib mencari nafkah, tapi jangan tamak kepada dunia.
12. Seorang Muslim hidupnya untuk ibadah kepada Allâh, karena itu ia
wajib menuntut ilmu, berlomba-lomba melakukan amal shalih, dan memenuhi
hak Allâh dan hak manusia.
Wallaahu k a’lam.
MARAAJI’:
1. Al-Qur'ânul Karîm.
2. Kutubus Sittah.
3. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
4. At-Ta’lîqâtul Hisaan ‘ala Shahîh Ibni Hibbân.
5. Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih.
6. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam.
7. ‘Iddatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn, Ibnul Qayyim.
8. Ighâtsatul Lahafân.
9. Mawâridul Amân al-Muntaqa min Ighâtsatil Lahafân.
10. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah.
11. Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb.
12. Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr.
13. Dan lainnya.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVI/1436H/2014M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] sumber : almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Lihat Lisânul ‘Arab (XV/137) dan al-Mu’jamul Wasîth (II/995).
[2]. Syarah Sunan Ibni Mâjah (I/302).
[3]. Syarah Sunan Ibni Mâjah (I/302).
[4]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Mâjah
(no. 4112), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih
(I/135, no. 135), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lafazh
ini milik at-Tirmidzi. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no.
2797).
[5]. Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 6413), dan selainnya.
[6]. Shahih: HR. Al-Bukhâri (no. 6414), dan selainnya.
[7]. Shahîh al-Bukhâri, kitab: ar-Riqâq, Lihat juga Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/378).
[8]. Dinukil dari ‘Idatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn, karya Imam
Ibnul Qayyim (hlm. 348, 350-356) dengan diringkas. Ta’liq dan takhrij:
Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy.
[9]. Lihat ‘Idatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn (hlm. 350-356), karya Imam Ibnul Qayyim, dengan diringkas.
[10]. Ighâtsatul Lahafân (I/87-88) dan lihat Mawâridul Amân al-Muntaqa min Ighâtsatil Lahafân (hlm. 83-84).
[11]. Shahih: HR. Ahmad (II/358), at-Tirmidzi (no. 2466), Ibnu Mâjah
(no. 4107), dan al-Hâkim (II/443) dari Shahabat Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (III/346, no.
1359) dan Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3166).
[12]. Shahih: HR. Muslim (no. 2957).
[13]. Shahih: HR. Muslim (no. 2858) dan Ibnu Hibbân (no. 4315-at-Ta’lîqâtul Hisân) dari al-Mustaurid al-Fihri Radhiyallahu anhu.
[14]. Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2320), Ibnu Mâjah (no. 4110) dan lainnya dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu .
[15]. Shahih: HR. al-Bukhari (no. 6420) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[16]. Shahih: HR. Ahmad (III/115, 275). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 8173).
[17]. Fat-hul Bâri (XI/213), cet. Darul Fikr.
Keutamaan Tauhid
kelima
KEUTAMAAN TAUHID[1]
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Orang yang bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'alal memiliki banyak keutamaan, antara lain:
1. Orang yang bertauhid kepada Allah akan dihapus dosa-dosanya.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'aliahi wa sallam dalam
sebuah hadits qudsi, dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata,
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Allah
Yang Mahasuci dan Mahatinggi berfirman:
...يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا
ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا
مَغْفِرَةً.
‘...Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa
sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika mati tidak menyekutukan Aku
sedikit pun juga, pasti Aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi
pula.’” [2]
2. Orang yang bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla akan mendapatkan
petunjuk yang sempurna, dan kelak di akhirat akan mendapatkan rasa aman.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
ذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan
kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman
dan mereka mendapat petunjuk. ” [Al-An’aam: 82]
Di antara permohonan kita yang paling banyak adalah memohon agar ditunjuki jalan yang lurus:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” [Al-Faatihah: 6-7]
Yaitu jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang yang shalih.
Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ
اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya), maka mereka itu
akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
(yaitu) para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan
orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baik-nya.”
[An-Nisaa': 69]
Kita juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar terhindar dari
jalan orang-orang yang dimurkai Allah dan jalan orang-orang yang sesat,
yaitu jalannya kaum Yahudi dan Nasrani.
3. Orang yang bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla akan dihilangkan kesulitan dan kesedihannya di dunia dan akhirat.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan keluar. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tidak
disangka-sangka...” [Ath-Thalaq: 2-3]
Seseorang tidak dikatakan bertakwa kepada Allah kalau dia tidak
bertauhid. Orang yang bertauhid dan bertakwa akan diberikan jalan keluar
dari berbagai masalah hidupnya.[3]
4. Orang yang mentauhidkan Allah, maka Allah akan menjadikan dalam
hatinya rasa cinta kepada iman dan Allah akan menghiasi hatinya
dengannya serta Dia menjadikan di dalam hatinya rasa benci kepada
kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ
مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ
الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ
وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“...Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan
(iman itu) indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada
kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus.” [Al-Hujurat: 7]
5. Tauhid merupakan satu-satunya sebab untuk mendapatkan ridha Allah,
dan orang yang paling bahagia dengan syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam adalah orang yang mengatakan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.
6. Orang yang bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dijamin masuk Surga.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang
berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah, maka ia masuk Surga.” [4]
مَنْ مَاتَ لاَيُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia masuk Surga.” [5]
7. Orang yang bertauhid akan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kemenangan, pertolongan, kejayaan dan kemuliaan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah,
niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Muhammad: 7]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن
قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara
kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar
akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan
menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak
mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun. Tetapi barangsiapa yang
(tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang
fasik.” [An-Nuur: 55]
8. Orang yang bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla akan diberi kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan kepada mereka dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl:
97]
9.Tauhid akan mencegah seorang muslim kekal di Neraka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، ثُمَّ
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَخْرِجُوْا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ
حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَد
ِاسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهْرِ الْحَيَاءِ -أَوِ الْحَيَاةِ، شَكَّ
مَالِكٌ- فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ،
أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً؟
“Setelah penghuni Surga masuk ke Surga, dan penghuni Neraka masuk ke
Neraka, maka setelah itu Allah Azza wa Jalla pun berfirman, ‘Keluarkan
(dari Neraka) orang-orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji
sawi iman!’ Maka mereka pun dikeluarkan dari Neraka, hanya saja tubuh
mereka sudah hitam legam (bagaikan arang). Lalu mereka dimasukkan ke
sungai kehidupan, maka tubuh mereka tumbuh (berubah) sebagaimana
tumbuhnya benih yang berada di pinggiran sungai. Tidakkah engkau
perhatikan bahwa benih itu tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat?”
[6]
10. Orang yang bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas, maka amal yang sedikit itu akan menjadi banyak.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.” [Al-Mulk: 2]
Dalam ayat yang mulia tersebut, Allah Azza wa Jalla menyebutkan dengan
“amal yang baik”, tidak dengan “amal yang banyak”. Amal dikatakan baik
atau shalih bila memenuhi 2 syarat, yaitu: (1) Ikhlas, dan (2) Ittiba’
(mengikuti contoh) Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ pada hari Kiamat lebih berat dibandingkan langit dan bumi dengan
sebab ikhlas.
11. Mendapat rasa aman. Orang yang tidak bertauhid, selalu was-was,
dalam ketakutan, tidak tenang. Mereka takut kepada hari sial, atau punya
anak lebih dari dua, takut tentang masa depan, takut hartanya lenyap
dan seterusnya.
12. Tauhid merupakan penentu diterima atau ditolaknya amal kita.
Sempurna dan tidaknya amal seseorang bergantung pada tauhidnya. Orang
yang beramal tapi tidak sempurna tauhidnya, misalnya riya, tidak ikhlas,
niscaya amalnya akan menjadi bumerang baginya, bukan mendatangkan
kebahagiaan baik itu berupa shalat, zakat, shadaqah, puasa, haji dan
lainnya. Syirik (besar) akan menghapus seluruh amal.
13. Orang yang bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla akan diringankan
dari perbuatan yang tidak ia sukai dan dari penyakit yang dideritanya.
Oleh karena itu, jika seorang hamba menyempurnakan tauhid dan
keimanannya, niscaya kesusahan dan kesulitan dihadapinya dengan lapang
dada, sabar, jiwa tenang, pasrah dan ridha kepada takdir-Nya.
Para ulama banyak menjelaskan bahwasanya orang sakit dan mendapati musibah itu harus meyakini bahwa:
a. Penyakit yang diderita itu adalah suatu ketetapan dari Allah Azza wa Jalla. Dan penyakit adalah sebagai cobaan dari Allah.
b. Hal itu disebabkan oleh perbuatan dosa dan maksiyat yang ia kerjakan.
c. Hendaklah ia meminta ampun dan kesembuhan kepada Allah Azza wa Jalla,
serta meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla sajalah yang dapat
menyembuhkannya.
14. Tauhid akan memerdekakan seorang hamba dari penghambaan kepada
makhluk-Nya, agar menghamba hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja yang
menciptakan semua makhluk.
Artinya yaitu orang-orang yang bertauhid dalam ke-hidupannya hanya
menghamba, memohon pertolongan, meminta ampunan dan berbagai macam
ibadah lainnya, hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata.
15. Orang yang bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla akan dimudahkan
untuk melaksanakan amal-amal kebajikan dan meninggalkan kemungkaran,
serta dapat menghibur seseorang dari musibah yang dialaminya.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menganjurkan
kepada umatnya agar berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla untuk memohon
segala kebaikan dan dijauhkan dari berbagai macam kejelekan serta
dijadikan setiap ketentuan (qadha) itu baik untuk kita. Do’a yang dibaca
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut adalah:
اَللَّهُمَّ ...وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا.
“Ya Allah..., dan aku minta kepada-Mu agar Engkau menjadikan setiap
ketetapan (qadha) yang telah Engkau tetapkan bagiku merupakan suatu
kebaikan.”[7]
Salah satu rukun iman adalah iman kepada qadha’ dan qadar, yang baik dan
yang buruk. Dengan mengimani hal ini niscaya setiap apa yang terjadi
pada diri kita akan ringan dan mendapat ganjaran dari Allah apabila kita
sabar dan ridha.
16. Orang yang mewujudkan tauhid dengan ikhlas dan benar akan dilapangkan dadanya.
17. Orang yang mewujudkan tauhid dengan ikhlas, jujur dan tawakkal
kepada Allah dengan sempurna, maka akan masuk Surga tanpa hisab dan
adzab.
[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah
yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka
At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]
sumber almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Dinukil dari kitab al-Qaulus Sadiid fi Maqaashidit Tauhiid (hal.
23-25) oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, disertai beberapa
tambahan dan dalil-dalil dari penulis.
[2]. HR. At-Tirmidzi (no. 3540), ia berkata, “Hadits hasan gharib.”
[3]. Lihat al-Qaulus Sadiid fi Maqaashid Tauhid oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di.
[4]. HR. Muslim (no. 26) dari Shahabat ‘Utsman Radhiyallahu anhu.
[5]. HR. Muslim (no. 93) dari Shahabat Jabir Radhiyallahu anhu.
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 22) dari Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyallahu anhu.
[7]. HR. Ibnu Majah (no. 3846), Ahmad (VI/134), al-Hakim dan ia
menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi (I/522). Untuk lebih
lengkapnya, silakan baca buku Do’a & Wirid (hal. 269-270, cet. VI)
oleh penulis.
Langganan:
Komentar (Atom)



