Laman

Laporan Donasi Pembangunan Islamic Center Daar El Dzikr Sampai Bulan Juni 2016


Laporan Pemasukan Donasi Pembangunan Islamic Centre Daar El Dzikr 


(Bualan Juni 2016)























































no.tanggal pemasukan  jumlah  ket. 
1 pembayaran uged tku april-juni 2015  Rp    1.430.000 tunai 
2 pembayaran uged sdu  Rp128.455.000 tunai 
323-Mar-15abu niswah/agus susilo Rp       500.000 transfer bri 
424-Mar-15dari ibuny pak sofyan(bu sumarsih) Rp    1.000.000 tunai 
57-Apr-15Hamba Alloh (9 muhsinin) Rp    2.940.000 tunai 
69-Apr-15wahyudi Rp       150.000 tunai 
713-Apr-15rusmini Rp       500.000 transfer bri 
817-Jun-15 muhammad  fadhil ramadhan-sdu  Rp       100.000 tunai 
917-Jun-15 ilham farras-sdu  Rp       100.000 tunai 
1017-Jun-15 anisa&adita-sdu  Rp         50.000 tunai 
11 pembayaran uged tku juli 2015 -skrng  Rp  14.480.000 tunai 
1228-Jul-15 ahmad arif w-sdu  Rp       200.000 tunai 
1329-Jul-15 erina  Rp       100.000 tunai 
1430-Jul-15 aisyah aulia k-2a  Rp       150.000 tunai 
153-Ags-15 akbar baihaqi sdu 4a  Rp       250.000 tunai 
1614-Ags-15 aisyah aulia k-2a  Rp       200.000 tunai 
1718-Ags-15 tarjo-karangasem(kakeknya mahrus)  Rp       336.500 tunai 
1819-Ags-15 azzahro-tku  Rp       100.000 tunai 
1931-Ags-15 potongan buku yudhistira  Rp  12.000.000 tunai 
207-Sep-15 mushlih labib-3a  Rp         50.000 tunai 
2117-Sep-15 inas - 2a sdu  Rp       250.000 tunai 
2221-Sep-15 amri&atikah  Rp       300.000 tunai 
2330-Sep-15 Ibu Hj. Sumi ( neneknya hanifah kl.1 )  Rp    2.000.000 tunai 
2427-Okt-15 bambang abu nabila-pule  Rp       250.000 tunai 
256-Nop-15 mahrus khoiruddin-2c  Rp    2.000.000 tunai 
2610-Nop-15 muhsinin tangerang  Rp       300.000 transfer bri 
2715-Jan-16 muhammad  fadhil ramadhan-6a  Rp       500.000 tunai 
2822-Jan-16 saryadi  Rp         50.000 tunai 
291-Feb-16 zuhdan Raufan  Rp         50.000 tunai 
304-Feb-16 joko catur  Rp    2.000.000 transfer bri 
3112-Feb-16 Atik  Rp    1.000.000 tunai 
3215-Feb-16 Wati  Rp  30.000.000 transfer bni 
3317-Feb-16 malik  Rp         40.000 tunai 
3420-Feb-16 Hamba Alloh  Rp       260.000 tunai 
3520-Feb-16 najwa  Rp       100.000 tunai 
3623-Feb-16 Abu salman  Rp       100.000 tunai 
3711-Mar-16 Hamba Alloh  Rp       500.000 transfer bri 
3830-Mar-16 Rohmat Budi Santoso  Rp       300.000 tunai 
3921-Mar-16 bambang Setiyadi  Rp       500.000 tunai 
4023-Mar-16 Hamba Alloh  Rp       100.000 transfer bri 
41 pembayaran tku 1617  Rp    6.180.000
42 pembayaran sdu 1617  Rp  27.525.000
4311-Apr-16 Windy  Rp    1.000.000 transfer bni  
4425-Apr-16 Hamba Alloh  Rp       150.000 transfer bni  
4526-Apr-16 Ibu Ummi  Rp    5.000.000 tunai 
4626-Apr-16 sarni  Rp       100.000 tunai 
47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72


2-Mei-16

26-May-16

30-May-16

30-May-16

01-Juni-16

02-Juni-16

04-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

11-Juni-16

21-Juni-16

21-Juni-16

22-Juni-16

23-Juni-16

-

25-Juni-16

25-Juni-16

26-Juni-16

29-Juni-16

29-Juni-16

30-Juni-16


 Hamba Alloh

Atik


Ibu Syafi'uddin


Ibu Hanan


Ummu Nayla


Damas Aji Nugroho

Ummu Azka

Hamba Alloh

Ummu Alna

Fikri Tsaqib

Sava Alma

Agung

Fatimah Yasmin

Wali Murid SDU

Nauval Ammar

Ardi Sundari

Abu Abidah

Hamba Alloh

Sunyoto

Wali Murid SDU kls 6

Keluarga Sutrisno

Hamba Alloh

Lingga

Alumni SDU Ank-l-V

Abdulloh

Rahmina




 Rp       150.000

Rp        250.000

Rp        100.000

Rp        100.000

Rp        150.000

Rp        800.000

Rp        300.000

Rp        100.000

Rp        300.000

Rp        300.000

Rp        100.000

Rp        100.000

Rp        100.000

Rp     1.595.000

Rp        100.000

Rp     2.000.000

Rp        100.000

Rp        150.000

Rp        100.000

Rp     4.085.000

Rp     4.000.000

Rp   10.000.000

Rp        100.000

Rp        391.000

Rp     5.000.000

Rp        500.000


 tunai 

BRI

tunai

tunai

tunai

BNI

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

tunai

BRI

BRI

BRI

tinai

tunai

BNI

BRI

BRI

Tunai

BRI

BRI







Jumlah Total Donasi Rp 290.367.500












AlhamdulliahPerkembangan dakwah islamiyah sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah As Shahihah di Kecamatan Bulu dan sekitarnya semakain hari semakin semarak.


dikarnakan minat masyarakat untuk mendalami Islam.kami Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr dibawah binanan Al Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsuddin, Lc. berancana untuk membangunsebuah Islamic Centeryang dapat digunakan untuk pusat dakwah,pengajian islam,pengkajian Al-Qur'an dan pengkajian bahasa Arab.


Esteminasi dana yang dibutuhkan adalah sebesar Rp.672,000,000,-


Kami membuka kesempatan kepada para donatur untuk berpartisipasi dalam pembangunan Islamic Center Daar El Dzikr.


donasi dapat dikirimkan ke 




Rekening Donasi :




BNI SYARIAH SURAKARTA


Nomer : 03919 70153


a.n Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr




BRI cab.Bulu,Sukoharjo


Nomer : 6893 0101 1485 537


a.n Panitia Pembangunan Islamic Center





SMS Konfirmasi : 


PPICD#Bank#Nominal#Nama


Kirim Ke :

1. Jumanto S.Pd.I ( Ketua) 0813 8443 1686

2. Darmono ( Bendahara ) 0852 2938 5801






Informasi Lengka Kunjungi Website kami ydidd.com


Kedermawanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

KEDERMAWANAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM







Oleh

Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله




‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata :



كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ
، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ،
وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ
مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ
الْـمُرْسَلَةِ



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan
dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika
Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam
Ramadhân untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang
berhembus.”



TAKHRIJ HADITS



Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:

1. Al-Bukhari (no. 1902, 3220, 3554, 4997)

2. Muslim (no. 2308)

3. An-Nasa’i (IV/125)



KOSAKATA HADITS



• وَكَانَ أَجْوَدُ النَّاسِ : Manusia yang paling dermawan.

• اَلْمُدَارَسَةُ : Seseorang membacakan al-Qur’ân kepada temannya, lalu temannya mengulang bacaannya.

• الرِّيْحُ الْمُرْسَلَة : Angin yang berhembus yang banyak memberikan manfaat.



SYARH HADITS



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan,
dan dermawan merupakan sifat yang terpuji. Di bulan Ramadhan,
kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah. Karena bulan
tersebut merupakan musim kebaikan. Dan nikmat yang Allâh berikan kepada
hamba-Nya di bulan tersebut lebih banyak dibandingkan bulan lainnya.
Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti sunnah
Allâh pada hamba-Nya dengan berderma melebihi bulan-bulan lainnya.
Bahkan dijelaskan dalam hadits di atas, kecepatan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam berbuat dermawan lebih cepat dari angin yang
berhembus. Diserupakannya kedermawanan Nabi dengan angin yang berhembus
ialah karena kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan
manfaat yang menyeluruh seperti angin yang berhembus yang memberikan
manfaat pada apa yang dilewatinya.[1]



Kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berlipat ganda
di bulan Ramadhan secara khusus mengandung faidah yang banyak
sebagaimana disebutkan oleh imam Ibnu Rajab rahimahullah, diantaranya[2]
:



1. Kemuliaan waktu itu dan dilipat gandakan ganjaran amal di dalamnya.

2. Membantu orang-orang yang berpuasa, shalat, dan orang-orang yang
berdzikir dalam melaksanakan ketaatan mereka. Sehingga dengan demikian,
beliau akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran pelakunya. Dalam
hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Zaid bin Khalid al-Juhani
Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :



مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا



Siapa yang memberi makan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka
ia akan mendapat ganjaran yang serupa dengan orang yang berpuasa tanpa
mengurangi sedikit pun ganjaran orang yang berpuasa itu.[3]



3. Di bulan Ramadhan, Allâh Azza wa Jalla memberikan pemberian
(karunia) yang banyak kepada para hamba-Nya, baik itu berupa rahmat,
ampunan, maupun pembebasan dari api neraka. Terlebih lagi pada saat
lailatul qadar. Dan Allâh Azza wa Jalla menyayangi hamba-hamba-Nya yang
penyayang sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Maka, siapa yang berderma kepada para hamba-Nya, Allâh pun
akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia, dan balasan
tergantung dari jenis pebuatan hamba.



4. Memadukan antara puasa dan sedekah merupakan amalan yang dapat
memasukkan seseorang ke surga, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam,



إِنَّ فِيْ الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا ،
وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا ، أَعَدَّهَا الله لِمَنْ أَطْعَمَ
الطَّعَامَ ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ ، وَتَابَعَ الصِّيَامَ ، وَصَلَّى
بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ



Sesungguhnya di surga ada kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat
dari dalam, dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya. Allâh siapkan
kamar-kamar tersebut bagi orang-orang yang memberi makan, melembutkan
perkataan, selalu berpuasa, dan shalat di tengah malam saat manusia
tidur[4]



5. Mengumpulkan antara puasa dan sedekah lebih ampuh dalam menghapus
dosa, melindungi serta menjauhkan diri dari neraka jahannam, terlebih
lagi jika kedua perkara itu digabung dengan shalat malam. Dalam hadits
yang diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz Radhiyallahu anhu, dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :

… الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ …

“… Sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam …”[5]

maksudnya, bahwa shalatnya seseorang ditengah malam pun dapat menghapus kesalahan (dosa).



6. Dalam puasa seseorang pasti ada kekurangannya, dan penambal
kekurangan puasa tersebut dengan sedekah (zakat) fitrah dan macam-macam
sedekah lainnya.



7. Menghibur orang-orang miskin merupakan salah satu wujud seseorang
mensyukuri nikmat Allâh. Seorang yang berpuasa, apabila ia merasakan
kelaparan, maka ia tidak akan melupakan saudaranya yang fakir dan
miskin.



8. Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata, “Aku menyukai apabila
seseorang menambah kedermawanannya di bulan Ramadhan, sebagai bentuk
peneladanan dia terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan juga
karena kebutuhan manusia serta kesibukan sebagian mereka dengan puasa
dan shalat sehingga mata pencaharian mereka terabaikan.



Sifat dermawan dan pemurah itu tidak terbatas pada pemberian harta,
akan tetapi bisa bermacam-macam. Diantaranya: memberikan harta,
memberikan ilmu, memanfaatkan kedudukannya untuk membantu orang dan
memenuhi kebutuhan mereka dan lain sebagainya. Al-Hâfizh Ibnu Rajab
rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berderma
dengan berbagai macam bentuk kedermawanan, seperti: memberikan ilmu,
harta, mengorbankan jiwanya untuk Allâh Azza wa Jalla dalam mendakwahkan
agama dan menunjuki hamba-hamba-Nya, serta memberikan manfaat kepada
manusia dengan berbagai cara, seperti: memberikan makan orang yang
kelaparan, menasihati orang yang bodoh, menunaikan hajat manusia, dan
menanggung beban mereka.”[6]



Sifat dermawan dan pemurah termasuk diantara kemuliaan akhlak yang
dimiliki oleh orang-orang arab. Ketika Islam datang, maka kedua sifat
tersebut lebih ditekankan lagi. ‘Urwah bin az-Zubair Radhiyallahu anhu
berkata, “Ketika Islam datang, masyarakat arab memiliki enam puluh lebih
akhlak yang mulia. Dan semuanya sangat ditekankan di dalam Islam.
Diantaranya, menjamu tamu, menepati janji, dan bertetangga yang
baik.”[7]



FAWÂ-ID



1. Sedekah sebagai bukti iman dan penghapus dosa.

2. Dianjurkan banyak sedekah, terutama di bulan Ramadhan.

3. Anjuran untuk bersifat dermawan dan larangan dari sifat bakhil (pelit).

4. Anjuran untuk menambah sifat dermawan tersebut pada bulan Ramadhan dan ketika berkumpul dengan orang-orang shalih.

5. Anjuran menziarahi (berkunjung) orang-orang shalih dan baik.

6. Disunnahkan membaca al-Qur’an dengan tadabbur dan mengkhatamkannya pada bulan Ramadhan melebihi dzikir-dzikir yang lain.

7. Adanya isyarat bahwa permulaan turunnya al-Qur’an adalah di bulan Ramadhan.[8]

8. Sepatutnya bagi penuntut ilmu dan ulama untuk mempelajari al-Qur’an
sesama mereka, agar tidak lupa dan hilang dari ingatan mereka.



MARAJI’

1. Shahîh al-Bukhâri

2. Shahîh Muslim

3. Sunan an-Nasâ’i

4. Sunan at-Tirmidzi

5. Sunan al-Baihaqi

6. Fathul Bâri syarh Shahîhil Bukhâri

7. Lathâ’iful Ma’ârif

8. Nuzhatul Muttaqîn Syarh Riyâdhis Shâlihîn

9. Bahjatun Nâzhirîn syarh Riyâdhis Shâlihîn

10. Anwârul Bayân fii Ahkâmis Shiyâm



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013.]

_______

Footnote

[1]. Fathul Bâri (I/68-69 -cet. Daar Thaybah) dengan ringkas.

[2]. Lathâ’iful Ma’ârif (hlm. 310-315).

[3]. Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 807).

[4]. Hasan: HR. al-Baihaqi (IV/301).

[5]. Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 2616).

[6]. Lathâ’iful Ma’ârif (hlm. 306).

[7]. Al-Jûd was Sakhâ’ (hlm. 280, no. 59), dinukil dari Anwârul Bayân fii Ahkâmis Shiyâm (hlm. 93).

[8]. Fathul Bâri (I/69) cet. Daar Thaybah.



( disalin dari almanhaj.or.id )




Download Kajian Menjelang Buka Puasa

Kajian menjelang buka puasa bersama keluaraga besar Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr









Membahas Kitab Al firqotun najiyah " Jalan Golongan yang Selamat " ( Karya Syeih Zamil Zainu ) 

diampu oleh Ustadz Agus Suseno, Lc dan Ustadz Iwan Haryanto, Lc

Semoga menanbah wawasan keilmuan dan memperkuat ukhuwah diatas Sunnah 













Berikut Ling download Kajian semoga bermanfaat


Sesi Pertama < Audio 1


Sesi Kedua < Audio 2


Sesi Ketiga < Audio 3 


Sesi Keempat < Audio 4 


Sesi Kelima < Audio 5  & < Audio 6

Sesi Keenam < Audio 7




 


Berpuasa Dari Yang Diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala



BERPUASA DARI YANG DIHARAMKAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA








Oleh

Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Hafizhahullah 





Diantara hal yang harus selalu diperhatikan dan dijaga oleh orang
sedang melakukan ibadah puasa adalah usaha mereka menjaga puasa dari
segala hal yang bisa menghilangkan atau mengurangi pahala puasa mereka.
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahîhnya yang
menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:




إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
بِصِيَامٍ، وَصَلَاةٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ
هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا،وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى
هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ
حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ مِنَ الْخَطَايَا أُخِذَ
مِنْ خَطَايَاهُمْ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّار




Sesungguhnya orang yang merugi (bangkrut) diantara ummat adalah orang
yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, zakat,
sementara dia juga dahulu (waktu di dunia) pernah mencela ini, menuduh
ini berzina, memakan harta ini dan itu (dengan cara yang tidak
halal-red), membunuh orang ini dan itu, dan memukul ini dan itu. Maka
(pada hari kiamat), yang ini (yaitu orang yang dizhaliminya itu-red)
akan diberi kebaikan yang diambilkan dari kebaikan-kebaikannya, yang itu
juga akan diberi kebaikan yang diambilkan dari kebaikan-kebaikannya.
Jika pahala kebaikan yang dimilikinya telah habis, sementara
dosa-dosanya pada orang-orang yang dizhaliminya belum terbayar semuanya,
maka dosa-dosa orang-orang yang dizhaliminya itu akan dibebankan
kepadanya, kemudian dia dilemparkan kedalam api neraka.[HR. Imam Muslim, no. 2581 ]




Meski hamba ini telah melakukan ibadah shalat, puasa, zakat, akan
tetapi dia kehilangan pahala amalan-amalan tersebut disebabkan oleh
keburukan yang dilakukan oleh anggota badannya berupa perbuatan zhalim
dan melampaui batas, dan juga disebabkan oleh keburukan yang dilakukan
oleh lisannya yang selalu mencela dan berdusta. Akhirnya dia menjadi
orang yang merugi (bangkrut).




Oleh karena itu, diantara faidah yang bisa dipetik oleh seorang
Muslim dari ibadah puasa yang dilakukannya pada bulan Ramadhan adalah
hendaknya dia menyadari dan mengetahui bahwa kewajiban berpuasa (menahan
diri) dari makan, minum beserta semua yang membatalkan puasa, waktunya
di bulan Ramadhan, dimulai sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari.
Adapun (kewajiban) berpuasa ( yaitu menahan diri) dari semua yang
diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , waktunya adalah sepanjang tahun,
bahkan selama hidupnya. Jadi, pada bulan Ramadhan, seorang Muslim wajib
berpuasa (yaitu menahan diri) dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allâh
Azza wa Jalla pada bulan-bulan lain selain Ramadhan dan juga menahan
diri dari yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan seorang Muslim
wajib berpuasa dari yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla selama
hidupnya. Karena shaum (puasa) secara bahasa berarti menahan diri. Jadi
menahan dan menjaga mata, lisan, telinga, tangan, kaki, farji dan
anggota tubuh lainnya dari segala yang diharamkan termasuk shaum (puasa)
menurut bahasa. Yang ini merupakan kewajiban setiap manusia selama
hidupnya.




Allâh Azza wa Jalla ketika menganugerahkan kepada para hamba-Nya
berbagai nikmat berupa mata, lisan, telinga, tangan, kaki, kemaluan, dan
yang lainnya, Allâh Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka agar
menggunakannya pada hal-hal yang Allâh Azza wa Jalla ridhai; Dan Allâh
Azza wa Jalla mengharamkan mereka untuk menggunakannya pada hal-hal yang
dimurkai-Nya. Dan diantara bentuk realisasi rasa syukur kepada Allâh
Azza wa Jalla atas segala nikmat yang diberikan-Nya adalah memanfaatkan
nikmat-nikmat tersebut pada hal-hal yang Allâh perintahkan, dan tidak
menggunakannya pada hal-hal yang Allâh Azza wa Jalla haramkan.




Mata –misalnya- disyariatkan penggunaannya untuk melihat dan
memperhatikan hal-hal yang dihalalkan oleh Allâh Azza wa Jalla , dan
dilarang untuk melihat yang diharamkan, seperti melihat wanita yang
bukan mahramnya, menonton tayangan-tayangan tv berupa drama yang jorok,
film porno, atau tayangan-tayangan amoral lainnya. Jadi menjaga mata
dari hal-hal seperti ini termasuk puasa bagi mata, dan kewajiban ini
terus berlangsung selama hidup.




Kemudian telinga disyariatkan penggunaannya untuk mendengarkan
hal-hal yang Allâh perintahkan dan bolehkan, serta diharamkan untuk
mendengar hal-hal yang tidak boleh didengar seperti nyanyian, perkataan
dusta, ghibah (gosip), namîmah (adu domba), dan hal-hal lain yang telah
Allâh haramkan. Menjaga telinga dari hal-hal tersebut di atas merupakan
puasa baginya, dan hukum wajibnya berlangsung sepanjang usia. Begitu
pula tangan dan kemaluan disyariatkan penggunaannya pada hal-hal yang
telah Allâh halalkan, dan diharamkan menggunakannya pada hal-hal yang
haram. Ini merupakan puasa bagi tangan dan kemaluan, dan hukum wajibnya
terus berlangsung selama hayat masih dikandung badan.




Allâh Azza wa Jalla telah berjanji akan memberikan pahala dan
kebaikan berlimpah di dunia dan di akhirat bagi orang yang bisa
mensyukuri segala nikmat yang Allâh Azza wa Jalla berikan dan
menggunakannya pada hal-hal yang Allâh ridha. Sebaliknya, kepada siapa
saja yang tidak menjaga, tidak memperhatikan hikmah dan tujuan dari
penciptaan nikmat-nikmat tersebut, bahkan dengan tanpa rasa sungkan dia
menggunakannya pada hal-hal yang Allâh Azza wa Jalla murkai, Allâh
mengancam akan memberikan adzab dan hukuman yang pedih kepada mereka.




Allâh mengabarkan bahwa kelak di hari kiamat, anggota-anggota badan
akan ditanya tentang pemiliknya dan pemiliknya juga akan dimintai
pertangungjawaban terhadap anggota badan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:




وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا




Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [al-Isrâ’/17:36]




Dan firman-Nya:




الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ




Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami
tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang
dahulu mereka usahakan. [Yâsin/36:65]




Dan firman-Nya:




وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
﴿١٩﴾ حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ
وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿٢٠﴾ حَتَّىٰ
إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ
وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿٢٠﴾ وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ
لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ
كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ




Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allâh di giring ke dalam
neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya. Sehingga apabila mereka sampai
ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi
terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka
berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?”
Kulit mereka menjawab, “Allâh yang menjadikan segala sesuatu pandai
berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang
menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu
dikembalikan”. [Fusshilat/41:19-21]




Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat
kepada Mu’âdz bin Jabal untuk menjaga lisannya, dan Mu’âz Radhiyallahu
anhu bertanya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Nabi
Allâh, apakah kita akan dihisab atas apa yang telah kita ucapkan?” Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:




ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ أُمِّ مُعَاذٍ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ
عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي نَارِ جَهَنَّمَ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهُمْ؟




Celaka kamu Mu’âdz! Tidak ada yang menyebabkan manusia tersungkur di dalam neraka selain hasil lisan-lisan mereka [2Diriwayatkan oleh Imam Tirmizi, no. 2616, Ibnu Mâjah no: 3973, dan lafaz hadits ini dari Imam Tirmizi ]




Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 


مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ




Barangsiapa menjamin (menjaga) bagiku lisan dan kemaluannya, maka aku akan menjamin baginya surga.[ HR. Imam al-Bukhâri, no. 6474 ]




Imam Tirmizi meriwayatkannya dan beliau menilai hadits ini hasankan dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan lafazh:




مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَرِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ




Barangsiapa dipelihara oleh Allâh dari keburukan mulut dan keburukan kemaluannya, maka dia akan masuk surga[Sunan at-Tirmizi, no. 2409 ]




Dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim dari hadits Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:




مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ




Barangsiapa beriman kepada hari akhir hendaknya dia berkata yang baik atau diam [ Muttafaq alaih, HR. Imam al-Bukhâri, no.6135 dan Imam Muslim, no. 47 ]




Masih didalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim dari shahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu , Para shahabat bertanya:




يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ




“Wahai Rasûlullâh! Islam seperti apakah yang paling baik?” Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islamnya orang yang semua
muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya [ Muttafaq alaih. HR. Imam al-Bukhâri, no. 11 dan Imam Muslim, no. 42 ]




Nash-nash di atas dan nash lain yang semakna menunjukkan bahwa
seorang hamba wajib hukumnya menjaga lisan, kemaluan, pendengaran,
penglihatan, tangan dan kakinya dari hal-hal yang diharamkan. Dan ini
merupakan pengertian puasa dari segi bahasa. Puasa seperti ini tidak
memiliki waktu khusus akan tetapi terus berkelanjutan sampai meninggal
dunia, sebagai bentuk ketaatan kepada Allâh l agar berhasil meraih
ridha dan pahala dari Allâh, selamat dari murka dan siksa-Nya.




Apabila seorang Muslim memahami bahwasanya pada bulan Ramadhan dia
diharamkan melakukan dan memakan apa-apa yang Allâh halalkan baginya
(pada waktu-waktu yang lain), karena Allâh Azza wa Jalla mengharamkan
perkara-perkara tersebut pada bulan Ramadhan, maka hendaknya dia juga
memahami bahwa Allâh Azza wa Jalla juga mengharamkan untuknya hal-hal
yang haram selama hidupnya. Maka wajib bagi setiap Muslim menjauhi apa
yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla selamanya agar terhindar dari
adzab yang disiapkan buat orang yang menyelisihi perintah-Nya dan
melakukan yang diharamkan-Nya.


Orang yang menjaga lisannya dari perkataan keji dan dusta; Menjaga
kemaluannya dari yang Allâh haramkan; Menjaga tangannya dari melakukan
perkara haram; Menjaga kakinya dari hal yang Allâh tidak ridhai; Menjaga
pendengarannya dari mendengar yang haram serta menjaga matanya dari
segala hal yang Allâh haramkan untuk dilihat, kemudian dia terus-menerus
menggunakan seluruh anggota badan ini dalam rangka mentaati Allâh Azza
wa Jalla sampai meninggal dunia, maka sungguh dia akan berifthar
(berbuka puasa) dengan apa yang telah Allâh janjikan bagi orang yang
mentaati-Nya berupa nikmat yang kekal dan keutamaan yang agung.
Kenikmatan yang tidak pernah terbayang dalam benak, dan tidak bisa
diucapkan dengan kata-kata.




Hal pertama yang akan dia dapatkan adalah apa yang dijelaskah oleh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai peristiwa ketika seorang
Mukmin meninggal dunia. Saat itu, para Malaikat yang wajah-wajah mereka
seperti matahari mendatanginya dengan membawa kain kafan dan hanut (peti
mati) dari surga. Yang terdepan adalah Malaikat maut, dia mengatakan:




أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ
اللَّهِ وَرِضْوَانٍ، قَالَ: فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ
مِنَ السِّقَاءِ، فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي
يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ
الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ
مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ. قَالَ: فَيَصْعَدُونَ بِهَا
فَلَا يَمُرُّونَ بِمَلَأٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا
الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟، فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ
أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى
يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ،
فَيُفْتَحُ لَهُ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى
السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ
السَّابِعَةِ. فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي
فِي عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّى مِنْهَا
خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً
أُخْرَى. قَالَ: فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ
فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟، فَيَقُولُ: رَبِّيَ
اللَّهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟، فَيَقُولُ: دِينِيَ
الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟،
فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟،
فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ وَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ.
فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ
مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا
إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رُوحَهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ
لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ، وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الثِّيَابِ
طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ لَهُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا
يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: فَمَنْ أَنْتَ؟
فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا
عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ أَقِمِ
السَّاعَةَ، حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي




Wahai jiwa yang bersih ( baik/bagus ) keluarlah menuju ampunan Allâh
dan keridhaan-Nya, maka jiwa tersebut keluar seperti keluarnya tetesan
air dari mulut ceret. Lalu malaikat maut mengambilnya dan langsung
diambil oleh para malaikat lainnya. Lalu mereka menaruhnya di atas kain
kafan serta hanut yang mereka bawa. Seketika itu juga, keluar dari jiwa
tersebut aroma harum yang tidak ada bandingannya di dunia. Kemudian Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Merekapun membawa jiwa
tersebut naik ke langit. Setiap kali mereka melewati sekelompok
malaikat, mereka sontak bertanya, ‘Ruh siapakah yang harum ini?’ Para
Malaikat yang membawa ruh itu menjawab, ‘Fulan bin fulan.’ Mereka
menyebutnya dengan nama terbaiknya di dunia, sampai mereka tiba di
langit ketujuh. Lalu Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Tulislah kitab
hamba-Ku ini di Illiyin dan kembalikanlah dia ke dunia. Sesungguhnya Aku
menciptakan mereka dari tanah, dan Aku kembalikan mereka ke tanah lagi,
dan kelak Aku akan bangkitkan mereka dari tanah juga.’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan
lagi kedalam jasadnya, dan dia didatangi oleh dua Malaikat yang kemudian
mendudukkannya lalu bertanya, “Siapakah Rabbbmu?” Dia menjawab,
“Rabbku adalah Allâh,” mereka bertanya lagi, “Apakah agamamu?” Dia
berkata, “Agamaku adalah agama Islam.”

Mereka bertanya lagi, “Siapakah laki-laki ini yang Allâh utus pada kalian?” Dia menjawab, “Dia adalah Rasûlullâh.”

Mereka bertanya lagi, “Apa ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh lalu aku beriman dan meyakininya.”

Lalu terdengar suara memanggil dari langit,”Hamba-Ku benar (jujur).
Berikanlah dia tempat tidur dari surga, dan pakaian dari surga, serta
bukakanlah dia pintu ke surga!

Kemudian dia mendapatkan aroma dan harumnya surga serta kuburnya
diluaskan sejauh mata memandang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Kemudian dia didatangi oleh seorang laki-laki yang tampan,
berpakain bagus, dan memiliki bau yang harum seraya berkata,
‘Bergembiralah dengan apa yang membuatmu bahagia! Sesungguhnya ini
adalah hari yang dulu engkau dijanjikan.’ Muslim (yang sudah meninggal)
tersebut bertanya, ‘Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang
datang dengan membawa kebaikan.’ Laki-laki tersebut menjawab, ‘Aku
adalah amal shalihmu.’

Kemudian dia berkata, ‘Wahai Allâh! Datangkanlah hari kiamat segera,
agar aku bisa segera berkumpul kembali bersama keluarga dan hartaku [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, no. 1853 ]




Inilah balasan orang-orang yang berpuasa (menahan diri) dari segala
yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , yang selalu berbuat taat
kepada Allâh, senantiasa menjaga perintah-perintah Allâh Azza wa Jalla
dan menjauhi larangan-larangan-Nya.


Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk golongan mereka,
memberikan taufik kepada untuk menempuh jalan yang mereka lalui.



[diadaptasi dari almanhaj.or.id yang disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014 , yang diangkat dari website resmi beliau )


Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Mengingatkan Bulan Ramadhan

NABI SHALLALLAH ‘ALAIHI WA SALLAM MENGINGATKAN BULAN RAMADHAN












Puasa, seperti dikatakan Ibnul Qayyim, memberikan pengaruh
mengagumkan dalam memelihara anggota badan dan kekuatan batin, serta
mengatur metabolisme, sehingga tubuh mendapatkan keseimbangan. Dia
membersihkan zat-zat yang dapat mempengaruhi kesehatan. Puasa juga akan
menjaga kesehatan hati dan anggota tubuh, setelah dikuasai oleh
jerat-jerat syahwat. Ia sangat berperan dalam membantu mendatangkan
ketakwaan.


Keagungan bulan Ramadhan, membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengingatkan para sahabat tentang  kedatangannya. Anas bin Malik
berkata: Bulan Ramadhan telah tiba. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:




إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ
مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ
يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ





Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang kepada kalian.
Padanya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa
saja yang terhalangi darinya, sungguh ia telah terhalangi dari semua
kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali
mahrum (yang memang terhalangi dari kebaikan).(  HR Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya shahih. Lihat Shahihut Targhib wat Tarhib, Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cet. I, Th. 1421H, 1/586 )




Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:




مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ




Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. ( HR al Bukhari, Muslim, Abu Daw`ud, dan Ibnu Majah. )




Menurut al Khaththabi, maksud hadits ini adalah, berpuasa dengan
membenarkan kewajibannya dan mengharapkan pahalanya, dengan hati yang
rela, tidak membencinya, tidak menganggapnya berat, atau merasa
hari-harinya terlalu panjang. Namun, memanfaatkan sepanjang hari-harinya
karena besarnya pahala.




Saat berada di bulan Ramadhan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
terlihat sangat memperbanyak ibadah-ibadahnya. Pada bulan ini, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat sangat dermawan, memperbanyak
sedekah dan membaca al Qur`an. Malaikat Jibril melakukan mudarasah al Qur`an bersama beliau.




Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan berbuka puasa
dengan kurma. Bila tidak dijumpai, maka berbuka puasa dengan air. Ini
merupakan kesempurnaan kasih-sayang beliau kepada umatnya. ‘Sesungguhnya
pemberian makanan manis saat lambung dalam keadaan kosong akan lebih
mudah diserap, dan tubuh akan menerima langsung manfaatnya, terutama
kekuatan pandangan, akan bertambah kuat karenanya. Tentang air,
sesungguhnya hati menjadi lebih kering disebabkan puasa. Jika
dilembabkan dengan air, maka manfaatnya bagi makanan yang hendak diserap
menjadi lebih sempurna. Oleh karena itu, orang yang kehausan lagi
kelaparan, hendaknya meminum air terlebih dahulu sebelum makan’.




Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan mempercepat berbuka
puasa, tanpa menunda-nundanya. Kata Anas, aku tidak pernah melihat
Rasulullah shalat Maghrib kecuali setelah berbuka puasa, meski dengan
satu tegukan air saja.




Saat melakukan perjalanan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah berpuasa dan pernah juga tidak berpuasa. Beliau memberikan
keleluasaan kepada para sahabat untuk memilihnya, sesuai kemampuan.
Ketika berpuasa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berkumur dan
menghirup air (istinsyaq), akan tetapi perlu diingat, beliau melarang orang yang berpuasa melakukan istinsyaq secara berlebihan.




Pada bulan Ramadhan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah
mencium sebagian istrinya. Tentang hal ini, Imam Muslim dalam Shahih-nya
(1106) menuliskan sebuah bab berjudul “penjelasan bahwa ciuman saat
puasa tidak haram bagi orang yang bisa menjaga syahwatnya”. Sedangkan at
Tirmidzi berkata: “Sebagian ulama berpendapat, orang yang berpuasa,
bila mampu mengendalikan diri, ia boleh mencium. Kalau tidak, hukumnya
tidak boleh. Agar puasanya selamat. Ini adalah pendapat Sufyan, asy
Syafi’i, Ahmad dan Ishaq”.




Agar puasa seorang hamba bernilai, hendaklah kita menjaganya, jangan
sampai menodai kesucian dan kesempurnaan puasa dengan
perbuatan-perbuatan dosa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



" Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh pada puasanya. "




(Diadaptasi dari Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib dan Abdul Qadir al Arnauth, Muassasah ar Risalah, Cet. III, Th. 1421H (2/27-58)).




[sumber : almanhaj.or.id yang disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427/2006M.]






Kesempatan Berinfak di Bulan Romadhon Untuk Pembangunan Pusat Dakwah ( Islamic Centre Daar El Dzikr )

Raih Pahala Yang Melimpah di bulan Romadhoin ini, dengan ikut bertpartisipasi menginfakan hartanya dijalan Alloh untuk perkembangan dakwah islam khususnya di daerah sukoharjo selatan dan wonogiri


























Kami membuka kesempatan kepada para donatur untuk berpartisipasi dalam pembangunana Islamic Centre Daar El Dzikr





Donasi dapat dikirim ke ;





Rekening Donasi :





BNI SYARIAH SURAKARTA


Nomer : 03919 70153


a.n Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikr





BRI cab.Bulu,Sukoharjo


Nomer : 6893 0101 1485 537


a.n Panitia Pembangunan Islamic Center





SMS Konfirmasi : 



PPICD#Bank#Nominal#Nama







Kirem Ke: 



1. Jumanto S.Pd.I ( Ketua ) 0813 8443 1686


2. Darmono ( Bendahara ) 0852 2938 5801





Jazakumullohu Khoeran